
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Fa, di warungnya Pak Kumis berhenti sebentar ya.." ucap Ibu Suri, seberti biasa dengan sambil mencubit tentunya..
"Lha pulangn dari pasar kok masih belanja di warung tow buk, tadi kenapa enggak di lengkapi sekalian belanjanya.." jawab ku.
"Tadi lupa Fa, sekarang mumpung ingat.." kata Ibu Suri.
Ahirnya akupun menghentikan motor ku di depan warung Pak Kumis, sebenernya warungnya sih sederhana tapi entah kenapa jadi primadona banget buat Emak Emak. Yang sedikit aku tahu dari Ibu Suri saat menyuruh belanja adalah harganya lebih murah dari warung warung yang lain, itupun kalau bedanya ada seribu atau dua ribu, lima ratus perak saja sudah jadi tranding topik seantero kampung..🤭🤭🤭
"Ehh, Bu Jamilah, dari mana Buk..?" tanya salah satu tetangga yang penampilanya sudah seperti Toko Emas berjalan kepada Ibu Suri.
"Dari pasar Bu Gito.." jawab Ibu Suri ku.
"Oh iya, saya tadi juga ke pasar Buk, tapi ke pasar yang deket stasiun itu, pasar buah, sayur dan daging.." katanya, dan entah itu maksudnya buat apa, yang aku sedikit tau dari Silla, Bu Gito orangnya sedikit pameran dan tukang kepo urusan orang. Katanya Silla loh ya, maklum Silla kan sudah tergolong Emak Emak sekarang, karna sudah ngurusi harga bawang berapa perkilo..😅😅😅.
"Ohh, saya tadi kepasar induk Buk.." jawab Ibu Suri masih dengan senyum.
"Ehh Bu Jamilah tau tidak kalau harga bawang itu sekarang naik,.."
"Iya Buk, tadi saya juga beli cuma sedikit asal cukup buat satu minggu.."
"Enggak cuma itu Buk semua harga harga juga naik, bawang putih naik, beras naik, minyak naik, trigu juga naik,.." katanya dengan berapi api sembari mengibaskan tanganya agar terlihat seluruh gelang yang berada di pergelangan tanganya.
"Iya Buk, saya tahu.." jawab Ibu Suri pendek saja. Ini dia yang aku suka sama Ibu Suri ku, meski dia crewetnya minta ampun pada anak anak serta Suaminya, tapi urusan Ghibah dengan tetangga paling no coment dan akan hanya bicara seperlunya saja alias irit kata kata.
"Daging juga loh Buk, saya tadi beli daging sapi 1Kg, naik 5 ribu perkilo.." katanya lagi..
"Kok panas banget ya.." lanjutnya dengan menyibak kerudungnya ke samping dan nampaklah kalung sebesar jari kelingking mengantung di lehernya. Aku tertawa namun segera ku tahan dengan kedua tangan ku, melihat aksi Ibu satu ini sungguh rasanya seperti melihat acara komedi saja.
__ADS_1
"Ya.. Allah, tadi di pasar sampean tahu enggak saya ketemu sama siapa Buk Jamilah..??" katanya dengan menyuruh Ibu Suri bertanya. Tinggal bilang juga pakai acara suruh nanya..
"Memang ketemu siapa Buk.." jawab Ibu Suri. "Pak Trasinya 2 bungkus ya.." lanjut Ibu Suri ke Pak Kumis yang memang sudah mendapat gantian untuk belanja.
"Saya ketemu sama Istrinya Pak Lurah Buk, dan Masya'Allah cantik banget walau hanya pakai daster saja, tapi kerudungnya itu loh yang bikin saya salah fokus, D'Hijab keluaran terbaru.." katanya.
"Saya sudah selesai Buk, silahkan.." kata Ibu Suri. "Mari saya duluan Bu Gito.." lanjut Ibu Suri.
"Iya Bu Jamilah silahkan.." jawabnya dan seperti sedikit kecewa karena Ibu Suri sedikit tidak merespons dengan ceritanya.
Ibu Suripun segera naik ke motor dan menyuruh ku agar segera menjalankan motor ku, kelihatan sekali kalau dia tidak nyaman dengan apa yang baru saja terjadi, dan nanti ujung ujungnya pasti aku yang kena omelan ketika sudah sampai di Kerajaan.
Sebelum motor ku berjalan sempat aku dengar apa yang di beli oleh Bu Gito dan membuat aku berfikir.
