
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku terus memacu langkahku menuju parkiran dengan hati yang berdongkol ria, andai saja bisa terlihat pasti saat ini akan tampak benjolan benjolan sana sini di sudut hatiku. Dan dongkol itu makin bertambah saja lantaran aku yang terus mengerutu tanpa hendi.
"Kenapa dunia ini serasa begitu sempit saja, perasaan dulu ini caffe bukan punya dia." Omelku sembari memakai helmku.
"Apa kamu akan puas dengan memakiku di belakang seperti sekarang ini" Suara berat Pak Panji yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.
Dengan segera aku membalikan tubuhku dan mendapati Pak Panji telah berdiri di belakang motorku dengan tangan bersendekap di dada, dan raut yang tidak bisa untuk ku baca.
"Minggirlah Pak Panji." Ucap ku datar sembari membalikan kembali tubuhku.
"Daripada memaki tak jelas, aku sekarang ada disini, maki sepuasmu." Ujarnya juga tak kalah datar dariku.
Aku kembali menghadapnya dengan senyum sumbang di sudut bibirku. "Untuk apa.?" Ejek ku. Entah itu ejekan untuk siapa karena orang yang sedang berdiri di depanku masih berdiri dengan sikap santai namun terkesan angkuh dan datar sedatar tv layar datar, lantas mengharap aku menyemprotkan unek unek ku terhadapnya.
"Setidaknya aku cukup tahu sedikit tentang karaktermu yang akan suka spontan dalam menyikapi permasalahan di depanmu." Aku makin mencebik tidak percaya mendengar ucapan yang meluncur dari bibir tebal Pak Panji, seolah olah dia sudah sangat tahu dengan sifat dan sikapku tanpa memikirkan bahwa kemarin dia telah mencincang habis kepercayaan yang sudah aku bangun untuknya.
"Oh iya, memang saya seperti itu.?" Tanyaku padanya dengan menatapnya tajam.
Pak Panji balik memandangku lekat, lantas mengangkat sebelah alisnya, seolah tidak mempercayai aku yang bersikap tanang dan juga seperti mengharapkan aku bereaksi lain terhadapnya.
"Aku memberimu kesempatan untuk menjelaskan semuanya, Fa." Ucap Pak Panji setelah jeda lumayan lama di antara kami berdua.
Kembali ku sungingkan senyum mengejek kearahnya. "Untuk apa.?" Jedaku untuk mengontrol emosiku agar tidak terpancing, dan mengeluarkan sisi lemahku yang seolah mencari pembenaran terhadap diriku sendiri. "Bukankah bukti bukti itu semua sudah cukup bagi anda, Pak Panji. Jadi, saya rasa tidak ada gunanya buat saya berbicara, itu akan membuang waktu anda juga sekaligus membuang energi saya saja. Karena pada ahirnya semua juga merujuk pada bukti yang anda pegang." Ucapku dan tampak sekali wajah kaget Pak Panji.
"Saya bukan orang yang suka berdebat untuk keuntungan pribadi saya, karena saya bukan seorang pembisnis seperti anda." Ucapku lagi masih dengan mempertahankan keberanian ku menyindirnya secara halus.
"Apa yang ingin kamu katakan, Fa. Jangan berbelit belit." Ucap Pak Panji.
"Yang ingin saya katakan sudah saya katakan, jadi anda minggirlah karena sudah menghalangi jalan saya." Tukasku.
__ADS_1
"Aku belum selesai, Fa." Jawab Pak Panji dengan tetap bertahan di tempatnya tanpa memberikan kesempatan kepadaku untuk memundurkan motorku.
"Anda kan orang berduit, Pak Panji. Saya rasa mencari informasi tentang apa yang anda ingin ketahui tidak akan sulit. Apa lagi tentang wanita sexy yang sering terlibat dengan anda, kenapa bisa meninggalkan Gudang itu, saat sedang Gudang mulai terbakar dan meninggalkan Uul disana. Bukankah itu sangat aneh.?" Cecarku dengan mimik ku yang masih sama, yakni mengejek.
"Siapa, siapa yang kamu maksud." Ujar Pak Panji dengan sudah meraih tanganku.
"Lepaskan Pak Panji."
"Katakan siapa yang kamu maksud dengan wanita sexy." Kejar Pak Panji tanpa mau melepaskan tanganku dari gengamannya.
"Saya bilang lepasakan saya." Pekik ku dengan menarik tanganku kasar. "Mana saya tahu siapa dia, bukannya lebih baik Pak Panji selediki sendiri karena anda yang punya uang." Lanjutku dengan nada yang naik satu oktaf.
