Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu
SMP - Campur Aduk Perasaan Putra


__ADS_3

Beruntung sekali Abi hari ini, tidak ada satu pun teman yang memanggil dirinya ketika tes sesi pertama san kedua. Ia bisa mengerjakan dengan tenang tanpa gangguan dari teman-temannya, Abi hanya berdoa semoga saja jawaban tes mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup yang ia kerjakan tadi itu benar sembilan puluh persen, lumayan untuk tambah-tambah nilai kenaikan kelas.


Saat sampai di parkiran sepeda, ternyata sudah ada Panji dan Putra yang menunggu, terlihat ada kotak yang terbungkus plastik hitam sedang berada di tangan kanan Putra.


"Itu sepatunya?" Tanya Abi sambil menunjuk kearah plastik itu.


"Iya ini tadi aku sudah ambil di kantor," jawab Putra.


"Rejeki memang sudah ada yang mengatur," kata Agus yang tiba-tiba muncul dari belakang ketiga anak ini.


"Iya nih alhamdulillah banget bisa dapet sesuatu yang aku idam-idamkan," kata Putra.


"Sekarang doamu sudah terkabulkan." Abi mengelus-elus pundak Putra.


"Aku bingung mau ngucapin kata syukur bagaimana lagi," ucap Putra yang matanya terlihat sudah berkaca-kaca.


Abi mulai bisa mensyukuri nikmat hidup yang telah diberikan kepadanya, ada orang lain yang tak seberuntung dirinya. Abi masih mampu mendapat uang jajan dari hasil sawah dan uang saku yang diberikan oleh ibunya, sedangkan Putra hanya mendapat uang saku yang pas-pasan dari orang tuanya. Putra juga kadang masih berbagi uang saku dengan kakaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan.


"Kamu harus belajar yang lebih giat lagi sekarang." Panji menepuk-nepuk pelan pundak Putra.


"Iya hanya itu tugasku sekarang, aku ingin membanggakan kedua orang tuaku." Putra mulai tersenyum kembali.


Keempat anak ini bersiap untuk mengambil sepeda yang masih terparkir di depan mereka, berniat langsung pulang saja.


Putra menaruh bingkisan plastik tersebut di setang sepeda bututnya, sepeda BMX kecil yang sudah sangat tua sekali, beberapa bagian rangka sepedanya terlihat ada yang sudah mulai berkarat.


"Apa itu, Tra?" Tanya Faisal.


"Hehe ini dapat sepatu dari sekolahan," jawab Putra.


"Halah bantuan, beli baru dong kayak aku!" Faisal mengejek Putra sambil tertawa.


"Biarin lah, nyatanya aku kan gak bisa beli baru kayak kamu." Putra menunduk terlihat sedikit tergores hatinya ketika mendengar kata-kata itu.


Faisal ini memang orangnya suka rese kalau di sekolahan, terlihat seperti penguasa. Ia mempunyai beberapa anak buah dalam geng yang dibentuknya di sekolahan, namun kali ini ia sedang sendirian tanpa ditemani oleh beberapa anak buahnya.


Anak itu mempunyai beberapa pengikut, bukan karena ia sangar atau di segani. Tetapi anak itu memang orang kaya, jadi ia bisa menuruti apa saja yang diinginkan oleh teman-teman gengnya.

__ADS_1


"Jangan sok jagoan kamu ya!" Panji terlihat emosi.


"Apa kamu, jangan ikut-ikutan!" Faisal kembali mencoba membakar amarah Panji.


"Hei diam kamu, Nak!" Pak Tri berteriak dari kejauhan.


Faisal tertunduk lesu setelah dibentak oleh Pak Tri (Guru Bimbingan Konseling), mungkin ia mulai ketakutan ketika tak menyangka akan diketahui oleh guru yang mengajar di sekolah ini.


"Mau apa kamu sama dia?" Tanya Pak Tri sambil mendatangi Faisal.


"Endak kok, Pak. Aku ndak ngapa-ngap... ," kata Faisal terputus.


"Saya sudah dengar kamu bicara apa tadi sama dia (menunjuk Putra), kamu kira aku gak tau!" Pak Tri membentak Faisal.


"Maaf, Pak." Faisal menunduk.


"Nilai kamu akan saya kurangi, jangan jadi sok jagoan kamu di sini. Ingat, kamu itu masih kelas delapan," kata Pak Tri.


"Iya, Pak." Faisal menjawab.


"Ayo ikut saya ke kantor, besok senin orang tua kamu suruh ke sini." Pak Tri mengajak Faisal menuju kantor.


