Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 45


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kebaya modernt berwana Navy dan bersetalan dengan bawahan batik dasaran biru dengan tenun Burung Cinrawasih warna putih membalut tubuhku, dan jilbab warna senada juga sudah berputar putar di leherku. Duduk dengan tenang di hadapan cermin meja riasku. Aku terus saja berfikir jauh melanglang buana.


Anaehnya, pikiran ini tidak sedikitpun menyentuh tentang persiapan yang sedari kemarin sore sudah merepotkan keluargaku. Justru pikiraku terbang, tentang kejadian semalam ketika tiba tiba ponselku mendapat panggilan dari nomer yang tidak di kenal dan memutuskan sepihak dengan entengnya, tanpa mau mendengar penjelasanku.


Pak Panji. Ya, Pak Panjilah yang semalam menelfon ku. Memintaku untuk datang ke Rumah Sakit, lantaran Uul yang terus saja menanyakan aku. Saat aku hendak menjelaskan bahwa hari ini ada acara di Rumah ku, Pak Panji justru langsung memutuskan bahwa Pak Panji sendiri yang akan menjemputku hari ini untuk di ajak ke Rumah Sakit.


"Fa, sudah siap. Keluarga Nak Ariz sudah hampir sampai." Kata Ibu Suri membuyarkan seluruh lamunanku, dan dengan tergagap aku menjawab Ibu Suri, bahwa aku sudah siap sedari tadi. "Kamu kelihatan cantik, Fa. Bu'e, berdo'a semoga tidak ada halangan apa apa sampai ke pernikahan nanti." Lanjut Ibu Suri dengan mengelus bahu pelan.


Dari cermin di depanku, jelas terlihat mata Ibu Suri yang berkaca kaca. "Eits, Nangis. Kayak Empi saja, suka drama." Selorohku, untuk mengalihkan suasana yang seperti akan berubah haru jika aku tidak segera bertindak.


"Dasar anak nakal. Walau bagaimanapun, kamu itu anak Bu'e. Jadi wajar saja, kalau Bu'e ikut khwatir sekaligus sekaligus sedih."


"Sedih karena pada ahirnya Syiffa akan pergi meninggalkan Bu'e. Tuh kan, apa Syiffa bilang, gini gini, Syiffa tuh kesayangan Bu'e." Ucapku dengan pura pura menyibukan diri membetulkan riasanku. Itu aku lakukan semata mata agar aku juga tidak ikut ikutan sedih.


"Iya, kamu benar." Ku tengadahkan wajahku menatap Ibu Suri, karena dari sekian perdebatan panjang yang pernah kami lakukan baru kali inilah Ibu Suri sadar, dan mengalah begitu saja denganku. Biasanya Ibu Suri akan ngomel ngomel tidak jelas, tapi melihat sikapnya kali ini membuatku tidak percaya.


Di tangkupnya pipiku dengan kedua tangan Ibu Suri, lantas menatapku dengan lekat dengan ulasan senyum tipis yang tersunging di kedua sudut bibirnya. "Bu'e sempat takut untuk sesaat, Fa. Takut peristiwa masa lalu akan terulang. Dan Bu'e juag takut tidak bisa setegar kamu." Ucap Ibu Suri pelan.


Ku taruh tanganku di atas pungung tangan Ibu Suri yang tengah menangkup pipiku, juga ku ulas senyum tipisku untuk Ibu Suri. "Syiffa kuat karena punya kalian semua." Jawabku pelan.


Kami sama sama diam, lantas Ibu Suri memindahkan tangannya guna memelukku. Kali ini pelukan ini begitu erat juga hangat di sertai oleh Ibu Suri bisikan bisikan nasehat untuk ku. Agar kelak ketika ssudah menjadi seorang Istri aku bisa mengabdikan hidupku sepenuhnya untuk Suamiku.


