
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku terus menerus menghubungi nomer Pak Panji, sembari terus mondar mandir di depan ruang tindakan. Aku tau, nomer Pak Panji sedang tidak aktif namun aku tidak punya pilihan lagi untuk menghubunginya, karena selain dari nomer Pak Panji, aku tidak memiliki nomer lain yang bisa untuk di hubungi.
Ahirnya setelah begitu lelahnya, aku duduk di lantai dengan masih berpempilan persis seperti gembel, sambil terus apa yang harus aku lakukan. Aku hendak menelefon ke Sekolahan untuk meminya data Uul jelas, saat ini di Sekolahan tidak ada orang, dan untuk sampai di sana jelas memakan waktu banyak.
Tiba-tiba saat aku tengah berada dalam kebingungan ini, nama Mas Alfi melintas di benakku dan tanpa pikir panjang akupun segera mendial nomernya. Sembari berharap bahwa Mas Alfi bisa membantu ku untuk memberi tahu Pak Panji, atau setidaknya bisa menyampaikan kepada orang kepercayaan Pak Panji.
"Assalamu'alaikum, Fa." Jawab Mas Alfi dari sebrang sana, ketika panggilan yang aku buat baru berdering satu kali saja.
"Wa'alaikumussalam, Mas. Mas Alfi sekarang ada di mana.?" Tanya ku dengan nada cepat-cepat seperti sedang di kejar kejar oleh Anjing galak.
"Ada di kantor, Fa. Ada apa kok.?, apa yang sedang terjadi.?" Jawab Mas Alfi dengan cepat pula, seolah tahu kepanikanku.
"Mas apa Pak Panji ada di tempat.?"
"Pak Panji sebentar tak tanyakan dulu sama sekertarisnya, jangan di tutup dulu." Ujar Mas Alfi. "Apa terjadi sesuatu dengan Uul.?" Lanjut Mas Alfi, seperti tau alasanku mencari Pak Panji.
"Iya Mas, dan aku takut sekali." Jawabku, sudah tidak bisa berbohong, karena dari tadi aku belum berani memberi tahu siapapun termasuk keluargaku di rumah yang terus menelefon untuk menanyakan keberadaan ku, terutama Ibu Suri, yang sudah menunggu hadiah untuk Cucu barunya.
"Kamu tenang, jangan panik." Ujar Mas Alfi. "Bu Dwi, apa Pak Panji ada di tempatnya." Suara Mas Alfi yang ikut terdengar olehku saat menayai Sekertaris Pak Panji.
Sayup sayup, aku dengar jawaban dari Sekertaris itu, bahwa Pak Panji sedang tidak ada di tempat, tapi tidak jelas sedang pergi kemana.
"Boleh saya minta nomer yang bisa untuk di hubungi.?" Kata Mas Alfi lagi, namun lagi lagi jawaban dari Sekertaris itu membuat aku kembali tidak tenang.
"Baiklah, gini saja. Tolong kabari keluarga Pak Panji mengenai keadaan Putri Pak Panji." Kata Mas Alfi, kemudian segera berbicara denganku.
"Fa, posisi kamu sekarang dimana.?" Tanya Mas Alfi kepadaku.
"Rumah Sakit Harapan Indah." Jawabku dengan cepat.
"Bu Dwi, tolong segera kabari keluarga Pak Panji untuk menuju ke Rumah Sakit Harapan Indah." Kata yang terdengar olehku. "Terima Kasih Bu Dwi." Lanjut Mas Alfi.
"Terima kasih Mas Alfi." Ucapku.
"Kamu dengan siapa Fa, di Rumah Sakit.?" Tanya Mas Alfi kepadaku.
"Sendiri, Mas."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera kesana, apa kamu sudah makan siang.?" Kata Mas Alfi. Boro boro mikirin makan, bahkan panas dari tanganku juga kakiku yang sempat terjilat api saja tidak ku hiaraukan, apa lagi mikirin perut yang sedari tadi keroncongan.
"Belum, Mas." Jawabku pelan.
"Baiklah aku akan kesana sekarang." Ta das Mas Alfi.
