Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu
SMP - Laga Semifinal Liga Pelajar


__ADS_3

"Sarapan datang," kata Fajar di depan pintu kamar.


Putra turun dari ranjang tidurnya, menghampiri Fajar dan Ferdian yang sedang membagikan sarapan. Mereka nampak hangat sekali di pagi ini, sepertinya suasana bahagia masuk ke babak semifinal Liga Pelajar Kabupaten masih menghinggapi sekeliling otak mereka.


Abi yang sedang berada di ranjang atas, duduk bersila melihat acara di tv sambil melamun dan lemas sekali.


"Kamu kenapa, Bi?" tanya Ferdian.


"Aku lumayan kangen sama Bapak Ibukku di rumah," jelas Abi.


"Semua juga kangen kali, Bi. Sini makan dulu lah," kata Putra.


Fajar dan Ferdian memutuskan untuk makan di kamar tersebut, kemudian Abi menuruni ranjang yang berada di atas. Duduk bersama ketiga temannya untuk sarapan pagi bersama.


"Nanti kira-kira kita bisa menang apa ndak ya?" tanya Abi.


"Harus menang lah, Bi." Fajar menyemangatinya.


Sesekali sambil melahap sarapan pagi yang ada dihadapan mereka, menu pagi ini adalah tempe, tahu goreng, lalapan dan sambal terasi. Serasa nikmat sekali, apalagi makannya tidak sendirian.


"Kita belum pernah denger nama tim lawan kita yang satu ini, sepertinya tim kuat juga." Putra sesekali mengunyah menu sarapannya.


"Semua lawan itu pasti susah dikalahkan, ini turnamen yang sangat luar biasa. Kita lolos ke semifinal aja sudah dengan upaya susah payah sekali," jelas Putra.


"Jujur kemarin waktu melawan SMP Sindoro, aku sudah susah sekali untuk mencari ruang kosong," tambah Putra.


"Iya, pertahanan mereka sangat ketat sekali. Aku susah sekali untuk mengumpan," kata Fajar.


Sarapan yang mereka santap di pagi ini sudah habis, keempat anak itu membuang bekas bungkus sarapannya ke dalam tong sampah yang terletak di depan kamar Abi. Di area lorong jalan asrama, samping jalan yang berkeramik putih diatas saluran pembuangan air kotor.


Mereka kembali ke dalam kamar untuk melanjutkan perbincangan, Putra terus menerus meminum air yang ada di dalam botol air mineral dua setengah liter dihadapannya.

__ADS_1


"Huh ... hah, pedes banget sumpah." Putra membuka tutup mulutnya.


"Punyaku gak aku makan sambalnya," kata Abi.


"Aku cuman makan dikit doang tadi," jawab Ferdian.


Pagi ini keempat anak itu berbincang sangat seru sekali, hingga tak terasa sudah hampir pukul sembilan pagi. Ferdian dan Fajar mulai berdiri untuk bersiap kembali menuju kamar mereka masing-masing.


"Balik dulu lah, kan kita ke lapangan pukul sembilan. Untuk pengecekan ulang data pemain, line up tim dan melakukan pemanasan sedikit agak lama." Fajar memberitahu kepada temannya.


"Iya nih, kita harus segera kesana. Aku juga mau siap-siap pakai seragam dan perlengkapan dar kamar sekalian." Putra mengambil sepatu futsalnya.


Pukul sembilan semua pemain SMP Negeri Noveltoon sudah siap untuk menuju lapangan pertandingan guna melakukan pemanasan ringan. Terlihat para pemain serentak mengenakan setelah celana hijau, baju dan kaos kaki putih. Sedangkan, untuk penjaga gawang. Mereka mengenakan baju merah, celana dan kaos kaki hitam.


Ferdian menyampirkan baju merah di pundaknya, untuk jaga-jaga situasi terburuk apabila ia harus menjadi kiper terbang saat powerplay. Berharapnya sih tidak sampai melakukan strategi tersebut.


Seluruh pemain berjalan menuju lapangan pertandingan, belum ada kemunculan tim lawan. Hanya terlihat panitia dan beberapa penonton yang sudah memasuki tribun GOR Krida Kresna.


"Iya lah, semifinal kok," jawab Fajar.


SMP Sindoro yang berada satu grup dengan mereka, ternyata datang untuk menyaksikan pertandingan kali ini. Jarak sekolah mereka dengan GOR tidak lah jauh, maka SMP Sindoro bisa menyaksikan pertandingan ini dengan mudah.


