
Sore hari setelah mandi, Abi menyempatkan membuka layar ponselnya. Terlihat ada dua pesan baru dari Eka.
"Maaf ya, Mas. Tadi aku ketiduran. Jadi, baru sempat bales sekarang." Eka mengirimkan pesan itu dari pukul tiga sore.
"Iya ndakpapa kok, Dek. Aku mau berangkat ngaji dulu ya, lanjutin nanti malem sms-nya." Abi membalas pesan singkat dari Eka dan beranjak pergi ke rumah pakde, tempat di mana anak-anak belajar mengaji. Meninggalkan ponselnya di kamar, tepatnya di bawah bantal tidurnya.
Selesai sudah waktu mengaji, sekarang Abi berjalan pulang.
"Assalamualaikum," salamnya ketika masuk rumah.
Ia langsung menghampiri bapak dan ibunya, untuk mencium kedua tangan orang tuanya. Setelah itu, ia langsung bergegas menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Terlihat ada dua pesan baru dari Eka.
"Semangat ngajinya ya, Mas. Belajar yang rajin biar pinter." Pesan pertama yang terbuka.
"Mas, aku udah ngantuk, capek tadi habis bantuin ibuk beres-beres rumah. Kamu kalau sudah pulang, langsung tidur aja. Aku mau tidur dulu ,good night, mimpi indah ya, Mas." pesan kedua sedikit romantis.
Pesan kedua terkirim sekitar pukul tujuh malam lebih lima belas menit, Abi langsung sedikit memberanikan diri membalas kata-kata perhatian dari Eka.
"Iya, Dek. Aku langsung tidur. Mimpi indah ya permaisuriku. Mmuuacchh."
Merasa badan sudah capek sekali, Abi langsung mencari posisi yang enak untuk merebahkan badannya. Malam ini tak ada waktu untuk berbalas pesan, jadi tak ada cerita yang bisa aku ceritain.
Tak berselang lama matanya sudah terpejam, dengan posisi ponselnya masih tergenggam di tangan kananya.
Terdengar suara ayam sudah mulai berkokok, Abi terbangun dan beberapa saat kemudian mendengar kumandang adzan subuh.
"Bangun, Dek. Sudah adzan subuh, sholat dulu gih." Abi mengirimkan pesan kepada Eka.
Menaruh ponselnya di meja dekat ranjang tidur sambil masih tertancap dicharge. Ia berjalan menuju kamar mandi, mengambil air wudhu dan kembali lagi ke kamar untuk menunaikan sholat subuh.
Sesampainya di pintu kamar, berpapasan dengan ibunya yang keluar dari kamarnya. Kebetulan, kamar Siti Fadilah dan Abi adalah posisinya bersebelahan.
"Duhh, anak ibu yang ganteng udah bangun." Siti Fadilah mengatakan itu kepada Abi sambil meringis.
__ADS_1
"Hehe iya, Buk. Tadi kebangun sendiri, Alhamdulillah ndak nyusahin ibuk." Abi berjalan menuju tempat sajadah terlipat.
"Ya sudah, sholat dulu gih." Siti Fadilah berjalan menuju kamar mandi.
Abi melaksakan sholat subuh. Gemercik air keran yang terjun ke ember penampungan, terdengar dari dalam kamar mandi sampai kamar depan. Mungkin, karena suasana masih pagi sekali. Belum ada aktivitas yang membuat pendengaran telinga menjadi terganggu.
Setelah melipat sajadah dan sarung sholatnya. Abi langsung kembali melihat layar ponselnya, ada pesan baru dari Eka.
"Aku udah bangun, udah sholat juga, Mas. Sekarang, aku mau langsung bantu ibuk masak. Dilanjut nanti ya, Mas." Isi pesan yang dikirim oleh Eka.
"Iya dek, aku juga mau langsung bantu ibuk memasak." Abi membalas pesan itu.
Keluar dari kamar mencari ibunya. Ternyata, sang ibu sedang sholat di kamarnya sendiri. Abi memutuskan untuk membuka kunci pintu dan keluar rumah.
Sedikit lari-lari kecil dan pemanasan, biar badan tidak kaku karena libur sekolah dan gerak badan berkurang drastis.
"Waahh, anak ibuk udah olahraga aja. Siap berangkat ke sawah nih, Dek?" tanya Siti Fadilah yang melihat anaknya olahraga dari pintu rumah.
"Olahraga dikit, Buk. Biar badan tidak kaku aja," jawab Abi sambil lari - lari kecil mondar - mandir.
