
Putra keluar kamar untuk membuang bungkus bekas makan malamnya.
"Traa, nitip sekalian." Ferdian memberi bekas bungkus makannya kepada Putra.
"Sini," kata Putra.
"Emang tempat di depan rumahmu itu luas sekali ya, Bi?" tanya Ferdian.
"Luas banget, Fer. Ada dua lapangan badminton sama satu lapangan futsal," ujar Abi.
"Itu, si Panji sama Agus. Kalau malem juga main badminton di situ. Kenal, kan?" Putra berjalan masuk kembali setelah membuang sampah.
"Oh, Panji yang dulunya ketua PMR itu kan? Lho dia satu desa sama kamu toh?" tanya Fajar.
"Iya, itu." Abi mengacungkan jempolnya.
"Pinter juga dia itu. Sekarang, kalau gak salah dia juga ikut ekstra badminton di sekolahan," tutur Ferdian.
"Betul banget, dia berdua ikut badminton. Sedangkan, Aku sama Abi lebih milih futsal aja," jawab Putra.
"Soalnya pas aku pulang agak telat waktu ngerjain tugas di kelas sama temen-teman, pernah lihat mereka berdua berangkat ekstra badminton di sekolahan," jelas Ferdian.
"Mereka berdua itu masih ada ikatan saudara," kata Putra.
"Oh, pantesan kok wajahnya agak mirip." Fajar mengambil air mineral untuk minum.
"Alhamdulillah kenyang banget malam ini, jarang-jarang nih kita punya waktu buat makan-makan kayak gini." Abi mengusap perutnya.
Putra berjalan mencari biskuit yang ada di tasnya, sedangkan Abi mencari remot tv yang tadi sebelumnya masih berada di ranjang tidurnya Putra.
Setelah menemukan biskuit yang ia cari, sekarang ia kembali duduk ke tempat semula.
"Ini, ada cemilan buat nemenin ngobrol." Putra menaruh biskuitnya.
"Bisa-bisa kita gak balik ke kamar kali ini, Jar." Ferdian tertawa.
"Malahan tidur di sini juga ndakpapa, ramai malah enak tidurnya," ujar Putra.
Abi masih mencari-cari channel tv yang ia rasa bagus untuk menemani suasana ngobrol malam bersama dengan teman ekstra futsalnya.
__ADS_1
"Tapi kalau malem gitu, main futsal bisa sampai jam berapa, Tra?" tanya Ferdian.
"Biasanya ya sekitar jam delapanan gitu, kan kita sadar waktu juga. Buat gantian sama yang tua juga, siapa tau ada yang mau main juga," jelas Putra.
"Iya juga sih, masih sekolah kan gak boleh tidur malem-malem. Pasti dicariin sama orang tua, tapi habis isya sampai jam delapanan ya udah cukup lama juga lah," ucap Fajar.
"Banget, Jar. Kita semua aja udah keringetan, sampai rumah kita mandi lagi," tutur Abi.
"Mandi lagi?" tanya Ferdian.
"Iya lah, Fer. Mandi lagi," ujar Putra.
Abi berada di atas ranjang tidur Putra sambil mencari-cari acara tv yang menurutnya bagus. Setelah menemukan acara yang ia rasa bagus di tonton untuk menemani obrolan santainya malam ini, ia kembali berjalan dan duduk berada di antara teman-temannya.
"Kalau aku jam segitu palingan ya udah di kamar, pegang buku buat ngerjain soal-soal. Rumahku pinggir jalan raya, mau ngapain jam segitu? sepu banget pokoknya," tutur Ferdian.
"Jadi, kalau malem gak pernah main?" tanya Putra.
"Pernah sih, tapi gak sampai main futsal sama badminton gitu. Anak di daerah rumahku juga jarang banget, jadi mau main sama siapa aku?" ujar Ferdian.
"Iya, juga sih," jawab Putra.
"Endak lah, semuanya dari tanah," ujar Abi.
"Kirain plasteran, berarti itu kneepad sama elbowpad kamu pakai saat latihan sama turnamen aja, Bi?" tanya Fajar.
"Iya lah, masa di depan rumah pakai itu. Gak bisa gerak malahan." Abi tertawa.
"Kamu waktu minta sama orang tua, langsung dibeliin itu, Bii?" Ferdian menunjuk perlengkapan futsal yang berada di atas loker bajunya.
