
Pagi itu, Abi selalu dihampiri teman-temannya ketika hendak berangkat sekolah. Menunggu di depan rumahnya dengan keadaan siap.
Kemudian, Abi mencium tangan kedua orang tuanya yang ada di dalam rumah sembari pamit. Dengan menuntun sepeda keluar rumah. "Assalamualaikum berangkat dulu," Abi mengucapkan salam.
"Waalaikumusalaam," Jawab Siti Fadilah ibu Abi.
"Hati-hati ya, Nak. Jangan ngebut!" teriak Rohmat dari dalam rumah.
Pukul setengah tujuh pagi, Abi mulai berangkat ke sekolahan. Hanya bersepeda lima belas menitan, Abi tiba di sekolahan. saat tiba di kelas, ternyata keadaannya sangat gaduh sekali.
Hari itu, ada tugas mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Banyak sekali yang belum mengerjakan. Akan tetapi, seperti biasa dong. Abi merasa santai-santai saja. Soalnya, semua tugas yang ada di buku paket itu sudah selesai.
Kembali lagi, Dedy berulah kepada Abi.
Dedy : "Bii, sini pinjem dong!"
Abi : "Enak aja."
Dedy : "Pinjem bentar doang!"
Abi : "Usaha sendiri toh."
Dedy : "Pelit amat sih jadi orang!"
Abi : (Diam saja, acuh, cuek).
Dedy : (Emosi, mendekati Abi).
"Selamat pagi anak-anak." Ternyata suara pak Yatin, guru mata pelajaran IPA yang sedang berjalan masuk kedalam ruang kelas.
Bp. Yatin : "Tugasnya sudah selesai?"
Siswa : "Sudah pakkkk." (Serentak).
Bp. Yatin : "Sudah bisa dikoreksi dong?"
Siswa : "Bisa pakk!"
Bp. Yatin : "Kumpulkan ke meja saya."
Semua siswa berjalan membawa buku mereka dan menaruhnya di meja Pak Yatin.
"Sekarang akan saya bagikan acak, biar nanti ketika dikoreksi tidak dipegang pemiliknya sendiri ya." Pak Yatin sambil berjalan membagikan buku secara acak.
Dedy merasa gugup dan bingung, karena sadar tugasnya belum terisi sepenuhnya. Mungkin, hanya baru dikerjakan enam puluh persen. Dan itupun hasil dari menyontek.
Pak Yatin selesai membagikan, kembali berjalan menuju depan. Mengambil spidol dari tasnya, mulai membuka bukunya dan menulis jawaban di papan tulis.
__ADS_1
Sedangkan di bangku siswa, Dedy terlihat sangat gelisah dan terus mencari yang mengoreksi buku tugasnya.
Ketemulah, bukunya dibawa oleh Tresno. kemudian terjadi percakapan diantara mereka berdua.
Dedy : "Tres, tulis jawabannya ya."
Tresno : "Enak aja. Dosa ah, gamau."
Dedy : "Yaelah, gitu amat sama teman."
Tresno : "Ya emang punyamu belum ada jawabannya. harus gimana dong?"
Dedy : "Bantu teman tambah nilai."
Tresno : "Jadi budakmu, gak sudii."
Dedy : "Nantang kamu ya!"
Tresno : "Siapa takutttt."
Dedy : (Melempar bolpoin ke arah Tresno).
Bp Yatin : "Ada apa, Ded?"
Dedy : "Gapapa, Pak. aku gak sengaja."
Pak Yatin selesai menulis jawaban di papan tulis, para siswa sibuk menyocokan jawaban yang ada di buku, dengan jawaban di papan tulis. Lalu, selesai sudah waktunya.
Setelah selesai mencatat nilai, sekarang saatnya pengumuman. Abi mendapat nilai 90, kemudian Latif, Diki, dan Tresno mendapat nilai masing-masing 80,85,75 .
Sedangkan Dedy hanya mendapat nilai dua puluh, dari semua jawaban yang ditulis. Secara otomatis, Pak Yatin menaruh kecurigaan dong.
"Ded, Kok kamu dapet nilai paling sedikit? kamu ndak belajar?" tanya Pak Yatin.
"Saya lupa kalau ada tugas, Pak," jawab Dedy.
"Coba, bawa sini buku kamu," kata Pak Yatin.
Dedy berjalan kedepan membawa bukunya, diberikan kepada Pak Yatin. Dilihat, lalu kaget sekali Pak Yatin kekita melihat buku Dedy banyak yang kosong.
"Ini kosong semua? mana jawaban kamu? pantesan nilaimu cuma dua puluh," tanya pak Yatin.
"Hahahahahahaaa." Para siswa tertawa.
