
Abi berjalan menuju dapur, mengambil piring untuk sarapan pagi. Selesai makan, ia langsung pergi membereskan piring. Kemudian, mencuci piring karena ingin meringankan beban pekerjaan rumah ibunya.
Semua piring kotor telah bersih tercuci, saatnya mengembalikan lagi ke tempat piring bersih.
"Bangun, Pak. Sudah siang, berangkat kerjaa." Abi menata piring sambil berteriak
membangunkan bapaknya yang sedang tidur.
Tetapi tidak ada jawaban pula dari sang Bapak. Setelah beres, piring sudah tertata rapih di tempatnya. Ia berjalan menuju tempat tidur sang bapak.
"Bangun. Kerja dulu, Pak." Abi berusaha lagi membangunkan sambil menggoyang-goyangkan tubuh bapaknya.
"Hmmmmm iyaa." Bapaknya menjawab dengan sedikit tidak jelas.
"Bangunn, sudah siang, Pak. Sudah jam tujuh inii." Abi masih berusaha membangunkan bapaknya.
"Iyaa, aku udah bangun." Rohmat menjawab sambil memoletkan badannya.
Abi berjalan meninggalkan bapaknya menuju ruang tamu, meninggalkan kamar.
"Bii, tadi masak apa?" Rohmat berjalan menuju dapur rumah.
"Masak sayur ikan lele sama goreng kerupuk, Pak." Abi berbicara sedikit keras dari ruang tamu.
Berusaha untuk mencari-cari channel televisi yang bagus. Akhirnya, ia menemukan acara Keluarga Somat dan memutuskan untuk menontonnya. Karena masih pagi, acaranya kebanyakan kartun dan berita.
Rohmat sudah selesai makan dan mandi, berjalan keluar rumah.
"Bapak berangkat kerja dulu ya, Bi." Rohmat mengambil sepeda motornya.
"Iya hati-hati, Pak." Abi menjawab dengan posisi masih asik menonton televisi.
Tak berselang lama , nada dering ponsel miliknya berdering. Hingga suaranya mengalahkan volume televisi yang sedang ia tonton. Abi sedikit berjalan cepat menuju kamar dan mencari posisi ponselnya. Melihat layar, ternyata telfon itu dari Eka.
Hal yang ada difikirannya hanya, kenapa pagi-pagi sekali si Eka sudah menelfonnya? apakah ada hal penting? atau mungkin, itu yang menelfon adalah orang tuanya.
Sekitar beberapa menit Abi berfikir untuk mengangkat telfon itu atau tidak. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk mengangkatnya tanpa berfikir entah yang akan berbicara di telfon itu siapa dan ada urusan apa. Ia berfikir itu urusan nanti saja.
"Haloo, Assalamualaikum." Eka.
"Halo, Waalaikumusalaam. Ini siapa ya?." Abi.
"Ini aku Eka lah, Mas. Lha dikira siapa?" Eka.
"Hehehe maaf, tadi takutnya Ibuk yang telfon. Takut kalau dimarahi saja." Abi.
__ADS_1
"Lhaa kenapa takut dimarahi? Lagian Ibuk sama Bapak udah berangkat kerja kok." Eka.
"Ya tadi sempet kepikiran takut dimarahi, karena sms-an sama kamu terus gitu." Abi.
"Duhh, ndak papa kali, Mas. Orang tuaku gak terlalu begitu. Penting, tau waktu belajar sama main, gitu aja," jelas Eka.
"Heheh iya maaf, Dek. Tadi, katanya mau masak? emang udah selesai?" tanya Abi.
"Udah selesai, Mas. Udah habis nyuci juga malahan." Eka.
"Ini baru namanya cewek idaman, hehee." Abi.
"Alahh bisa aja, Mas. Hehehe." Eka.
"Udah cantik, pinter, cekatan lagi." Abi.
Mereka berdua sudah mulai berani saling menggoda, seperti orang yang sudah lama kenal. Padahal, baru beberapa hari mereka saling memberi kabar hanya melalui sms.
Dalam waktu-waktu sebelumnya, mereka juga tak pernah saling sapa. Apalagi berbincang dalam waktu yang lama dan jumlah kata yang banyak.
"Gombal teruss. Emang Bapak Ibuk sekarang kemana, Mas?" tanya Eka.
"Bapak, tadi berusan berangkat kerja. Kalau Ibuk ke sawah, Ka." Abi.
"Di rumah sendirian dong?" Eka.
"Aku abis nyuci capek nihh. Mana keringetan, lagi." Eka.
"Sini, tak pijitin (hehe)." Abi.
"Hallah, mana bisa lewat telfon (hehe)." Eka.
