Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu
SMP - Gubuk Kecil


__ADS_3

Semua anak-anak duduk di sebuah kayu bekas tebangan pohon beberap hari yang lalu, sebenarnya pohon itu milik nenek dari Syahrian Abimanyu. Namun ketika tumbang, pohon itu mengarah ke halaman belakang rumah miliknya.


Abi mengambil tikar kecil yang ada di dalam rumahnya, sebenarnya alas ini tidak cukup untuk menampung semua temannya yang ikut ke belakang rumah.


Agus dan Panji mencari bekas daun kelapa yang ada di belakang rumah Indra, ditemani oleh si empunya rumah.


Fandil, Khoirul dan Abi menyapu area yang akan dijadikan tempat untuk membuat rumah-rumahan dari daun kelapa, tempat ini sangat dipenuhi oleh daun-daun yang jatuh berterbangan ke bawah.


Sedangkan sisanya yang lain, mencari buah-buahan untuk dijadikan rujak ketika bersantai nanti.


Terik sinar matahari mulai menimpulkan rasa yang lumayan panas, sesekali anak-anak yang menyapu belakang rumahnya Abi itu, mencari tempat untuk berteduh dari pancaram sinar mentari di pagi ini.


*******


"Daunnya dimana?" Tanya Agus.


"Tadi pagi masih di sini," jawab Indra.


"Coba tanya dulu ke Ibu kamu," kata Panji.


Mereka bertiga langsung menuju ke dalam rumah Indra, untuk mencari ibunya dan menanyakan keberadaan sisa-sisa daun kelapa yang tersisa dari bekas tebangan kayu kemarin.


Ibunya sedang bersantai saja di ruang tamu, menonton televisi sambil mengasuh adiknya Indra yang masih kecil.


"Mak, daun kelapanya yang kemarin mana?" Tanya Indra kepada ibunya.


"Oh itu, tadi dibersihkan bapakmu. Dibuang ke bawah pohon bambu sana," Ibunya menunjuk kearah tempat yang sudah dipahami oleh Indra.


"Oh ya sudah," jawab Indra sambil berjalan keluar rumah.


Panji dan Agus hanya menunggu sambil bersender di tembok sisi samping rumah Indra, kemudian mereka berdua melihat temannya itu datang kembali menghpirinya.


"Dimana?" tanya langsung Agus.


"Itu di sana, ayo ikut aku." Indra bergegas melangkahkan kaki menuju ke tempat yang sudah diberi tahu oleh ibunya.

__ADS_1


Indra menunjukkan jalan kepada kedua temannya yang berada di belakang, melangkahkan kaki dengan penuh rasa hati-hati. Karena mereka bertiga harus melewati pohon bambu yang banyak sekali durinya, daun-daun bambu yang sudah kering telah banyak yang jatuh ke bawah, membuat jalan yang sebelumnya beralaskan tanah, kini malah menjadi tumpukan dedaunan pohon bambu yang sudah kering.


"Aduhh!" teriak Agus ketika menginjak duri bambu yang jatuh tertumpuk.oleh dedaunan.


Sedikit berusaha dengan susah payah, ketiga anak ini berhasil sampai di sebuah cekungan tanah, bekas kali kecil yang sedang tidak terisi oleh air.


"Itu daunnya." Indra menunjuk kearah tempat itu yang di penuhi oleh banyak sekali daun kelapa yang masih utuh menempel di tangkainya.


"Ini dibawa lewat belakang sini, bisa kan?" tanya Panji menunjuk kearah jalan alternatif melalui belakang rumah-rumah warga.


"Bisa lah, tapi sedikit becek jalannya. Gak papa kan?" tanya Indra.


"Oke saja lah," jawab Agus meyakinkan semuanya.


"Satu orang bawa dua batang pohon ini ya," kata Panji sambil sedikit meringis.


"Siaap," jawab Indra dengan tegas.


Ketiga anak itu membawa dua batang pohon kelapa yang masih utuh dengan daunnya, melewati beberapa jalan yang masih berair, mereka berjalan dengan sangat hati-hati, menuju tempat dimana akan mendirikan rumah-rumahan nanti.


*******


Buah-buah itu berada dalam satu kresek besar, dalam hati anak-anak ini sudah tidak sabar untuk menikmati rujak di pagi ini.


