Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu
Pra-SMP


__ADS_3

Pendaftaran peserta didik baru SMP sudah mulai dibuka, Abi dan teman-teman telah siap untuk berangkat menuju SMP yang lokasinya lumayan jauh. Mungkin, sekitar lima kilometer.


Abi dan beberapa teman yang sudah berkumpul menunggu di pos ronda, biar semua yang belum berangkat bisa bareng.


Ketika sudah berkumpul, tiba-tiba ada yang bertanya.


"Lhoo ini si Latif kemana? kok gak ada?" ternyata suara Diki.


"Iya nih, mana si Latif sampai lupa aku," timpal Abi.


"Katanya Latif pengen ke swasta aja," ujar Tresno.


"Nilainya kan bagus, knpa milih swasta?" Diki bertanya lagi.


"Itu bukan Dia yang milih, sebenarnya ada campur tangan orang tuanya juga. Latif disuruh bapak ibunya ke Pondok Pesantren saja gitu," jelas si Tresno.


"Oh, ya sudah. Kalau gitu kita berangkat sekarang aja." Diki sambil bergegas menuju sepedanya.


Sebenarnya cukup disayangkan juga kalau Latif terpisah dari rombongan. Tapi pondok pesantren juga bagus, karena bapak ibunya Latif lulusan pondok pesantren semua sih.


Saat itu Abi kembali bertemu dengan teman masa Taman Kanak-kanak dulu. Namanya Putra Pamungkas, biasa dipanggil Putra.


Mereka berdua terpisah karena, Putra lebih memilih melanjutkan pendidikan saat Sekolah Dasar ke desa sebelah. Sedangkan, Abi memilih melanjutkan ke SD yang ada di desanya sendiri.


Sekarang mereka berdua berharap bisa satu sekolah lagi. Kemudian, mereka berdua berangkat bareng. Teman SD-nya Abi dan Putra jadi satu rombongan, Terlihat sangat ramai sekali.


Mereka semua berangkat berangkat mengayuh sepeda, menyusuri jalan desa dan jalan raya. Perjalanan ditempuh dengan bersepeda santai sekitar dua puluh menit.


Sampai di sekolah yang akan mereka daftar, semua duduk santai di taman sekolah terlebih dahulu. Menghilangkan keringat sejenak sambil bercanda ria.


Keringat sudah mulai kering, mereka berjalan mencari-cari loket pendaftaran. Kemudian, mereka serahkan semua berkas-berkas syarat pendaftaran. Semua selesai menyerahkan, bergegas pulang ke rumah menunggu hasil pengumuman.


Putra mengajak Abi mampir kerumah teman SD-nya. Namanya Boban, ia kelahiran Natuna tetapi besar di pulau Jawa. Boban bisa dibilang orang yang cukup, rumahnya lumayan besar dan orang tuanya punya usaha rumah makan.


Abi dan Putra hampir seharian main playstasion di rumahnya Boban. Walaupun baru pertama kali bertemu dengan Abi, namun yang punya rumah orangnya juga asik-asik saja. Seperti orang yang sudah lama berkumpul.


Boban menyuguhkan hidangan yang sangat banyak untuk Abi dan Putra. hampir semua menu di rumah makan orang tuanya dihidangkan kepada dua temannya itu.


"Banyak banget, Ban?" Putra kaget.


"Ndakpapa, itu buat temen saat main playstation saja." Boban menyuguhkan cemilan.


"Apa habis kalau sebanyak ini?" tanya Putra.

__ADS_1


"Harus habis lah. Kalau ndak habis, boleh dibawa pulang, Tra." Boban meringis.


"Lahh, kita kesini cuman mau main. Bukan mau bawa oleh-oleh," kata Putra.


"Kalau mau, ya ndakpapa toh," jawab Boban.


"Ya deh, ini keripik daun bayam ya, Ban?" tanya Putra.


"Iya, itu keripik daun bayam. Enak banget, itu favorit banget kalau di rumah makan. Ngalahin kerupun," ujar Boban.


"Mau gak, Bi?" tanya Putra.


"Iya, Bi. Makan aja, jangan sungkan-sungkan." Boban berusaha mendekatkan keripik daun bayam itu kepada Abi.


"Iya makasih, Ban." Abi mengambil keripik daun bayam yang ada di dalam bungkus plastik.


"Kriuk ... kriukk," suara Putra mengunyah cemilan itu.


