
Selalu menangis saat pagi hari. Entah mengapa, Abi selalu tak bisa menahan tangis ketika pagi berangkat sekolah sesampainya di ruang kelas.
Teringat kala itu, ia pernah diajak kabur dari rumah oleh Siti Fadilah sang ibu. Ketika itu ibunya sangat muak dan tidak tahan, karena sikap sang suami yang selalu seperti itu. Abi dan Ibunya memutuskan pergi menginap empat hari di rumah saudara dari Siti Fadilah.
Terpaksa, Abi tidak masuk sekolah selama itu tanpa ada keterangan. Teman-temannya juga tidak tahu menahu tentang keberadaan Abi. Ketika ditanya guru saat absensi kelas, semua tidak ada yang tahu keberadaan anak itu.
Hal yang membuat Abi selalu menangis di kelas, saat sebelum jam pelajaran mulai. Teman-teman yang awalnya kaget dan menaruh simpati kepada Abi saat ia menangis. Dengan menanyakan, keadaan apa yang membuat ia menangis sangat tersedu-sedu seperti itu.
Lama-kelamaan, hal tersebut menjadi hal yang biasa. Semula yang khawatir malah menjadi seperti sedang tidak terjadi apa-apa.
Sesosok Abi yang sangat cerdas di sekolahan, dan menjadi sangat lemah ketika di rumah.
Ia merasa hidup hanya dengan seorang ibu, tanpa mempunya seorang bapak. Mungkin, karena sifat sang bapak seperti itu kepada ibunya.
Teringat ketika ibunya yang sedang tak punya uang, berusaha meminjam kepada tetangga. Bukan uang yang didapat, tetapi hanya segelintir kata-kata mutiara yang dibawa pulang.
"Minta suamimu lah, uang jangan buat judi terus. Bilang begitu," Kata R****n
"Bisa minjem, nanti gak bisa kembaliin," Ucap T**i*
"Kalau tidak punya mending gausah pengen ini itu," dari Z***a
"Males minjemin ah," tutur P****ti
Semua kata itu, membuat Siti Fadilah tak lagi manaruh harapan kepada tetangga sekeliling. Ketika sedang butuh bantuan.
Abi pun juga tidak pernah meminta mainan baru atau baju baru ketika lebaran datang. Takut apabila ibunya sedang tak punya uang dan memaksa pinjam ke tetangga.
Siti Fadilah menghidupi Abi dan Fellani dengan cara hasil dari bercocok tanam di sawah. Mereka hidup dalam segala keterbatasan.
Sang bapak sering menghabiskan uang untuk kesenangannya sendiri. Tanpa memikirkan kalau dia sudah punya tanggungan menghidupi keluarga. Kewajibannya sudah terabaikan karena surga duniawi.
__ADS_1
Tak bisa dipungkiri, bapaknya Abi juga seringkali bermain cewek. Beberapa kali tetangga ada yang memergoki Rohmat sedang kencan dengan cewek lain. Sedangkan, di rumah sudah punya Istri dan dua anak.
Fellani, kakaknya Abi adalah orang yang selalu paling berani memarahi bapaknya ketika melihat hal yang memalukan keluarganya.
6 tahun, jarak usia Fellani dan Abi. Tinggal menyelesaikan Ujian Nasional, Fellani lulus sekolah. Kebetulan kakaknya Abi adalah siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Tahun depan bisa langsung kerja dan membantu ekonomi keluarga.
Fellani selama SMK, bayar uang bulanan dan uang jajan dengan hasil keringatnya sendiri. Ia bekerja di salah satu bengkel pinggir jalan raya, setelah pulang sekolah.
Terbayang sangat melelahkan sekali perjuangan kakaknya Abi, untuk bisa lulus SMK. Tetapi, mau tidak mau itu harus dilakukan.
Supaya ibu dan adiknya bisa hidup dengan layak dikemudian hari.
Melihat sang kakak seperti itu, Abi juga tidak mau kalah dengan sang kakak. Sudah mulai akhir kelas enam SD, Abi semakin giat membantu ibunya ke sawah untuk menambah penghasilan keluarganya.
Saat sifat sang bapak seperti itu kepada ibunya, membuat Abi dan Fellani semakin giat untuk membantu Siti Fadilah. Agar, meringankan beban yang mungkin terlalu berat untuk dipikul sendiri oleh sang ibu.