"Semua akan baik baik saja." Gumam Ibu Suri saat dirasakan bahwa pelukanku lebih erat dengan apa yang di lakukan oleh Ibu Suri. Ya, mau tidak mau, bayangan itu ikut muncul ketika Ibu Suri menyinggung tentang Pertunangan. Rasa sakit di cemo'oh oleh orang orang sekitar, rasa sakit karena di hianati, juga rasa sakit karena nyatanya aku terlalu mencintai Bayu, hingga untuk beberapa saat aku masih tidak kuasa untuk membencinya.


"Pasti, pasti akan baik baik saja. Karena Mas Alfi adalah pilihan kalian." Jawabku.


Ibu Suri, baru saja hendak melanjutkan kata katanya. Namun, seketika berhenti saat beberapa suara mobil berhenti di halaman rumahku, dan tampak dari jendela kamarku beberapa orang dengan pakain bagus tengah keluar dari mobil.


"Tamunya sudah datang. Bu'e ke depan dulu. Kamu jangan keluar dulu, nanti Bu'e panggil." Titah Ibu Suri, dan dengan sedikit tergesa Ibu Suri sudah berada di depan pintu kamarku lantas kembali membalikan tububnya mengahadap ke arahku. "Ingat, Fa. Kamu jangan pecicilan." Lanjut Ibu Suri dan dengan cepat sudah meraih gagang pintu dan keluar tanpa medengar jawabanku.


Setelah mengumam pelan, aku kembali duduk dengan tenang. Dan sesekali aku mengelus dadaku pelan, berharap aku akan mengalami sensari berdebar seperti saat Bayu datang melamarku dulu. Alih alih itu aku rasakan, pada saat aku menutup mataku sembari menghela nafas dalam untuk menciptakan moment, justru bayangan wajah Pak Panji dan Uul yang hadir di pikiranku, hingga membuatku tersentak dan seketika membuka mataku.

__ADS_1


Helaan nafas dalam, berulang ulang aku lakukan berbarengan dengan pintu kamarku yang terbuka, dan tampak disana Ibu Suri dan Silla yang datang. "Ayo." Kata Ibu Suri pelan, tanpa menayaiku bagaimana perasaanku saat ini.


"Mbak Syiffa, gugup ya." Silla berbisik di telingaku.


Kusikut pelan perut melar milik Silla, hingga membuat yang punya mengaduh sekilas, lantas berubah menjadi kikikan kecil. "Dulu, Silla juga gugup kayak Mbak Syiffa." Lanjut Silla.


"Diamlah, Sil.!" Putusku dan membuat Silla semakin cekikikan. "Kenapa sih mesti di apit gini, biarkan Syiffa jalan sendiri Buk." Pintaku ke Ibu Suri, begitu aku melangkah mereka berdua segera mengapitku.


"Ahh, Mbak Syiffa enggak lihat cara lamarna sekarang sih. Silla aja nyesel karena nikah duluan." Ucap Silla.


"Syukurin." Timpalku.


"Sudah, kalian berdua diam." Kata Ibu Suri menengahi kami. "Manut Fa. Bu'e tidak mau kamu pecicilan." Lanjut Ibu Suri, dan dengan segera mengajakku untuk keluar dari kamar dan aku harus rela berjalan dengan pelan di antara kedua apitan tubuh busar yang menjepitku.


Di ruang tamu yang sudah di sulap dengan berbagai dekorasi minimalis itu berubah menjadi hening dengan kehadiranku, dan bisakan bisikan dari tamu membuatku semakin tertunduk dalam, apa lagi saat salah satu dari mereka ada yang mengatakan. "Calon mantennya Cantik sekali. Cocok sama calon manten laki lakinya." Mau tidak mau itu mengantarkan semburat rona merah di kedua pipiku.


Aku terus di giring oleh Ibu Suri juga Silla ke kursi dimana Mas Alfi tengah duduk, dengan stelan baju Batik senada dengan bawahan yang aku kenakan, Mas Alfi tampak gagah dan sempurna. Saat aku sudah semakin dekat Mas Alfi lantas segera berdiri, dan sebuket bunga mawar merah segera Mas Alfi sodorkan kepadaku.


