
"Kamu langsung nyebarin obat saja," kata Abi.
Khoirul langsung melepas bajunya, ia terjun ke air, kemudian menyebar racun tersebut. Setelah selesai menyebar, ia kembali naik ke atas daratan pinggir kali untuk menunggu beberapa saat hingga ikan yang ada dalam air tersebut menjadi mabuk kepayang.
"Kira-kira berapa lama ya?" Tanya Rama.
"Ini biasanya sih cuman sepuluh menit juga udah teracuni," jawab Khoirul.
Tak berselang lama, beberapa ikan sudah mulai muncul ke permukaan air dengan kondisi berenang tidak beraturan. Putra langsung mengeluarkan serok jaring yang terbuat dari bekas raket bulutangkis, lalu dikasih dengan sebuah jaring yang dipasangnya di raket terssbut.
"Wahh, sudah banyak sekali!" Fandil melepas bajunya.
Beberapa anak langsung melepas bajunya juga untuk bersiap-siap mencari ikan di area kali tersebut.
"Ayolah langsung nyebur saja," ajak Putra.
"Oke lah," kata Agus.
"Embernya taruh sini dulu, biar nanti gampang masukin ikannya." Panji menaruh ember hitam di pinggir kali itu.
"Ayo!" Abi masuk ke air yang ada di cekungan tanah itu.
Ikannya memang banyak sekali, hanya terlihat ikan kecil-kecil saja yang terlihat. Beberapa kesempatan juga ada udang kecil air tawar yang muncul ke permukaan dengan kondisi mabuk, namun belum satu pun terlihat ada ikan gabus yang muncul.
"Ini ikannya kalau kecil-kecil tapi banyak begini ya lumayan juga," kata Rama.
"Lumayan banget lah," jawab Diki.
"Nanti mau diapain ini?" Tanya Fandil.
"Dibakar di belakang rumahnya Abi saja, bagaimana?" Khoirul menyarankan teman-temannya.
"Boleh saja itu, seru juga kelihatannya." Rama membayangkan sesuatu.
"Bagaimana? Abi, boleh apa tidak?" Tanya Fandil.
"Boleh lah, kan tadi emang rencanaku berempat mau bakar ikan." Abi menjawab dengan sepenuh hati.
Mereka semua langsung mencari ikan sebanyak-banyaknya, sisi bagian dasar ember sudah mulai terisi bingga tak terlihat lagi alas bagian dalamnya.
Terik matahari menemani suasana mereka mencari ikan, hanya ada beberapa pohon di pinggir kali itu. Sehingga tak dapat membantu menutupi panasnya cahaya matahari di siang bolong ini, masih pukul 13.00 WIB.
Khoirul membawa plastik untuk dijadikan wadah udang-udang kecil yang mulai mabuk ke permukaan air, udang itu berwarna putih bening sehingga terlihat organ dalamnya.
"Lha ini udangnya ada yang mau ndak?" Tanya Khoirul.
__ADS_1
"Ya penting cari saja," kata Diki.
"Nanti kalau pada ndak mau, aku kasih ke mamakku saja." Khoirul tertawa.
"Bawa pulang aja ndak papa, masa nanti mau bakaran udang?" Tanya Rama sambil meringis.
"Ya sudah, oke lah." Khoirul kembali melanjutkan menyisir sudut-sudut kali.
Panji dan Agus terlihat muncul dari sudut sela-sela rumah omnya dengan membawa sebuah termos teko, memang sedari tadi kedua anak ini tidak terlihat batang hidungnya sama sekali saat semua masuk ke dalam kubangan air ini.
"Darimana aja kamu?" Tanya Abi.
"Aku habis dari rumah Omku, sama Panji." Agus berjalan membawa teko.
"Lha itu apa?" Diki penasaran.
"Ini tadi aku sama Panji disuruh buat es, dikasih sama Om-ku," tutur Agus.
"Alhamdulillah dapat rejeki nomplok," jawab Khoirul.
Agus dan Panji berada di daratan tepian kali, sedangkan anak-anak yang lain berada di dalam kubangan air sambil mencari ikan, itulah situasi yang menggambarkan percakapan diatas.
Kemudian kedua anak yang masih berada di daratan, melepas bajunya. Sedikit demi sedikit mereka berdua melangkahkan kakinya menuju ke dalam kali tersebut.
