Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 31


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Tubuhku menggigil meski selimut tebal sudah membungkus tubuhku, bahkan itu tidak hanya satu selimut saja, tapi tiga selimut sekaligus. Ibu Suri juga tidak henti hentinya terus mengompresku, di tengah rancauanku tentang ketakutan siang tadi, hingga membuat kedua orang tuaku ikut takut dan panik sendiri.


Aku Asyiffa, di balik sikapku yang selalu ceria dan tuturku yang semauku sendiri, aku adalah sosok orang yang tidak pernah mengungkapakan rasa ku kepada orang lain, termasuk kepada orang tuaku sendiri. Aku memilih menelan semuanya sendiri ketimbang harus cerita sana-sini untuk kepuasan hati semata. Cukup cerita bahagia saja yang aku bagi dengan mereka, yang melihatku seolah selalu bahagia dan tidak pernah tergores oleh luka.


Bersama dengan rancauan yang semakin kemana-mana, ku rasakan salivaku terasa memahit di iringi dorongan kuat dari air yang di paksa untuk masuk ke dalam tenggorokanku, lantas melemaskan saraf-saraf dari tubuhku membawa damai dalam negri yang tak pernah terjamah oleh orang lain dan hanya aku yang berkuasa disana, sebuah Mimipi.


Suara Adzan subuh memanggilku, dan aku terbangun dalam pelukan hangat Ibu Suri yang sudah pasti bergadang semalaman menunggui ku. Dan selalunya akan seperti itu jika aku sakit, karena aku yang jarang sakit di banding dengan kedua Saudaraku, dan jika sudah sakit akan Ibu Suri akan menjagaku semalaman. Ibu Suri bilang, aku kalau sakit Lebay.🤭🤭🤭


Aku mencoba bangun dari tempat tidurku untuk ke kamar mandi, namun kepalaku terasa berputar putar dan juga tubuhku terasa lemas, hingga membuatku kembali terkapar di atas kasurku dan membuatku membangunkan Ibu Suri.


Dengan cekatan Ibu Suri memeriksa suhu badanku dengan telapak tangannya. "Sudah tidak terlalu panas seperti semalam." Gumamnya.


"Bu'e Syifa mau ke kamar mandi, tapi pusing pusing kayak berputar-putar."


"Ayo Bu'e tuntun." Tutur Ibu Suri dengan langsung turun dari ranjang kemudian meraih tanganku dan memapahku untuk menuju kamar mandi.


"Bu'e kenapa masih disini.?" Tanyaku bingung, saat Ibu Suri masih berada di dalam kamar mandi.


"Nungguin kamulah, nanti kalau pingsan disini gimana.?" Jawab Ibu Suri.


"Bu'e drama banget deh. Syiffa enggak mungkin pingsan disini. Sudah, Bu'e keluar. Syiffa malu tau."


"Yang nyebokin kamu waktu kecil itu, Bu'e. Yang tahu seluruh lekuk tubuh kamu itu sampai kamu masuk SMP juga, Bu'e. Malu kok terlambat bener." Ucap Ibu Suri dengan memamerkan muka keselnya yang sesungguhnya adalah bungkus dari kekwatirannya kepadaku.


"Baik-baik, Syiffa nurut sama Bu'e." Ujarku dengan suara lemah, mau protes lebih akan sia-sia belaka karena Ibu Suri adalah penguasa saat ini.

__ADS_1


"Gitu kan cepet." Ucap Ibu Suri.


Usai dari kamar mandi, Ibu Suri meninggalkan aku yang tengah menunaikan kwajibanku dengan berbaring, karena tubuhku enggan sekali di ajak untuk berdiri, bisa-bisa jika di paksa akan jungkir balik ke lantai. Hingga matahari terbit Ibu Suri belum juga kembali ke kamarku meski suara berisiknya dengan Silvi terdengar hingga sampai ke kamarku.


