
Sepulang dari tempat lomba, mereka disambut bak pahlawan. Hampir satu sekolaha mengenal mereka berenam, tapi mereka merasa biasa saja.
Upacara hari senin yang biasanya mereka berjaga, di belakang barisan untuk mengawasi apabila ada orang yang tidak kuat berdiri. Kini, mereka berenam berada di barisan depan bersama dengan guru-guru.
Mereka berenam diperkenalkan oleh Bapak Saerozi ketika amanat pembina upacara, mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari peserta upacara.
"Ini adalah enam siswa yang sangat berprestasi, sangat genius dan luar biasa," ujar Pak Saerozi.
"Yee! huuuu! horeeee!" teriak peserta upacara.
"Siswa ini juga yang akan membawa nama SMP Negeri Noveltoon. Di ajang lomba Palang Merah Remaja tingkat Provinsi, mewakili Kabupaten," kata Pak Saerozi dengan bangga.
Gemuruh tepuk tangan para peserta, membuat rasa gugup mereka menjadi hilang. Rasanya sangat percaya diri, sekarang berdiri di hadapan peserta upacara.
Uapacara selesai, mereka berenam masuk ke ruang Bimbingan Konseling. Bukan karena mereka bermasalah, ya. Tetepi, enam anak itu mendapat ruang khusus guna melanjutkan diskusi persiapan lomba dan apa saja yang akan mereka tampilkan di ajang tersebut.
Mereka mempunyai waktu sekitar dua minggu untuk mempersiapkan itu semua, keenam anak itu berbincang santai di ruang Bimbingan Konseling.
"Apa nih? kita mau ngapain lagi di sana nanti?" tanya Panji.
"Duh, aku juga bingung nih. harus lebih dari kemarin lah," jawab Endah.
"Sangat sulit sekali, mungkin kalau lebih dari penampilan kemarin." Abi ikut dalam perbincangan.
"Kita harus bisa! harus nyari ide lagi nih. kita harus mandiri, jangan nunggu Pak Basari," saran Endah.
"Indonesia kan rawan bencana, entah tsunami, gunung meletus, gempa dan lain-lain," ucap Agus.
"Lha iya, terus kita buat apa?" Putra bingung.
"Ya ... kita buat aja, misal cari satu tema tsunami. Nanti, kita buat simulasi penyelamatan diri dan pencarian korban," jelas Agus.
"Tapi kalau cuman satu bencana, rasanya tidak adil. harusnya semua bencana dijelasin dong. Ganti tema aja lah, kurang tepat kalau itu." Panji tidak setuju.
"Mending gini aja, nanti aku gambar penyelamatan diri gempa bumi. Terus, Abi sama Fernanda buat simulasi penyelamatan diri dari gunung meletus. Terakhir, Panji sama Agus nanti simulasi tsunami. seperti kemarin, tapi kita lebih detail," jelas Putra.
__ADS_1
"Berarti nanti aku baca narasi lagi seperti kemarin?" Endah bingung.
"Iya Begitu,Ndah. Kayak kemarin, tapi kita punya tiga tema sekaligus dalam satu penampilan." Panji sedikit gemes.
"Aku setuju sih, tapi barang-barang yang buat presentasi nanti, dapet darimana?" tanya Agus.
"Kita pakai bahan bekas kayak kemaren aja lah, nanti masalah bahan kan bisa minta bantuan Pak Besari," saran Abi.
"Boleh juga, kalau deal temanya ini. Kita masih punya waktu seminggu untuk pelajari tema kita. Nanti, beberapa hari sebelum berangkat kompetisi, kita juga masih ada sedikit waktu buat latihan terakhir." Panji menjelaskan kepada teman-temannya.
"Ya sudah, sepakat dengan tema ini? kalau setuju, kita kembali ke kelas masing-masing dulu, ikut pelajaran dulu. Nanti sepulang sekolah, kita kumpul lagi di sini untuk bicara sama Pak Besari." Endah bicara sambil berdiri.
Mereka semua bubar dan kembali ke kelas masin-masing. Endah sama Agus jalan bareng, karenabkebetulan mereka berdua adalah satu kelas.
Ketika mereka harus mempersiapkan semuanya untuk lomba, enam anak itu harus sering tidak ikut jam pelajaran. Di sisi lain, mereka punya kewajiban belajar dan mempersiapkan lomba.
Mau tidak mau, mereka harus pinjam buku teman. Apabila memang tadi hal yang penting harus dicatat dan mempelajarinya dirumah.
Semua hal itu dimaklumi oleh guru yang mengajar, karena memang itu dilakukan untuk menjaga nama baik sekolah dan diharapkan mereka dapat mengharumkan nama sekolahnya di luar sana.
