Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu
SMP - Makan Malam di Asrama


__ADS_3

"Malam ini kita dapat makan malam atau tidak ya, Bi?" tanya Putra.


"Waduh, mana aku tahu. Coba tanya Pak Taufik, siapa tau kita dapat informasi," kata Abi.


"Ya sudah, kita ke kamarnya Pak Taufik saja sekarang, Bi." Putra menoleh kearah Abi.


Mereka berdua langsung berdiri, mengambil tas selempang dan berjalan menuju kamar Pak Taufik yang berada di ujung asrama trainning camp.


Sesekali dengan menyapa beberapa teman yang sedang duduk santai dan berbincang-bincang. Abi dan Putra sampai di kamar Pak Taufik, bertemu dengan Fajar yang memang satu kamar dengan pelatihnya.


"Ada apa, Bi?" tanya Fajar.


"Ini, aku sama Putra mau nyari Pak Taufik." tangannya menunjuk kearah Putra.


"Oh, Pak Taufik sedang keluar tadi. Lha mau nanya apa emang?" tanya Fajar.


"Malam ini, kita dapat makan malam apa tidak?" tanya Putra.


"Oh, dapet. Ini Pak Taufik keluar juga ngambil bungkusan dari pihak asrama, untuk makan malam," kata Fajar.


"Ya sudah, kalau dapat makan kan kita gak jadi keluar asrama," ujar Abi.


"Nanti kalau sudah datang makanannya, dihantar ke kamar kalian masing-masing," cetus Fajar.


"Ya sudah, kita balik ke kamar dulu ya, Jar?" kata Putra.


"Iya, hati-hati bro." Fajar melambaikan tangan.


Mereka berdua kembali ke kamar, berencana untuk menonton televisi yang ada di kamar. Melewati lorong asrama, banyak sekali orang-orang yang tongkrong duduk di lantai bawah depan kamar mereka masing-masing.


"Darimana, Bi?" tanya Syauqi.


"Itu tadi dari kamar Pak Taufi, Qi." Menunjuk kearah kamar paling ujung.


"Mampir dulu sini," kata Syauqi.


"Iya besok-besok lagi, Qi. Soalnya tadi kamarku ndak ku kunci," jawab Putra.


Berjalan santai mengarungi lorong asrama, tiba mereka di kamarnya. Abi menaiki tangga kecil, menuju ranjangnya yang berada di atas. Sedangkan, Putra mengambil remot tv untuk meramaikan suasana.


Mencari acara hiburan yang sedang tayang malam itu, Putra sedikit susah mencari acara tv yang bagus. Akhirnya, ia memutuskan untuk menonton berita saja.


Sudah lama sekali ia tak pernah menonton berita. Putra berjalan menuju ranjangnya, menonton tv yang berukuran dua puluh satu inchi dari atas ranjang tidurnya. Kebetulan yang di tonton adalah berita olahraga Kompas Tv.

__ADS_1


"Bii, kamu tidur ya? kok, diem aja?" tanya Putra.


"Endak, ini aku juga nonton tv lah, Traa," jawab Abi.


"Kamu laper apa ndak? ini, ada biskuit buat ganjal perut dulu." Putra menawarkan biskuit kepada Abi.


"Aku belum laper, nanti nunggu makan malam dari asrama aja sekalian," ujar Abi.


Mereka berdua sangat serius sekali, memperhatikan satu per satu berita yang sedang tayang di acara tv tersebut. Tanpa sadar, ternyata sedang ketiduran. Sedangkan, Abi masih fokus melihat acara berita olahraga itu.


Tak berselang lama ada suara yang sedang mengetuk pintu, Abi masih terdiam di ranjang tidurnya sambil berusaha fokus mendengarkan suara ketukan pintu itu.


Apakah memang dari pintu kamarnya atau pintu kamar sebelah?


Ternyata, suara itu dari pintu kamarnya yang sedang diketuk oleh seseorang. Abi berjalan menuruni anak tangga, melihat Putra sedang tertidur pulas. Berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Ini, untuk makan malamnya." Fajar memberi dua bungkus nasi.


Suara ketukan pintu yang terdengar sedari tadi adalah Fajar dan Fredian. Mereka berdua sedang membagikan makan malam dari kamar ke kamar.


