
Malam ini sepulang dari mengaji, mereka berencana ini bermain. Semua anak sepakat untuk berkumpul dulu di depan rumahnya Abi yang sangat luas, sering dibuat main badminton, futsal dan lain sebagainya walaupun hanya beralaskan sebuah tanah biasa.
Abi masuk ke dalam rumah untuk mengembalikan sarung dan pecinya terlebih dahulu.
"Assalamualaikum," kata Abi seraya memasuki pintu rumahnya.
"Waalaikumusalaam," jawab Rohmat dan Siti Fadilah walaupun tidak secara bersamaan.
Abi masuk ke dalam kamarnya untuk menempatkan sarun dan pecinya ditas lemari kecil miliknya yang terbuat dari bahan plastik, kemudian ia juga mengganti baju koko yang dikenakannya dengan kaos santai biasa.
Ia langsung berlari keluar kamar dan menuju pintu depan rumahnya, bermaksud untuk langsung menunggu teman-temannya yang hendak berkumpul di area depan teras rumahnya.
"Bii, sudah makan?" Tanya ibunya.
"Sudah tadi, Buk!" Abi berlari sambil menjawab pertanyaan ibunya dengan sedikit berteriak.
Beberapa temannya sudah datang duduk di sampang pelataran yang sering dibuat lapangan tersebut, Abi langsung menghampirinya, di situ ada Rama, Diki dan Fandil yang baru terlihat.
"Wuihh sudah pada di sini," kata Abi saat menghampiri teman-temannya.
"Hehe iya lah, biar gak ketinggalan informasi." Fandil tertawa.
Rama dan Diki mulutnya sedang komat-kamit seperti memakan sesuatu, namun yang ada digenggaman tangan Rama itu entah apa, Abi merasa tidak tahu.
"Ni mau gak, Bi?" Tanya Diki.
"Apaan tuh?" Tanya balik Abi.
"Ini pruntil (buah mangga yang belum matang), mau gak?" Tanya Rama.
"Ambil dimana tadi?" Tanya Abi.
"Ambil di depan rumahnya Fandil," jawab Rama.
"Ya sudah sini aku mu sedikit," kata Abi.
"Ini Masakonya," tutur Diki sambil memberikan Masako rasa daging sapi.
Kebiasaan anak-anak ini memang suka sekali memakan buah-buahan mentah dengan Masako, namanya juga masyarakat desa.
"Lha nanti mau main apaan?" Tanya Abi.
"Entahlah," jawab Rama.
__ADS_1
"Belum ada kesepatakan," kata Fandil.
"Gleger," suara petir yang menyambar dari kejauhan sedikit memberi cahaya yang ditimbulkan.
Situasi malam ini memang lumayan mendung, tetapi hanya beberapa bagian saja yang tertutupi awan mendung, masih ada beberapa bintang-bintang di langit yang memancarkan sinarnya.
Agus dan Panji datang dari arah kanan tempat Abi berbincang dengan beberapa teman yang sudah berada di situ.
"Telat nih," Panji sedikit meringis.
"Halah belum lah, sini saja. Masih pada di rumah sepertinya," ucap Abi.
Beberapa saat kemudian, teman-temannya sudah berkumpul semua. Hanya anak-anak yang tadi siang ikut mencari ikan saja yang mau berkumpul dan bermain malam ini.
Akhirnya mereka memutuskan untuk bermain kelereng saja, sebenarnya beberapa anak ada yang ingin bermain petak umpet, namun ada satu dua anak yang tidak setuju karena bosan main itu-itu terus.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita ambil kelereng dulu," kata Rama.
Semua anak yang ada di situ langsung pulang ke rumah masing-masing untuk mengambil kelereng, beberapa langkah mereka beranjak dari tempat berkumpul sudah mulai terasa rintik air hujan yang turun (gerimis).
"Bentar lagi hujan ini lho, mau kemana lagi?" Tanya Siti Fadilah melihat Abi yang berjalan masuk ke dalam rumah.
"Mau ambil kelereng, Buk." Abi menjawab perkataan ibunya.
Baru sampai di ruang tamu, ternyata sudah terdengar gemuruh air hujan yang turun menghantam genting di atap rumahnya.
