
Keempat anak itu akan bermain sebuah game bernama Winning Eleven yang ada dalam Ps tersebut.
Itu pertama kalinya untuk Putra dan Abi bermain game bola di Ps bernama Winning Eleven, sebelumnya kedua anak itu lebih sering, bahkan selalu memilih PES (Pro Evolution Soccer) saat bermain bola di dalam Ps.
Namun mereka berdua akan mencobanya, siapa tau trik yang ada di dalam PES dan Winning Eleven itu tidak jauh berbeda, lagian apa salahnya untuk mencoba, sekaligus belajar.
Bermain League, keempat anak ini akan bertemu satu sama lain. Abi memilih menggunakan Manchester United, Irkham memilih Manchester City, Alfianda memilih menggunakan klub FC Barcelona, sedangkan Putra memilih untuk menggunakan Real Madrid.
Setelah memilih klub, saatnya memulai pertandingan, ternyata kesempatan pertama yang akan bermain adalah Abi melawan Alfianda.
Memilih formasi yang biasa ia gunakan saat bermain PES, memulai pertandingan dengan penuh percaya diri, hingga pertandingan selesai, Abi kalah dengan skor yang sangat telak 4-0, karena semua taktik yang ada di game Winning Eleven itu sangat berbeda 180 derajat daripada PES, Abi harus mengakui kehebatan Alfianda dalam bermain Winning Eleven.
Saat Putra bermain melawan dengan Irkham, ia juga kalah 2-0 dengan serangan yang bertubi-tubi.
Mereka berdua memang sangat perkasa dalam bermain Winning Eleven, tak ada harapan untuk Abi dan Putra meraih juara, mereka berdua hanya bisa pasrah melihat Alfianda dan Irkham yng akan berebut posisi satu.
Saat Irkham dan Alfianda bermain, Abi dan Putra meninggalkan sebentar kedua temannya itu untuk menghampiri Agus dan Panji, kedua anak yang ada di lantai bawah kelihatannya sangat serius sekali saat bermain komputer.
Sekilas layar Panji dan Agus terlihat ada bola billiard, pasti kedua anak ini sedang bertanding 8 Ball Pool dalam benak Abi.
Bilik warnet Agus dan Panji memang bersebelahan, hanya berbatas sebuah sekat papan triplek sebagai penghalang antara mereka berdua.
Abi mendekati Panji, poinnya sudah lumayan banyak, Agus sudah kalah beberapa kali dari Panji, walaupun ia sesekali membalasnya, namun perolehan poin dari Panji masih belum bisa dikejar olehnya.
Panji bermain game itu sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya, mengikuti irama musik yang sedang ia dengarkan melalui earphone di kupingnya.
"Sudah selesai main Ps-nya?" tanya Panji.
"Itu tinggal Irkham sama Alfianda yang main," jawab Abi.
"Ini aku juga bentar lagi kok," kata Panji.
Alfianda berjalan menuruni anak tangga bersama dengan Irkham, menghampiri Abi yang sedang duduk di dekat bilik dari komputer Panji.
__ADS_1
"Apa sudah selesai?" tanya Abi.
"Sisa lima menit, males." Irkham menjawab.
"Menang siapa tadi?" tanya Abi.
"Menang aku lah," kata Alfianda sambil meringis.
"Ya sudah aku mau pulang duluan ya," kata Alfianda.
"Aku makasih banget lho udah di bayarin," kata Abi.
"Aku juga makasih banget lho, hati-hati," imbuh Putra.
"Santai saja, aku pulang dulu soalnya harus nunggu angkutan juga. Duluan ya," pamit Alfianda kepada keempat temannya yang masih berada di bilik warnet.
"Duluan ya," imbuh Irkham.
"Iyaa hati-hati," kata Abi.
Abi dan Putra menunggu kedua temannya selama sekitar sepuluh menit bermain komputer, menghabiskan paket jam yang masih tersisa.
Karena jarang juga mereka ke sini, mungkin apabila ada waktu luang atau pun sisa uang jajan yang harus dikumpulkan dulu untuk mampir ke sini lagi.
"Tambahi atau pulang, Gus?" Panji melihat di monitor yang menunjukkan waktunya hampir habis.
