
Dengan kondisi tv yang masih menyala, Abi dan Putra tertidur sangat pulas. Sedangkan di tempat lain, Ferdian dan Fajar masih menonton acara tv dari kamar mereka masing-masing.
Fajar memikirkan sesuatu tentang latihan yang akan dilakukan keesokan harinya, materi apa yang mungkin akan ia dapat dari sang pelatih. Karena tak sabar ingin mendapat materi baru dari sang pelatih, ia sudah mulai penasaran sejak malam harinya sebelum tidur.
Ferdian masih berbincang dengan Ilham, teman satu kamarnya. Mereka ternyata belum tidur sampai jam menunjukan pukul sebelas malam. Ferdian yang semula sudah mengantuk sejak berada di kamarnya Abi sekarang, ia tidak jadi tidur karena melihat acara yang sedang tayang di tv.
"Film apaan tu, Ham?" tanya Ferdian.
"Ini, gak tau judulnya aku. Aku daritadi ya pengen nonton aja, asik banget soalnya," ucap Ilham.
"Nonton film tapi gak tau judulnya, gimana sih kamu ini?" Ferdian sambil tertawa pelan.
"Abis acaranya seru sih, ya pengen nonton aja." Ilham meringis.
Ferdian dan Ilham menonton acara yang sedang tayang di Trans tv. Sebuah film petualangan yang sangat seru sekali, membuat mereka berdua tak merasa ngantuk ketika menonton acara tersebut.
Sedangkan di tempat yang lain, suara kamar Abi dan Putra hanya tersisa kesunyian. Televisi-pun sudah mati karena sejak awal mulai tidur, mereka telah menyalakan timer selama satu jam untuk tv-nya.
Abi bermimpi saat tidur malam pertama di asrama trainning camp. Awalnya ia bersepeda menyusuri desa, lalu sesampainya di ujung desa. Ia bertemu dengan teman-temannya yang sedang melihat seorang wanita cantik sekali.
Wanita itu memakai pakaian berwarna putih cerah, semua mata tertuju kepada wanita itu. Terdengar suara seorang warga yang tiba-tiba berbicara lantang dari belakang mereka.
"Cantik banget, aku pengen punya istri seperti itu," kata seseorang dalam mimpinya.
Saat Abi menengok kebelakang, ia tak tahu siapa yang bicara barusan. Karena sudah banyak sekali, orang yang berdiri di belakangnya. Satu per satu orang terus berdatangan, menyaksikan perempuan cantik itu yang sedang berdiam diri di atas sebuah tanggul air di ujung desa.
"Haii, lihat apaan, Bi?" suara Diki menepuk pundaknya.
"Itu, ada cewek cantik," kata Abi.
"Wuihh, bener tuh. Cantik banget, bisa bercahaya gitu ya, Bi?" tanya Diki.
"Mungkin, dia punya ilmu." Abi meringis.
Setelah beberapa saat melihat wanita itu menari-nari di atas tanggul desa. Tiba-tiba wanita itu mendatangi warga yang sedang berkumpul untuk mengajak menari bersama, lalu apa yang terjadi?
Seketika wajah wanita tersebut menjadi muram, langit berubah menjadi hitam dan petir menyambar dimana-mana. Membuat warga yang sedang awalnya menonton wanita itu, berlari berhampuran tak tau arahnya. Beberapa ada yang jatuh karena bertabrakan dan tersandung oleh ranting pohon di bawah.
__ADS_1
Abi dan Diki berusaha melarikan diri, melihat temannya sudah berlari dengan kecepatan penuh. Abi juga merasa sudah berusaha semaksimal tenaga, tetapi serasa berat sekali saat ia berusaha untuk berlari menjauhi wanita tersebut.
Angin kencang membuat pepohonan di sekitar tempat itu menjadi tak karuan, Abi berlari menuju belakang rumah orang. Melewati banyak pepohonan, tiba-tiba ada pohon bambu yang melintang di depannya. Abi bingung melihat ke belakang ternyata ada wanita tersebut yang wajahnya sudah berubah aneh sekali, ia berlari mencari jalan lain.
Saat memilih jalan itu, tak berselang lama ia malah tertimpa pohon besar yang membuatnya bangun dari mimpi tersebut.
Abi bangun dengan kondisi badan berkeringat dan nafas sedikit terengal-engal. Melihat jam yang ada di dinding, ternyata sudah pukul satu malam. Ia masih mendengar suara beberapa temannya yang terasa sangat jelas masih asik mengobrol di depan kamarnya.
