
Hari ini adalah hari dimana para siswa memperjuangkan harga dirinya untuk menjawab soal-soal agar bisa naik ke kelas sembilan. Seluruh anak yang sudah pulang dari turnamen futsal beberapa minggu lalu, langsung belajar tentang kisi-kisi soal semester yang diberikan oleh guru pengampu di kelas mereka masing-masing.
"Hari ini nanti mata pelajarannya bahasa Indonesia sama Ilmu Pengetahuan Alam kan?" tanya Panji saat berangkat sekolah.
"Iya aku sudah belajar beberapa sih," jawab Agus.
"Kalau aku masih bingung sama pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, kadang aku sering lupa-lupa tentang apa saja yang sudah ku hafal." Putra mengusap-ngusap rambut kepalanya.
Abi, Putra, Agus dan Panji bersepeda pada pagi hari ini, melewati jalanan desa yang masih terlihat sepi. Hanya ada satu atau dua orang yang terlihat melintas di jalan tersebut, saat sampai di jalan raya. Lumayan sangat ramai, hari ini adalah hari senin, banyak orang yang berbondong-bondong mencari penghasilan berangkat lebih pagi.
"Tott ... dhiin ... dhiiin," sesekali suara klakson kendaraan berbunyi.
Terkadang sepeda terasa sedikit oleng ketika terkena hembusan angin kendaraan besar yang melintas di samping keempat anak itu. Mereka bersepeda di sisi bahu jalan, melewati trotoar samping jalan raya tersebut.
Sesampainya di gerbang sekolahan, mereka menuntun sepeda saat memasuki area sekolah. Membawanya ke tempat parkir sepeda yang telah disediakan oleh sekolahan, sembari melihat kiri dan kanan area mereka berjalan menuntun sepeda.
Keadaan sekitar belum terlalu ramai, saat melewati aula sekolahan. Putra berusaha melihat jam yang tertempel di dinding luar menghadap ke lapangan basket outdoor.
"Wahh ... masih jam enam lebih dua puluh ternyata," kata Putra.
"Lho kita tadi kecepetan naik sepedanya." Agus tertawa.
Semua juga ikut tertawa mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Agus. Setelah sampai di parkiran sepeda, mereka duduk-duduk santai untuk sesekali kembali membuka buku paket kedua mata pelajaran yang akan diujikan pada hari ini. Lumayan masih ada waktu untuk sesekali melihat materi-materi yang menurut mereka susah untuk dihafal.
Keempat anak ini membuka buku paket pelajaran bahasa Indonesia, karena soal tes yang akan mereka kerjakan pertama kali adalah bahasa Indonesia.
Sedikit ekspresi serius keluar dari raut wajah mereka, sambil memegang buku paket yang berada dalam pangkuannya.
__ADS_1
"Ini maksudnya gimana, Bi?" Putra bertanya sambil menunjuk salah satu materi yang ada dalam buku paket.
"Yang mana, yang ini?" Abi menjelaskan kepada Putra tentang materi tersebut.
"Kalau itu begini ... ." Panji juga sedikit ikut menerangkan kepada Putra yang nampak sangat kebingungan.
Gemuruh perbincangan para siswa yang terdengar dari kejauhan, Panji melihat depan beberapa ruang kelas yang dekat dengan area parkir sepeda tersebut. Ternyata sudah banyak sekali anak-anak sedang duduk di teras-teras depan kelas atau ruang tes yabg akan mereka tempati.
Agus melihat selembar kartu tes yang diberikan oleh sekolahan, nampak ada tulisan ruang tujuh dua belas. Agus langsung berdiri dihadapan teman-temannya, bermaksud untuk mencari ruang yang akan ia tempati.
"Mau kemana, Gus?" tanya Panji.
"Aku belum tahu ruang tesku nanti dimana," jawab Agus.
"Mau mencari ruang tes?" tanya Abi.
"Ya sudah aku juga ikut," jawab Putra sambil berdiri dari tempat duduknya.
Satu meja di sekolahan ini memang untuk dua orang, namun peraturan ketika tes dilaksanakan, mereka masing-masing siswa akan dudu dengan lawan tingkat kelas. Misalkan mereka kelas delapan, maka ia akan duduk sebangku dengan anak kelas tujuh atau bisa jadi kelas sembilan.
