Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu
SMP - Libur Mengaji


__ADS_3

Sampai di rumah, Abi langsung menuju dapur untuk mencari ibunya.


"Masak apa sore ini, Buk?" Tanya Abi.


"Ibu gak masak, itu tadi bawa lauk dari rumah bosnya Ibu," kata Siti Fadilah.


Abi berjalan kearah rak piring, kemudian berpindah ke meja makan untuk mengambil nasi dan lauk untuk makan sore ini. Soalnya tadi siang belum makan nasi, ia hanya memakan singkong dan ikan bakar bersama dengan teman-temannya.


Abi sedang berada di meja makan, ternyata tadi ibunya membawa lauk sayur sop dan gorengan tahu tempe dari tempat kerjanya. Ia langsung mengambil lauk tersebut, menyiramkan sayur sop itu ke dalam piring yang berisi nasi di hadapannya. Abi makan dengan lahap sekali sore ini.


Setelah selesai menghabiskan makan yang ada di piringnya, meletakkan piringnya di tempat cucian piring kotor.


Sekarang Abi berjalan menuju rumah bagian belakang untuk melihat ternak kelinci miliknya, ia melihat binatang-binatang itu sudah berlarian kesana kemari mungkin karena mereka sudah mulai kelaparan.


Abi mengambil karung yang berisi sebuah kangkung liar guna diberikan kepada ternak-ternak yang sudah mulai kelaparan itu, anak ini langsung membuka kandang dan mengambil beberapa bagian kangkung itu, kemudian meletakkannya di dalam kandang di sebuah wadah kecil tempat untuk menaruh makan ternak itu.


Sehabis itu ia langsung menuju kamar mandi bersiap-siap untuk berangkat ke tempat mengaji, karena sekarang jam di dinding sudah menunjukan kurang lebih pukul empat sore.


"Byur, byur," suara air dari dalam kamar mandi.


Di depan rumah, ternyata Fandil dan Khoirul telah menunggunya. Siti Fadilah mendengar obrolan kedua anak itu yang duduk di depan teras rumah sambil memeluk kitab Al-Qur'an yang dibawanya.


"Lhoo sudah pada di sini?" Tanya Siti Fadilah saat melihat kedua anak itu.


"Iya, Buk. Nungguin Abi ini," kata Khoirul sambil meringis.


"Ya sudah, tunggu sebentar ya." Siti Fadilah berjalan kembali masuk ke dalam rumah.


Kedua anak itu kembali melanjutkan perbincangannya sambil menunggu Abi selesai dari kamar mandi.


Agus dan Panji datang dari arah timur jalan desa yang melintasi depan rumah Abi, mereka berdua melihat Khoirul dan Fandil yang sedang duduk di depan teras rumahnya Abi. Kedua anak itu langsung berbelok arah, ikut berkumpul untuk menunggu Abi selesai dari bersih-bersih badannya.


Abi keluar dari dalam rumah dengan dandanan yang sudah rapi dan siap untuk berangkat ke rumah Pakde Muhlisin, tempat mereka semua mengaji.


"Ayo berangkat," kata Abi.


Semua teman-temannya langsung berdiri dari tempat duduknya, kemudian mereka semua berjalan berdampingan menuju ke tempat mengaji.

__ADS_1


Saat sampai di rumah Pakde Muhlisin, pintunya masih tertutup rapat. Beberapa anak yang sudah berada di situ terlihat masih duduk-duduk di luar, di area teras yang luas dari rumah Pakde itu.


"Kok masih tutup?" Tanya Abi kepada Ridho (seorang anak tetangganya yang masih duduk di bangku sekolah dasar).


"Gak ada orang, mungkin Pakdhe Muh masih kerja," jelas anak itu.


Kemudian Abi dan beberapa temannya duduk di teras rumah kecil itu, menunggu sampai pintu itu terbuka.


Setengah jam mereka duduk di situ bersama anak-anak yang lain, istri dari Pakdhe Muh sepertinya baru pulang dari sawah, soalnya pakaiannya sangat kotor sekali dan membawa ember yang berisi sabit dan peralatan ke sawah lainnya.


"Ngajinya hari ini libur dulu," kata yang keluar dari mulut istri Pakdhe Muh.


"Kenapa emangnya, Dhe?" Tanya Abi kepada Budhe itu.


