Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 40


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Aku terus saja berguling guling di atas tempat tidurku sembari memeluk guling, dan terus merutuki moodku yang begitu saja berubah saat tadi berpapasan dengan Pak Panji ketika hendak keluar dari Caffe miliknya.


Aku dapat melihat juga raut keterkejutannya sat melihatku sedang bersama Mas Alfi, meski dia hanya diam tanpa menyapaku. Dan tentu saja aku juga enggan untuk menyapanya, apa untungnya juga buat ku harus menyapanya duluan.


Tapi, inilah yang terjadi setelahnya aku terus saja terjaga hingga jam yang berada di atas nakasku menunjukan pukul 02.00 dini. Sudah berpuluh puluh kali aku terus berusaha untuk mengajak mataku tertutup, namun begitu aku menutup mataku kembali bayangan wajah Pak Panji dan Mas Alfi memenuhi pelupuk mataku.


Rasa bersalahku terhadap Mas Alfi tidak dapat ku pungkiri, saat wajah tenangnya menatap kami berdua secara bergantian dan pasti akan tampak jelas di mata Mas Alfi jika wajah kami berdua saling menegang. Sebenarnya rasa seperti apa ini.?. Sehingga membuatku harus merasa mencurangi Mas Alfi, padahal antara aku dan Pak Panji tidak pernah terjadi apa apa, ataupun ada ikatan apa apa selain dari


"Ahhhh.." Erangku dengan mengacak rambutku kesal lantas segera duduk di tempat tidurku dengan menatap kosong ke arah korden dan muka kusut serta rambut yang cukup awut awutan. "Kalian berdua enyahlah, enggak capek apa wira wiri di pikiranku. Aku saja capek juga ngantuk. Hussttt, sana cepet minggat." Rutuk ku setelah cukup lama terduduk, lantas sejurus kemudian segera kembali merebahkan tubuhku dengan menyelimuti seluruh tubuhku hingga sampai kepalaku juga.


"Sudah tidak ada celah, jadi enggak usah ngarep bisa seenaknya masuk ke pikiranku." Ucapku lagi. Semenit dua menit semua masih berjalan sesuai keinginanku, namun begitu masuk hitungan menit ke sepuluh dan mataku sudah hampir terpejam, kembali senyum kedua Laki-Laki dewasa itu masuk dalam hirungan domba yang tengah aku kandangkan, dan membuayarkan konsentrasiku untuk tidur.


"Gini amat, yah." Gumamku. Aku kembali membalik bantalku dan memghintung Domba, hingga Domba Domba semua masuk kandang lantas kembali aku menghitunganya, begitu seterusnya. Rasanya baru saja aku terlelap menikmati mimpi di sebuah hamparan savana yang luas dengan Domba Domba yang berlarian kesana kemari, namun sebauh suara sudah memanggil manggil namaku sembari mengoyang tubuhku dengan keras.


"Seribu dua puluh tujuh." Ucapku dengan sedikit berteriak dan bergegas duduk dengan linglung.


"Apa sih, Fa. Bangun tidur bukannya baca do'a, malah nyebutin angka tidak jelas." Kata Ibu Suri. "Matahari sudah mau terbit buruan bangun, tumben bener Bu'e sudah pulang dari Masjid dari tadi kamu belum bangun." Lanjut Ibu Suri.


"Hemm,." Jawabku sembari membaringkan tubuhku kembali, namun tidak berlangsung lama karena suara Tenor Ibu Suri yang melebihi suara dari Bang Judika langsung melengking menusuk nusuk gendang telingaku.


"Buruan bangun, Fa. Apa mau sekalian Subuh sama Duha.!. Heran deh, sudah prawan tua bangun saja masih mesti di bangunin." Cecae Ibu Suri.


Dengan langkah terseok seok aku terus di dorong masuk ke kamar mandi oleh Ibu Suri. Tapi, jangan sangka jika cuma dorong dorong doang, sudah pasti di sertai dengan lagu wajib kebangsaan dengan tempo sekencang kencangnya dan nada sedapat dapatnya. Andai saja Kucing Empi yang lagi hamil sama Kucing Bu Gito tidak lagi ngungsi di rumah cem cemannya, sudah pasti akan langsung keguguran karena mendengar nyayian Ibu Suri.


Setelah drama di kamar mandi sembari di tabuh Hadrah oleh Ibu Suri. Akupun hendak kembali keperaduan untuk melanjutkan menghitung Domba kembali. Tapi, semua hanya tinggal wacana saja, karena begitu sampai di kamarku Ibu Suri sudah siap sedia dengan data data resetnya untuk mewawancaraiku, mengenai hasil kencan semalam bersama calon mantu idaman.


Kecurigaanku tidak mungkin salah, karena dari senyum tipis di bibir Ibu Suri sudah dapat aku pastikan bahwa tidak ada celah bagiku untuk membuat alasan untuk kabur.

__ADS_1


"Jadi, gimana semalam, dapat cincinnya.?" Nah kan, belum juga aku sampai di tempat tidurku, pertanyaan pertama sudah keluar dari Notula.


"Sudah." Jawabku singkat sembari membaringkan tubuhku di tempat tidur.