Merasa sangat sulit sekali untuk tidur kembali, ia memutuskan untuk menuruni ranjang kamarnya dan berjalan keluar kamar.
"Ceklak ... ceklakk," suara Abi membuka kunci pintu.
Berjalan menuju kamar mandi melewati beberapa temannya yang masih belum tidur.
"Mau kemana, Bi?" tanya Arman.
"Ini, mau ke kamar mandi." Abi menunjuk kearah kamar mandi.
"Oh, belum tidur toh?" tanya Sofyan.
"Tadi sudah, tapi kebangun pengen pipis," ujar Abi.
Abi melanjutkan perjalanannya mengarungi lorong asrama menuju kamar mandi, suasana sunyi sekali.
Setelah sampai di kamar mandi, ia langsung membuka pintu untuk melaksanakan niatnya. Keluar kamar mandi dengan kondisi yang sudah basah dan segar sekali karena tersiram oleh air wudhu. Abi melewati lorong untuk kembali ke kamarnya.
Melihat di sana masih ada Arman, Sofyan dan Joko yang masih dudu berbincang santai beralaskan keramik lorong asrama. Terlintas difikiran Abi, kalau ia masih punya sisa biskuit yang tadi malam tidak habis dimakan.
"Man, kalau cemilannya masih kurang. Di kamarku ada biskuit," kata Abi.
"Gimana, kamu mau gak?" Arman menawarkan kepada dua temannya.
"Ya sudah, ndakpapa deh," ujar Joko.
"Iya, ambil aja ndakpapa, Man." Sofyan menyuruh Arman.
Ya sudah, boleh deh." Arman berdiri.
__ADS_1
Kemudian Abi dan Arman menuju kamar asrama untuk mengambil biskuit.
"Drrghhh," suara Abi membuka pintu.
Putra yang berada di dalam kamar, ternyata sedang menyaksikan televisi dengan keadaan muka yang masih mengantuk dan memeluk guling.
"Belum tidur, Traa?" suara Arman.
"Ehh, Man. Tadi sudah tidur, tapi kebangun barusan. Lha, kamu jam segini masih seger aja, Man?" tanya Putra.
"Iya, itu di depan masih ngobrol bareng Sofyan sama Joko," ujar Arman.
Abi mengambil biskuit yang masih terbuka di atas loker kecilnya, memberikannya kepada Arman.
"Ini, Man." Abi memberi biskuit.
"Iya, makasih ya, Bi." Arman memegang biskuit.
"Mau kemana, Man. Mampi dulu kenapa?" tanya Putra.
"Ndak ah, udah malem. Takut ganggu, besok aja. Aku mau kumpul, nanti kalau kalian belum bisa tidur. Boleh ngumpul sama kita di depan." Arman mengajak kedua anak itu sambil berjalan keluar kamar.
"Iya, nanti kalau belum bisa tidur," jawab Abi.
Abi menutup pintu tetatpi tidak mengunci pintunya, kemudian ia berjalan mengambil sajadah dan sarungnya dari dalam loker.
"Mau tahajud kamu, Bi?" tanya Putra.
"Iya, Tra," jawab Abi.
"Ya sudah, aku juga mau ke kamar mandi sekalian tahajud lah. Tak matiin tv-nya ya?" ujar Putra.
"Ndak usah dimatiin juga ndakpapa, Tra. Penting kecilin aja suaranya," jawab Abi.
Putra mengecilkan volume tv-nya, beranjak meninggalkan ranjang tidurnya menuju luar kamar. Sedangkan Abi langsung mengambil posisi sholat sunnah tahajud-nya.
Putra berjalan melewati lorong asrama dan melihat Arman, Sofyan beserta Joko masih duduk santai di teras kamarnya.
__ADS_1
Beberapa saat setelah terdengar suara pintu kamar asrama terbuka dan ternyata Putra selesai dari kamar mandi dan Abi menyelesaikan sholat sunnahnya. Sekarang bergantian Putra yang melaksanakan sholat tahajud.
Abi merasa belum bisa tidur, melihat jam di dinding ternyata masih pukul dua kurang seperempat. Kemudian ia berjalan keluar kamarnya untuk mencari angin segar, meninggalkan Putra yang sedang melaksanakan sholat sunnah tahajud.