
Setelah lomba selesai, mereka berenam yang didampingi Pak Besari. Di ajak bertemu dengan utusan Palang Merah Jerman di ruang yang telah disediakan oleh panitia.
Dalam pertemuan itu intinya berdiskusi mengenai, apa saja hal yang akan dilakukan Palang Merah Jerman di sekolah mereka.
Palang Merah Jerman yang didampingi oleh seorang translater Bahasa Indonesia. Menjelaskan kepada anak-anak itu, bahwasannya nanti DRK akan meminta bantuan mereka agar bisa mengomandoi teman-temannya dalam kelancaran jalannya acara pembuatan video pendek itu.
Pak Besari selaku pembimbing diberi surat untuk disampaikan ke sekolahan. Apabila mendapat ijin, disuruh untuk langsung saja menghubungi nomor atau email yang ada di surat tersebut.
Pertemuan selesai, mereka membubarkan diri. Enam anak itu beserta dengan Pak Besari, berjalan menuju luar ruangan untuk kembali ke dalam mobil.
"Nanti apakah kegiatan ini akan berjalan mudah, Pak?" tanya Agus.
"Saya rasa lumayan butuh kerja keras deh." Pak Besari sedikit tidak yakin.
"Aku rasa juga begitu, butuh kerja keras, Pak. Soalnya siswa di sekolah kita begitu orangnya," ujar Agus.
"Iya nih, Pak. Setiap kegiatan, pasti selalu ada siswa yang curi-curi waktu untuk pergi ke kantin," imbuh Panji.
"Wahh ... kalau itu memang banyak, aku sering lihat. Bukan sering lagi, pasti selalu ada emang, hehe." Abi ikut masuk dalam topik pembicaraan.
"Iya, kalau itu nanti kita koordinasi sama Pak Tri (Guru Bimbingan Konseling) saja," jelas Pak Besari.
"Iya ,Pak. Tapi kalau cuma Pak Tri, mungkin masih kurang. Minta bantuan sama anak-anak OSIS dan Pramuka juga, Pak. Biar merata penjagaannya," saran Endah.
"Bener juga, Ndah. Nanti kita koordinasikan itu kalau surat ini sudah disetujui," kata Pak Besari.
"Kalau menurut saya akan disetujui sih, Pak. Soalnya, ini kan kegiatan bagus juga. Bisa memperkenalkan sekolah kita juga kepada khalayak ramai," timpal si Endah.
"Iya sih, ini harusnya disetujui," tutup Pak Besari.
Mereka berjalan menuju mobil dengan membawa surat dari Palang Merah Jerman, Piala, dan Piagam yang mereka dapatkan dari hasil lomba tersebut.
Semua sudah berada di dalam mobil yang ada di tempat parkir. Pak Sopir juga sudah masuk dan siap untuk kembali pulang ke sekolah.
__ADS_1
Mereka sangat yakin semua akan disetujui, karena Pak Saerozi (Kepala Sekolah) adalah orang yang sangat baik.
Kebetulan SMP Negeri Noveltoon adalah Sekolah Standar Nasional dan Adhiwiyata Nasional.
Mungkin ada yang belum tahu, apa itu Sekolah Adhiwiyata Nasional?
Sekolah Adhiwiyata adalah sekolah yang berwawasan lingkungan. Sekolah itu peduli akan lingkungan hidup, seperti memiliki hutan sekolah dan mempunyai tempat sampah yang memadai untuk kegiatan menghijaukan lingkungan.
SMP Negeri Noveltoon itu sangat peduli sekali dengan lingkungan, di mana para siswa selalu diajak menanam pohon dan membersihkan lingkungan pada hari Jum'at, sebulan satu kali.
Lingkungannya terasa sangat bersih sekali. Karena, tidak ada sampah yang berserakan. Semua itu butuh kesadaran para siswa untuk mewujudkan mimpi menjadi sekolah yang sangat bersih.
Kala itu Pak Saerozi mendapat kesempatan istimewa karena mewakili SMP Negeri Noveltoon bertemu langsung dengan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Kepresindenan.
Mendapat undangan spesial atas prestasi yang ditorehkan SMP Negeri Noveltoon, menerima piagam penghargaan dan piala untuk SMP Negeri Noveltoon. Atas tercapainya, mewujudkan sekolah yang berwawasan lingkungan.
Kembali ke alur cerita dong.
Dalam perjalanan pulang, ada yang tertidur dan ada pula yang masih berbincang santai.