Tak disadari, ternyata hari sudah mulai sore. Abi dan Putra pamit kepada Boban dan kedua orang tuanya.


"Mau pulang ya?" tanya Ibunya Boban.


"Iya, Buk. Sudah sore soalnya," jawab Putra.


"Makasih banget, Buk." Putra dan Abi menerimanya dengan malu-malu.


Mereka berdua mengayuh sepeda sampai rumah, mengobrol sepanjang perjalanan dan berharap mereka berdua bisa diterima di sekolah tersebut.


###########


Daftar nama siswa yang diterima di SMP Negeri Noveltoon itu sudah ditempel di papan pengumuman.


Abi dan teman-teman berkumpul di tempat biasa untuk berangkat melihat hasil pengumuman. Kala itu, Putra memilih ikut rombongan dengan Abi dkk.


Semua berangkat bersepeda seperti biasanya. Sesampainya di tempat pengumuman, mereka menaruh sepeda di tempat parkir sekolah.


Kemudian berjalan menuju papan pengumuman. Mereka melihat banyak sekali orang yang menangis, ada yang berpelukan, ada juga yang hanya senyum-senyum tipis.


Di sekitar papan itu sudah banyak sekali orang-orang yang mengantri untuk melihat, Abi dan kawan-kawan mungkin sedikit agak terlambat datangnya.


"Duh, kita terlambat datengnya nih." Diki menoleh kearah Tresno.


"Ramai banget suasananya," ujar Tresno.

__ADS_1


"Ndakpapa lah, yang penting masih ada daftar namanya. Nanti kita lihat belakangan saja," kata Putra.


"Ya sudah, kita cari tempat berteduh dulu yuk. Nunggu situasi biar sedikit sepi dulu," ucap Abi.


"Kebawah pohon itu saja." Panji menunjuk pohon yang cukup rindang di samping mushola sekolah.


"Ya sudah, ke sana aja dulu." Putra mulai berbelok kearah pohon itu.


Mereka semua berjalan kearah pohon yang cukup rindang di taman sekolah dekat lapangan basket terbuka di samping mushola sekolahan.


"Aku malah deg-degan," kata Agus.


"Aku juga kalik," jawab Panji.


"Gak sabar pengen melihat diterima atau tidak," cetus Abi.


"Semoga hasilnya yang terbaik lah," kata Putra.


"Aamiin," jawab semua anak yang ada di situ.


Setelah beberapa lama antre, mereka mendekati papan itu saat suasana mulai sedikit sepi, Abi melihat namanya ada di papan tersebut. Girangnya luar biasa, mereka berkumpul duduk taman sambil menceritakan hasilnya.


"Alhamdulillah aku diterima," kata Abi.


"Alhamdulillah aku juga," jawab Putra.


"Duh, namaku kok ndak ada ya?" Diki sedih.


"Masa sih ndak ada?" tanya Tresno.


"Beneran, aku ndak ada," jawab Diki.


"Lhaa yang lain mana?" tanya Putra.


"Udah pada pulang, tadi ada yang pengen langsung kerja. Ada yang ikut sama aku ngelanjutin ke swasta aja," jelas Diki.


"Ya sudah, jangan sedih. Masih ada sekolah lain, walaupun swasta tidak masalah juga." Panji menepuk-nepuk pundak Diki.


Abi, Putra, Panji, Agus dan Tresno diterima di SMP Negeri Noveltoon. Tetapi sayang, untuk yang lain tidak diterima. Diki dan beberapa temannya ingin melanjutkan ke sekolah swasta yang ada di sebelah sekolah itu.


Namun, ada beberapa orang yang malah memilih ingin kerja saja. Ada yang pengen kerja jadi kuli bangunan atau kerja di tempat olah kerupuk mentah rumahan.


Mungkin, memang terdengar sedikit aneh bagi orang di kota apabila mendengar lulusan SD *sudah niat kerja. Tetapi, tak bisa dipungkiri itu menjadi sedikit hal yang sangat wajar bagi masyarakat di beberapa desa pelosok di Indonesia.

__ADS_1


Karena faktor ekonomi lah, pendorong terbesar mereka untuk memutuskan bekerja. Walaupun tidak banyak, tapi itu hal nyata yang terjadi di antara pelosok Nusantara. Mungkin sepuluh banding dua anak saja.


__ADS_2