Indra berjalan dari belakang halaman ini, ditemani oleh kedua teman lain yang sedang memikul batang pohon kelapa yang lengkap masih berisi dengan daunnya.


Ketiga anak itu meletakkan daun kelapa di dekat tempat mereka akan mendirikan rumah-rumahan kecil, kemudian Indra berjalan menghampiri beberapa temannya yang sedang berkerumun.


"Mana cabai buat sambalnya nanti, Ndra?" tanya Abi.


"Oh iya, Ya Allah. Aku bener-bener lupa," jawab Indra sambil menepuk jidat.


"Ya sudah ndak papa, nanti pakai punyaku saja." Abi berjalan masuk ke dalam rumah, mengambil cobek dan beberapa bumbu dapur yang akan digunakan sebagai bahan membuat sambal rujak.


Diki, Khoirul, Fandil dan Indra langsung bergegas membuat rumah-rumahan kecil yang akan mereka jadikan eksperimen ketika libur sekolah ini, sedangkan Abi dan beberapa teman yang lain akan bertugas meracik bumbu rujak dan membersihkan buah.

__ADS_1


Ditemani sengatan sinar mentari dan sejuknya angin pagi, mengiringi kegiatan yang mereka lakukan pagi ini.


Abi berjalan keluar dari pintu belakang rumah membawa cobek dan plastik kecil yang berisi bahan-bahan sambal rujak, menghampiri Putra yang sedang mengupas kulit mangga muda.


"Ini nanti dicuci dimana ya, Bi?" tanya Putra kepada Abi.


"Itu samling rumahku ada keran, cuci di situ saja." Abi menunjuk kearah samping rumahnya.


Indra dan ketiga teman Abi yang lain telah berhasil mendirikan tiang-tiang rumah yang akan dibuatnya dari daun kelapa itu.


Pagi ini semua anak-anak menikmatinya dengan memakan rujak dan bersantai atau bermain di sebuah gubuk kecil yang dibuat dengan menggunakan daun kelapa.


Setelah mereka capek dengan aktivitas kali ini, akhirnya mereka kembali pulang ke rumah masing-masing dengan keadaan badan yang terbasahi oleh keringat.


Abi yang di rumah sedang sendirian, bingung tidak punya aktivitas bermain apa lagi. Kemudian ia memutuskan untuk mencari kangkung liar untuk binatang kelinci-kelinci kecil kesayangannya, mengambil sabit dan karung di dalam rumah, dirinya pergi ke sawah-sawah yang ada di belakang rumahnya untuk mencari kangkung.


Putra yang sedang bersantai di belakang rumahnya, melihat Abi sedanh berjalan membawa karung dan sabit, langsung mengikutinya.


"Bi, mau kemana?" tanya Putra.


"Mau cari kangkung," jawab Abi sambil bingung ketika mendengar suara yang muncul dari belakangnya.


"Aku ikut," kata Putra.


"Boleh saja, Ayo." Abi kembali melangkagkan kakinya menuju tempat yang akan ia tuju seperti biasanya.


Berjalan melalui sela-sela tanaman padi yang telah sedikit menguning, kedua anak ini berhati-hati agar tidak merusak tanaman itu, takutnya nanti apabila yang punya sawah itu mengetahuinya dan memarahinya.


"Hati-hati, jangan sampai rusak." Abi membuka sela-sela antara beberapa tanaman padi itu.


Ketika sampai di tempat biasanya ia mencari kangkung, ternyata hanya tinggal beberapa tangkai yanh tersisa. Sepertinya ada seseorang yang sebelumnya telah mengambil tanaman kangkung yang ada di situ, dirinya terlambat.


Lalu Abi dan Putra memutuskan untuk pergi ke tempat lain, menuju tempat lain yang biasa ia tuju untuk mencari kangkung dikala apabila tempat tujuan utama belum ada kangkung.


Ketika mereka berdua sampai disana, ternyata hanya tinggal beberapa kangkung saja, karena tiga hari yang lalu Abi sudah mengambil kangkung di tempat ini.

__ADS_1


Abi dan Putra memetik kangkung itu hingga habis seluruhnya, mereka berdua hanya berhasil mendapatkan sstengah karung siang ini.


Setelah kangkung sudah tidak ada yang bisa dipetik lagi, akhirnya kedua anak ini kembali ke rumah.


__ADS_2