Dedy menoleh ke arah bangku teman-temannya yang sedang menertawakannya. Nampaknya, Dedy bukannya menjadi malu, tetapi malah terlihat semakin emosi.
########
__ADS_1
Teettt ... teettt ... tettt ... (bel tanda pulang).
Abi dan teman-teman bersepeda seperti biasa, rombongan sekitar sepuluh orang. Setelah sampai dirumah, mereka bermain bola di depan rumah Abi.
Sedangkan yang punya rumah malah pergi ke sawah membantu ibunya memetik cabai. Memang, Abi sedari kecil selalu diajak ke sawah. Bahkan, saat usianya masih balita kerap sekali diajak ke sawah.
Mengenakan pakaian panjang dan membawa ember yang berisi karung, air minum dalam botol, beserta tali. Abi mulai menemani ibunya pergi ke sawah, berbonceng sepeda mereka berangkat.
Memetik cabai sebenarnya butuh keahlian khusus dan terbiasa. Seharusnya, yang dipetik itu cabai beserta sedikit tangkainya.
Apabila tidak terbiasa malah hanya cabainya saja yang tercabut, dapat membuat cabai mudah busuk. Kalau ada cabai yang seperti itu. Lebih baik dipisahkan saja, untuk bumbu masak sendiri. Jangan di jual.
Abi mulai memetik cabai, dengan perlahan dan teliti agar tidak melakukan kesalahan.
Waktu sudah berlangsung cukup lama, hingga hampir tenggelam matahari. Cabai yang terkumpul juga sudah cukup lumayan banyak. Sampai karung hampir terisi penuh. Lalu, Abi dan ibunya mengikat karungnya. Bergegas pulang, sebelum hari benar-benar gelap.
Hari itu, panen hanya dapat sekitar empat kilogram. Harga perkilo saat itu dua puluh ribu rupiah. Lumayan, bisa untuk membuat dapur berasap selama seminggu kedepan.
Sampai di rumah, ia langsung mandi berangkat mengaji.
Tanpa ia sadari, bahwa hari itu adalah jadwalnya menjadi imam sholat di tempat mengaji. Menyetorkan hafalan surah yang ia pelajari kemarin, tak terasa waktu sudah maghrib.
Inilah waktunya tampil di depan, Abi berjalan menuju depan teman-temannya.
"Allahuakbar!" takbir Abi berkumandang.
Abi sholat dengan membaca surah-surah pendek seperti An-Nas dan Al-Ikhlas. "Assalamualaikum warahmatullah," salam Abi.
Lalu berdzikir dan berdoa sebentar yang dipimpin langsung oleh Pakde Muhlisin. Setelah selesai semuanya, dilanjutkan dengan ngobrol santai sembari beristirahat.
"Abi, tadi kamu baca surah waktu sholat itu kurang keras suaranya. Mungkin, lain kali kalau tiba giliran kamu lagi. Bacaanya lebih lantang ya," koreksi Pakde Muhlisin.
Walaupun sedikit mendapat masukan dari Pakde. Tetapi, hatinya sangatlah lega. Telah melewati tugasnya menjadi imam sholat, yang mungkin menjadi bayang-bayang fikirannya selama ini.
Waktu mengaji telah usai, semua bergegas pulang menuju rumah masing-masing. Malam itu tidak ada yang bermain, karena situasinya sedang gerimis.
Ketika di rumah, ia mengerjakan tugas yang ada di dalam buku paket mata pelajaran semuanya.
Apa saja yang ia merasa mampu kerjakan, ya pasti dikerjakan. Waktu itu belum ada gadget, jadi tidak bisa secanggih anak-anak zaman sekarang (hehe).
Anak-anak ditahun ini, rata-rata sudah punya gadget. Tidak semua, tetapi hampir rata untuk kalangan anak usia Sekolah Dasar.
Pukul Sepuluh malam.
"Abiii tidurr gih! sudah malem, Nang," suara Ibu dari dalam kamar.
Mulai membereskan buku yang sedang berserakan, memasukan kembali kedalam tasnya. Berjalan menuju kamar untuk tidur malam.
__ADS_1
Siti Fadilah sering tidur berdua saja dengan anaknya, sang suami sering keluar malam untuk bermain judi. Entah hanya menonton atau ikut main, pasti Romhat bapakya Abi itu selalu keluar malam. Ia tak sedikitpun memikirkan keluarganya yang ada dirumah. Pulang selalu dengan mulut yang bau minuman keras, kerap bertengkar dengan sang Istri.
Adzan subuh, pasti Romhat ayah Abi baru masuk rumah. Saat sang istri sedang bangun untuk sholat subuh dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Hal itu membuat Abi sedikit tidak nyaman ketika berada di dalam rumah. Tertekan, melihat kenyataan sang ibu dan bapak sering bertengkar.