#######
Memungkinkan Abi semakin fokus untuk mengerjakan UN. Karena, satu ruangan yang bakalan sama soal ujiannya hanya dua puluh persen anak. Dan itu pula anak yang sama soal ujiannya jaraknya juga berjauhan, tidak disamping dong.
Sekian lama belajar akhirnya waktu peperangan segera dimulai. Masuk ruangan dengan perlahan, mengumpulkan tas dan semuanya di depan ruang ujian. Hanya boleh membawa alat tulis dan kartu peserta ujian.
Semua siswa mengerjakan sendiri-sendiri tanpa ada satupun yang menyontek. Karena, soalnya tidak ada yang sama.
Pada dasarnya, memang Abi terlalu sering belajar. Jadi, ya wajar saja kalau ia sangat tenang sekali ketika melihat soal ujian yang seperti itu.
Seminggu berlalu, ujian berakhir. Semua siswa sedikit lega telah melewati masa ujian. Hal baru yang akan dihadapi adalah mereka terbayang untuk melanjutkan kesekolah swasta tapi bagus atau pilih negeri. Sambil cemas menunggu hasil nilai ujian, mereka juga berfikir sesekali berdiskusi tentang SMP mana yang akan mereka datangi.
Karena menunggu hasil ujian juga cukup lama. Abi mengisi waktu luang itu untuk mencari makan ternaknya. Kelinci kesayangannya itu mendapat perhatian lebih disela-sela waktu sekolahnya yang sedang tidak ada kegiatan.
Abi kecil memang punya peliharaan kelinci sekitar dua puluh ekor. Jadi, ya kandangnya lumayan besar juga. Awal-awal sih cuma punya tiga pasang jantan dan betina. Setelah setahun, kelinci itu beranak pinak dan jumlahnya mencapai sebanyak itu.
__ADS_1
Berbekal pisau dapur dan karung, Abi berangkat mencari kangkung liar yang ada di sekitar kali (sungai) dan sawah-sawah di belakang rumah.
Beberapa saat kemudian, karung sudah terisi penuh. Ia mulai menyudahi aktivitasnya itu, bergegas pulang kerumah.
Saatnya memberi makan kelinci kesayangannya. Abi mengeluarkan sebagian kangkung yang ada dalam karung, kewadah yang sudah disiapkan. Lalu mengeluarkan kelinci yang ada dalam kandang, mengumbarnya ke lantai bawah.
Kelinci itu tidak kabur, ya karena mungkin sudah terbiasa lah. Saat kelincinya makan, Abi sibuk membersihkan kandang kelincinya agar terlihat lebih bersih.
Setelah selesai, Abi langsung mandi dan ganti baju. Menyusul teman-temannya yang sudah ramai bermain dihalaman depan rumahnya.
############
(Hari berganti).
Tanggal pembagian hasil nilai ujian telah datang. Abi dan teman-teman menuju sekolahan untuk mengambil selembar kertas itu. Iya dong, masa ngambil komputer di kantor.
Semua sudah kebagian, membuka hasilnya. Bisa dibilang saat itu Abi tidak mendapat nilai yang cukup bagus. Pas-pasan saja sih, lumayan lah untuk bekal mendaftar ke jenjang sekolah berikutnya.
Disisi lain, ada yang kaget melihat hasil ujiannya yang diluar dugaan. Latif justru mendapat nilai yang bisa dibilang bagus, bahkan lebih bagus sedikit dibanding Abi.
"Saat itu aku cuman ngerjain yang aku bisa, jawaban lain cuma modal insting." Latif juga kaget dengan hasil yang ia terima.
"Alhamdulillah, nilai kita lumayan semua. Bisa jadi modal buat daftar ke sekolah negeri nih," tutur Tresno.
"Iyalah, kita semua harus nyoba ke negeri dulu ya," sahut Diki.
"Sepakat, tanggal (sekian) kita berangkat daftar bareng-bareng ya." Abi meyakinkan teman-temannya.
Setelah ditentukan tanggalnya, mereka kembali pulang kerumah. Untuk menyiapkan semua, mulai dari berkas-berkas yang harus dibawa saat mendaftar dan paling utama adalah mental.
Mereka akan bertemu lagi saat daftar masuk Sekolah Menengah Pertama.
__ADS_1