
Seminggu sudah tes berlangsung, ini adalah hari terakhir Ulangan Akhir Semester SMP Negeri 1 Noveltoon.
Abi, Putra, Agus dan Panji berangkat sekolah pagi-pagi dengan setia membawa sepeda yang biasa mereka gunakan ke sekolah, berangkat sedikit agak santai.
Hari ini mata pelajaran yang akan diujikan saat tes adalah Bimbingan Konseling dan Pendidikan Lingkungan Hidup, mengapa SMP Negeri 1 Noveltoon mengujikan kedua mata pelajaran tersebut?
SMP Negeri 1 Noveltoon sadar tentang pentingnya bersosial, mengetahui norma-norma dan adat istiadat yang berlaku di sekitar. Lalu kemudian apa itu Pendidikan Lingkungan Hidup?
Pendidikan Lingkungan Hidup adalah suatu pelajaran yang ada khusus untuk sekolah berpredikat Adhiwiyata Nasional (sekolah berwawasan lingkungan). Pelajaran itu meliputi cara merawat lingkungan, menanam pohon dan lain sebagainya.
Saat mereka berempat sampai di parkiran sepeda sekolahan, keempat anak ini hanya duduk santai sambil sesekali membuka buku Lembar Kerja Siswa mata pelajaran Bimbingan Konseling. Sebenarnya materi pada pelajaran ini hanya menggunakan nalar saja, karena dalam tes itu akan hanya mana yang baik dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan saat sosial bermasyarakat.
"Ndak belajar nih?" Tanya Panji.
"Ya bagaimana mau belajar, Bimbingan Konseling kan hanya tanya jawab seputar masalah saja kalau mengajar." Agus menjawab sambil membuka tasnya.
"Iya materinya cuman cerita-cerita saja kan?" Putra mengeluarkan pendapatnya.
"Iya ini hanya pelengkap saja agar terisi waktu tesnya," kata Agus.
"Ya penting kalau ada orang yang sampe gak bisa jawab pertanyaan nanti, bisa dipastikan orang itu tidak waras." Abi langsung tertawa.
"Bgst." Agus ikut tertawa.
"Bener juga sih," kata Putra sambil meringis.
Terlalu asik bercanda di parkiran sepeda, ternyata suasana sekolahan sudah ramai sekali oleh semua siswa yang mulai berdatangan ke sekolah. Gemuruh obrolan dari beberapa orang yang terdengar dari sekitar tempat empat anak itu berkumpul, mereka berdiri dari tempat ia duduk di parkiran.
"Tet... ." Bunyi bel sekolahan tanda tes akan dimulai.
"Tuh kan sudah bel." Agus menunjuk kearah atas.
__ADS_1
"Iya tuh, ayo ke ruangan masing-masing lah!" Panji berjalan menjauhi perkiran sepeda tersebut.
Agus, Abi, Panji dan Putra berjalan kearah yang berbeda menuju ruang tes masing-masing. Abi masih menunggu di depan ruang tes yang ia tempati, karena sang pengawas belum datang. Jadi pintu ruangan itu masih terkunci, belum ada yang nampak mendekati ruangan tersebut.
Sedangkan Putra yang diawasi oleh Ibu Diah, sudah diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan. Pengawas itu melihat kalau sepatu yang Putra kenakan itu sudah sangat tidak layak untuk dipakai, terlihat sekali memang sudah sedikit jebol dibagian ujungnya.
"Nak, sini!" Ibu Diah memanggil Putra sambil melambaikan tangan.
"Aku, Buk?" Tanya Putra sambil tangannya memegang dada.
"Iya kamu sini," kata Ibu Diah.
Semua peserta tes sudah masuk dan duduk di bangku masing-masing, sedangkan Putra masih berada di luar pintu ruangan bersama Ibu Diah.
Ibu Diah masuk ke dalam ruangan tersebut sejenak untuk menyuruh ketua kelas sembilan yang satu ruangan dengan Putra, kebetulan pengawas itu kenal dengannya.
"Dev, ini soalnya dibagikan ke teman-teman sama adek kelas ya." Ibu Diah menyuruh Devi (ketua kelas 9G) untuk membagikan soal yang masih tersegel dalam amplop besar.
"Iya siap, Buk." Devi berdiri mengambil kumpulan paket soal tes tersebut dan membagikannya.
"Namamu siapa, Nak?" Tanya Ibu Diah kepada Putra.
"Namaku Putra Pamungkas, Buk." Putra menjawab.
