
Pagi sekali, saat Adzan subuh mulai berkumandang. Ibu Siti Fadilah membangunkan Abi untuk memberitahukan waktu sholat subuh telah tiba.
"Biii, Bangunnn. Udah subuh, sholat dulu." Siti Fadilah menepuk-nepuk paha anaknya.
"Hmmmmmhhh, iyaahhh," Gumam Abi.
"Ayo, bangun duluu. Nanti keburu siaang." Siti Fadilah masih berusaha membangunkan anaknya yang belum sekalipun beranjak dari tempatnya tidur.
"Iyaa, Buk." Abi mulai duduk di tempat tidur, sabil menggaruk-garuk leher.
Terlihat matanya masih sedikit terpejam, karena masih menahan kantuk yang masih ia rasakan.
Siti Fadilah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Sedangkan, Abi berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka dan wudhu.
Selesai dari kamar mandi dan menunaikan ibadah sholat subuh, Abi menuju dapur membantu ibunya menyiapkan sarapan.
Terdengar suara ketuk pintu, Siti Fadilah berjalan dan membuka pintu rumahnya. Ternyata, sang suami yang sedang berada di depan pintu, terlihat lesu dan sedikit ngantuk.
"Darimana aja? jam segini baru pulang, Pak?" tanya Siti Fadilah.
"Abis kumpul sama temen-temen, Buk," jawab Rohmat sang suami.
"Iyaa. Tapi, inget anak istri juga dirumah. Malem-malem keluyuran, kayak gak punya tanggung jawab aja," omel Siti Fadilah.
"Gak inget bagimana, Buk? aku kan masih ngasih uang belanja tiap minggu juga," sanggah Rohmat sambil sedikit emosi.
"Tapi, kenapa tiap malem harus keluyuran?" tanya Siti Fadilah.
"Ya, namanya mau cari angin. Suntuk dirumah terus, stress aku. Pusing tau gakk?" Romhat membentak istrinya.
"Malem keluyuran, pagi-pagi pulang malah tidur. Jangan tidur mulu kalau pagi, bikin rejeki gak lancar!" Siti Fadilah mulai marah.
"Ya makanya, kalau ngrasa uang belanja kurang itu mending ikut kerja, bantuin cari uang." Rohmat dengan suara sedikit lantang.
"Dulu gak boleh kerjaa, ya sudah kalau begitu. Sekarang, Abi udah SMP dan Fellani juga udah kerja. Aku mau kerja jugaa buat nyekolahin Abii," Siti Fadilah menjawab kalimat Rohmat.
"Yaudah lah, aku mau tidur dulu. Ngantuk banget." Rohmat menarik selimut dan memalingkan badan.
"Pagi-pagi sholat ndak pernah, malah tidurr pula. Rejeki gak seret darimana coba?" Siti Fadilah sedikit ngomel sambil berjalan menuju dapur lagi.
Abi mendengar sedikit perselisihan orang tuanya, menghampiri sang ibu yang sedang berjalan. Memeluk ibunya dengan erat, sembari berkata.
"Bukk, jangan kerja lah. Di rumah aja, sambil ngerawat sawah, lumayan hasilnya, Buk." Abi sedikit berkaca - kaca matanya.
"Ya nanti kan, sawahnya bisa kita kontrakin atau disuruh ngerjain orang yang mau. Nanti, hasilnya dibagi dua dengan yang ngerawat," jelas Ibunya.
"Tapi, nanti kalau bukan ibu yang ngerawat sawah, Bagaimana jadinya?" Abi memeluk ibunya dengan erat.
__ADS_1
"Gak usah ditangisi, Bii. Kita juga masih bisa dapet untung dari sawah. Kalau Ibu kerja, kan bisa dapet uang juga." Siti Fadilah mengusap kepala anaknya.
"Tapi, apa Ibu kuat untuk kerja? Ibu kan udah lumayan tua." Abi kembali membujuk ibunya untuk tidak bekerja.
"Ya, tapi ibuk masih kuat kerja. Toh ibu di sawah juga berat-berat kerjaannya." Siti Fadilah berusaha meyakinkan anaknya.
"Lha, ibu mau kerja apa?"tanya Abi.
"Ibuk bisa kerja ngerawat lansia di panti jompo, bisa jadi asisten rumah tangga juga kan, Dek," jawab Siti Fadilah.
"Alaahh, aku gak mau ibu kerja berat kayak gitu." Abi masih tidak terima.
"Tenang, Bii. Temen-temen ibu kan banyak yang kerja seperti itu. Ibunya temen-temenmu kan juga banyak yang kerja. Jadi, nanti ibu banyak temennya di sana." Siti Fadilah masih berusaha menenangkan hati anaknya.