Hening, kami sama sama diam. Dan Pak Panji hanya terus menatapku begitupun denganku yang tak kuasa meninggalkan mata tajam milik Pak Panji yang seolah terdapat magnet dan menarik ku untuk tetap tinggal disana, hingga dering dari ponselku lah yang membuyarkan segalanya.
Tercetak jelas nama Mas Alfi di layar pinselku yang terus berkedip kedip, namun sama sekali aku tidak ingin menjawabnya. Setidaknya tidak saat ini, ketika aku sedang dalam emosi yang tidak setabil dan memilih memundurkan motorku yang sudah tak terhalang oleh tubuh Pak Panji.
"Saya rasa kita tidak sedekat itu, untuk tau satu sama lain." Ucapku pelan sebelum aku menjalankan motorku dan meninggalkan Pak Panji dalam kebekuan.
"Mungkinkah aku.." Kataku dengan memukul stang motorku hingga gerakanku tidak setabil dan hampir saja terjatuh dari motor. " Aku benci menjadi seperti ini." Gumamku lantas memfokuskan diriku ke jalan raya yang mulai ramai oleh kendaraan.
Tepat setelah adzan zuhur aku sampai di rumah, dan seperti biasa akan di sambut oleh Empi dan Ibu Suri yang sedang drama menye menye. Apa lagi kalau bukan rebutan TV.
Aku duduk di sofa samping Ibu Suri sambil melepas kaos kamiku dan mulai menciumi pipi Ibu Suri sembari memeluknya erat, sampai sampai Ibu Suri menabok ku karena sulit untuk bernafas.
"Kamu kesambet syetan di jalan, Fa." Ucap Ibu Suri.
"Iya Bu'e. Sytannya ngeselin dan pengen nampol aja tuh mulutnya." Jawab ku dengan asal dan membuat Ibu Suri geleng geleng kepala.
"Tadi Nak Alfi telfon, Bu'e. Katanya kamu tidak angkat panggilannya. Apa benar.?" Tanya Ibu Suri.
"Iya, soalnya lagi di jalan."Jawabku lantas kembali menciumi Ibu Suriku.
"Nanti sore sepulang kerja katanya mau mampir, ada yang perlu di bicarkan soal pertunangan minggu depan." Aku menghela nafasku dalam dalam, mencoba memahami dengan yang di rasakan juga di inginkan oleh hatiku. "Kenapa diam saja." Lanjut Ibu Suri membuyarkan segalanya.
__ADS_1
"Tidak ada apa apa, Bu'e. Syiffa hanya capek, mau tidur dulu habis ini biar nanti ketemu sama Mas Alfi muka Syiffa fress kayak buah yang baru di petik dari kebun." Jawabku asal lantas bergegas berdiri dari tempatku duduk hendak menuju ke kamarku.
"Fa, Bu'e rasa kamu tidak sedang baik-baik saja." Ucap Ibu Suri tanpa menolehku sama sekali dan malah fokus ke TV yang menayangkabmn berita tentang penculikan anak dari Pengusaha muda yang sukses yakni Panji Haikal.
"Bu'e sejak kapan sih suka lihat berita kayak gini." Ucapku sembari memindah chanel TV.
"Kenapa di pindah sih, Fa. Bu'e cuma mua lihat apa sudah ketemu siapa yang nyulik anak Pak Panji dan tega melakukan hal sekeji itu kepada anak yang untuk berjalan saja susah." Ucap Ibu Suri, dan membuatku menghela nafasku dalam dan lebih dalam lagi dari sebulmnya.
"Syiffa sudah tahu siapa, na.."
"Siapa orangnya, Fa." Ucap Ibu Suri dengan memandangku penuh minat. Namun aku segra mengerling dengan manja menggoda Ibu Suri.
"Nanti saja, kalau Pa'e sudah datang." Jawabku dengan segera berlari ke kamarku agar tidak perlu mendengar rayuan dari Ibu Suri.
"Nanti akan ku ceritakan semuanya, termasuk fitnah yang di layangkan kepadaku." Gumamku pelan.
Melihat berita yang muncul di TV barusan membuatku sadar, bahwa aku harus sesegera mungkin jujur kepada orang tuaku agar mereka tidak tahu dari orang lain. Dan yang membuatku sedikit bersyukur adalah Bu Gito tidak mengikuti berita di TV jadinya akan sedikit aman tanpa harus banyak alasan untuk menghindari nyinyiran darinya.
Bersambung...
####
Kok masih ruwet...
Like, Coment dan votenya di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1