
Seminggu kemudian, jam belajar sekolah berjalan seperti biasa. Abi sudah mulai merasakan sedikit lupa namanya cinta, ia kini kembali lagi menjadi orang yang hidup bebas tanpa harus memberi kabar kepada orang lain.
Di lain hal, ia mendengar gosip dari mulut teman-temannya. Kalau ternyata si mantan kekasihnya itu punya pacar baru lagi. Tetapi dalam hati Abi, "Ahh mungkin itu hanya gosip saja." Karena waktu berpisah dengannya, dia itu tidak boleh pacaran. Pesan dari kedua orang tuanya karena takut mengganggu jam belajarnya.
Dan semua kata-kata yang ada dalam benak Abi mulai terbantahkan, ketika suatu hari ia mendengar sebuah kalimat yang keluar dari mulut Panji.
Ketika pulang sekolah, mereka bersepeda seperti biasanya. Karena, mungkin kehabisan topik pembicaraan, akhirnya si Panji memilih topik pembicaraan itu.
"Eh, Bii. Kamu gak cemburu cewekmu punya pacar?" tanya si Panji.
"Hah? cewek siapa? aku gak punya cewek kali," sanggah Abi.
"Heleh, itu si Eka yang pernah suka sama kamu itu lho. Dia abis ditembak sama temenku satu kelas," kalimat Panji membuat sedikit hati temannya itu bergetar.
"Tapi, aku gak pernah ada hubungan sama temenmu itu, Nji. Emangya bener dia ditembak temen satu kelasnya?" Abi mulai sedikit pengen tau.
"Aaaa, mulai penasaran ya? jangan-jangan cemburu?" Panji sedikit menggoda Abi dengan kalimat tanyanya.
"Iya tuh, palingan Abi cemburu," sahut Putra.
"Iih, apaan sih. Aku biasa aja kali, cuman pengen tau aja gimana gitu. Masa temennya ngmong sesuatu didiemin?" alasan Abi.
"Hehe, iya deh iya. Akhirnya, ya diterima gitu. Sekarang dia berdua pacaran, udah ada dua hari ini kalau gak salah," jelas Panji.
"Oh, berarti yang dibicarain temen-temenku di kelas itu bener gitu lho." Abi menjawab kata - kata Panji.
"Emang, temenmu pada bicara apaan?" tanya Putra.
__ADS_1
"Ya, itu tadi. Intinya si Eka sekarang pacaran sama temen satu kelas," jawab Abi.
"Jangan sakit hati lah, Bii. Yang terpenting di sekolah itu kewajibannya belajar. Tapi, ngomong-ngomong dulu pernah dikasih kertas dari Eka, isinya apa?" seketika Panji masih ingat kejadian itu.
Abi berbicara dalam hati, ****** aku mau jawab apa ini. Tetapi, memang tidak ada yang tau kalau Eka pernah pacaran sama si Abi. Tapi kalau ditanya masalah itu, harus jawab bagaimana?.
"Pernah dikasih apaan emang, Nji?" Agus penasaran.
"Gak tau tuh, Abi pernah dikasih selembar kertas gitu. Dititipin sama aku, tapi gak tau isinya apaan," ujar Panji sambil ketawa.
"Kamu sih, buka dulu gitu biar tau isinya," sahut Putra.
"Aku mana berani lah, bukan untukku kok. Tapi emang itu isinya apaan, Bii?" Panji masih berusaha bertanya kepada Abi.
"Oh, yang waktu itu? isinya itu rumus Matematika sama rumus IPA," alasan Abi.
"Haah!!? apa hubungannya rumus itu? kan, kalian gak pernah ketemu, apa lagi ngobrol banyak," sanggah dari Panji.
"Ndak, waktu itu aku kan iseng-iseng ngerjain tugas di UKS. Nah, tiba-tiba Eka masuk mau ambil betadine kalau gak salah. Terus, dia lihat aku lagi ngerjain itu. Kan aku gak tau rumusnya, Dia dateng mau ngajarin aku. Ya, Dia pernah ngerjain itu tapi dia lupa rumusnya. Bukunya juga di rumah, terus Dia menawarkan untuk mencatatkan rumus itu buat aku. Terus tak suruh nitipin sama kamu gitu, Nji," tutur Abi dengan sangat teliti agar tidak tau kalau dia sedanh berbohong.
