
Pelajaran sekolah berlangsung dengan sedikit riang, hari ini Pak Chandra seorang guru mata pelajaran bahasa Inggris sedang mengajar dengan diselingi sebuah candaan.
Guru itu masih sangat muda sekali, masih ganteng dan tinggi badannya. Menjadi idola banyak kaum perempuan di sekolahan, beberapa murid perempuan terkesima melihat parasnya nan rupawan.
Sampai bel istirahat berbunyi, tidak ada materi satu pun yang serius keluar dari mulut pengampu itu. Sukanya bercanda melulu dalam mengajar, namun begitulah caranya agar semua siswa paham dan selalu ingat akan makna pelajaran yang beliau berikan.
Saat istirahat semua anak pergi ke kantin, hanya ada Abi dan beberapa teman lainnya tersisa di dalam kelas yang bisa dihitung menggunakan jari tangan.
Ningsih yang sedang berada di pintu kelas persis, memanggil Abi yang sedang duduk di bangku kelas.
"Bii, sini." Ningsih melambaikan tangannya.
"Ada apa?" Abi bertanya sambil berjalan kearah gadis tersebut.
"Nih," kata Ningsih sembari tangannya memberikan selembar potongan kertas kecil yang berisi nomor telepon (perdana prabayar).
"Apa ini?" Abi masih bingung.
"Sudah nanti hubungi aku ya," kata yang terucap dari mulut imut Ningsih.
"Ehmm!" Teriak ejekan dari bangku kelas yang diduduki oleh beberapa temannya.
Ningsih hanya tersenyum kepada semua anak yang mengejeknya, sedangkan Abi masih malu-malu saat kembali duduk ke bangku kelasnya.
Ningsih dan Abi ini adalah teman satu kelas, Abi sempat jatuh cinta kepada Ningsih, namun saat itu ia melihat gadis itu berjalan dengan seorang cowok yang berada di kelas sebelah.
****
Bel pulang sekolah telah tiba, Abi pulang ke rumah dengan tergesa-gesa meninggalkan ketiga temannya yang masih berada di parkiran sepeda.
"Ada apa dengan anak itu ya?" Tanya Agus.
"Mungkin dia lagi ada urusan penting dengan orang tuanya," jawab Panji.
"Buru-buru banget kelihatannya," tutur Putra.
Abi mengayuh sepeda dengan sangat cepat sekali, ketiga temannya yang bersepeda di belakang hingga malas untuk mengejarnya.
__ADS_1
Saat sampai di rumah, ia langsung melepas seragam sekolahnnya, menaruh tas punggung ke atas lemari kecil miliknya yang terbuat dari bahan plastik.
Kemudian Abi langsung mengambil ponsel dan mencatat nomor yang diberikan Ningsih kepadanya, dirinya langsung memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat ke nomor ponsel tersebut.
"Assalamualaikum, selamat siang. Ini aku Abi," kata yang diketik dalam pesan singkat itu.
Lalu Abi mengirimnya segera ke nomor yang telah disimpan dalam ponselnya.
Menunggu balasan pesan itu, Abi menggunakan waktunya untuk ke meja makan.
Makan yang ada di piringnya hampir selesai, ia mendengar bunyi dering ponsel yang terus menerus. Saat pertama berbunyi, dirinya mengira bunyi itu hanya notifakasi sms, namun bunyi itu tak berhenti-berhenti hingga ia menyadari bahwa itu adalah bunyi notifikasi sambungan telepon.
Abi berhenti dari aktivitas makan siangnya, kemudian berjalan menuju kamar untuk melihat ponselnya yang sedari tadi masih berbunyi.
Saat mengambil dan melihat layar ponsel tersebut, ternyata itu bunyi dering sambungan telfon dari nomor yang bernama Ningsih.
Abi sedikit takut untuk mengangkatnya, ia berfikir terlalu lama hingga nada dering yang ada di ponselnya itu mati.
Ada satu pesan yang sudah masuk dari Ningsih ternyata, Abi langsung saja membuka pesan itu tanpa berfikir lama lagi.
"Waalaikumusalaam, iya ini aku Ningsih. Aku telfon ya, rumahku sepi gak ada orang soalnya," isi dari pesan yang dikirim oleh Ningsih.
