Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu
SMP - Di Rumah Saja


__ADS_3

Abi mencoba untuk mengerjakan soal yang ada di beberapa lembar kertas tersebut, mencoba mengingat-ngingat jawaban yang ia tulis itu benar ataukah salah.


"Duh sialan, contekanku gak keluar semua." Panji bergumam di ruang lain.


Panji sedikit kecewa karena contekan di salah satu kerta kecil yang ia bawa masuk ke dalam ruangan tersebut, ternyata banyak yang tidak tercantum dalam soal tes kali ini.


Namun Panji berusaha tetap tenang dalam mengerjakan soal tersebut, sedangkan Putra dengan mudah saja mengerjakan soal itu, karena memang ia suka biologi atau ya tentang pelajaran yang berbau kearah alam.


"Mana yang tadi mau kamu tunjukan ke aku, Dek?" Tanya Mbak Novi.


"Oh ini, Mbak." Abi menunjukan lembar jawabannya.


Mbak Novi melihat jawaban yang ada di lembar kertas, di bagian uraian atau alenia ke dua.


Abi nampak yakin sekali kalau jawaban yang ia kerjakan itu sangat benar, karena ia masih mengingat materi yang barusan dipelajarinya saat berada di parkiran sepeda sekolahan.


"Oh ini sudah benar kok, Dek." Mbak Novi mengembalikan lembar jawab itu kepada Abi.


"Oh ya sudah terima kasih, Mbak." Abi mencoba mengerjakan soal yang belum dijawabnya.


Agus yang berada di ruangan lain, nampak kesulitan saat mengerjakan soal yang berbau angka.


Sesekali menggaruk kepalanya, sebagai tanda kalau dirinya sedang bingung. Menengok kearah kanan dan kiri belakang, sepertinya ia sedang mencari contekan.


"Ini jawabannya apa?" Tanya aku kepada salah satu temannya.


"Aku juga belum selesai." Temannya menjawab sambil memperlihatkan lembar jawabnya.


"Ayo kerjakan sendiri," kata pengawas yang mengawasi di ruangan tersebut.


Abi sesekali melirik kearah lembar jawaban yang dikerjakan oleh Mbak Novi, kelihatan sekali dalam soal tes yang berbau rumus fisika dan kimia, mampu dikerjakannya dengan sangat mudah sekali.


Walaupun ia hanya menulis contekan rumus dasarnya saja, perempuan itu bisa menjawab sedemikian rupa dengan jawaban yang terus bersambung hingga terlihat banyak sekali angka-angka yang tertulis di lembar uraian tes sesi kali ini.


"Alhamdulillah," suara yang keluar dari bibir Mbak Novi.


"Sudah selesai, Mbak?" Tanya Abi.


"Lumayan kurang sedikit, Dek." Mbak Novi menunjuk ke beberapa soala yang belum dikerjakannya.


Mbak Novi melihat ke beberapa soal tes yang ada di beberapa lembar kertas kelas delapan yang ada di meja ruangan tersebut.


"Wuihh... Ini hampir semua materinya gak ada perhitungan," kata Mbak Novi.

__ADS_1


"Iya hampir semua soal, Mbak." Abi menjawab.


"Lha kamu tadi bawa contekan apa ndak?" Tanya Mbak Novi.


"Aku ndak bawa, Mbak. Aku ndak berani bawa contekan," kata Abi.


Mbak Novi hanya meringis melihat kearah Abi, kemudian ia langsung tengok kanan, kiri, belakang dan sekitarnya.


"Alhamdulillah kalau ndak bawa contekan, bagus lah." Mbak Novi memberi isyarat jempol kearahku dari bawah meja.


Riuh suara siswa yang ada didalam ruang kelas itu membuat suasana semakin tak kondusif sama sekali, terlihat beberapa anak sedang kebingungan karena belum menyelesaikan soal yang dikerjakannya.


"Waktu tinggal lima belas menit!" Teriak pengawas menunjukan waktu hampir habis.


"Ayo, Mbak." Abi berdiri membawa lembar soal, lembar jawaban dan beberapa peralatan tes yang dibawa ke mejanya. Kemudian ia langsung menyerahkan lembar tersebut ke meja pengawas yang ada di depan.


Abi mengambil tas sambil berjalan keluar ruangan tersebut menuju tempat parkir sepeda yang ada di tengah-tengah sekolahan tersebut.