Di depan ruang kelas yang digunakan untuk tes juga sudah tertempel keterangan, misalkan ruang dua belas, nanti nomor urut peserta sekian sampai sekian duduk dengan nomor urut peserta sekian sampai sekian dari kelas mana begitu.
Berjalan menyusuri satu per satu ruang kelas, Abi berhenti terlebih dahulu dari rombongan karena ia berada di ruang delapan. Agus masih mencari ruang dua belas, ketika melihat keterangan yang sama dengan kartu tesnya, ia langsung berhenti di teras ruang kelas itu. Putra berada di ruang empat belas, sedangkan Panji berada di ruang tujuh belas.
Seluruh siswa menunggu hingga ada bel berbunyi dari sekolahan, pertanda tes akan siap untuk dilaksanakan. Beberapa pengawas sudah berjalan mendatangi ruang-ruang yang akan beliau awasi, sambil menenteng dua wadah soal lumayan tebal.
"Tett!" suara bel elektrik sekolah sudah berbunyi, para pengawas membuka pintu kelasnya masing-masing. Mempersilahkan untuk duduk, menyuruh para siswa untuk melepas jaket dan tas mereka di depan kelas. Siswa hanya diperbolehkan untuk membawa bolpoin, pensil, penghapus, kartu tes, selembar kertas kosong dan papan klip guna mendukung lancarnya tes hari ini.
__ADS_1
"Sudah siap?" tanya Pak Maskur di ruang tes Abi.
"Sudah!" teriak serentak para peserta tes yang ada didalam ruang tersebut.
Abi duduk dengan siswa dari kelas sembilan, terhitung itu adalah kakak tingkatnya.
"Namanya siapa, Dek?" anak itu bertanya kepada Abi.
"Namaku ... ini, Mbak." Abi menunjukkan kartu tesnya yang ia letakan diatas meja kepada kakak kelanya itu.
"Lha mbaknya namanya siapa?" tanya balik Abi.
Siswa perempuan itu langsung menyingkapkan jilbabnya, menunjukkan nama yang terpasang di dada seragam pramukanya.
Sebagai seorang laki-laki yang baru masa puber wajar dong kalau pikirannya langsung kemana-mana. Ukurannya lumayan juga sih, hahaa. Tapi tidak lah, memang cewek itu terlihat sangat asik sekali. Walau berkumpul dengan orang yang baru dikenalnya, ia tak canggung-canggung atau tak malu-malu dalam bercanda. Sesekali ia mengobrol dengan beberapa teman kelas Abi yang berada dalam satu ruangan tersebut.
Oh iya, satu lagi. Walaupun itu hari senin, tetapi seluruh siswa kelas sembilan mengenakan seragam pramuka, kelas delapan mengenakan seragam putih biru, sedangkan untuk kelas tujuk mengenakan seragam batik identitas sekolahan.
Memang itu semua peraturan dari sekolahan, supaya bisa membedakan yang mana kelas tujuh, delapan dan sembilan. Nanti ketika dua hari berikutnya akan terus bergantian secara acak.
Pak Maskur telah selesai mengitung lembar soal, menyocokan apakah sesuai dengan jumlah siswa yang ada dalam satu kelas. Berdiri dari tempat duduknya, menuju ke tempat duduk para siswa. Kali ini beliau memberikan lembar soal kepada kelas sembilan terlebih dahulu, masih kurang dua paket lembar soal. Tetapi beliau sudah menghubungi kantor untuk mengantarkan dua paket lembar soal tersebut.
Sekarang beliau memberikan lembar soal untuk kelas delapan, nampak sesuai dengan jumlah siswa kelas delapan yang ada dalam ruangan tersebut.
Tak berselang lama, dua soal tersebut diantar oleh ibu Diah. Salah satu guru juga di SMP Negeri 1 Noveltoon, mengajar pelajaran bahasa daerah.
Semua peserta tes yang ada dalam ruangan, terlihat membuka satu persatu lembar soal yang telah diterimanya. Ada yang nampak kebingungan, ada pula yang terlihat senyum-senyum sendiri ketika melihat soal yang ada dalam lembar kertas tersebut.
__ADS_1