"Kamu kelas 7F, anak asuhnya Pak Chandra ya?" Tanya Ibu Diah.
"Iya, Buk." Putra menunduk.
"Kamu tau gak kenapa aku panggil kesini?" Tanya Ibu Diah.
"Tidak tau," jawab Putra.
__ADS_1
"Ibu melihat sepatu kamu sudah rusak itu lho, ada sepatu gratis dari sekolahan." Ibu Diah mengusap pundak Putra.
"Maksudnya, Buk?" Tanya Putra masih bingung perkataan dari Ibu Diah.
"Ini ada pembagian sepatu gratis untuk beberapa siswa yang beruntung," jelas Ibu Diah.
"Saya dapat sspatu, Buk?" Tanya Putra.
"Iya kamu dapat sepatu baru," kata Ibu Diah sambil tersenyum kearah Putra.
"Alhamdulillah makasih, Buk." Putra mencium tangan Ibu Diah.
"Ya sudah sekarang masuk ke kelas dulu buat ngerjain tes, nanti kalau pulang setelah jam kedua langsung ke kantor untuk ambil sepatunya ya." Ibu Diah berdiri dari tempat duduknya.
"Iya, Buk." Putra berjalan memasuki ruang kelas untuk mengerjakan tes mata pelajaran Bimbingan Konseling.
Semua anak yang mengerjakam mata pelajaran tersebut terlihat sangat santai sekali, karena mata pelajaran itu tidak mempengaruhi nilai naik atau tidaknya siswa ke jenjang kelas berikutnya, yang mampu mengubah nilai Bimbingan Konseling hanya sikap dan perilakunya saat di sekolahan selama setahun ini termasuk absensi kehadiran.
Pengawas kali ini mengawasi jalannya tes sambil berjalan-jalan ke beberapa bangku siswa, kadang sesekali bercanda kepada beberapa siswa. Memang hari ini sudah tidak ada beban lagi dalam mengerjakan soal kedua mata pelajaran tes pada kesempatan kali ini.
Abi juga dengan santainya mengerjakan sambil sesekali menoleh kearah beberapa temannya, pengawas yang bertugas mengawasi di ruang kelasnya Abi malah membaca koran di luar ruangan.
Agus dan beberapa temannya juga mengerjakan sambil bercanda, pengawas yang sedang mengawasi di dalam ruangannya juga biasa saja. Malahan beliau juga sesekali menimpali candaan yang mereka lontarkan satu dengan siswa lainnya.
Suasana diakhir dua tes mata pelajaran pada hari ini sangat asik sekali, semua terlihar sudah seperti tidak memikul satu pun beban yang ada di pundaknya.
Putra juga sangat senang sekali hatinya, entah mimpi apa semalam hingga ia bisa mendapat rejeki berupa sepatu baru yang diberikan oleh sekolahan.
Sebetulnya SMP Negeri 1 Noveltoon hanya sebagai penyalur kepada siswa saja, itu merupakan imbal hasil karena sekolah ini berhasil beberapa kali meraih prestasi, terutama masuk sepuluh besar lomba PMR se-Jawa Tengah dan menjadi salah satu sekolah Adhiwiyata Nasional yang hanya beberapa sekolah saja bisa mendapatkan penghargaan itu dari seluruh penjuru Indonesia.
Salah satu brand sepatu lumayan terkenal di negeri ini mau menyumbangkan 400 pasang sepatu untuk beberapa siswa SMP Negeri 1 Noveltoon yang sangat membutuhkan, sepatu itu dikirim langsung ke sekolah sebagai ajang promosi mereka dan bukti perhatian mereka terhadap pendidikan di Indonesia.
__ADS_1
Merk sepatu Pro *** itu menyumbangkan produknya ke SMP Negeri 1 Noveltoon secara cuma-cuma, masalah pembagian akan diserahkan kepada pihak sekolahan. Kebetulan panitia yang mengelola sumbangan tersebut adalah Ibu Diah (Guru Pkn), Pak Maskur (Guru Bahasa Inggris), Pak Saerozi (Kelapa Sekolah) dan Pak Tri (Guru BK).
Sepatu itu akan dibagikan kepada beberapa siswa yang berprestasi, membutuhkan dan paling aktif dalam organisasi di sekolahan. Kebetulan antara Panji, Putra, Agus dan Abi yang paling membutuhkan adalah Putra, sepatunya sudah sangat amat tidak layak untuk dipakai. Tetapi ia tak ada uang untuk menggantinya dengan yang baru, orang tuanya hanya mampu mencari uang buat makan keluarga sehari-hari.