"Semangatt!" teriak Fajar dalam kerumunan.


"Yok ... semangat!" teriak beberapa pemain lainnya.


Setelah memverifikasi data pemain selesai, mereka semua masuk ke lapangan pertandingan untuk melakukan pemanasan. Dari kejauhan tim lawan datang dengan postur tubuh yang lumayan tinggi-tinggi orangnya. Mungkin akan menjadi situasi yang sedikit berat bagi para pemain SMP Negeri 1 Noveltoon.


Beberapa saat setelah melakukan pemanasan, sekarang saatnya starting five kedua tim saling berjabat tangan sebelum memulai permainan.


Semua berjabat tangan dengan senyum tipis-tipis, wasit mulai untuk melempar koinnya. Pada saat itu Fajar memilih untuk mengambil bola saja.

__ADS_1


"Priittt!" suara peluit wasit.


SMP Negeri 1 Noveltoon sedikit kocar kacir dalam menghadapi serangan dan teriakan gemuruh para penonton yang hadir.


Baru sebentar saja bermain, mungkin masih sekitar 6 menitan. Tim lawan sudah mendapat hadiah penalty, padahal sangat terlihat jelas tidak terjadi pelanggaran apa-apa dalam situasi tersebut. Pemain lawan melakukan diving (menjatuhkan diri sendiri dengan seolah-olah terjadi pelanggaran).


Abi masuk menggantikan Abu Sauqy di bawah mistar gawang, situasi satu lawan satu dalam kesempatan ini.


"Priitt," tanda eksekusi boleh dilakukan.


Pemain lawan maju kearah bola, Abi berusaha menebak kearah kanan. Tetapi, pemain musuh menendang kearah yang berlawanan, untungnya bola itu membentur tiang gawang dan keluar lapangan pertandingan.


Abi kembali keluar lapangan untuk digantikan oleh Sauqy. Putra, Joko dan Fajar merasa beberapa kali dijatuhkan oleh pemain lawan. Namun, wasit tidak meniup peluitnya sebagai tanda pelanggaran. Pemain SMP Negeri Noveltoon berusaha melakukan protes, tapi tidak ada jawaban apa-apa yang keluar dari mulut sang pengadil lapangan.


"Huu!" teriakan beberapa penonton yang ada di tribun.


Fajar mengambil kesempatan dalam situasi tendangan sudut, ia berusaha mengumpan kepada teman-temannya yang ada dalam circle penalty. Tapi semua posisi temannya sudah tertutup rapat oleh musuh, dirinya mengumpan kencang kearah depan gawang, berharap ada situasi yang menguntungkan untuk teman-temannya.


Bola itu mengarah ke dalam circle penalty, membentur kaki lawan. Bermaksud untuk mengamankan bola, namun bola itu mengarah ke gawang melewati sela-sela kaki penjaga gawang sendiri (musuh) hingga menjebol gawangnya sendiri.


Riuh gemuruh sorak sorai penonton yang ada di bangku tribun termasuk para pemain SMP Sindoro yang menyaksikan pertandingan ini. Fajar melakukan sujud syukur dari pinggir lapangan, tempat ia mengambil situasi tendangan sudut tadi. Skor 1-0 bertahan hingga babak pertama usai.


Mendapat sedikit arahan dari Pak Taufik dijeda istirahat babak pertama untuk tidak usah terlalu terpancing emosi.


Terjadi jual beli serangan di babak kedua pertandingan, namun sayang sekali serangan SMP Negeri 1 Noveltoon tidak pernah menemui sasaran.


Waktu menyisakan lima menit akhir, tim lawan lagi-lagi mendapat hadiah penalty. Putra dianggap melakukan handball, padahal jelas-jelas bola mengenai dada. Putra memprotes keputusan tersebut, tetapi ia malah mendapat kartu kuning.


Abi berhasil dengan mudah menepis tendangan musuh, bola mengarah kepada Fajar. Lalu, ia memberi umpan trobosan langsung kepada Putra. Namun, baju Putra malah ditarik oleh pemain musuh, dalam situasi tersebut tidak terjadi pelanggaran. Putra memprotes keputusan itu, tapi malah ia mendapat kartu kuning kedua dan harus meninggalkan lapangan permainan.


SMP Negeri 1 Noveltoon bermain hanya dengan 4 pemain saja, terjadi serangan bertubi-tubi. Karena solidnya pertahanan yang dibangun para pemain dan apiknya penampilan Abu Sauqy, membuat skor 1-0 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

__ADS_1


__ADS_2