
Putra memang harus berbagi lauk kepada beberapa saudaranya yang masih satu rumah, ia menempati sepetak rumah itu bersama dengan kedua kakaknya yang belum menikah dan kedua orang tuanya.
Kakaknya yang pertama dan kedua sudah menikah, sedangkan kakak ketiganya belum menikah, kakak keempatnya masih sekolah dan anak yang paling terakhir adalah dirinya.
Kakaknya yang nomor tiga hanya bekerja sebagai pekerja proyek bangunan, walaupun hanya cuma sekedar pekerja proyek, namun kakaknya yang nomor tiga itu bisa sedikit membantu meningkatkan roda penghalisan perekonomian keluarga.
SMK kelas 12 itulah jenjang sekolah yang ditempuh kakaknya nomor empat Putra, tahun ini ia akan lulus dan melangsungkan wisuda.
Putra telah menghabiskan makan siangnya, lalu kemudian membersihkan piring tersebut di dapur. Lalu ia berjalan menuju keluar rumah tanpa pamit kepada ibunya.
"Mau kemana?!" Sarti bertanya sambil sedikit berteriak.
"Mau ke rumahnya Abi," jawab Putra.
"Oh ya sudah, jangan sore-sore kalau main ya." Sarti berpesan kepada anaknya.
Putra hanya berjalan kaki saat ingin ke rumah Abi, karena jaraknya memang dekat. Mungkin hanya 100 meter dari rumahnya, maka dari itu ia memilih jalan kaki saja.
Di sepanjang jalan dirinya berjalan sambil bersiul-siul, ia memilih lewat belakang rumah karena menghindari terik matahari, makanya ia memilih lewat belakang agar bisa berjalan di antara sela-sela pepohonan.
Terdengar suara sedang ada yang sedang mengobrol dari dalam rumahnya Abi, Putra langsung saja menuju pintu depan untuk mengucapkan kata permisi kepada si empunya rumah.
"Assalamualaikum," kata Putra saat sampai di depan pintu.
"Waalaikumusalam," jawab Abi sembari menoleh.
Ternyata yang ada di dalam rumahnya Abi adalah Panji beserta Agus, mereka mengenakan kaos santai biasa dan masih mengenakan bawahan seragam sekolah.
"Kirain siapa tadi, Put!" Agus meringis.
"Pada ngapain nih?" Tanya Putra.
"Nonton tv aja ini lho," jawab Abi.
Keempat anak ini memang sudah berjanjian untuk bertemu di rumahnya Abi ketika bersepeda di sepanjang jalan sepulang dari sekolah tadi, daripada tidak ada kegiatan apa-apa di rumah.
Pelajaran juga sudah usai, tes akhir semester kenaikan kelas juga sudah selesai. Mereka hanya menunggu hasil yang akan keluar dan pembagian kelas untuk jenjanh berikutnya akan di acak lagi penghuni kelasnya.
"Masa cuman nonton tv aja, ngapain gitu kek biar seru." Putra duduk di antara ketiga temannya itu.
"Lhaiya ngapain gitu enaknya?" Tanya balik Abi.
"Giman kalau kita cari ikan," saran Panji.
"Nyari ikan dimana?" Agus bingung.
"Itu belakang rumahnya ommu kan ada kali kecil," kata Panji.
__ADS_1
"Bener juga tuh, kadang aku mancing di situ. Kemarin omku nyuruh Pak Muh untuk menyedot air di situ, biar bisa diambil ikannya. Tapi sampai sekarang belum ada gerakan sama sekali," jelas Agus.
"Boleh juga tuh," jawab Abi.
"Iya tuh lumayan buat bakar ikan nanti sore," kata Putra.
"Iya lumayan surut, kalau buat kita-kita mungkin masih se-perut airnya." Panji memegang perutnya.
"Kita cari yang lain juga, biar lebih rame." Putra berusaha meyakinkan teman-temannya.
"Mantab nih," jawab Panji.
"Ya sudah aku mau beli apotas (nama obat untuk meracuni ikan) dulu, ayo ikut samaku, Nji." Agus mengajak Panji.
"Lha ini pakai uangnya siapa?" Tanya Putra.
"Pakai uangku saja, cuman tiga ribu rupiah kok. Santai saja," kata Agus.
"Biar dia saja, kita mah gak punya uang." Panji tertawa.
