
Siang ini setelah mencari kangkung di sawah milik orang lain, ia langsung kembali ke rumah untuk mandi dan melaksanakan sholat dzuhur, untuk kemudian diteruskan dengan tidur siang.
Putra yang masih mengikutinya hingga ke rumah, memilih untuk bersantai menonton televisi milik Abi di ruang tamu.
Putra merebahkan tubuhnya di rumah sederhana milik temannya itu, berbekal tikar yang digelar, karena lantai rumah temannya itu masih beralaskan sebuah tanah, sangat sederhana sekali. Dinding rumahnya juga masih terbuat dari papan kayu yang disusun rapi, hingga menutupi seisi rumah.
Terkadang apabila hujan turun, ada beberapa bagian genting yang bocor. Hingga tak jarang membuat lantai yang masih terbuat dari tanah itu terasa becek karena air hujan apabila Abi lupa menampungnya dengan ember.
Abi berjalan dari arah belakang, telah selesai mandi dan menghampiri Putra yang sudah berbaring di tikar ruang tamu depan televisi tabung kuno yang ada di dalam rumah ini.
"Sudah makan, Put?" tanya Abi.
"Sudah tadi sedikit sih," jawab Putra.
"Ya sudah, makan lagi sana. Ibuku tadi pagi masak lumayan banyak soalnya," tutur Abi.
"Enggak lah, makasih. Belum laper lagi," jawab Putra.
Tikar yang menjadi alas tempat tidur Putra lebarnya cukup lumayan luas, kalau dibuat tidur delapan orang secara bersamaan juga masih bisa. Ruang tamu rumah ini lumayan luas dan panjang juga, sangat leluasa sekali untuk beraktivitas di dalamnya.
Abi memilih untuk berbaring di kursi panjang ruang tamu milikinya, Putra yang berada di bawah ternyata sudah terlelap. Jam di dinding menunjukan pukul 13.07 WIB, Abi juga langsung memilih memejamkan matanya karena badan sudah terasa tak kuat lagi untuk menahan rasa capek yang menjalar ke seluruh badan.
Kedua anak ini terlelap hingga Siti Fadilah pulang dari tempatnya bekerja, menuntun sepedanya saat masuk ke dalam rumah, beliau melihat Abi dan Putra sedang tertidur di ruang tamu depan televisi yang masih menyala.
Siti Fadilah berjalan memasuki dapur rumahnya dengan menenteng lauk makan yang dibawanya dari tempat bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Mendengar suara piring yang diambil Siti Fadilah dari tumpukan berada dalam rak, Abi dan Putra terbangun, kemudian mencari sumber suara itu.
Abi melihat ternyata ibunya sudah pulang dari tempatnya bekerja, ia kemudian langsung mencium tangan ibunya.
"Sudah makan belum?" tanya Siti Fadilah.
"Tadi sudah makan pakai lauk tadi pagi," jawab Abi.
"Itu Putra diajak makan," kata Siti Fadilah.
__ADS_1
"Put, makan dulu ya?!" tanya Abi sambil sedikit berteriak dari dapur.
"Gak lah, Bi. Aku sudah makan," jawab Putra yang sedang terduduk masih lemas di depan televisi, tempatnya tertidur tadi.
Abi membantu ibunya menuangkan sayur ke dalam mangkok, dan menata gorengan di sebuah wadah piring kaca.
Putra sudah mulai merasa nyawanya kembali terkumpul ke dalam tubuhnya, kemudian ia melihat jam yang ada di dinding sudah menunjukan pukul tiga sore lebih.
"Bii, aku pulang dulu ya." Putra beranjak dari tempat duduknya.
"Mau pulang, ini ada lauk kalau mau bawa ndak papa." Abi mengintip temannya yang hendak pergi keluar pintu depan rumahnya.
"Ndak lah," kata Putra.
"Sini dulu, ini ada sedikit lauk buat kamu!" Siti Fadilah berbicara sedikit kencang, sambil menata sebuah wadah plastik untuk dibawa pulang Putra.