"Ya sudah lah, Buk. Abi gak tau harus ngapain." Abi mulai pasrah.
"Lhoo, Abi kan wajib sekolah. Ya, itu Abi harus sekolah. Kan kakakmu juga udah kerja, tinggal kamu doang yang sekolah. Harus semangat, harus bisa jadi kebanggannya ibuk." Siti Fadilah mencium kepala Abi.
Abi melepaskan pelukannya, ibunya melanjutkan memasak. Sedangkan, Abi memilih menuju kamar untuk tiduran, mulai ia berjalan sambil membayangkan sesuatu jika ibunya kerja.Apakah hati dan fikirannya bisa menerima semua itu?
Di kamar dia langsung tiduran dan melihat layar Handphone, ternyata notifikasi memberitahukan bahwa Eka mengirimkan sebuah pesan baru. Langsung tanpa pikir panjang, ia membuka pesan itu.
"Assalamualaikum, selamat pagi. Bangunn, sudah subuh, Bii. Sholat dulu."
Ternyata, pesan itu sudah dari tadi. Tetapi, Abi tidak mendengar bunyi nofikiasi ponselnya. Mungkin, karena ia terlalu fokus mendengarkan orang tuanya yang sedang sedikit berselisih.
Lalu terjadi percakapan pesan singkat (s**ms), pagi itu.
"Lhoo, kok baru bales. Baru bangun tidur ya?" Eka.
"Endak kok, aku udah bangun daritadi." Abi.
"kok baru dibales?" Eka.
"Iya maaf, tadi habis bantuin ibuk masak." Abi.
"Aduh-aduh pinternya, bantuin ibuk." Eka.
"Hehe, ya cuman bantuin sih." Abi.
"bantuin apa gangguin? hehe." Eka.
"Ya Allah, beneran bantuin, Ka." Abi.
"Hulluh, pangeranku pinter masak berarti." Eka mulai menggoda Abi.
"Aduhh pangerann? pangeran apa, Ka? hehe." Abi.
__ADS_1
"Pangeran kodok, hehe. Eh, ngomong-ngomong tanggal lahir kamu boleh tau?" Eka.
"Aku, 17 November 1998. Kalau kamu, Ka?" Abi.
"Aku sih, 21 Desember 1999." Eka.
"Waduhh, setahun tua aku dong? Hehe." Abi.
"Iya nih, aku manggil kamu. Mas, aja ya? hehe." Eka.
"Aku manggil kamu nanti Dek kalau gitu?" Abi.
"Ya gakpapa toh mas, hehehe." Eka.
"Aduh, jadi ndak enak." Abi.
"Gakpapa ah, baisa aja dong. Jangan malu-malu gitu." Eka.
"Iya deh, Dek. Hehehe." Abi.
Abi merasa bahwa wanita yang selama ini ia kagumi secara diam-diam. Sepertinya, membalas perasaannya juga. Bahagia sekali rasa di hati, tapi tak tau cara mengungkapkannya.
"Kalau gitu aku mau masak dulu ya." Eka.
"Belum masak toh?" Abi.
"Belum, aku kalau masak agak siangan dikit. Soalnya, sekalian buat bekal Bapak Ibuku kerja." Eka.
"Oh ya sudah, masak dulu gih." Abi.
"Iya, aku masak dulu ya. Selamat pagi pangeranku, selamat beraktivitas. Lanjut nanti lagi ya Sms-annya." Eka.
"Selamat pagi, selamat beraktivitas juga, Dek." Abi membalas dengan sedikit rasa hati yang tidak karuan.
Pagi itu, Abi masih melihat kotak masuk yang ada di Handphone jadulnya. Ia masih tak menyangka akan bisa berbalas pesan dengan orang yang ia kagumi selama ini.
Membuka pesan satu per satu, rasanya aneh sekali. Takut kalau ia sedang dikerjain, tetapi sesekali ia yakin kalau itu adalah memang Eka.Selang beberapa saat, ibunya memanggil.
"Biii, udah mateng nih sarapannya." Siti Fadilah berteriak dari dapur.
"Iya sebentar, Buk." Abi menjawab dengan posisi masih melihat pesan di Handphone.
"Ya sudah, nanti kalau mau sarapan ada di meja makan ya. Ibu mau siap-siap berangkat ke sawah dulu." Siti Fadilah berjalan menuju kamar untuk mencari baju ganti.
"Iya, Buk. Aku sarapan nanti aja." ujar Abi.
"Ya nanti ibu dibantu sedikit-sedikit pekerjaan rumahnya ya," kata Siti Fadilah.
__ADS_1