"Waduh, makasih ya. Mampir dulu sini, Jar." Abi membuka pintu kamarnya lebar-lebar.


"Iya, makasih. Itu Putra jam segini udah tidur aja, Bi?" tanya Fredian.


"Kita ganggu apa tidak, kalau mampir?" tanya Fajar.


"Ya enggak lah, makan bareng aja di sini. Udah selesai juga kan, bagi-bagi makan malamnya?" tanya Abi.


"Udah juga sih, ya boleh lah. Kita makan di sini aja ya, Fer?" tanya Fajar.


"Boleh aja lah, sekalian ngumpul-ngumpul." Ferdian memberikan isyarat jempolnya.


Abi berjalan menuju ranjang temannya yang masih tertidur pulas, ia berusaha membangunkan Putra yang sudah sedikit mendengkur.


"Traa, bangun. Makan malamnya sudah datang." Abi menepuk pinggul Putra.


"Hmmmm," gumam Putra.


Putra melihat sekeliling kamar dengan keadaan sedikit belum sadar sepenuhnya.


"Ayo, bangun makan dulu. Itu ada Fajar sama Ferdian mampir, sekalian mau makan di sini." Abi menunjuk kearah kedua temannya yang sedang mampir.


Putra terbangun dan duduk di atas ranjangnya sambil menggaruk-garuk lehernya, dengan mata yang sedikit memerah karena kaget dibangunkan oleh teman satu kamarnya.

__ADS_1


Abi berjalan mengambil dua botol air mineral yang ukurannya lumayan besar untuk menemani makan malamnya kali ini. Bersama tiga temannya lain, mereka duduk di bawah kamar yang beralaskan keramik putih.


"Kira-kira ini isinya apaan ya, Jar?" Abi memegang bungkusannya.


"Mana aku tahu," kata Fajar.


"Gila. Dia yang bagiin, ternyata belum tahu isinya." Putra mengambil sebungkus makan malamnya.


"Nanti, kalau kita keracunan gimana, Tra?" Abi tertawa.


Semuanya seketika tertawa bersama-sama, membukanya dan melihat isinya. Ternyata, makan malamnya waktu itu mendapat menu nasi goreng beserta lalapan.


"Biasanya jam segini aku lagi nonton tv di ruang tamu rumah, bareng orang tuaku." Fajar berbicara disela makan malamnya.


"Aku kalu di rumah, jam segini baru pulang," tutur Abi.


"Beneran, Bi? bohong palingan, hehe." Ferdian sambil makan.


"Beneran, kalau gak percaya. Itu, tanya aja sama si Putra. Aku tiap malem ngaji bareng dia, abis itu main bola plastik di depan rumahku," jawab Abi.


"Serius kamu, Bi?" tanya Fajar.


"Iya, masa malem-malem main bola?" Ferdian penasaran.


"Iya, beneran. Aku juga main bola di depan rumahnya Abi kalau sepulang dari tempat mengaji," sahut Putra.


Fajar berjalan keluar kamar menuju tempat sampah yang ada di depan kamarnya Putra sambil membawa sebotol air mineral. Fajar meminum air itu dan mencuci tangannya dengan sedikit air mineral itu, di sebuah saluran pembuangan air yang tertutup teralis besi berada tepat di samping tempat sampah. Kemudian, ia berjalan masuk lagi ke dalam kamar temannya.


"Enak juga ya, berarti kalau malem hari di depan rumahmu itu ramai sekali ya, Bi?" tanya Fajar.


"Banget, Jar. Mulai dari anak kecil yang main-main gak jelas, hingga orang tua yang udah punya anak cucu." Abi melipat kertas bungkus nasinya yang telah habis.


"Pada ngapain kalau orang tua?" tanya Ferdian penasaran.


Abi berjalan keluar, membuang sampah dan mencuci tangannya.


"Ya, pada olahraga lah. Ramai banget, di situ ada beberapa lampu yang diberi tiang. Buat penerangan yang pengen main di situ. Itu program dari karang taruna setempat," ujar Putra.


"Kalau yang tua-tua kebanyakan main badminton," tutur Abi.


"Jadi yang tua-tua main badminton, yang muda-muda main futsal gitu?" tanya Ferdian.


Abi kembali duduk, berada di sekitar teman-temannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2