
Seluruh siswa yang ada dalam ruangan tersebut mengerjakan dengan sungguh-sungguh, namun ada pula yang berusaha mengganggu teman lainnya. Berusaha mencontek jawaban temannya, bertukar jawaban tes mata pelajaran bahasa Indonesia ini.
"Bisa ngerjain ndak, Dek?" tanya kakak kelas yang duduk di samping Abi.
Oh iya, perempuan ini namanya Novi. Tubuhnya kecil tapi lumayan berisi untuk ukuran anak sesusia masih SMP, terlihat orangnya sangat asik ketika diajak bercanda.
"Lumayan masih bisa, Mbak." Abi mengerjakan soal pilihan ganda.
"Bii," suara Heri memanggil dari bangku depan.
Abi menoleh kearah depan, mencari siapa yang memanggilnya. Kebetulan Heri duduknya di depan, sedangkan Abi duduk bangku nomor dua dari belakangnya.
"Apa?" suara pelan Abi menjawab panggilan itu.
"Nomor dua puluh tiga jawabannya apa?" tanya Heri.
"Aku belum sampai situ, Her." Abi masih sibuk membaca soal yang ada dilembar kertas tersebut.
Heri ini memang anaknya suka aneh, tingkahnya paling ribut sendiri. Orang gemuk tapi tidak bisa diam, dia mengerjakan soal dengan seenaknya sendiri.
"Shhhttt ... kerjakan sendiri," kata Pak Maskur kepada seluruh peserta tes.
Abi kembali fokus ke lembar soal yang ada dihadapannya, sesekali ia memerhatikan jawaban dari kakak kelas yang duduk di sebelahnya. Sepertinya yang duduk disebelahnya ini adalah orang pintar, tanpa ada kesulitan sedikitpun kakak kelasnya ini bisa mengerjakan soal-soal tersebut dengan mudah sekali.
"Gimana belum ada yang sulit?" tanya Mbak Novi.
"Belum, Mbak." Abi menjawab.
Di ruang kelas lain, Putra sedikit kesulitan mengerjakan soal bahasa Indonesia. Karena kesulitannya dalam memahami pelajaran ini terkadang ia selalu terbalik-balik saat mengartikan sebuah kata atau tanda baca yang lainnya. Sedangkan Panji dan Agus mengerjakan tanpa ada kesulitan apapun yang nampak diraut wajah kedua anak tersebut.
Saat menjawab pertanyaan uraian, mereka semua sedikit kesulitan. Terkadang butub waktu yang lebih lama dalam mempertimbangkan setiap kalimat jawaban yang mereka tulis di selembar kertas itu.
"Mbak, ini gimana sih?" Abi bertanya kepada kakak kelas yang sebangku dengannya.
"Oh ini, contohnya begini ... ." Mbak Novi berusaha menerangkan kepada Abi tentang maksud dari jawaban pertanyaan uraian tersebut.
"Oh jadi ini jawabannya, Mbak?" Abi memperlihatkan jawaban itu kepada Mbak Novi.
"Nah ... itu pinter juga," puji Mbak Novi kepada Abi.
__ADS_1
Ternyata Mbak Novi telah menyelesaikan jawabannya untuk tes mata pelajaran bahasa Indonesia, perempuan itu kembali memeriksa jawabannya supaya tidak ada yang terlewat.
Jarinya menunjuk kearah lembar jawaban, sedangkan matanya bergerak naik turun menyocokkan jawaban yang ia tulis dengan tulisan yang ada di lembar soal tes.
Abi masih sibuk menulis jawaban uraian yang ada dalam soal, sesekali ia melihat ke langit atas untuk memikirkan bahwa jawaban yang telah ditulis itu sudah tepat.
"Sudah selesai kan?" tanya Mbak Novi.
"Sudah tapi masih mau cek jawaban dulu, Mbak." Abi meneliti jawabannya lagi.
Sedangkan dari ruang lain, Panji dan Agus sudah mengumpulkan lembar jawabannya di meja pengawas mereka masing-masing. Waktu tes mata pelajaran pertama belum berakhir, tetapi kedua anak itu sudah menyelesaikan jawabannya. Mereka bisa mengambil waktu lebih lama untuk mempelajari materi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang akan diujikan pada sesi kedua.
"Ya sudah, aku keluar duluan ya?" kata Mbak Novi.
"Iya ini aku juga bentar lagi selesai kok, Mbak." Abi hampir menyelesaikan cek jawabannya.