"Halo," kata Ningsih dalam sambungan telfon.
"Iya halo," jawab Abi.
"Lagi ngapain, Bi?" Tanya Ningsih.
"Lagi habis makan siang ini lho," jawab Abi lagi.
"Walah udah makan siang toh," kata Ningsih.
"Hehe, ini telfon begini emang ndak ada yang marah?" Tanya Abi.
"Marah? Siapa yang marah emang?" Ningsih merasa bingung dengan kata-kata yang keluar dari mulut Abi melalui sambungan telfon itu.
"Lha aku pernah kamu sering jalan bareng sama cowok setiap pulang sekolah kan," kata Abi.
__ADS_1
"Owalah itu, bukan. Itu adek sepupuku, namanya Tharom." Ningsih berusaha menjelaskan hal tersebut kepada Abi.
"Kirain," Abi tertawa lirih.
"Sebenarnya aku ada ras...," kata yang keluar dari mulut Ningsih terputus.
Abi dibangunkan oleh ibunya pagi itu, ternyata semuanya hanya mimpi. Ia merasa sedikit penasaran akan hal tersebut benar atau tidak, namun saat itu dirinya memang benar-benar dalam keadaan sedang bangun dari tidur malamnya.
Malam ini ia terlelap tidur dengan sangat nyenyak sekali, terlalu capek setelah bermain Bulutangkis bersama keenam temannya.
Biasanya ia terbangun sendiri ketika adzan subuh berkumandang, pagi ini ia tak mendengar suara adzan yang keluar dari speaker Masjid yang berada 300 meter dari barat rumahnya.
"Bangun, kamu tu kalau main jangan terlalu capek. Jadinya begini tidurnya susah bangun," kata Siti Faidlah saat membangunkan Abi.
Kemudian Abi melihat jam yang ada di ponsel jadul miliknya, tertulis pukul 05.03 WIB yang ada di layar ponsel itu.
Lalu ia duduk di ranjang tidurnya untuk mengumpulkan nyawa kembali (istilahnya). Berjalan menuju ke kamar mandi untuk pipis dan mengambil air wudhu dengan keadaan masih sedikit menahan kantuk.
Di dapur, Siti Fadilah sedang berusaha mengangkat sayur yang ia masak dari wajan yang berada diatas kompor. Ia menuangkan sayur yang masih panas itu ke dalam sebuah wadah mangkok putih terbuat dari gelas kaca, setelah itu menaruh kerupuk yang telas selesai di gorengnya dan memasukkannya ke dalam toples.
Abi telah selesai dari kamar mandi dan berjalan kembali ke kamarnya untuk menunaikan ibadah sholat subuh, ia melewati samping dapur tempat ibunya memasak.
"Nanti kalau mau sarapan lauknya ada di dalam tudung saji," kata Siti Fadilah.
"Iya, Buk." Abi mengambil sarung dan menggelar sajadahnya.
"Allahuakbar," suara takbir yang keluar dari mulut Abi.
Siti Fadilah berjalan menuju kamar mandi untuk segera bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerja, ibunya Abi itu berangkat pukul enam kurang seperempat.
Beliau harus bersepeda selama menempuh perjalanannya menuju ke tempat kerja yang berada di desa sebelah, ibunya hanyalah seorang asisten rumah tangga disalah satu rumah milik dokter gigi.
Abi selesai dari ibadah sholat subuhnya, kemudian berjalan ke meja makan untuk mengambil sarapan. Sayur dan nasinya masih sangat panas sekali, Abi membiarkannya dulu supaya tidak terlalu panas.
Siti Fadilah yang selesai dari kamar mandi langsung bersiap-siap untuk berangkat kerja, beliau mengambil tas kecil dan beberapa perlengkapan yang perlu dibawa.
"Lho emangnya sudah sarapan, Buk?" Tanya Abi.
__ADS_1
"Sudah, tuh." Siti Fadilah menunjuk kearah tempat cucian piring kotor.
"Oh ya sudah," kata Abi saat melihat satu piring kotor tergeletak di tempat yang mirip dengan watafel kamar mandi itu.