
Sekarang adalah hari Sabtu, jadwal dimana pengambilan rapor siswa oleh orang tua dan hari terakhir bersekolah karena setelah itu akan dilanjutkan dengan libur panjang akhir semester.
Rapor milik Abi dan beberapa temannya sudah diambil oleh orang tua mereka masing-masing. Nilainya lumayan bagus sih, walaupun tidak bagus-bagus amat, namun nlai itu sudah cukup untuk membantu mereka naik ke jenjang kelas berikutnya.
Hari ini Abi sudah berada di rumah, ada janji pula dengan teman-teman sebaya di desanya, siang ini mereka akan mencari sarang burung ke sebuah tanggul di sudut desa yang masih dikelilingi oleh pohon-pohon besar.
Pukul dua siang, Abi keluar rumah membawa sepedanya menuju pos ronda yang ada di pertigaan jalan desa, di situ rupanya sudah ada beberapa temannya yang manunggunya.
"Akhirnya datang juga," sambut Diki.
"Lha yang lainnya mana?" Abi bertanya saat sampai di tempat itu.
Kemudian ia langsung menyenderkan sepedanya di samping ronda tersebut, lalu duduk di samping Diki yang sudah ditemani oleh Fandil dan Agus.
Berbincang selama beberapa menit, setelah itu rombongan Panji dan beberapa teman yang lain juga sudah mulai berdatangan ke pos ronda tempat berkumpul ini.
"Mau kemana sekarang?" Tanya Abi.
"Nyari burung saja," kata Diki.
"Boleh juga tuh," imbuh Fandil.
"Tapi kemana?" Agus masih bingung.
"Ke sawah-sawah saja, biasanya banyak burung di sawah." Khoirul menunjuk kearah sebelah barat desanya.
"Oke kalau begitu lah," kata Putra.
"Lha ini masa lewat sawah mau bawa sepeda," tutur Panji.
"Ya sudah taruh rumahku saja, nanti sekalian berangkat lewat samping rumahku ke belakang." Diki menawarkan opsi.
Memang rumah Diki itu paling dekat dengan pos ronda, mungkin jaraknya hanya 50 meter saja ke selatan arah pos ronda tersebut.
Semua menyetujui opsi itu, kemudian anak-anak ini langsung menuntun sepeda mereka masing-masing menuju pelataran rumah Diki yang lumayan luas namun sedikit panas karena tidak ada satu pun pohon yang menahan teriknya sinar mentari siang ini.
"Ya sudah mari berangkat saja lah," ajak Putra.
Semua anak yang ada di situ langsung berjalan melewati lorong antara samping rumah Diki dan rumah neneknya yang hampir berdempetan, setelah itu melewati pohon bambu yang sangat rimbun sekali, hingga tercipta hawa sejuk yang membuat adem suasana siang hari ini.
Mereka semua berjalan menyusuri sawah-sawah milik orang lain, berhati-hati dalam melangkahkan kaki agar tidak menginjak tanaman yang ditanam di sawah-sawah tersebut.
__ADS_1
Sesekali menyapa orang-orang yang sedang melakukan kegiatan di sawah yang mereka lalui.
"Pakdhe," sapa Fandil sambil menundukkan kepalanya (tanda hormat).
"Oh iya monggo, Dek." Orang itu menjawab sambil melakukan kegiatan mencabuti rumput-rumput yang tumbuh liar di bawah pohon jagung yang masih kecil.
"Pada mau kemana ini?" Tanya seorang paruh baya tersebut kepada anak-anak ini.
"Ini, mau cari burung. Siapa tau dapet," jawab Agus sambil meringis.
Berjalan diatas sebuah gundukan tanah yang di sampingnya sudah berisi air walaupun tidak penuh, para petani menanam tanaman jagung diatas gundukan tanah itu, sedangkan padi-nya ditanam dibawah sekitar genangan air yang tidak terlalu tinggi.
Abi dan kawan-kawan melewati sela-sela tanaman jagung, sangat berhati-hati sekali dalam melangkahkan kaki mereka di sawah ini.
Ada sebuah pohon mangga yang tidak terlalu tinggi di sudut sawah yang mereka laluli ini, kemudian Agus berusaha untuk memanjatnya.