"Ohh, begitu. Kirain surat ehmm ehmm." Panji tertawa lebar.
Abi beralasan agar tidak ada yang mengetahui hubungannya dengan Eka waktu itu. Teman-temannya juga percaya-percaya saja, karena ini cerita terjadi ketika kondisi belum ada g**adget canggih seperti sekarang. Yang semua anak sekolah hampir memilikinya, bisa buat browsing, belajar online, nyari kunci jawaban. Bahkan, nyari link Bokep**. Eh, maaf kata-kata Bokep**nya gak bisa disensor.
Sesampainya di rumah, Abi keadaan rumah sangat sepi. Ibunya belum pulang kerja, Abi langsung menangis sejadi-jadinya. Tak bisa membayangkan kalau kata-kata perpisahan yang keluar dari pesan singkat sms itu hanyalah alasan saja. Agar dia bisa berpisah dengan Abi.
Masih merasa seperti mimpi, mantan yang baru saja memutuskan hubungan beberapa hari lalu, sudah jadian lagi dengan orang yang baru.
__ADS_1
Mendengar suara sepeda ibunya masuk rumah, Abi langsung keluar kamar dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. (tetapi tidak dikucek dong).
"Biii, tidur ya? Kalau ndak tidur, bantuin ibuk nurunin lauk bawaanya ibuk sini." Ibunya berkata sambil mencari Abi dikamarnya.
"Iya, Buk. Aku abis dari kamar mandi." Abi berjalan dari sudut belakang rumahnya.
"Itu matamu kenapa kok merah sekali?" tanya Siti Fadilah kepada Anaknya.
"Oh, ini tadi pas pulang kena debu dari truk yang muat pasir, Buk. Perih banget." Abi mencoba berbohong kepada ibunya.
"Ohh, ya sudah. Buruan diobatin, sana ambil obat tetes mata dikamar ibuk. Nanti keburu iritasi bahaya lho." Siti Fadilah berjalan ke kamar mandi.
Bngst! ini bocah banyakan bohongnya.
Setelah membereskan barang bawaan dari ibunya, ia langsung menuju kamar mandi untuk mandi dan bergegas mengaji.
Mungkin, itu akan bisa sedikit menenangkan hatinya. Berkumpul dengan teman banyak, akan sedikit mengurangi rasa sakit yang ia rasakan. Setiap hari ia berusaha melupakan orang yang pernah singgah dalam hatinya, berminggu-minggu ia berusaha membuat hatinya tenang.
Pada akhirnya, ia sudah mulai bisa berdamai dengan rasa luka itu. Bahkan, sekarang ia mulai lupa akan namanya cinta.
Lebih bebas dalam menjalani hari-hari, karena merasa badannya kurang berolahraga. Saat akhir-akhir masa kelas delapan SMP, ia mulai ikut bergabung dengan ektrakurikuler futsal.
Ya futsal jaman itu memang tak seheboh futsal seperti sekarang. Tetapi, lumayan untuk mencari keringat. Abi kala itu lebih suka memilih menjadi penjaga gawang. Bukan karena senang menjadi penjaga gawang, tetapi ia memang sedari kecil ketika bermain bola bersama teman-teman. Lebih memilih menjadi penjaga gawang, karena kalau dia di depan menang tidak bisa menggiring bola. Terlihat sedikit kaku kalau menggiring bola.
Kala itu ia bergabung ke klub futsal bareng dengan Putra, sedangkan Agus dan Panji lebih memilih di bulutangkis.
Ekstra futsal berangkat setiap minggu, karena sekolahan tak punya lapangan futsal sendiri. Maka, tempat latihannya itu di luar sekolah, di lapangan umum yang telah di booking member oleh sekolahan.
__ADS_1
Semua siswa yang datang untuk berlatih tidak dikenakan biaya sepeserpun, sekarang ia merasa lebih bebas dalam beraktivitas. Tidak ada sesuatu yang menjadi penghambat waktunya dalam menjalani kegiatan sehari - hari.
Tidak ada orang yang harus melulu diberi kabar setiap hari.