Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu
SMP - Membakar Ikan Hasil Tangkapan


__ADS_3

Putra memberikan sebungkus plastik itu kepada ibunya, kemudian ia hendak bergegas menuju kamar mandi rumahnya.


"Ya Allah, anakku pinter nyari lauk buat keluarganya." Sarti berbicara dengan nada yang lirih.


"Iya lumayan buat makan nanti malam, Buk." Putra langsung berjalan kearah kamar mandi.


Hati Sarti sangat senang sekali melihat anaknya mencarikan lauk untuk makan sekeluarganya, sedikit tidak tega tapi apalah daya. Ikan satu plastik kresek hitam kecil itu bisa untuk mengirit pengeluaran hari ini, kemudian ibunya Putra membawa lauk itu ke dapur untuk di masak.


Sedangkan Abi yang berada di rumahnya sudah selesai mandi dan telah malaksanakan sholat dzuhur, saat ia berada di belakang rumah ternyata sudah ada beberapa temannya yang menunggu.


Diki, Fandil dan Khoirul sudah mebersihkan ikan tersebut, mereka bertiga membersikah sisik dan organ dalam ikan air tawar itu di sumur belakang rumahnya Abi.


"Lho sudah pada di sini toh?" Tanya Abi ketika terkejut melihat ketiga temannya sudah berada di belakang rumahnya.


"Sudah lumayan lama aku di sini, ini hampir selesai bersihin ikannya." Diki menunjukkan daging ikan yang telah bersih di sebuah wadah baskom kecil.


"Alhamdulillah," ujar Abi sambil mendekati teman-temannya itu.


Dari kejauhan nampak Agus dan Panji berjalan dari arah depan rumah Abi, mereka berdua membawa satu genggam potongan bambu kecil-kecil yang akan dijadikan sebagai tusuk saat membakar ikan.


"Ini aku bawa tusuknya," kata Panji.


"Nanti mau dikasih bumbu apa?" Tanya Abi.


"Dikasih masako sama kecap aja udah enak," jawab Agus.


Rama datang dari arah depan rumah Abi, wajahnya nampak masih seger sekali karena tersiram air saat mandi tadi.


"Telat aku nih," kata Rama.


"Belum mulai juga," jawab Diki.


"Ini aku bawa masako sama kecap," ujar Agus.


"Mana?" Tanya Abi.


"Ini." Agus memperlihatkan dua sachet masako, dan dua sachet kecap bangau.


"Nanti masakonya diaduk pakai sedikit air saja, biar meresap." Abi berusaha mengambil wadah kecil yang ada di dalam rumahnya untuk melarutkan masako itu.

__ADS_1


Putra datang dari arah belakang rumahnya, memang belakang rumah Putra dan Abi itu sedikit berdekatan, maka dari itu Putra memilih untuk lewat belakang saja agar cepat sampai.


Nampaknya teman Abi yang satu itu membawa sebungkus plastik yang lumayan besar, tak ada yang bisa mengetahui isi di dalamnya karena plastik itu berwarna hitam gelap.


"Bawa apa itu, Tra?" Tanya Diki.


"Iya bawa apa itu, Put?" Tambah Agus.


"Ini tadi Ibuku habis dari sawah bawa ketela singkong, aku disuruh bawa kesini buat dibakar dan dimakan sama kalian." Putra menyodorkan sebungkus plastik itu.


"Ya sudah ditaruh situ saja, nanti dibakar dulu, setelah itu ikannya." Diki sambil membersihkan ikan yang masih dipenuhi lumpur.


Rama, Agus dan Panji mengumpulkan kayu kering yang akan dijadikan untuk bara membakar ikan dan singkong, kemudian mereka bertiga langsung membuat tumpukan bata di sisi-sisiny. Setelah bata tertumpuk, mereka langsung membakar kayu itu dengan bantuan daun pisang yang sudah kering agar mudah mendapatkan api yang keluar dari korek.


Abi yang berada di dalam rumah ternyata sudah bersama dengan ibunya yang telah pulang dari tempat kerjanya, waktu masih menunjukan pukul setengah tiga sore.


"Mau bakar apa di belakang, Bi?" Tanya Siti Fadilah.


"Mau bakar ikan, Buk." Abi masih mencari wadah mangkok kecil untuk melarutkan masako itu.


