
Putra memiliki lima saudara kandung, ketiga saudaranya yang sudah lulus sekolah dan berkeluarga, sedangkan ia masih bersekolah bersama satu kakak laki-lakinya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan.
Kedua orang tuanya mencari uang untuk memikirkan biaya sekolah Putra dan kakaknya, maka dari itu ia sangat sulit sekali untuk bisa membeli sepatu baru. Sapatunya pun itu dibelinya sejak masih di bangku Sekolah Dasar, maka wajar saja kalau memang sudah rusak dan waktunya untuk di ganti.
Walaupun ia tak bisa membeli yang baru dengan uangnya, tetapi rejeki itu memang datang tidak terduga darimana arahnya. Putra bahkan hampir bingung mau mengucap syukur dengan bagaimana lagi ketika mendengar ia akan mendapat sepatu baru secara cuma-cuma dari sekolahnya.
"Tet... Tet... ," Suara bel tanda waktu tes sesi kali ini sudah selesai.
"Mari dikumpulkan jawabannya ke depan," kata Ibu Diah yang mengawasi di ruang tes Putra.
Di ruang lain, Abi dan semua siswa sebenarnya sudah selesai mengerjakan soal tersebut sedari tadi. Namun mereka masih berdiam diri di bangku tesnya hanya untuk bercanda satu dengan yang lainnya.
Sekarang semua siswa sudah mengumpulkan lembar jawaban di meja pengawas ruang tes masing-masing.
Abi mengambil tas yang terkumpul di depan raung kelas, lalu menentengnya keluar ruang hingga ke parkiran.
Panji dan Agus sudah berada di tempat itu sedari tadi, ternyata kedua anak itu langsung keluar dari ruang tes saat selesai mengerjakan soal ujian tersebut.
"Kalian ini sudah ada di sini!" Abi memukul pelan pundak dari Agus.
"Ngagetin aja kamu tu!" Agus menoleh kearah belakang.
"Aku sama Agus sudah ada di sini sekitar dari lima belas menit yang lalu," jelas Panji.
"Gila bener, lama amat." Abi mulai duduk di samping Agus.
Seluruh siswa tidak mempelajari mata pelajaran setelah ini, tes sesi berikutnya adalah Pendidikan Lingkungan Hidup. Semua itu akan berhubungan dengan lingkungan hidup sesuai dengan nama mata pelajaran tersebut.
Pelajaran ini tidak ada buku paket resmi dari merk buku ternama, namun sekolahan hanya memberikan sebuah fotocopy-an yang sudah di jilid menjadi satu mirip dengan buku paket tapi bentuknya lebih kecil dan tidak terlalu tebal.
Agus sesekali melihat fotocopy-an itu untuk sedikit belajar, memang tidak mempengaruhi dalam nilai kenaikan kelas. Namun itu hanya akan menambah perolehan nilai saja dalam menentukan ranking kelas.
__ADS_1
Putra terlihat berjalan dari arah kiri parkiran sepeda atau tempat duduk ketiga anak itu, sedikit menebar senyum kepada semua orang yang dilewatinya.
"Ngapain kamu senyum-senyum," kata Agus saat Putra sampai di depan mereka bertiga.
"Iya tuh kayak orang lagi bahagia aja kamu ini," tutur Panji.
"Alhamdulillah aku dapet sepatu baru dari sekolahan," jawab Putra.
"Apa sepatu baru?" Tanya Abi.
"Iya aku dapat sepatu baru." Putra menegaskan jawabannya kembali.
"Darimana bisa dapet?" Tanya Panji.
"Iya tadi pas mau ngerjain soal tes kan Ibu Diah yang ngawasin di ruanganku... . Putra menjelaskan kepada temannya.
"Terus kamu dikasih sepatu dari salah satu merk itu?" Tanya Abi memutus penjelasan dari Putra.
"Alhamdulillah begitu," ucap syukur Putra.
"Lha mana sepatunya?" Tanya Agus.
"Nanti kata Bu Diah suruh ngambil ke kantor setelah selesai jadwal tes pada hari ini," jelas Putra.
Mereka berempat memegang fotocopy-an buku paket kecil materi Pendidikan Lingkungan Hidup sambil berbincang santai di parkiran sepeda, tempat mereka biasa berkumpul untuk meluangkan waktunya.
"Nanti yang keluar saat tes apa saja kira-kira ya?" Tanya Agus.
"Oh itu nanti yang keluar ini... ." Panji menjelaskan sesuatu sambil menunjukan buku catatan sekolahnya.
"Kamu kok bisa tahu?" Tanya Putra.
__ADS_1
"Kemarin pas Bu Nunung (Guru mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup) mengajar jam terakhir sebelum pembagian kartu tes, beliau memberikan kisi-kisi materinya ini." Panji kembali memperlihatkan catatan yang ada di bukunya.
"Wah lumayan juga ini, siapa tau kita bisa dapat nilai 100 kalau belajar dengan sungguh-sungguh," ujar Abi.
"Ya sudah kalau begitu pinjam catatannya buat melingkari bab-bab yang akan keluar pada tes nanti," kata Agus.
"Iya cepet gantian aku juga," ujar Putra.
Buku catatan Panji di pinjam ketiga anak ini untuk melihat kisi-kisi bab yang akan keluar pada sesi tes kali ini, melingkari beberapa materi yang sudah di beritahukan oleh Bu Nunung. Ketiga anak itu mulai melingkari dan mempelajari bab yang sudah tercantum dalam fotocopy-an buku paket, mulai dari Agus, kemudian Putra, lalu yang terakhir adalah Abi. Mereka bertiga meminjam buku catatan Panji untuk melingkari beberapa materi yang penting untuk dipelajari.
"Nih sudah, makasih ya." Abi mengembalikan catatan itu kepada Panji.
"Taruh situ saja, aku sudah mempelajarinya." Panji menunjuk tasnya yang ia letakkan di samping tempat duduknya di taman pinggir parkiran sepeda.
Beberapa saat nampak serius ekspresi raut wajah keempat anak ini dalam mempelajari bab demi bab yang telah mereka ketahui, terdengar suara bel persiapan untuk masuk ke ruang tes masing-masing.
"Tettt... ." Suara bel tersebut.
Mereka berempat kembali berpisah untuk berjalan menuju ruang tes masing-masing.
Agus membawa sebuah contekan kecil yang akan gunakan saat mengerjakan soal tes nanti, karena ia merasa susah sekali untuk menghafal salah satu materi yang ada di bab fotocopy-an paket tersebut.
Kali ini semua nampak ada yang acuh dengan soal tes pelajaran tersebut, ada pula hanya beberapa anak yang serius saat mengerjakan soal tes itu.
Ternyata benar, semua yang ada di buku catatan Panji 80% keluar saat tes kali ini. Keempat anak itu dapat mengerjakan dengan mudah, dan sangat yakin sekali kalau mereka akan mendapat nilai yang bagus.
"Waktu kurang lima belas menit," suara pengawas di ruang tes Abi.
Beberapa siswa mulai berisik saat mendengar pengawas mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya, ada beberapa anak yang mencoba menyontek jawaban temannya, tetapi ada pula beberapa anak yang berusaha menjawab sebisa mereka. Terlihat bertingkah bingung, semua siswa tak mau lembar jawab mereka ada beberapa yang kosong begitu saja, seluruh siswa berusaha mengisi walaupun mereka tahu jawaban itu memang salah.
Kemudian Abi langsung mengumpulkan lembar jawabnya ke depan, meninggalkan ruang tes itu dengan perasaan yang sangat lega sekali karena beban tes yang selama ini ia rasakan sudah selesai.
__ADS_1