Tanganku terulur malu malu untum menerimanya, lantas kamipun duduk di kursi masing masing. Hantaran tertata rapi di meja kecil di serta di samping kami tengah duduk. Tas, Sepatu, Baju, Bedak, dan beraneka kue kue basah juga ada disana.


"Asiffya Nurul Mubaridhoh. Bersediakah kamu, maukah kamu, menemani perjalan singkat ku di dunia ini. Menjadi penyejuk, menenang, dan juga partner mengarungi hidup.?" Ucap Mas Alfi dengan berlutut di hadapanku sembari menydororkan cincin emas putih yang bertuliskan nama kami berdua.


"Hidup ini akan sulit, hidup ini juga akan penuh dengan cobaan. Namun, kesulitan dan cobaan terbesarku ketika kamu tidak berada di sampingku." Bluss, wajahku seketika memanas dan sudah akan memerah.


Mas Alfi memang jagonya dalam hal mengolah kata, dan jika aku tidak segera menjawabnya pasti seluruh orang yang hadir akan semakin ramai menyoraki kami.


"Ya, saya bersedia." Jawabku dengan cepat tanpa banyak kata, tapi cukup membuat semuanya langsung bertepuk tangan bahagia.


Mas Alfi segera berdiri dan menyematkan cincin ke jari manisku, begitupun sebaliknya, kemudian bergantian foto bersama sama sebelum ahirnya mereka semua meninggalkan kami berdua untuk memanjakan lidah mereka dengan hidangan yang tersedia.


Aku dan Mas Alfi masih sibuk dengan pose yang di atur oleh fotografer, dan sesekali kami berdua akan canggung saat di suruh berpose dengan sedikit dekat atau harus bersentuhan, meski itu cuma sekedar di bahu. Dan terahir pose yang harus kami ambil adalah ketika sang Fotografer menyuruh Mas Alfi untuk mencium keningku. Jawaban Mas Alfi, sungguh membuatku merasa tersanjung, lantaran Mas Alfi menolak permintaan fotografer itu dengan kata kata halus namun tegas.


"Ternyata kamu bisa kalem juga, Fa." Ucap Mas Alfi saat kami sudah usai, dan duduk dengan tenang di kursi kami sembari menyaksikan yang lain tengah menikmati hidangan.


"Dasarnya emang kalem, Mas."

__ADS_1


"Berarti banyak yang belum aku tahu dari dong."


"Sama, Syiffa juga belum banyak tau soal Mas Alfi." Jawabku entah mengapa sembari membuang pandanganku ke jendela. Karena aku merasa seperti ada yang sedang mengawasi aku dari sana.


"Masih ada waktu untuk saling mengenal. Pernikahan kita di tentukan tiga bulan lagi." Ucap Mas Alfi, namun aku enggan untuk berkomentar lantaran aku menangkap siluet seseorang yang tengah menatap kami berdua dengan tatapan datar tapi seperti tengah terluka.


Aku lekas berdiri dari tempatku mendekat ke arah jendela, dan benar saja. Siluet yang aku lihat itu benar nyatanya adalah dia, yang sekarang sudah masuk ke dalam mobilnya dan langsung memacu pedal gasnya dengan meninggalkan debu yang berterbangan di udara.


"Pak Panji." Desisku pelan.


Bersambung...


####


😀: Lancar jaya acara Tunangannya, semoga lancar sampai hari H ya Bu Fafa.


😒: Itu bisa saja terjadi, asalkan Emak jangan jahat merusak segalanya..


😀: Tidak, tentu saja tidak. Emak kan baik hati dan tidak sombong..


😒: Pencitraan, untuk percaya perlu beberapa kilo Emas, juga berbongkah bongkah Berlian.


😀: Waduh, mahal bener.


Like, Coment dan Votenya jangan lupa.


Happy Fasting day. Semoga di beri kelancaran dan kemudahan.


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2