Setelah mengikuti jam pelajaran sehari, mereka berkumpul ke aula sekolahan. Duduk santai di lantai yang terpasang keramik, sambil menunggu Pak Besari datang.
"Gimana, ada perkembangan?" tanya Pak Besari.
"Ya ada sedikit, Pak. Kita mau bicara tema yang akan kita bawa di saat presentasi nanti," jawab Putra.
"Begini, Pak. Nanti, kita mau buat miniatur simulasi bencana alam," tutur Agus.
"Gimana caranya? Saya masih belum ngerti." Pak Besari dengan muka bingung.
"Begini, Pak. Nanti, aku gambar simulasi gempa bumi. Lalu, Abi sama Fernanda buat simulasi gunung meletus. Sedangkan, Agus sama Panji nanti bikin simulasi tsunami. Kita semua bikin itu pakai barang bekas." Putra menerangkan sambil tangannya memperagakan.
"Oh kalau begitu bagus. Nanti Endah? ngapain?" Pak Besari masih bingung.
"Nanti, aku yang baca narasi kayak kemarin," jawab Endah.
__ADS_1
"Pinter-pinter juga muridku, hehe," canda Pak Besari.
Semuanya tertawa pelan.
"Terus kita butuh bahan apa saja ini?" Pak Besari masih penasaran.
"Ya ... kita butuh cup mineral bekas, botol air mineral bekas, butuh pasir atau tanah liat juga dan masih banyak lagi yang lainnya, Pak," jelas Panji.
"Lho pakai pasir dan tanah buat apa?" tanya Pak Besari.
"Ya itu nanti kalau mau buat miniatur pantai sama gunung kan butuh itu, Pak," kata Abi sambil nunjuk lantai pakai bolpoin.
"Oh iya ya, paham ... paham .... Mending gini aja, apa yang kalian butuhkan, catat saja. Jadi, nanti kalau kita kurang bahan kan tinggal lihat catatan," saran Pak Besari.
"Siap laksanakan, Pak," jawab Endah.
Mereka berdiskusi sambil mencatat apa saja barang-barang yang harus mereka kumpulkan. Setelah semua selesai mencatat, diserahkan kepada Pak Besari. Diskusi siang itu telah selesai, mereka pulang kerumah masing-masing.
Hari-hari terlewati, saatnya presentasi lomba datang. Berkumpul di sekolahan pagi hari, mereka berangkat menuju tempat lomba seperti biasa menggunakan minibus, didampingi oleh Pak Besari.
Di sepanjang jalan, keenam anak itu mempelajari naskah yang akan mereka presentasikan secara terus menerus.
Sesampainya di tempat lomba, mereka langsung menyiapkan barang-barang yang akan dibawa presentasi menuju atas panggung.
Merasa semua sudah komplit, mereka langsung bergegas meninggalkan mobil yang berada di parkiran, menuju ruang yang sudah disediakan oleh panitia untuk beristirahat dan mempersiapkan materi.
Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri dan Mars PMI. Setelah itu, dilanjutkan dengan sambutan Bapak Jusuf Kalla sebagai ketua umum Palang Merah Indonesia.
Kemudian, satu per satu peserta tampil termasuk perwakilan dari SMP Negeri Noveltoon. Berjalan sesuai dengan rencana yang mereka rancang sebelumnya, sangat berhati-hati sekali dalam mempresentasikan semuanya.
Tetapi hasil belum begitu memuaskan, kala itu mereka hanya mendapat posisi delapan secara umum perolehan nilai. Tetapi, dalam hati kecilnya merasa sudah sangat bangga sekali, walaupun tidak menjadi juara.
Mereka sangat tidak menyangka, strategi yang mereka rancang akan mengantarkan nama enam anak itu berada dalam delapan besar yang terbaik di ajang lomba Palang Merah Remaja tingkat provinsi.
Mereka juga mendapat penghargaan dari Deutsches Rotes Kruez (Palang Merah Jerman) atau dalam bahasa inggris lebih dikenal sebagai German Red Cross. Karena, tertarik dengan metode simulasi penyelamatan diri yang bertema gempa bumi. Palang Merah Jerman mengajak SMP Negeri Noveltoon untuk membuat film pendek tentang penyelamatan diri saat gempa.
__ADS_1
Film itu akan ditayangkan untuk masyarakat Jerman dan enam anak itu merasa sangat bangga sekali. Karena, mereka akan menjadi pengarah dalam cerita saat pengambilan gambar di SMP Negeri Noveltoon.
Hal yang sangat ditunggu-tunggu, seperti keajaiban yang menghampiri mereka, sangat luar biasa sekali rasanya.