Putra kembali ke dalam karena tak enak dengan tawaran Siti Fadilah, akhirnya ia pulang denga membawa se-plastik lauk yang diberi oleh ibunya Abi.
Sore ini dilanjutkan dengan aktivitas mengaji di tempat biasanya mereka semua belajar mendalami ilmu Al-Qur'an.
Beberapa hari kemudian, semua anak berkumpul di pos ronda pertigaan jalan desa ini, untuk kembali memantau sarang burung yang telah mereka gadang-gadang dari kemarin.
Hari masih pagi, udara masih sedikit sejuk saat angin terhempas ke tubuh mereka. Abi berjalan menuju pos ronda yang berjarak sekitar seratus meter dari barat arah jalan umum desa yang melintas di depan rumahnya.
Di pos ronda itu terlihat sudah ada Diki, Putra dan Khoirul yang sudah berkumpul sambil bercanda ria, ditemani sinar mentari pagi yang masih hangat menghinggapi tubuh ini dengan udara sejuk yang saling mengisi.
"Yang lain belum datang?" tanya Abi.
"Tadi ada Fandil, tapi dia pulang dulu sebentar." Khoirul menunjuk kearah rumah Fandil.
Hari ini Agus dan Panji tidak ikut dalam kegiatan pagi ini, karena ia sedang ikut Om Ahwan membajak sawahnya dengan traktor.
Fandil telah kembali ke pos ronda untuk berkumpul dengan teman-temannya lagi, mereka langsung berangkat berjalan menuju tempat sarang burung yang kemarin telah mereka cek.
Melewati beberapa sawah, sama persis seperti jalan kemarin waktu mereka pertama kali menuju tanggul kali yang berada di sebelah barat desa ini.
__ADS_1
"Pagi-pagi begini mau pada kemana?" tanya seseorang yang sawahnya dilintasi oleh kelima anak ini.
"Mua ke tanggul, Pak." Diki menunjuk kearah barat.
"Hati-hati, jangan sampai nginjek tanaman ya," kata pemilik sawah itu.
Kelima anak ini berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak menginjak tanaman jagung yang masih kecil, di atas sabuah petak sawah kecil yang mereka lewati.
Sesekali anak-anak ini melihat kiri dan kanan, siapa tahu mereka mendapat sarang burung yang baru.
Tak ada satu pun sarang burung yang mereka lihat dalam sepanjang perjalanan menuju tanggul tempat sarang burung yang mereka incar kemarin, Diki langsung memanjat pohon yang telah diberi tanda kala itu.
Saat sampai di atas, burung anak bentet itu sudah nampak berbulu lumayan lebat, sedangkan sarang burung kutilang hanya tinggal dua anaknya, mungkin anak-anak burung kutilang itu beberapa di antaranya sudah bisa terbang dan mencari makan sendiri.
"Ada burungnya?" tanya Abi dari bawah.
"Ini bentetnya ada dua, kutilangnya juga ada dua." Diki sedikit bersusah mengintip sarang burung kutilang yang lumayan jauh tempatnya dari batang utama pohon ini.
Diki langsung membawa turun sarang burung itu satu per satu, setelah sampai di bawah mereka langsung berebut untuk melihat burung-burung kecil itu.
"Kamu mau bawa ndak, Bi?" tanya Diki.
"Aku ndak mau," kata Abi.
Abi memang tidak suka memelihara burung, ia hanya memelihara unggas dan kelinci saja di rumah.
Akhirnya burung itu dibawa pulang oleh Diki dan Fandil saja, karena Putra dan Khoirul juga tidak suka memelihara binatang itu.
"Masa ini cuman aku sama Fandil yang bawa?" tanya Diki.
"Iya nih, masa cuman kita berdua." Fandil menunjukan sarang burung kutilang yang dipegangnya.
"Biar, buat kalian berdua saja," jawab Khoirul.
Lalu Diki dan Fandil membawa masing-masing satu burung bentet dan burung kutilang, saat keempat anak itu berbincang tentang sarang burung itu, ternyata Putra sudah berada dibawah pohon karsen, sambil memegang plastik putih bening yang sudah terisi penuh buah karsen.
__ADS_1