
Siti Fadilah berpamitan kepada anaknya, Abi mencium tangan ibunya seraya berkata, "hati-hati ya, Buk."
"Iya, jangan lupa bapakmu dibangunin tuh. Tidur mulu kerjaanya, mana gak pernah sholat subuh lagi." Siti Fadilah sedikit mengomel.
Kemudian beliau mengambil sepeda yang terletak di sisi ruang tamu, Abi mengantarkan ibunya hingga ke ruang tamu dan ke depan pintu rumah.
Abi kembali masuk ke dalam rumah untuk membangunkan bapaknya yang masih tertidur pulas di kamar, suara dengkurannya lumayan keras.
"Pak, bangun!" Abi mengoyang-goyangkan pinggul bapaknya.
"Iya," kata Rohmat sambil memoletkan tubuhnya.
Abi kembali ke meja makan untuk menghabiskan sarapan paginya yang sudah tidak terlalu panas, menyantapnya dengan lahap.
Rohmat sang bapak, berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih badan pagi ini karena harus segera berangkat ke tempat kerja.
"Ibu masak apa, Bi?" Tanya Rohmat yang lewat di samping meja makan.
"Masak sayur lodeh sama goreng kerupuk!" Abi berbicara sedikit keras karena bapaknya sudah berjalan melewatinya lumayan jauh.
Setelah selesai makan, Abi membereskan piring kotornya ke tempat cucian piring yang ada dibelakang meja makannya.
Ia langsung melanjutkan aktivitas pagi ini dengan bersantai di depan layar tv yang ada di ruang tamu.
Bapaknya yang sudah selesai dari kamar mandi bergegas untuk segera berangkat ke tempat kerja, berjalan menghampiri anaknya untuk berpamitan.
Bapaknya menyetarter motor supra butut miliknya, sudah sedikit berasap knalpotnya.
"Assalamualaikum," kata Rohmat sambil mengendarai motornya.
"Waalaikumusalaam," jawab Abi sambil duduk melihat layar televisi.
Terdengar suara beberapa anak yang sudah menendang-nendang bola di depan rumahnya, kemudian ia keluar rumah untuk melihat siapakah yang sedang berada di depan rumahnya tersebut.
Ternyata anak-anak itu adalah Panji, Agus, Khoirul, Fandil dan Diki, mereka sudah bermain bola dengan passing-passing santai di pagi ini. Jam di dinding masih menunjukkan pukul 06.52 WIB, bapaknya baru saja berangkat kerja.
Abi meninggalkan tv di ruang tamu yang masih menyala.
"Pagi-pagi udah main aja kalian," kata Abi yang mengejutkan beberapa temannya itu.
"Lhoo kirain masih tadur tadi," Agus sedikit meringis.
Abi kembali ke dalam rumah terlebih dahulu sebelum menghampiri teman-temannya yang sedang bermain bola di halaman rumahnya.
__ADS_1
Saat ia keluar rumah, dari sudut berlawanan terlihat Putra sedang berjalan kearah kerumunan anak itu.
"Kok tau kalau pada ngumpul di sini, Put?" Tanya Abi.
"Tadi aku sebernya ikut sama mereka, tapi aku pulang dulu untuk pamit kepada Ibuku." Putra menunjuk kearah rumahnya.
"Lha tadi habis daimana?" Tanya Abi.
"Tadi pagi abis sholat subuh di masjid, kami semua langsung jalan-jalan muter lewat desa sebelah. Sekalian olahraga biar sehat badannya," tutur Panji.
"Duh aku ketinggalan topik nih," Abi tertawa.
"Kamu sih tidur terus," ejek Agus sambil tertawa.
Mereka semua pagi ini berniat untuk bermain bola, tanah yang kemarin sempat terguyur hujan beberapa saat, sudah mulai kering kembali karena terkena sinar matahari dalam beberapa hari terakhir ini.
Di depan rumahnya Abi memang terasnya lumayan luas, cukup untuk membuat lapangan futsal kecil. Pemuda karang taruna membantu mendirikan sebuah gawang di kedua sisi penjuru barat dan timur yang terbuat dari kayu pohon bambu.
Sementara di sampingnya juga ada lapangan bulutangkis yang tiang net-nya juga terbuat dari kayu pohon bambu, lengkap dengan kursi wasit dan kursi panjang untuk penonton atau pemain pengganti (cadangan).