"Udah dulu ya, itu ibukku udah sampe depan rumah." Abi.
"Kenapa emang?." Eka.
"Udah, pokoknya nanti lanjut sms-an aja lah. Assalamualaikum." Abi.
"Waalaikumusalaam." Eka.
Tuuttt ... tuttt ... bunyi sambungan telfon telah terputus. Abi mematikan telfonnya, karena ada sang ibu yang sudah pulang dari sawah.
Di sisi lain, Eka masih bertanya-tanya. Kenapa Abi memutuskan sambungan telfonnya itu. Mungkin, takut ketahuan ibunya kalau dia ada begitu lah.
Ibunya menuntun sepeda dan berjalan menuju ke dalam rumah. Siti Fadilah memarkirkan sepedanya di dalam rumah, dekat ruang tamu.
__ADS_1
"Bii. Nanti, bawaannya ibuk yang ada di sepeda, tolong diturunin ya. Ibuk mau langsung mandi." Siti Fadilah menyuruh anaknya.
Abi berjalan menuju sepeda yang sudah banyak sekali sayuran berada di boncengannya. Mungkin, ibunya sedang panen banyak di sawah tadi, sampai penuh satu karung yang dibawa.
Sang anak melepaskan tali yang terbuat dari ban, untuk menurunkan sayuran yang ada dalam karung. Sedangkan, ibunya berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.
Sayuran dibawa ke dalam rumah bagian belakang, menaruhnya di pojok ruang yang kosong. Abi kembali ke sepeda itu, untuk membereskan ember yang berisi sabit , tempat minum, makan dan lain-lain.
Ibunya membawa semua itu ke sawah. Karena, ya memang Siti Fadilah itu lebih suka sarapan di sawah daripada sarapan di rumah.
"Tadi udah kerjain tugas rumah, Bi?" Siti Fadilah selesai mandi dan berjalan menuju dapur untuk mengecek piring kotor.
"Udah kok, Buk. Tadi aku abis sarapan langsung nyuci piring." Abi menjawab sambil membawa ember bekal ke sawah ibunya.
"Pinterr, anak ibuk sekarang libur sekolah di rumah bisa bantu-bantu ibuk beres-beres," puji Siti Fadilah untuk membuat anaknya semakin bersemangat.
"Ya, kalau dikit-dikit masih bisa, Buk." Abi berjalan menuju ruang tamu untuk menonton televisi kembali.
"Besok, ikut ibuk ke sawah kalau gitu deh?" Siti Fadilah membujuk anaknya.
"Iya, Buk. Insyaallah aku mau kok." Abi bersedia.
Kemudian, ibunya berjalan menuju karung yang berisi sayuran dari sawah, menggendongnya dan berjalan keluar rumah.
"Ibuk mau jual sayuran ini dulu ke warung ya, Bi." Siti Fadilah berpamitan dengan anaknya.
"Iya hati-hati, Buk," jawab Abi.
Setelah melihat ibunya berjalan keluar rumah dan sampai halaman depan teras rumah, Abi berjalan menuju kamar mengambil; h**andphone yang tadi telah ia tinggal.
Melihat layar handpone-nya itu, dan ternyata ada dua pesan baru dari Eka.
"Mas, kok ditutup telfonnya?" isi pesan singkat pertama.
"Bales dong, Mas. Jangan buat aku khawatir." isi pesan kedua.
Saat itu ada kata khawatir dalam pesan tersebut. Abi mulai berprasangka, kalau Eka memang benar-benar ada rasa dengannya. Mencari-cari alasan yang tepat untuk menjawab pesan itu, Abi butuh beberapa menit untuk berfikir mengetik pesan apa yang harus ia balaskan kepada Eka.
"Maaf, Dek. Aku malu, soalnya aku belum terbiasa telfonan di depan ibuk. Apa lagi sama cewek." Akhirnya itulah jawaban yang muncul di benak Abi untuk menjawab pertanyaan Eka.
Berjalan lagi menuju ruang tamu, duduk untuk menonton televisi yang sedari tadi masih menyala. Sekarang, Handphone ada di genggamannya.
Tak kunjung ada balasan yang diterima. Abi berfikir, mungkin saja Eka sedang membereskan pekerjaan rumah.
Melihat jam ternyata telah pukul sebelas siang. Merasa mulai tak kuasa menahan kantuk, akhirnya Abi ketiduran di ruang tamu.
__ADS_1
Suara ibu terdengar di dalam rumah, ia terbangun. Jam di dinding sudah menunjukan pukul setengah dua siang. Abi berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka dan wudhu, kemudian melaksanakan sholat dzuhur.