"Nah tuh kan hujan," kata Siti Fadilah.
Abi masih melanjutkan langkah kakinya menuju teras rumah, ia duduk di depan rumahnya sambil melihat air hujan yang turun deras membasahi seluruh tanaman yang ada di sekitar teras rumahnya.
Dengan sedikit rasa menyesal karena malam ini gagal untuk bermain, akhirnya ia hanya meratapi suasana malam ini dengan melihat air hujan.
Sekarang, Abi lebih tidak terlalu memikirkan ponselnya. Semenjak putus dengan Eka, dirinya tak lagi kecanduan akan adanya ponsel tersebut. Ia lebih sering meletakkan alat elektronik kecil itu di meja dekat dengan ranjang tidurnya, sesekali mengeceknya lalu men-charge-nya ketika memang baterainya sudah habis atau perlu untuk diisi ulang.
Malam ini terasa sangat sepi sekali karena tidak ada teman-teman yang biasa menemaninya bermain, mereka semua pulang tak kembali karena hanya ada air yang turun dari langit.
"Masuk tidur saja lah, Bi." Siti Fadilah merayu anaknya supaya mau untuk tidur lebih awal di malam ini.
"Ya sudahlah," kata Abi seraya masuk ke dalam rumah, kemudian menuju kamar kecil miliknya.
Malam ini ia memutuskan untuk langsung tidur, karena juga tidak ada apa-apa yang harus diperbuat di malam ini.
****************
__ADS_1
Adzan subuh sudah berkumandang dan beberapa ayam juga mulai berkokok di waktu pagi ini, Abi terbangun untuk memantu ibunya memasak sebentar, kemudian ia akan mandi karena masih ada jadwal untuk masuk sekolah walaupun memang sudah tidak ada pelajaran.
Setelah memasak, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Ketika hendak berangkat ke sekolahan, ia mengambil sepedanya yang terasa sedikit berat untuk di tuntun. Kemudian Abi melihat ke bawah, ia mendapati bahwa ban sepeda belakangnya bocor.
"Sepedaku bocor, Bu." Abi berbicara kepada ibunya.
"Nebeng temenmu dulu saja," jawab Siti Fadilah.
"Lha ini nanti sepedanya siapa yang nambal, Buk?" Tabya Abi lagi.
"Biar di situ saja, nanti biar Ibu yang bawa ke tukang tambal ban kalau sudah buka," tutur Siti Fadilah.
Di desanya Abi memang ada seseorang yang membuka bengkel sepeda dan sepa motor. Walaupun kiosnya kecil, namun kios itu lumayan ramai.
Kalau pagi-pagi begini harus menunggu sepedanya ditambal pasti akan terlambat menuju sekolahan, akhirnya Abi meninggalkan sepedanya di rumah.
Ia langsung berjalan kaki menuju rumahnya Putra, melalui jalan biasa yang melintasi depan rumahnya.
Lewat belakang sebenarnya dekat sih, namun tadi malam kan habis hujan, jadi tidak mungkin dong lewat belakang.
Putra sudah menunggu di depan rumahnya sambil duduk di kursi kecil depan rumahnya, lalu Abi menghampirinya.
"Kamu gak bawa sepeda, Bi?" Tanya Putra.
"Endak bisa, sepedaku lagi bocor." Abi membenarkan posisi tasnya.
Beberapa saat menunggu, Panji dan Agus datang membawa sepeda sendiri-sendiri.
"Lho kamu gak bawa sepeda?" Tanya Agus melihat Abi yang berdiri tanpa ada sepeda di sampingnya.
"Bannya bocor," tutur Abi.
"Ya sudah kalau begitu gampang lah, bareng aku juga bisa." Agus menunjukkan boncengan yang ada di sepeda Phoenix-nya.
"Bawa buku pelajaran atau tidak nih?" Tanya Panji.
"Aku bawa lah buat jaga-jaga siapa tau ada remidial," kata Agus.
"Aku juga bawa sih," tambah Abi.
"Lah aku kok ndak bawa ya, tunggu sebentar aku mau ambil dulu." Putra kembali masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil buku mata pelajaran hari ini.
__ADS_1
Setelah Putra keluar dari rumahnya, mereka semua langsung berangkat ke sekolahan seperti biasanya.