"Tapi Mas, sampean masih jam kerja."
"Tidak apa-apa, pekerjaanku sudah selesai." Ujar Mas Alfi.
"Baiklah, sekalian Syiffa minta tolong, belikan kerudung murah-murah buat Syiffa, nanti uangnya aku ganti." Ucapku pelan.
"Iya, itu saja.?" Jawab Mas Afi
"Iya Mas, Terima kasih sebelumnya. Assalamu'alaikum." Ucapku. Dan setelah mendengar jawaban dari Mas Alfi akupun memutuskan panggilanku pas berbarengan dengan Dokter yang melakukan tindakan untuk Uul memanggilku.
Akupun terus mengikuti langkah lebar Dokter tersebut hingga sampai di dekat bangsal Uul yang tengah terbaring lemah tak berdaya. Dan dengan seksama akupun mendengarkan penjelasan Dokter mengenai luka yang yang hampir merata di tubuh Uul. Dan dapat ku lihat memang saat ini hampir seluruh kulit Uul tengah putih seperti matang, ada yang melepuh, ada yang sangat merah, dan yang membuatku tak berani memandangnya saat kulitnya ada yang terkelupas.
Ahh, perih sekali melihat pemandangan ini, hingga tanpa sadar mataku sudah basah oleh air mata. Dan tak banyak yang bisa aku dengarkan dari kata-kata Dokter tersebut, lantaran pikiranku di penuhi oleh keadaan Uul, atau bagaimana yang akan di rasakan Uul setelah sadar nanti.
Cukup lama aku masih menangis sesenggukan sembari duduk di samping bangsal Uul dan tanganku masih senantiasa mengenggam erat tangannya, hingga seorang Perawat menepuk bahuku pelan sembari mengatakan bahwa Uul akan segera di pindahkan ke ruang perawatan.
"Bu, silahkan tanda tangan." Ucap Perawat tersebut, dan tanpa memerdulikan atau terlebih membacanya akupun langsung saja menanda tangani kertas yang di sodorkan oleh Perawat tersebut, lantas Perawat tersebut menarik bangsal Uul dan mendorongnya untuk menuju ke ruang Perawatan
"Luluk." Ucapnya pelan, dan mamandangku dengan tatapan menyelidik, lantas segera berkata kepada Perawat yang sedang mendorong bangsal tersebut untuk memindahkan ke ruang VVIP.
"Maaf, apa anda perawat Luluk yang baru.?" Ucap Dokter dengan Tag nama dr.Rama tersebut.
"Oh, tidak Dokter. Saya guru pembimbing Uul di Sekolah tempatnya belajar." Jawabku. "Maaf, apa anda menganal keluarga dari Uul, karena sedari tadi saya tidak tahu hendak mengabari siapa." Tuturku kepada Dokter yang juga terus mengikuti kemana bangsal Uul di dorong.
"Jadi, keluarganya belum ada yang tahu soal ini." Ucapnya.
"Entahlah, mungkin belum. Saya tidak memiliki nomer lain dari Ayah Uul, untuk saya hubungi." Jawabku.
"Baiklah, itu nanti akan saya urus, yang terpenting sekarang adalah memastikan perawatan untuk Luluk. Ini sepertinya luka bakar, apa yang terjadi di Sekolahan hingga mendapat luka seperti ini." Ucap dr.Rama.
Salivaku langsung terasa pahit saat mendengar ucapan dr.Rama, dan membayangkan kemungkinan yang di pikirkan oleh Pak Panji saat melihat keadaan Uul, dan mungkin akan berfikir sama dengan dr.Rama, yang mengira ada kelalaian di Sekolahan hingga mengakibatkan hal buruk terjadi pada salah satu muridnya. Dan mungkin juga akan menyalahkan aku, karena tadi pagi Pak Panji telah memasrahkan Uul padaku.
Aku tersentak dari lamunanku oleh suara Ponsel dari tasku yang berdering, saat bangsal yang di dorong oleh Perawat mamasuki ruang VVIP. Ku lihat nama Mas Alfi yang berada di sana, dan dengan cepat segera ku angkat dan mengatakan pada Mas Alfi keberadaanku, sebelum Mas Alfi bertanya padaku. Dan tanpa menjawab ucapan Mas Alfi akupun langsung mengahiri panggilanku dan memasukan kembali ponselku dalam tas.