"Kamu cari apa?" Tanya Ibunya.


"Oh mangkok itu masih kotor di tempat cucian piring, kamu cuci aja dulu. Kemarin abis buat wadah lauk," kata Siti Fadilah.


Kemudian Abi berjalan menuju tempat cucian piring kotor, mencari mangkok itu. Setelah ketemu, ia langsung mencucinya sampai bersih sebelum dibawa ke hadapan teman-temannya.


Siti Fadilah menengok dari pintu belakang kearah anak-anak itu berkumpul, terlihat sangat asik sekali.


"Semuanya makan dulu, sudah pada makan siang apa belum?" Tanya Siti Fadilah yang sedikit mengejutkan anak-anak tersebut.


"Eh! Bu Siti, sudah pada makan kok, Buk." Agus sedikit terkejut.


"Iya sudah pada makan kok, Bu." Panji ikut menambah jawaban Agus.


"Yang belum makan, sini masuk makan dulu jangan malu-malu." Siti Fadilah menawarkan kepada anak-anak tersebut sambil masuk lagi ke dalam rumah.


"Iya makasih, Buk." Rama menjawab sambil berusaha menyalakan api.


Kemudian Abi keluar dari pintu belakang rumahnya sambil membawa wadah kecil yang ia genggam di tangan kanannya, masih sesekali meneteskan air bekas cuciannya.

__ADS_1


Abi melihat singkong dibawah tempatnya berdiri, ia tak tau darimana singkong itu bisa ke sini.


"Ini tadi yang bawa siapa?" Tanya Abi menunjuk kearah singkong tersebut.


"Itu tadi aku yang bawa," jawab Putra.


Abi menaruh masako yang sudah dilarutkannya dalam air, dan membawa mangkok kecil lainnya untuk wadah kecap.


"Apinya sudah jadi nih, tinggal nunggu jadi bara saja," kata Agus.


"Bentar lagi jadi nih," tambah Panji.


Fandil, Khoirul, Diki dan Abi langsung menyelupkan ikan yang telah selesai dibersihkan, satu per satu mereka menyelupkan ke dalam mangkok yang berisi air larutan masako.


Kemudian setelah itu langsung ditusuk pakai bambu yang telan disiapkan, tiriskan beberapa saat agar tidak terlalu banyak airnya sehingga susah untuk dibakar.


Agus, Panji dan Putra telah selesai membuat bara api, mereka akan membakar ketela singkong terlebih dahulu.


Mereka langsung menaruh singkong tersebut ke dalam bara yang sedikit masih berapi tanpa mengupas kulitnya terlebih dahulu, supaya rasanya lebih sedap dan gurih.


"Ini nanti singkongnya kalau sudah matang mau ditaruh mana?" Tanya Agus.


"Taruh di tanah situ saja tidak apa-apa," jawab Diki sambil menunjuk kebawah samping Panji berjongkok.


"Kasih alas daun pisang saja, biar aku yang nyari." Abi langsung bergegas ke pohon pisang yang ada di sekitar situ.


Diki dan Khoirul masih mengoles-ngoleskan larutan masako itu ke ikan yang sudah bersih, sedangkan Fandil masih menusuk-nusuk ikan yang telah terolesi oleh bumbu.


"Nanti kasih ini saja," kata Abi sambil membawa beberapa lembar daun pisang.


"Sini minta buat ini, Bi." Fandil meminta untuk digunakan sebagai alas ikan yang telah terolesi bumbu.


Singkong yang sudah matang langsung diangkat oleh Agus menggunakan capit yang terbuat dari bambu, kemudian ditiriskan ke wadah daun pisang tersebut.


Sekarang saatnya membakar ikan, langsung saja mereka menempatkan ikan yang telah ditusuki dengan bambu di antara kedua batu bata yang menjadi pembatas bara api yang ada di tengahnya.


Agus langsung mengipasi bara tersebut agar ikan cepat matang, mereka membakar semua ikan membutuhkan waktu sekitar dua puluh menitan.


Setelah semua matang, semua anak yang ada di situ langsung menuju tikar yang telah digelar oleh Abi. Duduk diatasnya sambil menikmati ikan, singkong bakar dan membawa se-teko es teh untuk menghabiskan waktu sore hari ini sebelum mereka berangkat mengaji.

__ADS_1


__ADS_2