Aku baru saja hendak meraih ponselku, saat pintu kamarku terbuka dan menampakan Ibu Suri yang tengah membawa nampan juga mangkuk yang sudah aku perkirakan itu adalah Bubur, dan tidak akan lengkap pagi kami tanpa ada Silvi tentunya yang mengintili Ibu Suri.


"Letakan Ponselmu kembali." Ujar Ibu Suri.


"Syiffa mau izin ke sekolah, Bu' e." Jawabku dan kemudian langsung meminta izin ke pihak Sekolah bahwa hari ini aku tidak bisa masuk.


"Sudah.?" Tanya Bu'e begitu aku menutup panggilanku.


"Sudah." Jawabku pelan.


"Sini Ponselnya biar Bu'e yang pegang." Pinta Ibu Suri sambil mengulurkan tangannya.


"Enggak gimana-gimana." Jawab Ibu Suri dan langsung mengambil ponsel dari tanganku.


"Bu'e jangan di matikan Ponselnya, nanti takutnya Uul nyar.." Nyaliku meneruskan ucapanku langsung menciut melihat tatapan tajam Ibu Suri saat mendengarku menyebut nama Uul.


"Ayahnya Uul yang akan menghubungimu." Ucap Ibu Suri dingin lantas mengangkat mangkuk berisi bubur di taruh di pangkuanku.


"Bu'e Syiffa enggak suka Bubur, Syiffa mau nasi lemes saja." Ucapku protes ke Ibu Suri.


"Tidak ada protes hari ini, Bu'e hanya mau kamu ikutin aturan Bu'e sampai kamu benar-benar sembuh.


"Empa Atit." Ucap Silvi dengan tiba-tiba dan meraih tanganku untuk di pijatnya.


"Hu'uh, atit. Empi jadi Dokter Empa ya." Ucapku sembari mengalihkan tatapan tajam Ibu Suri kepadaku.

__ADS_1


"Oke. Empi ciap." Celoteh Silvi.


"Bu'e suapi." Kata Ibu Suri dengan tiba-tiba melunak, dengan kembali meraih bubur di pangkuanku.


Sesendok demi sesendok Bubur sudah pindah ke lambungku, meski harus dengan usaha yang sangat keras karena Ibu Suri terus memelototiku agar makan yang banyak dan minum obat agar cepat sembuh. Usaia makan dan minum obat, Ibu Suri kembali menyuruhku untuk Istirahat dan meninggalkan aku hanya dengan Silvi seorang.


Ku buang pandanganku ke luar jendela yang tengah terbuka dan tampak oleh mataku tanaman bawang Ibu Suri yang semakin menghijau, namun pikiranku entah melayang kemana.


Kwatir, itulah yang sekarang sedang aku rasakan. Kwatir dengan keadaan Uul, kwatir saat dia tengah menangis tanpa Ayahnya di dekatnya. Haruskah aku kwatir.?, Pantaskah aku kwatir.?. Pertanyaan itu ikut berseliweran memenuhi pikiranku, namun alasan apa yang membuatku kwatir sungguh tidak masuk akan saat aku pikirkan.


Benarkah karena memang rasa tanggung jawabku terhadap Uul, atau rasa emosional yang lain yang membuatku begitu perduli padanya. Mungkin juga benar yang di katakan oleh Ibu Suri. "Kedekatan apa yang aku ciptkan, untuk Uul atau Ayahnya Uul."


Jika untuk Ayah Uul aku rasa tidak, karena kami dua orang yang tidak saling mengenal sebelumnya dan kami juga tidak ada kedekatan khusus sesudah kenal, hanya karena kebetulan-kebetulan semata yang di biarkan mengalir dan menciptakan keindahan sesudahnya. Dan tidak sepantasnya jika aku terlalu memikirkan kebetulan itu.


Bersambung...


####


Kok bingung tho saiya sama Bu Fafa ini. Kan emang tidak ada apa-apa antara sampean sama Pak Panji, dan semua cuma kebetulan belaka, juga karena Uul..


Like, Coment dan Votenya di tunggu Enggeh...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2