"Hahaa!" Abi dan Putra juga ikut tertawa.
"Ya sudah kalian beli obat itu, aku mau ngumpulin yang lain dulu lah." Abi berjalan bersama dengan Putra keluar rumah.
Abi menutup pintu rumahnya, ia tak mengunci pintu tersebut. Takut kalau ibunya pulang sewaktu-waktu malah tidak bisa masuk nantinya.
"Kamu mau beli dimana?" Tanya Putra.
"Iya di situ juga ada kok," tambah Panji.
Agus dan Panji menaiki sepedanya untuk membeli obat ikan tersebut, sedangkan Abi dan Putra berupaya mencari beberapa temannya agar lebih ramai lagi saat mencari ikan.
Tetapi aktivitas ini jangan ditiru ya teman-teman, soalnya kegiatan ini sudah dilarang untuk dilakukan saat ini. Mencari ikan dengan meracuni, bom ikan atau lain sebagainya akan merusak ekosistem lingkungan di sekitar juga. Pokoknya saya sebagai penulis cuma mewanti-wanti agar semua pembaca tidak melakukan hal ini, mari lanjut ke cerita lagi.
Kemudian Abi melihat beberapa temannya sedang bermain kelereng di depan rumah Mbak Pur (tetangga yang pernah menjadi tempat petak umpet saat awal-awal aku menulis bab).
"Seru sekali nih," kata Abi saat mendatangi mereka.
"Wuih kalian!" Diki menjawab dengan sedikit kaget.
"Ada apa, Bi?" Tanya Indra.
"Mau nyari teman buat cari ikan," kata Putra.
"Mau cari ikan dimana, Put?" Tanya Khoirul.
"Di belakang rumah omnya Agus," kata Abi.
__ADS_1
"Aku siap!" Diki menjawab dengan tegas.
"Aku juga siap," jawab Fandil.
"Oke lah, aku ganti baju dulu tapi." Indra menunjuk bajunya.
"Tunggu di sini ya?" Rama jug ingin mengganti bajunya dengan baju jelek saja.
Mereka berempat langsung pulang ke rumah masing-masing untuk mengganti baju, Abi dan Putra menunggu di depan rumah Mbak Pur tersebut.
"Agus lama banget ya, Bi?" Tanya Putra.
"Iya mampir kemana tu anak kok kama banget, padahal cuman di situ." Abi menunjuk kearah jalan menuju warung Bi Inah.
Semua teman sudah berkumpul di tempat semula, kemudian mereka memutuskan untuk langsung menuju lokasi mencari ikan.
"Sudah lumayan surut ternyata," kata Diki.
"Iya ini surut, udah se-lutut ini." Indra menyentuh air dan memasukan tangannya ke dalam kali itu.
Bentuknya seperti kubangan air kecil saja, tidak terlalu besar. Bekas untuk membuat batu bata, jadinya tersisa bentuk cekungan besar yang terisi air ketika musim penghujan.
"Apa ada ikannya ini?" Tanya Rama.
"Ini ada lah, biasanya Agus mancing di sini kan." Putra menunjuk kearah air yang ada di kubangan tersebut.
"Lha ini pakai apa cari ikannya?" Tanya Diki.
"Itu tadi Panji sama Agus beli apotas di warungnya Bi Inah," tutur Abi.
"Oh ya sudah ditunggu saja," kata Diki.
Ternyata beberapa anak sudah mulai memanjat pohon mangga yang ada di sekitaran situ untuk mencari buahnya yang sedikit matang. Mereka tak menemukan satu pun buah yang matang, akhirnya mengambil apa saja yang dirasanya masih layak untuk dimakan.
"Ternyata sudah pada di sini!" Agus datang dari arah rumah omnya.
"Kamu itu ditunggu kemana aja," kata Abi.
"Tadi aku beli di warung Bi Inah tapi sudah habis," kata Agus.
"Lha itu beli dimana?" Tanya Diki.
"Ini aku beli di warung Bu Rum (letaknya ada di perbatasan dengan desa sebelah)." Panji menunjukan plastik yang di dalamnya ada obat tersebut.
"Jauh amat," kata Putra.
Fandil dan Khoirul turun dari atas pohon mangga, mereka berdua langsung mendekat kearah kerumunan anak-anak itu.
__ADS_1
"Ayo langsung mulai saja," kata Khoirul.
"Iya nanti keburu sore," sahut Fandil.