"Pastikan semua yang terbaik untuk pasien ini, Sus.!" Seru dr.Rama lantas segera pergi dari ruangan itu dengan tergesa, mungkin saja hendak menghubungi keluarga dari Pak Panji.
__ADS_1
"Sabar ya, Bu. Nanti kalua Adiknya sudah sadar dan merintih kepanasan segera panggil kami." Ucap perawat itu, lantas juga ikut keluar dari ruangan saat melihat aku mengangguk tanda mengerti.
Tidak lama setelah Suster keluar dari Kamar rawat inap, ponselku kembali berdering dan kembali nama Mas Alfi yang tertera disana. Dan dengan cepat aku segera mengangkatnya tanpa mengalihkan pandanganku dari wajah Uul yang seperti ketakutan dalam lelapnya.
"Ceklek." Suara pintu yang terbuka, dan tak lama suara lembut Mas Alfi sudah memenuhi indra pendengaranku.
"Apa yang terjadi, Fa." Ucap Mas Alfi. "Apa anak anak yang lain semuanya baik baik saja." Lanjut Mas Alfi.
Ku palingkan pandanganku dari Uul ke Mas Alfi, dan saat melihat kedua pipiku yang memerah, mata Mas Alfi langsung membelalak. Dan Mas Alfi terlihat semakin tidak tenang saat melihat air mata merabak kembali di mataku.
"Ayo, duduk disana." Ucap Mas Alfi lagi, dengan mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Ku sambut uluran tangannya dan mengikuti langkah Mas Alfi yang membawaku sampai di Sofa tidak jauh dari Bangsal Uul. "Ceritakan." Ujar Mas Alfi pelan.
Dengan suara lirih, sekaligus dengan nada terbata-terbata akupun menceritakan kejadian tadi siang dengan sedetail-detailnya. Dan aku tangan juga kakiku kembali bergetar saat mengingat kembali baju Uul yang sudah di terbakar dan Api menjilati kulitnya.
Belaian hangat tangan Mas Alfi di punggungku sedikit menenangkan ku. Meski sejujurnya aku butuh hal lain dari sekedar belaian tangan, aku butuh sandaran. Dan Mas Alfi tidak akan mungkin melakukan itu, karena Mas Alfi bukan tipe yang suka asal pegang saja. Untuk menyentuh punggungku saja jelas itu sudah begitu banyak pertimbangan yang banyak.
"Kamu sudah melakukan hal yang benar, Fa." Ucapnya pelan.
"Tapi, Uul berada dalam tanggung jawab Syiffa, Mas." Jawabku, dengan mengangkat kepalaku untuk menatap Mas Alfi, yang tadi sempat tertunduk karena menangis.
"Kamu sudah menunaikan tanggung jawabmu. Dan mengenai perawat yang menjemput, dan motif dari orang yang kamu lihat itu, jelas kamu tidak tahu menahu soal itu. Dan kamu tidak perlu merasa bersalah, karena kamu juga Uul selamat saat ini." Ucap Mas Alfi, dan senyum hangat dari Mas Alfi langsung memberiku ketenangan tanpa harus memberiku pelukan.
"Bersihkan dirimu," Ucap Mas Alfi lagi sembari memberiku sebuah plastik yang lumayan besar dan aku kira itu bukan sekedar kerudung saja, dan setelah ku lihat isinya ternyata itu terdapat Dasternya juga. "Karena aku pikir itu akan cocok dengan semua ukuran." Lanjut Mas Alfi dengan masih senantiasa tersenyum tipis hingga aku menghilang di balik pintu kamar mandi.
Bersambung...
####
Loh, Loh, Loh. Kok juga ada dr.Rama Mak..?
🤭🤭🤭🤭🤭
Maaf, Emak suka yang sambung menyambung jadi satu..
Like, Coment dan Votenya masih stay di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi.
__ADS_1
@Maydina862