Sudah hampir setengah jam, mereka semua mencari ikan di dalam kubangan air tersebut. Ember juga sudah hampir terisi penuh, walaupun tidak penuh dengan arti kata yang sebenarnya.
"Ayo saja lah, keburu sore juga." Fandi menepi.
Setelah itu seluruh anak yang ada di dalam kubangan air tersebut, tiba-tiba menepi ke daratan sambil mengeringkan badannya.
Kemudian mereka membagi hasil mencari ikan tersebut menggunakan plastik kresek hitam kecil kepada semua anak yang ada di situ, sisanya nanti dibuat bakaran saja di belakang rumahnya Abi.
"Semua sudah kebagian ya?" Tanya Diki.
"Sudah," jawab Fandil.
"Tapi ini kok masih lumayan banyak ya?" Tanya Rama.
Abi langsung melihat ke dalam ember, beberapa menit ia mencoba memfokuskan pandangannya ke dalam ember tersebut.
"Iya ini kalau dibuat bakaran terlalu banyak lah," jelas Abi.
"Kira-kira Om-mu mau apa ndak ya, Gus?" Tanya Diki.
"Ndak tau, coba dibungkusin saja. Masih ada plastik kan?" Agus sambil membersihkan badannya.
__ADS_1
"Masih ini ada plastik," kata Abi.
Khoirul menghampirinya, mengambil plastik tersebut untuk mengambilkan ikan yang akan diberikan kepada om-nya Agus.
"Segini cukup kan?" Tanya Khoirul.
"Cukup lah," jawab Agus.
Setelah itu semua anak langsung bergegas kembali ke rumah masing-masing untuk mandi dan membersihkan badan terlebih dahulu, mereka berjalan melewati samping rumah om-nya Agus sambil menyampirkan bajunya di pundak.
Saat sampai di samping rumah bagian depan, ternyata terlihat om-nya Agus sedang bersantai di teras rumah dengan beberapa saudaranya yang lain.
"Om, ini ada sedikit ikan." Diki meletakkan sebungkus plastik kresek hitam di tepian teras rumah yang berlantai keramik.
"Lhah... Malah repot-repot!" Pemilik rumah berbicara dengan sedikit tidak enak hati.
"Bawa saja," kata Tante Erlin, istrinya Om Ahwan (om-nya Agus).
"Kita masih banyak kok, Om." Diki menjawab, kemudian semua anak langsung bergegas meninggalkan tempat itu.
"Terima kasih ya!" Om Ahwan berbicara samil sedikit berteriak, sebenarnya ia tak mau menerima ikan tersebut, namun anak-anak itu meninggalkan ikan begitu saja di sudut teras rumahnya.
Menapakkan kaki melewati jalan desa yang masih beralaskan tanah dan beberapa batuan alami yang masih menempel di beberapa bagian jalan, mereka satu per satu kembali ke rumah masing-masing saat sampai di rumahnya Abi.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Nanti kesini lagi," kata Fandil.
"Aku juga mau pulang dulu," pamit Rama.
Semua bergegas menuju rumah mereka masing-masing.
"Jangan lupa, nanti kesini semua ya!" Teriak Abi kepada teman-temannya.
Kemudian Abi langsung masuk ke dalam rumah melalui pintu rumah belakang yang berisi ternak unggas miliknya, ia meletakkan ember yang berisi ikan diatas sebuah meja tak terpakai yang ada di rumahnya bagian belakang, bermaksud agar ikan tersebut tidak dimakan oleh kucing atau hewan lain.
Abi menuju kamar mandi, melepas semua pakaiannya untuk direndam di sebuah ember kecil agar lumpur yang menempel bisa sedikit mudah untuk dihilangkan saat dicuci.
"Byur, byur, byur," suara air yang membasahi tubuh Abi.
Di tempat lain, Putra yang sedang pulang ke rumahnya langsung memberikan sebungkus ikan mentah itu kepada ibunya.
"Habis darimana toh, Le. Kok kotor begitu," kata Sarti.
"Tadi habis cari ikan sama temen-temen di belakang rumahnya Om Ahwan," tutur Putra.
"Nanti kalau dimarahin yang punya tempat gimana?" Tanya Sarti sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Endak, Buk. Tadi kita juga sudah kasih beberapa hasilnya kepada Om Ahwan dan ada Agus juga di situ kok," jawab Putra berusaha menenangkan ibunya.