Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu
"Sekolah Dasar"


__ADS_3

Abi saat ini masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Pendiam dan sangat pemalu, itulah kepribadiannya. Ketika teman seusianya bermain, Abi malah lebih memilih berdiam diri dirumah. Entah membantu Ibunya memasak, mengerjakan tugas dari Guru dan sering sekali menghabiskan waktu memberi makan binatang peliharaan kelinci kesayangannya dirumah.


Terkadang, Abi mengerjakan tugas atau soal-soal yang ada dibuku paket mata pelajaran Sekolah Dasar sebelum Gurunya menyuruh untuk mengerjakan. Ketika ada tugas Guru dari buku paket, Abi sudah mengerjakannya.


Saat Abi masih Sekolah Dasar, memang nilai akademisnya sangat luar biasa. Tetapi, nilai ujian praktiknya sangatlah pas-pasan. Malahan ada beberapa nilai praktik mata pelajaran yang bisa dibilang sangat kurang.


Semua itu sepertunya wajar, karena Abi sangat pemalu dan susah sekali tampil didepan orang banyak. Apalagi bukan hanya Guru yang melihat Abi praktik, tak bisa dipungkiri teman-temannya juga ikut menyaksikan. Menambah Ia semakin tak karuan. 😁


Saya rasa memang tampil didepan orang banyak itu sangatlah susah, bahkan ada beberapa orang yang sampai tidak bisa bicara dan menjadi salah tingkah.


Semasa Sekolah Dasar, Abi selalu mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Karena, mungkin Dia terlalu menjadi murid kesayangan para Guru dalam hal akademis.


Suatu hari teman Abi yang bernama Dedy berperilaku tidak enak. (Sebenarnya percakapan dalam Bahasa Jawa. Akan tetapi, saya mengindonesiakan saja biar lebih mudah dipahami) 😁


Dedy : "Bii, Jadi orang gausah pinter-pinter!"


Abi : "Aku rasa biasa aja."


Dedy : "Ohh, sudah berani membantah!"


Abi : "Aku kan cuma ngerjain tugas toh."


Dedy : "Kalau udah selesai ya bilang!"


Abi : "Lha ngapain harus bilang?"


Dedy : "Ya kerjain juga punyaku dong!"


Abi : "Gak mau lah, kerjain sendiri"


Dedy : "Yaudah kalau begitu, aku nyontek."


Abi : " Gak sudii."


Dedy : "Nyari ribut kamu yaa!"


(Mengepalkan tangan, sambil mencekik leher Abi)


Abi : "Emangnya aku takut."


Seketika teman kelas datang dan melerai mereka berdua. Memang, Dedy ini merasa yang paling kuat di Kelas. Padahal kalau dilawan bareng-bareng pasti Dia kalah, dari sifat angkuh sok jagoannya itu. Dedy menjadi sangat dibenci satu Kelas.

__ADS_1


Abi berani melawan sampai seperti itu, karena banyak teman disekitarnya. Namun, bila sendirian pasti Abi takut dan sangat tidak berani.


#######


Bel Sekolah berbunyi tanda waktu pulang telah tiba. Abi dan Teman-teman pulang mengendarai sepeda mereka masing-masing. Terjadi percakapan disepanjang jalan.


Tri : "Nanti abis ini main, yuk."


Amin : "Aku mau makan dulu lah."


Diki : "Siap, bisa diatur kalau itu lah."


Tresno : "Aku, nanti menyusul ya."


Fredhi : "Tapi, nanti enaknya ngapain?"


Shidqi : "Nanti main bola depan rumahnya Abi saja. Gimana nih? Setuju, kan?"


Amin : " Asyik juga tuh. Ide yang bagus."


Tresno : " Abi gimana nih? Setuju atau tidak?"


Tri : "Ya sudah, Abi biar belajar saja."


Mereka mengayuh sepeda sampai dirumah. Ada yang ganti baju, makan, disuruh belanja dan lain sebagainya.


Akhirnya pukul satu siang, teman-teman Abi sudah berkumpul. Ada sekitar dua belas orang, mereka iuran seribu rupiah untuk membeli bola. karena yang kemarin sudah sering dibuat main. jadinya, sudah rusak dan harus diganti. Sisanya untuk beli Marimas dan es batu, soalnya bola plastik waktu itu harganya masih empat ribu hingga enam ribu rupiahan.


Bola sudah dibeli, mereka asyik bermain dan berteriak-teriak didepan rumah Abi. Sedangkan, yang punya rumah hanya duduk diruang tamu sambil tangannya aktif menulis jawaban dibuku paket Sekolah.


Hal itu berlangsung hingga sore hari, tak sadar waktu mandi telah tiba. Teman-teman Abi yang semula bermain bola didepan rumahnya, satu per satu sudah mulai pulang.