"Tenang saja, tidak usah di fikir." Abi mengusap-usap punggung Putra.


Sebagai sesama manusia jangan saling menghujat, kita tidak tahu seberapa beruntung rejeki seseorang, tidak ada yang mengetahui seberapa beruntung kita dalam hidup berkeluarga. Semua sudah dibagi sesuai porsinya masing-masing, orang kaya juga akan diganti posisinya oleh orang kaya yang baru, rejeki itu akan selalu berputar. Kita sebagai hamba yang maha kuasa, jangan sesekali menyombongkan rejeki yang sifatnya hanyalah sebuah titipan. Semua yang diberikan Tuhan kepada kita, sifatnya hanyalah cobaan, tergantung kita dalam menyikapi cobaan tersebut.


Mereka berempat langsung menuntun sepeda yang sudah berada di sampingnya hingga keluar melewati gerbang sekolahan, sinar matahari belum terlalu terik pada hari ini.


Mengayuh sepeda menyusuri jalanan umum yang masih sepi kendaraan, masih pukul 10.00 WIB yang lewat hanyalah beberapa kendaraan bermotor saja di jalan raya, bisa dihitung menggunakan jari. Karena waktu-waktu seperti ini situasi semua orang sudah mulai masuk jam kerja, jadi jalan raya sangat lengang sekali.


Keempat anak ini merasa haus di tengah perjalanan, kemudian mereka berhenti di sebuah warung es dan jajan. Memarkirkan sepedanya di pinggir jalan depan warung tersebut, lalu duduk di teras warung itu.


"Mbak, mau beli es sirup." Agus mengipas-ngipas tubuhnya dengan tangan.


"Yang lain apa ini?" Tanya penjual di warung tersebut.


"Aku es marimas saja," kata Panji.

__ADS_1


"Aku pesen es marimas juga," ujar Putra.


"Aku sirup aja lah," pungkas Abi.


"Berarti es marimas dua, es sirupnya juga dua." Penjual di warung itu menunjuk keempat anak.


Setelah es sudah jadi dan diberikan kepada mereka, kemudian empat anak ini langsung melanjutkan kayuhan sepadanya menuju rumah masing-masing.


Putra berbelok kearah rumahnya meninggalkan rombongan, kemudian Abi, lalu Agus dan yang terakhir adalah Panji karena rumahnya paling jauh.


"Apa itu, Nak?" Tanya ibunya Putra yang bernama Sarti.


"Ini alhamdulillah tadi dapat sepatu baru," kata Putra.


"Ya Allah, dapat dari mana?" Sarti matanya mulai berkaca-kaca.


"Dapat dari sekolahan," jelas Putra.


"Kok bisa dapet, kamu habis ngapain?" Tanya ibunya masih bingung.


"Ya karena lihat sepatuku sudah tidak layak pakai, jadinya aku diberi sepatu gratisan dari sekolah." Putra menunduk sedih.


"Ya Allah." Sarti memeluk anaknya sambil menitihkan air mata.


Suasana kali ini sedikit haru sekali karena sang ibu merasa sangat senang sskali, masih ada orang baik yang memperhatikan perlengkapan sekolah anaknya. Sedangkan ia hanya mampu memberinya uang jajan yang pas-pasan dan sesekali ibunya harus berhutang kepada tetangga setiap ada iuran yang mendadak dari sekolahan.


"Aku gak tau harus ngucap syukur yang bagaimana lagi bentuknya, Buk." Putra mulai ikut menangis.


"Mungkin ini doa yang selama ini kamu pendam sudah terkabul," tutur Sarti.


"Ya sudah, sekarang sepatu itu di taruh situ (menunjuk kursi) saja. Kamu langsung makan siang ya," kata Sarti.


"Iya, Buk." Putra menaruh sepatu itu di kursi yang ditunjukan oleh ibunya, kemudian ia langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil makan siang.


Di dapur ada nasi dan lauk beberapa potong daging ayam yang sudah teriris kecil-kecil di wadah sebuah piring kaca bening.


"Itu tadi pemberian dari tetangga sebelah, Nak." Sarti menunjukan lauk itu kepada Putra.

__ADS_1


"Alhamdulillah masih ada yang baik kepada kita," kata Putra.


"Ambil sedikit saja, sisanya untuk makan kakakmu dan nanti malam ya." Sarti mendekatkan wadah piring itu ke samping Putra yang sedang mengambil nasi.


__ADS_2