Agus melihat sebuah sarang burung, ketika dilihat memang ada telurnya sih, namun itu hanya sebuah sarang burung peking (jenis burung yang sering merusak atau memakan tanaman padi di sawah).
"Ada anaknya?" Tanya Abi dari bawah.
"Alahh masih telur mah ini," jawab Agus sambil mengintip ke dalam sarang burung tersebut.
"Iya sih kelihatan dari bawah," imbuh Diki yang sudah memahami bentuk-bentuk sarang burung dari besar, lebar atau kecil bentuknya.
"Iya nih," jawab Agus saat memastikan bahwa sarang itu benar milik burung peking.
"Turun saja," kata Diki.
Agus menuruni pohon itu dan kembali berada di tengah rombongan untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat-tempat yang lain.
Berjalan beberapa saat, akhirnya mereka sampailah di tanggul pinggiran desa yang sangat rindang sekali akan pohon liar besar.
Mereka langsung menaiki atas tanggul kali tersebut yang biasanya digunakan lalu lalang jalan pintas menuju sawah oleh para petani yang mengayuh sepedanya atau sepeda motor yang sudah dimodifikasi menyerupai motor cross.
Menyusuru jalan setapak yang ada diatas tanggul tersebut, mereka sesekali menengok keatas pohon-pohon besar yang ia lalui.
Diki melihat ada sebuah sarang burung diatas pohon mahoni. Pohonnya memang lumayan tinggi, namun sedikit mudah dipanjat karena banyak ranting dan batang pohon yang tumbuh disamping-samping pohon tersebut.
Panji saat ini yang bergegas menaiki pohon mahoni itu, hanya butuh waktu kurang dari lima menit, Panji sudah bisa sampai di sebuah batang pohon yang menjadi tempat sarang burung tersebut.
"Ada penghuninya?" Tanya Diki.
__ADS_1
"Masih telur, tapi ini sepertinya sarang burung bentet," kata Panji yang ada diatas pohon.
Kemudian mata Panji yang masih menengok kanan kiri, malah melihat sarang burung yang lain.
"Aku lihat ada sarang burung lagi," kata Panji.
"Coba cek," kata Abi.
Panji merangkak ke batang pohon yang lain, berusaha melihat isi dari sarang burung yang ia lihatnya.
Setelah dicek, ternyata ada sebuah anak burung yang masih sangat kecil-kecil, bulunya saja masih tumbuh sedikit.
"Ini sarang burung kutilang," kata Panji.
"Ada anaknya?" Tanya Agus.
"Ada tiga," jawab Panji dari atas pohon.
"Ambil saja," suruh Diki.
"Jangan dulu, ini masih kecil. Kita ambil beberapa hari lagi saja," tutur Panji.
"Ya sudah kalau begitu kita ambil kapan-kapan saja, sambil nunggu telur bentet itu menetas." Agus menunjuk kearah sarang burung bentet.
Panji langsung menuruni pohon terebut, setelah sampai di bawah, mereka langsung menandai pohon tersebut dengan sebuah tali rafiah yang mereka bawa dari rumah.
"Buat tanda," Panji sembari mengikatkan tali itu.
Saat merasa capek sekali berjalan beberapa menit dari rumah, mereka memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di bawah sebuah pohon asam besar yang ada di lereng tanggul sungai tersebut.
Langsung membaringkan tubuh begitu saja, mereka semua tiduran dengan beralaskan sebuah daun-daun kering yang berjatuhan di bawahnya. Suasananya sangat sejuk sekali, hempasan angin siang hari ini segar sekali rasanya.
Beberapa orang yang melintas di jalan setapak ditengah tanggul air tersebut, melihat kearah mereka berbaring tertidur.
"Pada ngapain ini?" Tanya seorang yang melintas sambil tersenyum.
"Lagi nyantai saja, Dhe." Putra menjawab seorang laki-laki paruh baya yang menyapa kearah kerumunannya.
"Enak banget kelihatannya," kata orang itu sambil tertawa.
Orang tersebut melintas begitu saja, kebanyakan orang yang melintas di jalan tersebut tak memperhatikan keberadaan mereka yang sedang tiduran di samping jalan atau sebelah lereng luar tanggul air tersebut.
__ADS_1