Setelah mandi, Abi berangkat mengaji kerumah Pakde. Kebetulan teman-temannya juga mengaji ditempat yang sama.


Ditempat mengaji, Abi hanya mampu menghafal dan mungkin sangat sulit sekali untuk membaca tulisan Arab. Maka dari itu, saat mengaji, Abi hanya menirukan Pakde yang membacakan satu per satu surah dalam Al-Quran.


Ada hal lain yang sangat membuat Ia semakin merasa tak percaya diri. Ketika itu, di tempat mengaji semua sepakat bahwa setiap hari ada jadwal khusus untuk adzan dan imam sholat, saat waktu sholat Maghrib.


Beberapa saat, setelah membagi jadwal. Akhirnya, Abi mendapat giliran adzan setiap hari Rabu dan jadwal imam sholat setiap Jum'at.


"Abi jadwal Adzanmu hari Rabu dan imam sholat setiap hari Jum'at ya," kata Pakde, sembari menulis jadwal dipapan tulis .

__ADS_1


Oh iya, pakde namanya Muhlisin. Beliau salah satu tokoh masyarakat juga di Desa. Setiap hari aktivitasnya kerja di pabrik. Pakde buka tempat mengaji dirumahnya sendiri, setelah pulang dari kerja pabrik.


Sekitar pukul lima sore sampai tujuh malam Waktu Indonesia bagian Barat. Bisa dibilang, muridnya banyak sekali untuk kelas masyarakat desa. Semua, dilakukan secara ikhlas alias gratis. 😊


Kembali lagi ke alur cerita.


Setelah selesai mengaji, Abi dan teman-teman berjalan pulang sembari berdiskusi akan bermain apa malam ini.


"Malam ini kita main petak umpet lah," ucap Diki yang tiba-tiba muncul dari belakang rombongan.


"Ya sudah, nanti setelah Isya. Kita main di depan rumahnya Mbak Pur (tetangga) ya," Sahut Saiful yang ada dirombongan.


"Nanti, aku ikut nonton lah. Tapi gak ikut main ya hehehehe." Abi seketika membuat rombongan terdiam.


"Tumben ikut kumpul, Bii." Diki mengejek dan membuat rombongan tertawa "hahahahaha."


Namun Abi sudah mulai terlihat santai.


Sekarang rasa takut yang amat parah pada diri Abi, perlahan mulai hilang. Walaupun, belum terlihat sepenuhnya. setidaknya, Ia sudah berani untuk ikut bermain dengan teman-temannya.


########


Sesampainya di rumah , Abi menaruh peci dan sarungnya. Kemudian, berpamitan kepada Ibu. Untuk bermain di depan rumahnya mbak Pur. Ternyata, disitu sudah banyak teman yang berkumpul. Permainan juga sudah dimulai.


Abi hanya menyaksikan dari teras rumah tetangganya itu, sambil tengok kiri dan kanan sampai terlihat aneh sekali. Mungkin, gelagat itu muncul memang sewajarnya bagi orang yang belum terbiasa di keramaian.


Setelah petak umpet sudah berlangsung cukup lama. Ketika itu yang bertugas menjaga benteng adalah Diki. Saat itu, Diki berusaha mencari teman-temannya yang bersembunyi. Tiba-tiba, si Latif muncul dan berlari menuju benteng . Diki pun ikut berlari, keduanya berlari cukup jauh.


Sesaat sebelum sampai di benteng, Latif tiba-tiba terjatuh dan terkena badan Diki. Lalu, Latif terpental ke arah tiang listrik yang dijadikan benteng petak umpet.


Seketika, Latif memegang bagian dahinya dan bergeluntungan. Ketika teman-teman mendekati untuk membuka tangan yang menutupi wajahnya. Ternyata, wajah Latif sudah penuh darah.


"Tolong ... anterin cuci muka," kata Latif.


Kemudian, teman-teman mengantar Latif berjalan menuju sumur di depan rumah Tresno yang bersebelahan dengan tempat kejadian.


Latif duduk terdiam, sembari memegang kepalanya yang menunduk. Teman-temannya duduk mengelilingi Latif yang masih lesu.


Setelah melihat kejadian tersebut, rasa takut yang ada dibenak Abi mulai muncul kembali. Saat temannya yang lain mengelilingi Latif dan melihat keadaannya. Abi masih duduk terdiam di tempat ia duduk sedari tadi. Ia merasa sangat takut sekali melihat kejadian barusan, dan mungkin akan selalu diingatnya.


Lalu, ia pergi meninggalkan teman-temannya yang masih duduk berkerumun. Abi mulai merasakan rasa takut itu muncul kembali didalam hatinya. Mulai berfikir untuk memilih dirumah saja daripada pergi bermain dengan temannya.

__ADS_1


__ADS_2