"Endak, Fer. Itu, dulu pas aku bantu-bantu ibuku di sawah buat panen cabai. Aku diberi upah lumayan, aku pengen beli handphone yang bagusan dikit tapi uangnya ndak cukup. Ya sudah, akhirnya aku kepikiran buat beli itu semua," jelas Abi.
"Wuihh, keren juga kamu. Lumayan gak nyusahin orang tua," kata Ferdian.
"Iya lah, bagusan buat beli perlengkapan itu semua, Bi. Daripada beli handphone, mau buat apa? ngabarin siapa?" ejek Fajar.
Seketika semua orang yang ada dalam ruangan itu tertawa terbahak-bahak. Malam ini, mereka menonton acara Stan Up Comedy yang ada di Metro Tv. Mereka tertawa bukan karena acara yang ada di televisi, melainkan mendengar Fajar yang sedang mengejek Abi.
"Iya lah, enakan jomblo begini kan. Bisa ngobrol-ngobrol santai, gak ada yang harus diberi kabar tiap saat," ujar Abi.
__ADS_1
Fajar melihat jam yang ada di dinding, waktu sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Mereka juga sudah mulai mengantuk, matanya mulai memerah karena tak kuasa menahan kantuk.
"Duh, udah malem juga nih. Aku ngantuk," ujar Ferdian.
"Aku juga ngantuk nih, nanti kalau kemaleman aku bisa dicari Pak Taufik." Fajar berdiri.
"Ya sudah, aku juga mau tidur. Ngantuk juga rasanya." Putra menguap.
Fajar dan Ferdian beranjak dari tempat duduknya, berjalan keluar kamar melewati lorong asrama menuju kamarnya. Lalu, Putra menutup pintu dan mengunci pintu kamarnya. Kembali ke ranjang tidurnya, sedangkan Abi sudah menempatkan posisi tidur di ranjang atas.
"Ini, tv-nya dimatiin atau biar nyala, Bi?" tanya Putra dari ranjang bawah.
"Biar nyala saja, Tra," jawab Abi.
"Nanti kalau ketiduran?" tanya Putra lagi.
"Ya sudah, di timer saja. Biar nanti kalau udah tidur, bisa mati sendiri tv-nya," saran Abi.
"Ya sudah."
Putra mengambil remot, menyetel timer selama satu jam ke depan. Supaya nanti kalau semua orang tertidur, tv-nya bisa mati dengan sendirinya. Abi melarang Putra untuk mematikan tv itu, karena acara Stand Up Comedy-nya sedang seru sekali dan lucu-lucunya.
Sedangkan, di sisi sudut lain. Ferdian masuk ke kamarnya, Fajar berjalan sendirian menuju kamar. Masuk ke dalam kamarnya, ternyata Pak Taufik masih menonton acara di televisi, sama persis dengan acara tv yang ia tonton di kamarnya Abi dan Putra tadi.
"Darimana saja kau ini, Jar?" tanya Pak Taufik.
"Tadi aku habis dari kamarnya Abi, Pak," ucap Fajar.
"Kirain habis keluar buat nyari jajan," kata Pak Taufik.
"Endak, Pak. Tadi, aku habis bagiin makan malam. Sekalian makan di kamarnya Abi, ngobrol-ngobrol segala macem tadi," jelas Panji.
"Oh, ya sudah. Sekalian kunci pintunya, Jar. Nanti kuncinya taruh samping tv ya," kata Pak Taufik.
Fajar mengunci pintu kamarnya, menaruh kunci pintu kamarnya di samping tv dan menaiki tangga kecil ranjang, mengambil posisi tidur yang enak. Malam ini Fajar tidur di ranjang atas, sedangkan Pak Taufik berada di ranjang yang berada di bawah.
Keadaan malam sudah mulai sunyi senyap, semula yang ramai sekali dengan suara obrolan dari kamar-kamar tetangga dan suara lalu lalang kendaraan bermotor di jalan raya tepat depan asrama trainning camp mereka. Sekarang, mulai sunyi dengan sedikit suara yang tersisa.
Beberapa penghuni asrama sudah tertidur pulas, ada pula yang masih duduk di teras kamar untuk saling mengobrol.
__ADS_1