
Pak Besari menemui Pak Saerozi pada esok harinya sambil tangannya menenteng buku catatan naskah cerita dan gambar jalur evakuasi yang dibuat oleh anak-anak.
"Selamat pagi, Pak. Bisa mengganggu waktunya sebentar?" Pak Besari mengetuk pintu ruang kepala sekolah.
"Oh pagi, Pak. Bisaa bisaaa, silahkan masuk." Pak Saerozi menarun koran pagi yang sedang dibacanya .
"Ini, Pak. Aku kesini membawa naskah dan peta simulasi nanti, ini semua ide dari enam anak PMR itu, Pak." Pak Besari sembari menyerahkan buku yang ia pegang.
Bebarapa saat Pak Saerozi mencoba memahami isi dari naskah tersebut, sesekali melihat peta jalur evakuasi.
"Ini bagus sekali, Pak. Luar biasa anak didik Pak Besari," puji Pak Saerozi.
"Ya kalau saya tugasnya cuma membimbing, Pak. Mereka memang sudah asli pinter-pinter, saya cuma mendampingi saja." Pak Besari merendah.
"Tapi, ini naskahnya sudah bagus. Jalur evakuasi bencananya juga sudah sangat bagus." Pak Saerozi kembali memuji.
"Iya, semua itu naskah yang buat anak-anak. Naskah yang dipakai lomba kemarin, Pak. Cuma disunting sedkit-sedikit. Kalau jalur evakuasi itu baru buat kemarin," ujar Pak Besari.
"Jalur evakuasinya sudah sesuai. Tapi, kalau diberi beberapa korban, mungkin situasinya jadi lebih seru," kata Pak Saerozi.
"Maksudnya bagaimana, Pak?" Pak Besari berusaha mencerna kata - kata dari sang kepala sekolah.
"Begini, Pak. Kita kan punya seribu lebih siswa. Misalkan diberi 30 anak, buat pura-pura menjadi korban, mungkin lebih bisa dramatis ceritanya," saran Pak Saerozi.
"Bener juga ya, Pak. Bisa jadi masukan buat anak-anak juga itu." Pak Besari mengiyakan kata-kata kepala sekolah.
"Iya. Nanti, katakanlah korban itu diambilkan dari anak Osis atau Pramuka. Mungkin, bisa juga dari PMR. Kan anggota aktif PMR ada lima puluhan orang. Misal, kita ambil tiga puluh saja untuk pura-pura menjadi korban," masukan dari Pak Saerozi.
"Iya. Kalau itu diambilkan dari anak-anak PMR juga tidak apa-apa sih," jawab Pak Besari.
"Nanti kan masih ada sekitar dua puluh anggota PMR tersisa, biar berkolaborasi sama Palang Merah Indonesia atau Palang Merah Jerman. Untuk membantu mengevakuasi korban bencana gitu aja," saran kembali muncul dari mulut sang Kepala Sekolah.
__ADS_1
"Iya, Pak. Nanti, akan saya sampaikan ke anak-anak," ujar Pak Besari.
"Silahkan saja, Pak. Yang penting itu saran saja, kalau tidak dipakai juga tidak apa-apa," tutup Pak Saerozi.
Pak Besari menjabat tangan Pak Saerozi dan berdiri untuk bergegas kembali ke ruang guru. Bersiap-siap memberikan bimbingan sebagai wali kelas 7G.
Karena saat itu adalah jam kosong seusai tes. Maka, Pak Besari mengajak semua anak didiknya untuk membersihkan dan menata kelas kembali setelah seminggu penuh digunakan untuk Ulangan Akhir Semester.
Pukul sepuluh pagi, sekolah sudah membunyikan bell tanda pulang sekolah. Karena saat itu memang tidak ada jam pelajaran, jadi para siswa dipulangkan lebih awal.
Tetapi sebelum bell dibunyikan, ada panggilan melalui pengeras suara yang ditujukan untuk semua anggota Palang Merah Remaja diharapkan berkumpul di aula sekolahan.
Setelah semuanya pulang, tinggal sebagian siswa anggota Palang Merah Remaja saja yang masih berada di sekolahan. mereka semua dikumpulkan atas instruksi dari Pak Besari, guna membahas kegiatan yang hanya tinggal beberapa hari saja.
"Selamat siang anak-anak," kata pembuka yag keluar dari mulut Pak Besari.
"Siang paakk!" jawab semua anggota.
Semua masih terdiam dan menerka-nerka kata per kata yang keluar dari mulut Pak Besari.
"Nanti untuk yang berpura-pura menjadi korban, saya inginnya anggota PMR yang masih kelas tujuh. Untuk anggota yang sudah kelas delapan atau sembilan. Nanti, jadi relawan evakuasi korban bersama dengan PMI," tambah Pak Besari.