Namun kedua gawang itu tidak mempunyai jaring, sedangkan net bulutangkisnya hanya terbuat dari jaring untuk mencari ikan di kali yang dibentangkan dengan sebuah tali tambang kecil.
Kurang kebih dua puluh menit mereka bermain bola dengan melakukan passing-passing santai, kemudian ada Indra, Rama dan Yadi yang datang satu per satu dengan kurun waktu hampir bersamaan.
Setelah terkumpul sepuluh pemain, sekarang mereka membaginya dalam dua tim.
Mereka semua bermain hanya dengan menggunakan bola plastik dari hasil iuran semua anak ini, belinya hanya di warung Bi Inah.
Tim Agus menguasai bola untuk saat ini, mereka menyerang dengan mengoper bola satu sama lain, membuat Abi dan kawan-kawan kewalahan. Kemudian gawang Abi terjebol, skor 1-0 untuk keunggulan tim dari Agus dan kawan-kawan.
Beberapa kali Indra menendang kearah gawang, namun tidak menemui sasaran.
"Sini umpan," kata Diki meminta bola.
Putra mengumpan kepada Diki yang telah lolos dari penjagaan Yadi, kemudian ia menendang kearah gawang dan gol.
Pertandingan kali ini dimenangkan oleh tim Putra dan kawang-kawan, dengan skor empat gol tanpa balas.
Setelah setengah jam mereka bermain bola, akhirnya semua anak itu sepakat untuk menyudahi permainan di pagi ini karena keringat yang sudah mengucur keluar dari tubuh mereka.
Semua anak duduk santai di bangku panjang dekat lapangan bulutangkis sambil mencari sinar matahari pagi yang masih sehat untuk berjemur, beberapa anak sudah mulai mengeluarkan celotehan-celotehan sampah.
"Enaknya habis ini ngapain ya?" Tanya Putra.
__ADS_1
"Buat rumah-rumahan di belakang sana." Agus menunjuk kearah belakang rumah Abi yang masih dipenuhi dengan pohon-pohon besar.
"Mau buat pakai apa?" Tanya Indra.
"Pakai daun kelapa juga bisa kan," ucap Panji.
Kebetulan pohon kelapa di belakang rumahnya Indra kemarin habis ditebang, mungkin masih tersisa daun-daun yang belum di bersihkan.
"Betul juga tuh," jawab Diki.
"Tapi kalau cuman buat rumah-rumahan saja, mungkin tidak seru lah." Indra sedikit tidak setuju.
"Gimana kalau kita buat rujak aja," kata Agus.
"Mantab tuh," jawab Panji.
"Seger," imbuh Khoirul.
"Tapi kita harus nyari buahnya dulu?" Tanya Abi.
"Aku punya mangga yang belum matang, depan rumahku ada," kata Panji.
"Aku punya belimbing," jawab Agus.
"Nanti masalah bahan-bahan sambelnya, ambil di rumahku saja. Kebetulan kemarin Ibuku juga habis panen cabai," tutur Indra.
"Kalau masalah cobek biar aku saja," kata Abi.
Tanpa ada yang mengetahui ternyata Fandil telah kembali dari arah rumahnya dengan membawa se-teko es, rumahnya Fandil itu hanya di seberang jalan berhadapan dengan rumahnya Abi langsung, namun karena terhalang lapangan futsal dan bulutangkis yang ada di antara kedua rumah mereka, sehingga membuat kesan bahwa rumah kedua anak ini seperti berjauhan.
"Apaan itu, Ndil?" Tanya Putra.
"Es marimas (salah satu produk minuman jaman dulu)." Fandil berjalan sambil menenteng teko.
"Gilaa, pagi-pagi sudah minum es saja." Agus bergumam.
"Jam berapa emang sekarang?" Tanya Panji.
"Tadi aku pas di rumah, lihat jam yang ada di dinding rumahku. Sepertinya masih pukul delapan kalau gak salah," tutur Fandil.
"Ya sudah ayo kita ke belakang rumahnya Abi saja sekarang," kata Agus.
"Boleh juga tuh," jawab Putra.
__ADS_1
"Ini tekonya dibawa," kata Fandil.
"Siap," jawab Putra sambil menganbil teko yang berisi es marimas itu.