"Bagus tidak, Fa." Lanjut Ibu Suri.


"Bagus."


"Sudah pasti baguslah, kan yang pilih calon mantu Bu'e." Kata Ibu Suri.


"Iyain ajalah biar cepet." Gumamku dengan sudah menarik selimutku. "Bu'e." Teriakku begitu ku rasa selimut yang sedang ku gunakan di tarik oleh Ibu Suri.


"Kamu berencana untuk tidur. Tidur habis subuh itu tidak bagus, membuat fakir." Ucap Ibu Suri.


"Ahh, Syiffa ngantuk Bu'e." Rengekku persis seperti anak kecil dengan menarik selimutmu kembali.


"Memang kamu semalam tidur jam berapa?, jam segini masih ngantuk.?" Tanya Ibu Suri.


"Masya'Allah, Fa. Kamu pulang jam berapa semalam, apa jangan jangan habis nyari cincin kamu jalan dulu ke suatu tempat dulu dan ngelakuin hal hal aneh sama Nak Alfi." Kata Ibu Suri sudah kembali dengan nyanyian kebangsaannya.


"Ahhh, Bu'e drama banget sih. Emang Syiffa ini anak siapa sih, kan Syiffa anak Bu Jamilah, sudah pasti menjunjung tinggi moral dan tata kramalah." Jawabku dengan sudah kembali terlentang dan menatap Ibu Suri lekat lekat.


"Drama drama, Bu'e itu kwatir. Lagian apa saja yang di obrolkan sampai jam 2."


"Haduewww." Kataku sambil duduk dan menepuk kepalaku pelan, tak habis fikir dengan pertanyaan Ibu Suri yang sepertinya sudah kerasukan drama tidak mendidik. "Siapa yang bilang kalau Syiffa ngobrol sampai pagi Bu'e. Syiffa nyampai rumah aja masih jam 22.45. Dan Pa'e yang buakin pintu buat Syiffa, Mas Alfi juga langsung pulang setelah ngantar Syiffa." Jelasku.


"Terus..?"


"Itu karena Syiffa lagi kepikiran sama sesuatu, jadinya enggak bisa tidur."


"Kepikiran apa.?"

__ADS_1


Ku hela nafasku dalam dalam, kemudian kembali menata bantalku lantas membaringkan tubuhku. "Kepikiran nanti mesti pakai baju apa lagi pas jalan sama Mas Alfi, kan boros detergent kalau harus gonta ganti baju terus, mana capek juga cuci bajunya." Ujarku membuat alasan. "Auw. Sakit Bu'e." Pekik ku.


"Gitu aja sampai enggak bisa tidur, dasar prawan malesan. Belum nikah punya anak Bayi, bersihin rumah, udah ngeluh capek nyuci baju." Cecar Ibu Suri. "Dulu waktu kalian masih kecil, Bu'e ngelakuin semua sendiri, apa lagi kamu yang nakalnya minta ampun." Lanjut Ibu Suri.


"Hemmm, pantesan Bu'e sayang banget sama Syiffa, ternyata Syiffa lumayan spesial buat keluarga ini." Kataku asal dan itu berhasil membuat wajah Ibu Suri berubah sebal lantas dengan cepat sudah banyak kata kata yang keluar begitu saja menceritakan masa kecilku, sehingga itu tak ubahnya dongeng pengantar tidur untuk ku.


"Bu'e Syiffa benar benar sudah mengantuk, biarkan Syiffa tidur dulu. Nanti bangunkan Syiffa jam 08.00, karena Jam 09.00 Syiffa mau jalan sama Mas Alfi ke rumah orang tua Mas Alfi." Ucapku sambil menguap tipis.


"Apa, kamu mau di ajak ke rumah calon mertuamu dan kamu mau santai tidur." Kata Ibu Suri dengan wajah syok.


"Kan ada Bu'e, pasti Bu'e akan mempersiapkan segalanya. Dan Syiffa hanya perlu mempersiapkan penampilan Syiffa." Jawabku.


"Syiffaaaaa..." Triak Ibu Suri, namun sambil bangun dari tempat tidurku dan berajalan keluar dari kamarku dengan membanting pintu kamarku. Dan dapat ku pastikan apa yang akan terajadi di dapur begitu aku bangun nanti.


"Biar bagaimanapun Ibu Suri dapat di andalkan, dan masakannya selalu nomber wahid. Beruntungnya aku memiliki orang tua seperti mereka berdua. Sehat selalu enggeh kedua orang tuaku, sampai nanti Syiffa bisa membalas semua jasa jasa kalian." Gumamku sembari menarik selimutku dan mencari posisi ternyaman sembari masih terus tersenyum simpul hingga semuanya benar benar meringan seperti sebuah senyuman tanpa beban.


Bersambung...


####


Cie Cie yang mau ketemu sama Camer, baik baik ya Bu Fafa, semoga sukses dan enggak ketumu Pak Panji juga di kota D tempat orang tua Mas Alfi tinggal. Kalau sampai itu terjadi Fix dah, pasti dirimu.....


🤭🤭🤭🤭🤭


Like, Coment dan Votenya masih di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2