Dari kejauhan nampak terlihat Panji, Agus dan Putra sudah menunggu di tempat itu.


"Walah aku telat!" Abi muncul dari sela-sela ketiga anak itu berkumpul.


"Aku juga baru sampai sini, Bi." Putra menjawab kata-kata Abi.


"Haha! Makanya jangan nyontek," kata Agus sambil tertawa kecil.


"Ya sudah ayo pulang saja," ujar Panji.


Keempat anak itu segera mengambil sepeda, lalu menuntunnya sampai berada di luar gerbang sekolahan. Kemudian mereka menaikinya dan mengayuh sepanjang jalan menuju rumah.


Jalan raya yang mereka lewati terasa sangat sepi oleh kendaraan bermotor, hanya ada beberapa siswa yang terlihat memenuhi bahu jalan.


Terik cahaya matahari yang menyengat tubuh sangat terasa sekali, sekarang masih pukul sekitar sebelas siang. Mentari hampir tepat vertikal berada diatas kepala keempat anak ini, dengan sedikit cepat mengayuh sepeda agar sesegera mungkin bisa sampai di rumah.


"Mampir!" Teriak Putra saat berbelok kearah rumahnya.


"Iya nanti saja," jawab Agus.


Abi, Agus dan Panji mengayuh sepedanya menuju rumah.


Abi saat berada di dalam rumah melihat keadaan rumah yang sedikit berantakan, apalagi ketika sedang hendak mengambil makan siang di dapur. Banyak sekali piring kotor yang tertumpuk di sekitaran dapur dan meja makan yang berada dalam satu ruangan.


Setelah menghabiskan makan siangnya, ia langsung bergegas menuju ke tempat piring kotor. Membawanya ke tempat cuci piring, beberapa saat ia telah selesai mencuci piring.

__ADS_1


Kemudian Abi berjalan menuju ruang tamu untuk menonton televisi dan beristirahat sejenak hingga ibunya pulang dari tempat kerja, mengambil remot untuk mencari channel acara tv yang bagus.


"Arrghh! Cuman itu-itu saja acaranya," gumamnya ketika melihat acara tv yang isinya cuman berita-berita saja.


Siang ini ia memutuskan untuk tidur dan langsung mematikan tv yang ada di ruang tamu tersebut.


*******


Rasanya baru beberapa saat memejamkan mata, tetapi ketika ia melihat jam yang ada di dinding sudah menunjukan pukul setengah dua siang.


Kemudian Abi langsung terbangun dan berjalan menuju rumah belakang untuk memberi makan ternak kelincinya. Mengambil kangkung yang ada di dalam, lalu ia langsung memberikannya kepada kelinci-kelinci kecil tersebut.


"Bii!!!" Teriak ibunya dari luar rumah.


"Iya?" Jawab Abi dari belakang.


Abi berjalan menuju rumah bagian depan, melihat ibunya seperti sedang membawa sesuatu di boncengan sepedanya tersebut.


"Apa ini, Bu?" Abi bertanya sambil berjalan kearah ibunya.


"Ini tadi dapet rejeki dari yang ngerjain sawah kita," jawab Siti Fadilah ibunya Abi.


"Banyak banget," kata Abi.


"Alhamdulillah lumayan buat masak sendiri, Bi." Siti Fadilah memarkirkan sepedanya di dalam rumah dekat dengan ruang tamu.


Abi menurunkan sesuatu yang terbungkus oleh karung, memang tidak penuh tetapi isinya lumayan juga.


Ia membukanya, ternyata yang ada di dalam itu adalah beberapa sayuran hasil dari sawah yang telah dikerjakan oleh orang lain.


"Wuih lumayan ini, Buk." Abi membuka karung tersebut.


Terlihat di dalamnya berisi cabai, dauh singkong, bawang, kacang dan beberapa sayur lain. Mungkin saja orang yang sedang merawat sawahnya Abi habis panen.


"Tadi ibu juga dikasih uang," kata Siti Fadilah.


"Diberi uang juga?" Tanya Abi.


"Iya diberi uang juga, Bi. Katanya dia habis dari menjual panen hasil sawah kita," jelas Siti Fadilah.


"Alhamdulillah rejeki itu tidak tau darimana datangnya," kata Abi.


Siti Fadilah berupaya membereskan sayur-sayur yang ada di dalam karung itu, sedangkan Abi membawa lauk yang dibawa ibunya ke dalam dapur.

__ADS_1


__ADS_2