"Pulang saja tidak apa-apa lah, besok-besok lagi masih bisa," jawab Agus.
Tak berselang lama, waktu mereka merental komputer itu pun habis, sekarang Agus dan Panji berjalan menuju ke tempat duduk penjaga rental yang ada di tepian pintu keluar dan masuk warnet ini.
Membayarnya sesuai dengan tagihan yang ada, keempat anak ini membeli minumal gelas kecil untuk menemaninya mengayuh sepeda hari ini. Jam di dinding masih menunjukan pukul kurang lebih sebelas siang, keempat anak itu langsung menuju ke tempat parkir sepeda mereka, mengambilnya untuk kembali ke rumah.
"Alhamdulillah hari ini pulang cepet," kata Panji.
__ADS_1
"Iya nih, syukur banget masih bisa ke warnet juga," Agus meringis.
"Aku dapet traktiran," Abi tertawa.
"Iya nih, untung banget ditraktir temen," imbuh Putra.
Mereka mengambil sepeda, kemudian menuju ke jalan raya untuk bersepeda hingga rumah masing-masing.
Panji dan Agus berboncengan, karena sepeda Panji saat berangkat sekolah tadi pagi rantainya putus di depan rumahnya, ketika hendak berangkat sekolah malah putus, akhirnya ia menuju ke rumah Agus untuk meminta tumpangan.
Sepanjang jalan di temani segelas plastik es dan teriknya sinar mentari siang hari, keempat anak ini seperti sudah terbiasa dengan panasnya situasi siang hari.
Mengayuh sepeda dan sesekali menyeruput minuman yang ada di genggamannya, sudah mulai kelas tiga SMP, mereka harus lebih giat lagi untuk memikirkan kelulusan dengan nilai yang bagus.
Beberapa anak dari desa lain sudah mulai dibelikan sepeda motor oleh orang tuanya, namun keempat anak ini masih membawa sepeda bututnya saat berangkat dan pulang sekolah, kenapa harus malu, kan itu yanh mereka punya, lagi pula sebenarnya anak SMP belum boleh memakai sepeda motor.
Anak-anak yang membawa sepeda motor, tidak berani memarkirkan kendaraannya di dalam area sekolahan, karena itu larangan keras, mereka memarkirkan sepeda motornya di parkiran umum dekat seberang jalan raya yang ada di depan gerbang SMP Negeri 1 Noveltoon, namun anak-anak yang membawa sepeda motor harus mengeluarkan uang seribu rupiah untuk biaya parkir tersebut.
Daripada memakai sepeda motor, harus mikir bahan bakar, bayar parkir dan lain-lain, keempat anak itu memilih memakai sepeda supaya mengirit pengeluaran yang tidak penting, lebih baik untuk jajan atau ditabung (kumpulkan).
"Nanti enaknya ngapain kalau sampau rumah ya?" tanya Panji yang sedang berbonceng dengan Agus.
"Aku nanti ndak bisa lah, soalnya ikut omku traktor (bajak sawah) lagi," kata Agus.
Keempat anak ini mengayuh sepeda dengan penuh keringat hingga ke rumah masing-masing.
Abi sudah berada di dalam rumah, seisi rumahnya masih sangat sepi sekali, ibunya juga belum pulang dari tempatnya bekerja. Ia melihat ada tumpukan piring kotor di dekat dapur. Kemudian Abi masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya, setelah itu menuju ke tempat cucian piring dan membersihkan tumpukan piring yang kotor tersebut.
"Klotak," sesekali bunyi yang keluar saat dirinya menumpuk piring itu, satu dengan yang lain.
Suasana di dalam rumah sangat pengap dan panas sekali, matahari tepat berada di atas kepala saat bersepeda tadi.
Setelah selesai mencuci piring, Abi menuju ruang tamu, menonton televisi sambil menunggu adzan dzuhur berkumandang.
__ADS_1
Kelinci-kelinci kecil miliknya juga belum mulai kelaparan, karena kangkung yang kemarin ia berikan masih banyak sekali belum habis termakan.
Makanya, siang ini ia memilih bersantai saja di ruang tamu sambil menyaksikan acara yang sedang tayang di layar televisi.