"Emang bisa daging sapi di masak sama trasi, apa itu semacam masakan inovasi terbaru dari Bu Lurah yang di temui di pasar tadi pagi.." 😅😅😅😅.
Dan di sepanjang jalan kembali ke rumah aku terus tersenyum mengingat kejadian barusan di warung Pak Kumis, emang Emak Emak mah suka gitu, di tanya satu kata jawabnya 10 kata dan bisa juga tuh beranak pinak dari sepulh kata itu. Dan yang lucu lagi adalah tanpa di tanya dia minta di tanya, terus apa coba yang di dapat, apa enggaj capek, pikirku.
"Tidak ada Buk, kok disini panas ya.." ucapku sambil menirukan gaya dari Bu Gito tadi, dan sontak membuat Ibu Suri langsung tertawa.
"Kamu juga memperhatikan ya .?" tanya Ibu Suri dan baru kali ini ngomelnya di skip dengan tawa.
"Yang itu tadi, kepasar beli daging sapi sekilo tpai masih beli trasi di warung Pak Kumis, ha..ha. ha.." tawaku juga tawa Ibu Suri pecah seketika dan itu terjadi cukup lama sampai Ibu Suri meneteskan air mata karna ini, dan aku sudah lama sekali tidak melihat Ibu Suriku tertawa selepas ini, semenjak kejadian malam itu.
"Tapi mungkin ada inovasi masakan baru dari Bu Lurah kali Bu'e, Rendang sapi rasa trasi.." ucpaku dan itu membuat Ibu Suri makin tertawa pecah saja.
"Sudah, sudah Fa, perut Bu'e sakit tertawa melulu.." kata Ibu Suri saat tawa kami sudah sedikit mereda. "Kamu mau dimasakin apa biat makan siang..?" tanya Ibu Suri kepadaku.
"Enggak usah Bu'e, hari ini Syiffa ada rapat.." jawabku sambil menata belanjaan di dalam Lemari Es.
"Makan sendiri lagi, katanya libur kok ya masih saja banyak kegiaatan di luar,.." ucap Ibu Suri dengan nada sedikit sedih.
__ADS_1
"Tadi bilangnya waktu di pasar biarin aja Syiffa ilang,.." ledek ku ke Ibu Suri.
"Bu'e cuma mau makan bareng saja kok, enggak ada maksud lain, masalh kamu mau ilang ya ilang saja sana.." katanya.
"Ihh, ngambek, habis ketawa kok mau mewek.."
"Syiffaaa..." keluar sudah karakter asli Ibu Suri.
"Apa Bu'e yang cantik,.."
"Bisa enggak berangkatnya habis makan saja, Bu'e kesepian sendirian melulu, padahal Bu'e juga sebenernya juag sayang sama kamu.." katanya kembali pelan, ku hela nafas dalam dalam kemudian aku berjalan ke arah Ibu Suri lalu berjongkok di depanya.
"Bu'e kan tau kalau Syiffa punya kwajiban dan itu adalah amanah yang harus Syiffa kerjakan, dan bagi Syiffa itu adalah tanggung jawab yang harus Syiffa emban untuk kemanusiaan bukan sekedar gaji saja.." kataku dengan mengenggam erat tangan Ibu Suri ku.
"Bukan karena ingin menyibukan diri kan..?" kata Ibu Suri dengan menatapku tajam, ku hela nafas dalam dan aku tau persis seberapa crewetnya Ibu Suri kepadaku tapi nyatanya dialah yang paling memahami aku.
Ya pada awalnya semua kesibukan yang aku jalani untuk mengalihkan segala yang terjadi di lima tahun silam, namun seiring berjalanya waktu aku memang benar benar jatuh cinta dengan semuanya ini dan sedikit melupakan kegagalan yang aku alami.
"Ahh, ujung ujungnya Syiffa akan di duakan dengan sinetron kalau di rumah mulu.." jawab ku mengalihkan pembahasan yang sensitif mengenai kehidupan ku., "Kumanangis.. membayangakan.." nyanyiku sambil mencium Ibu Suri lalu segera berlari dari dapur sebelum ada sesuatu yang melayang mengenai tubuhku.😅😅😅
"Syiffaaaa..." triak Ibu Suri.. "Brukkk" seikat terong melanyang mengenai pintu dapur..
Bersambung...
malang bener nasibmu terong,..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: **Ariz kopi
__ADS_1
@maydina862**