"Tadi siang pas istirahat Pakdhe sms ke nomor Budhe, katanya sore ini Pakdhe ada jadwal lembur kerja. Jadi ngajinya libur dulu," jelas Budhe.


"Oh ya sudah," jawab Abi.


Setelah itu semua anak yang ada di situ kembali ke rumah masing-masing, Abi dan beberapa temannya kembali ke rumah dengan jalan berdampingan seperti tadi waktu berangkat ke tempat ini.


"Masa habis ini mau main langsung," tutur Putra.


"Nanti malam saja lah," saran Abi.


"Iya nanti malam sekalian," kata Panji.


"Tapi nanti malam aku ijin dulu ya," ucap Rama.


"Mau kemana kamu?" Tanya Diki.


"Aku mau ikut Bapakku beli bibit jagung," jawab Rama.


Satu per satu anak berbelok ke rumah masing-masing termasuk Abi, tinggal hanya Panji dan Agus yang masih tersisa melanjutkan perjalanan menuju rumah mereka masing-masing.


Di sore hari ini Abi bingung mau mengisi dengan kegiatan apa lagi, karena ibunya tidak memasak dan hewan ternaknya juga sudah diberinya makan, ia bingung mau ngapain.


Anak itu memutuskan menonton tv dan berbaring di kursi panjang yang terletak di tepian ruang tamu rumahnya, tak disangka saat itu malah ia ketiduran hingga adzan maghrib berkumandang.

__ADS_1


"Allahuakbar Allahuakbar...," Abi yang mendengar suara kumandang adzan dari mushola itu, langsung terbangun dan berusaha untuk duduk di kursi itu dengan tv yang masih menyala.


"Sholat dulu, Nak. Ibuk mau ke masjid dulu," kata Siti Fadilah seraya berjalan keluar dari rumah dengan mendekap mukena yang akan dibawanya ke tempat peribadatan.


Abi bangun dari tempat duduknya, kemudian beranjak menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


"Sudah makan, Nak?" Tanya Rohmat sang ayah yang sedang duduk dan makan di meja makan.


"Sudah tadi kok, Pak." Abi menjawab dengan melangkahkan kakinya menuju keran yang ada di kamar mandi.


"Krucuk, krucuk, krucuk...," suara air yang mengalir dari keran tersebut.


*******


Setelah selesai dari sholat maghrib, ia langsung keluar menuju teras rumah untuk menunggu teman-temannya yang sudah berjanji untuk bermain di malam ini.


Agus, Putra dan Khoirul sudah datang kerumahnya, namun beberapa teman yang lain belum kelihatan batang hidungnya.


"Mau main apa malam ini?" Tanya Abi.


"Belum tahu nih, aku juga belum kepikiran apa-apa malahan," tutur Putra.


"Coba nanti kita minta pendapat yang lain," ujar Agus.


Ketiga anak itu masih menunggu beberapa temannya yang belum datang, berbincang santai saja, ngomongin hal-hal yang mungkin tidak penting juga. Jadi gausah dimasukkan ke dalam tulisan ini, percakapan mereka lah ya.


Teman-teman yang tadi berada di tempat mengaji bersamanya, mulai berdatangan satu per satu kecuali Rama, karena ia sedang pergi dengan bapaknya.


Beberapa saat setelah berdiskusi, akhirnya semua anak yang sedang berkumpul di depan rumahnya Abi sepakat akan bermain Bulutangkis untuk malam ini.


Agus dan Panji kembali ke rumah untuk mengambil masing-masing dua raket yang mereka miliki, malam ini semua anak bermain secara bergantian.


Hanya ada empat raket, namun jumlah orang yang ada di situ adalah tujuh orang. Maka dari itu mereka harus rela bergantian untuk menerima giliran bermain, bermain berpasang-pasangan untuk saling melawan satu sama lain.


Abi berpasangan dengan Diki, Fandil berpasangan dengan Putra, Agus berpasangan dengan Panji, sedangkan Khoirul memilih menjadi wasit saja karena ia tak bisa main Bulutangkis.


Di lapangan ini yang paling jago bermain adalah Panji dan Agus, karena mereka memang ikut ekstrakurikuler Bulutangkis di SMP Negeri 1 Noveltoon.

__ADS_1


__ADS_2