"Iyaa, Pak," jawab semua siswa.
"Kalau sudah cukup paham dan tidak ada pertanyaan, saya akan langsung menutup sesi kali ini. Untuk Abi, Agus, Panji, Putra, Endah dan Fernanda harap masih di sini. U yang lain boleh pulang kerumah," kalimat penutup dari Pak Besari.
Semua berdiri dan berjalan meninggalkan aula sekolahan, kecuali dengan enam anak itu. Ide mereka masih dibutuhkan Pak Besari untuk membantu menambah naskah cerita yang sedikit berubah.
Mereka mulai merapatkan barisan mendekat dengan Pak Besari dan duduk di depannya.
"Begini, kan ini ada yang jadi korban. Otomatis cerita kita ditambah sedikit lagi," terang Pak Besari.
__ADS_1
"Iya, Pak. Kita nanti mencari posisi untuk korban-korban ini berada di mana saja gitu," jawab Panji.
"Nanti, korbannya tertimpa keruntuhan, tertimpa pohon atau jatuh saat berlari. Bisa juga karena berdesak-desakan sehingga pingsan di tempat," tambah Endah.
"Mending begini saja. Nanti, korban ada yang tertimpa pohon di hutan sekolah, terjatuh di depan kantin, tertimpa meja atau kursi di dalam kelas dan pingsan saat berdesak-desakan di titik kumpul lapangan basket." Abi menambahkan dengan detail.
"Saya rasa, itu semua sudah cukup. Masukannya sudah sangat detail dari kalian, pakai itu saja saya setuju. Nanti, saya sampaikan kepada Pak Saerozi, agar beliau telfon PMI Kabupaten untuk bawa tenda, tandu dan mobil-mobil PMI," kata Pak Besari.
"Ya sudah, kalau begitu. Berarti nanti para korban di make-up ya, Pak," tanya Agus.
"Iya, Gus. Nanti semua korban dipoles sedikit, biar kelihatan seperti berdarah-darah, ganti dengan baju yang sudah dirobek-robek atau mungkin bisa juga, bajunya dikotori pakai tanah." Pak Besari menjawab pertanyaan Agus.
"Ya sudah, kalau gitu. Kalian boleh pulang, saya mau bertemu dengan Pak Saerozi dulu," imbuh Pak Besari.
Mereka berenam memakai jaket dan bersiap-siap untuk pulang, tetapi Pak Besari berjalan menuju ruang kepala sekolah untuk menemui Pak Saerozi. Pak Besari tiba di depan pintu, melihat beliau sudah membawa tas bersiap untuk pulang.
"Gimana, Pak?" suara dari Pak Saerozi.
"Ini hasilnya, Pak." Pak Besari menunjukan hasil diskusi bersama anak-anak.
Sambil sedikit menerangkan dan meminta untuk Pak Saerozi menelfon ke kantor PMI Kabupaten. Agar membawa perlengkapan komplit penanganan bencana, guna melakukan pengambilan gambar agar terlihat lebih nyata.
Kalau urusan dengan PMI Kabupaten sudah biasa. Karena, mereka setiap minggu juga memiliki utusan untuk memberikan materi kepada para anggota PMR di sekolah itu.
semua sudah siap dan PMI juga menyetujui usulan dari SMP Negeri Noveltoon.
Hari demi hari berganti, sekarang tiba saatnya untuk pengambilan gambar. Deutsches Rotes Kreuz atau Palang Merah Jerman datang dengan didampingi Palang Merah Indonesia. Memasuki ruangan yang telah disediakan, mereka juga mempersiapkan kamera yang akan digunakan untuk syuting. Berjalan menuju tempat-tempat yang menjadi posisi dalam pengambilan gambar, sambil menenteng kamera dan penyangganya.
Awal cerita, semua berjalan seperti jam pelajaran biasanya. Hingga alarm tanda bahaya berbunyi, semua langsung berhambura menyelamatkan diri. Menuju titik kumpul melewati jalur evakuasi, dan kamera-man menggoyang-goyangkan kamera agar seperti terjadi gempa sungguhan.
Korban berjatuhan sesuai dengan posisi yang telah disepakati. Setelah semua reda, para petugas penyelamat mulai berjalan menuju tempat bencana. Mengevakuasi korban dengan tandu menuju tenda bencana yang telah disediakan di lapangan sepak bola depan sekolahan.
__ADS_1
Kala itu acara berjalan sangat lancar dan sukses. Acara itu, sekaligus menjadi ajang untuk mempromosikan Palang Merah Remaja SMP Negeri 1 Noveltoon untuk menambah daftar dalam sejarah buku sekolah. Warga sekolah menjadi bangga, termasuk guru-guru yang mengajar.