Abi masih melanjutkan aktivitas olahraganya dengan sangat serius, berlari kesana kemari. Ibunya di dapur sedang memotong bawang, suara suaminya mendengkur keras hingga terdengar sampai dapur. Hari itu suaminya tak keluar rumah. Karena malam hari, ketika hendak ingin keluar malah terjadi hujan lebat.
"Mau masak apa, Buk?" Abi bertanya seraya berjalan menuju dapur.
"Ini, mau masak oseng sawi. Kamu mau kan?" Siti Fadilah bertanya kepada anaknya.
"Mau kok, Buk. nanti sama goreng kerupuk ya, Buk?" Abi meminta kepada ibunya.
"Iya, nanti. Ambil dulu kerupuknya di laci rak piring, Dek,," kalimat suruh Siti Fadilah.
"Iya, Buk. Ambil semua ini?" Abi bertanya sambil menunjukan plastik wadah kerupuk mentah.
"Iya, bawa sini semua," ujar Siti Fadilah.
__ADS_1
Melanjutkan memasak hingga masakan matang. Sarapan sudah siap, tapi kala itu Abi lebih memilih ikut sarapan dengan ibunya di sawah saja.
Setelah sarapan sudah siap dan nasi sudang matang. Siti Fadilah menyiapkan sarapan, membungkusnya di dalam kertas minyak.
Abi berjalan menuju kamar untuk ganti baju, dengan baju yang sudah kusam (jelek). Karena kalau pakai baju yang masih bagus untuk pergi ke sawah, nanti malah jadi kotor.
Seusai ganti baju, Abi mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada Eka.
"Dek, aku mau ikut ibuk ke sawah dulu ya. Bantu-bantu biar bisa meringankan kerjaannya ibuk." Pesan yang dikirim Abi, memberitahukan kalau ia akan pergi ke sawah dengan ibunya.
Abi berjalan menuju kamar sebelah, bapaknya masih tertidur pulas.
"Pak, bangunn ... aku sama ibuk mau ke sawah. Nanti, gak ada yang bangunin lho." Abi menepuk badan Bapaknya.
"Hmmm iya berangkat aja ndakpapa." Bapaknya masih memeluk guling.
Abi berjalan menemui ibunya yang sudah siap untuk berangkat, dan memegangi mengambil sepedanya. Mereka berdua bergegas pergi menuju sawah, saat suasana udara pagi masih terasa dingin.
Jam belum menunjukan pukul enam pagi, Abi dan ibunya sudah sampai di sawah. Membuka bekal yang mereka bawa, langsung menggelar tikar kecil untuk duduk dan menaruh tempat bekal mereka.
Abi duduk mengambil sarapan, serasa sangat nikmat sekali makan pagi di sawah. Ketika suasana masih sejuk, tanaman masih berembun dan matahari masih mengintip dari ujung timur.
Setelah sarapan, mereka berdua melanjutkan aktivitasnya di sawah. Saat itu adalah waktunya memanen tanaman cabai. Lumayan juga, cabai sedang tinggi harganya. Jadi, Abi sedikit di beri upah dari ibunya untuk menambah uang jajan.
#######
Dua minggu, libur sekolah telah memasuki hari akhir. Hubungan Abi dan Eka terasa semakin dekat, tak sadar selama dua minggu libur sekolah itu malah menjadi ajang pendekatan mereka berdua. Abi melamun di depan teras rumah.
"Bii, Besok kan kamu udah mulai sekolah lagi. Kamu juga udah ikut ibuk ke sawah juga. Sekarang kan sawah udah ndak ada tanaman. Ibuk mau kerja aja ya, mumlung ada yang nawarin jadi asisten rumah tangga di desa sebelah," ujar Siti Fadilah.
"Ya ... ibuk kalau mau kerja ndakpapa sih, daripada di rumah terus. Nanti malah sakit hati sama omongan-omongan tetangga." Abi merelakan ibunya untuk bekerja.
"Nanti, biar sawah dikerjain orang saja. Kita diberi sedikit keuntungan mereka bercocok tanam aja, atau dikontrakin tahunan gitu," jelas Siti Fadilah.
__ADS_1
"Kalau itu sih terserah ibuk saja, yang penting aku setuju aja." Abi ikhlas ibunya bekerja.
Siti Fadilah berjalan masuk ke dalam rumah lagi. Tetapi, besok pagi ketika berangkat sekolah, Abi berencana ingin mengungkapkan perasaan hatinya secara langsung kepada Eka. Namun, hati masih maju mundur untuk mengungkapkan hal itu.