Tak berselang lama ketika Mbak Novi kdluar ruangan tes, Abi juga ikut menyusul keluar ruang tes sambil mengumpulkan lembar jawaban di meja Pak Maskur.
Ia langsung mengambil tas, berjalan menuju parkir sepeda untuk bertemu dengan temannya. Sedari pagi memang mereka berjanjian akan belajar ditempat itu saat istirahat telah tiba, Abi berjalan menuju arah Panji dan Agus sambil memegang buku paket bahasa Indonesia. Berniat ingin berusaha mengecek apakah jawaban yang tadi ia tulis dilembar jawaban itu sudah benar atau belum.
"Gimana ada yang salah?" tanya Panji.
"Kalau salah pasti ada lah, Nji." Abi sambil melihat-lihat materi yang ada di buku paket.
"Lha ini Putra kok lama sendiri," suara Agus.
"Mungkin dia masih nyontek jawaban temannya." Abi meringis.
"Bgst memang kamu, Bi!" Agus tertawa.
Abi berjalan mendekati temannya yang sedang berkumpul, kemudian duduk di samping Panji yang sedang mencatat sesuatu.
Sepertinya dia sedang mencatat beberapa rumus fisika dan biologi, karena setelah ini mata pelajarang yang akan diujikan adalah Ilmu Pengetahuan Alam.
"Kamu buat apaan, Nji?" tanya Abi.
"Biasa lah, siapa tau nanti keluar." Panji sambil mencatat di sebuah sobekan kertas kecil.
Agus masih berusaha memperlajari materi yang ada didalam buku paket, soalnya ia tak suka mencontek.
__ADS_1
Tak berselang lama, Putra akhirnya datang sudah berada dihadapan mereka bertiga.
"Waah aku ditinggal," kata Putra.
Mereka bertiga sedikit terkaget mendengar ada suara, ternyata Putra sudah berdiri dihadapan mereka.
"Hahaa," tawa Panji.
"Master biasanya yang keluar paling akhir." Agus meringis.
"Ruanganku berisik banget, aku tidak bisa fokus dalam mengerjakan!" Putra mungusap dadanya.
"Lha tapi aman kan?" tanya Abi.
"Kelihatannya sih aman, berisik banget aku susah ngerjain." Putra berjalan dan duduk disebelah Abi, kemudian ia langsung membuka tas mengambil buku paket Ilmu Pengetahuan alam, mempelajari isi dari dalam buku paket itu.
Satu jam sudah mereka berempat belajar di area parkiran sepeda sekolah, gemuruh ramai suara siswa lain menemani waktu belajar mereka saat ini.
"Tett ... tet ... tet," suara bel tanda masuk ke ruangan sudah berbunyi.
Seluruh siswa menutup buku paketnya, berjalan menuju ruang tes masing-masing.
Abi meletakkan tasnya di depan ruang kelas, menuju tempat duduknya. Mbak Novi langsung bertanya kepada dia.
"Kamu ndak bawa contekan?" tanya Mbak Novi.
"Aku ndak bawa, Mbak." Abi meletakkan bolpoin dan kartu tesnya di meja.
Pak Candra memasuki ruang kelas, beliau yang akan mengawasi sesi tes kali ini. Langsung membagikan lembar soal dan jawaban kepada seluruh peserta tes yang ada di ruang tersebut.
Beberapa siswa yang sudah mendapat lembar soal langsung membuka dan melihat-lihat isi pertanyaan yang tertulis di lembar itu.
Setelah semua mendapatkan lembar soal, seluruh siswa yang ada didalam ruang tersebut langsung dengan serius mengerjakan soal tersebut.
Mbak Novi terlihat mengeluarkan kertas kecil dari dalam kaos kakinya, ternyata itu sebuah rumus fisika yang ditulisnya di selembar kertas kecil.
Abi sedikit beruntung karena yang keluar di soal tes kali ini banyak biologi dan kimia dalam bentuk pertanyaan biasa. Hanya ada beberapa soal yang harus menghitung menggunakan rumus, maka dari itu ia langsung mengerjakan soal-soal yang tak harus menggunakan rumus terlebih dahulu.
Panji sedikit apes karena contekan rumus yang ditulisnya saat di parkiran tadi, kebanyakan tidak ada yang keluar dalam soal tes kali ini.
__ADS_1
"Ini begini kan, Mbak?" tanya Abi setelah selesai menulis jawaban hitung-hitungan di lembar uraian.
"Bentar, aku baru ngerjain ini. Nanti kalau sudah selesai aku lihat," kata Mbak Novi.