"Tapi nanti, kita di sekolahan mau pakai skenario apa lagi ya? sepertinya kita sudah mentok ide nih," kata Agus.
"Ya kita pakai skenario yang dibawa saat lomba aja, kan itu sudah bagus," saran Panji.
"Bener juga, tapi kita tambah variasi sedikit lah. Supaya, semua berjalan sedikit agak panjang. Kalau hanya mengandalkan skenario saat lomba itu terlalu singkat," imbuh Putra.
"Tapi, mungkin nanti akan jadi waktu yang sulit untuk kita samuanya. Karena acara itu melibatkan orang banyak, soalnya semua orang pikirannya kan beda-beda," ujar Panji.
"Sangat sulit, tapi kita yakin akan dibantu para guru. Walaupun, harus butuh perjuangan ekstra juga. Tapi, ini semua demi nama baik sekolahan kita." Putra meyakinkan semua.
"Aku masih berfikir, apakah Pak Saerozi akan memberi ijin ini semua?" Abi bingung.
"Menurut saya ini kegiatan bagus, pasti disetujui lah," tegas Panji.
__ADS_1
"Selagi kita tidak merusak fasilitas sekolah dan tidak merusak hutan sekolah. Mungkin, kegiatan ini akan disetujui dengan mudah," pendapat Agus.
"Ini juga akan menjadi ajang promosi sekolah kita. Karena kalau ada embel-embel kata diajak kolaborasi dengan Palang Merah Jerman, pasti itu juga suatu prestasi yang sangat luar biasa." Putra berkata dengan sangat yakin.
"Yang paling penting adalah kita berusaha untuk mendapat ijin dulu dari Pak Saerozi. Selanjutnya, kita baru mikir skenarionya," tutur Abi.
"hhhrrggghh! hhhrrghhh!" suara dengkur dari Fernanda.
"Duh parahh, ngorok ini anak." Abi meringis.
"Ya sudah, istirahat dulu lah." Putra menutup wajahnya dengan slayer.
"Aku juga mau tidur dulu, ahh." Abi berputar kesamping.
"Lahh ... pada tidur, padahal aku belum ngantuk." Agus mencoba memejamkan matanya sebisa mungkin.
Rasanya baru sebentar mata tertutup, tiba-tiba sudah sampai di halaman sekolah. Suasana sekolah kala itu sudah sangat sepi, sekitar pukul empat sore. Jam pelajaran sekolah sudah selesai dan semua anak yang mengikuti ekstrakurikuler juga sudah pulang.
"Paakkk ... Mass ... dudah sampai." Pak sopir berusaha membangunkan semua yang masih tertidur pulas dengan menepuk secara perlahan.
Semua bagun, kemudian turun dan duduk di halaman sekolah sambil menunggu jemputan datang. Diawali dari Fernanda dan paling akhir adalah Putra, mereka pulang kerumah masing-masing dengan dijemput keluarga mereka.
Hari demi hari berjalan seperti biasa, mengikuti jam pelajaran yang semestinya ia ikuti dalam sekolah formal.
Ketika upacara, seperti biasa enam anak ini mendapat tempat di depan dalam mimbar kehormatan. Karena telah mengharumkan nama sekolah, mendapat peringkat sepuluh besar umum lomba Palang Merah Remaja.
Pak Saerozi melakukan itu semua, bukan serta merta untuk membuat anak tersebut menjadi artis. Tetapi, guna memotivasi siswa lain agar semakin giat mengembangkan bakatnya diluar pelajaran formal.
"Kali ini, saya bangga sekali dengan enam anak yang ada di depan. Ini siswa berprestasi, sebelumnya telah Juara tiga Kabupaten. Kini, mereka mendapat peringkat delapan lomba se-provinsi. Sangat Luar biasa, dapat membuat sekolah kita semakin disegani. Bisa masuk peringkat sepuluh besar provinsi dalam kategori Lomba Palang Merah Remaja," kalimat bangga dari Pak Saerozi dalam amanat pembina upacara.
"prokk! prokk! huuu! yeee! horee!" gemuruh tepuk tangan dan teriakan peserta upacara.
"Kali ini, saya juga akan mengumumkan. Bahwasannya, sekolahan kita akan mendapat tamu spesial dari Palang Merah Jerman." Pak Saerozi berkata sambil tersenyum bahagia. Tepuk tangan peserta upacara semakin luar biasa.
__ADS_1