Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 60


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Air yang menyembur indah lewat mulut patung Singa berbadan Ikan, tak lantas mampu membuatku tenang. Patung dengan tinggi delapan meter lebih dan berat di perkirakan tujuh puluh ton berdiri gagah di hadapanku. Lampu gemerlap mengikuti setiap liukan dari air yang menari berirama gemericik.


Seharusnya ini akan menjadi malam yang sempurna, menikmati malam di Merlion Park. Adaikata Pak Panji tidak membuat hatiku benar benar seperti sedang berada dalam jurang kebingungan. Sumpah, rasa canggungku sudah mencapai ubun ubun dan Pak Panji terlihat begitu santai saja setelah melakukan hal yang membuat hatiku ketar ketir seorang diri.


Berdiri bersisihan dengan santai di sampingku, Pak Panji seolah tidak pernah melakukan kesalahan apapun setelah mengusap bibirku tadi. Dan, bahkan dengan santainya Pak Panji mengajakku kesini hanya karena mendengar percakapanku dengan Ibu Suri yang mengatakan bahwa temannya Ibu Suri akan menemuiku di seputaran Marlion Park.


Aku sudah menolaknya tadi, namun Pak Panji bersikukuh untuk mengantarkan aku, hingga disinilah kita saat ini. Berdiri di pinggiran sungai Sungapore dengan view patung Marlion yang berdiri kokoh berlatar belakang lampu lampu gemerlapan.


"Kamu tau Fa. Perancang pertama patung Marlion ini bukanlah seorang arsitek, melainkan seorang ahli ikan dan juga seorang kurator Aquarium." Kata Pak Panji memecah kebisuan di antara kami.


"Pernah dengar, tapi saya belum pernah membaca sejarahnya secara langsung." Jawabku jujur.


"Karena tidak suka pelajaran sejarah atau karena hal lain.?" Pak Panji membalik badannya, menyandarkan tubuhnya dengan santai di pagar besi. Akupun mengikuti hal serupa seperti yang di lakukan Pak Panji, ahirnya kami saling berhadapan.


"Karena saya tidak pernah berpikir akan datang ke tempat ini." Ku tutup mulutku dengan satu tanganku sembari cekikikan.


Pak Panji menatapku sejenak sebelum ahirnya memilih membuangnya ke arah lain. "Kamu selalu jujur, Fa. Coba sedikit untuk berbohong."


"Lha, gimana sih Pak Panji. Bukannya orang itu yang di cari kejujurannya." Ucapku tidak mengerti dengan Pak Panji yang justru galau dengan kejujuranku.


Pak Panji kembali menatapku dan helaan nafas dalamnya serasa aku ikut menghirupnya juga hingga akupun ikut menjadi serius. "Duduk dulu." Ucap Pak Panji ahirnya dan mengajakku untuk duduk di sebuah bangku kosong.


Menjatuhkan bobotku disana, kami kembali diam. Dan Pak Panji seolah tengah sibuk dengan spikulasi pikirannya sendiri. Akupun hanya bisa mengikuti alur yang menjemukan ini dengan mengetuk ngetuk jam tanganku yang terasa lambat berjalan.


"Besok aku akan kembali lebih dulu ke Indonesia." Kata Pak Panji pelan.


"Bagaimana dengan Uul.?" Sontak yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana dengan Uul.


"Uul, akan ada Mamanya hingga dia kembali pulih. Mungkin, semingguan lagi."


"Oh.." Bibirku mengerucut membentuk huruf O besar. "Jika, Mamanya Uul sudah disini berarti saya bisa pulang juga besok.?" Tanyaku ke Pak Panji.


Pak Panji tidak langsung menjawab, melainkan memilih memandangku sejenak. "Kamu bisa menikmati liburan disini beberapa hari, Fa. Anggap itu sebagai hadiah." Deg. Hadiah, ya benar saja itu adalah gaya orang orang kaya. Dan kenapa harus ada sedih di hatiku saat mengingat perlakuan Pak Panji tadi yang mengusap bibirku dengan lembut.

__ADS_1


"Aku tidak membutuhkan hadiah seperti ini. Pulang jauh lebih baik. Bisa dengarin tausiyah Ibu Suri. Bisa makan enak. Bisa lihat live streaming Bu Gito. Pokonya di rumah itu is the best." Jawabku.


Pak Panji kembali terkekeh. "Sudah aku bilang jangan terlalu jujur, Fa."


"Kenapa, apa itu ada masalah.?" Ucapku masa bodoh.


"Iya. Sangat bermasalah."


"Eh, ap.." Kata kataku langsung berhenti begitu jemari Pak Panji mendarat di atas bibirku. Dan tatapan lembut Pak Panji meremangkan bulu bulu roma di sekujur tubuhku. Aku terlena oleh itu.


"Kamu tidak tau betapa menggemaskannya dirimu, jika tengah tersenyum dengan segala leluconmu. Dan beruntungnya Alfi karena telah memilikimu." Pak Panji lantas segera berdiri setelah mengucapkan kata kata pelet yang mampu membuat hatiku berubah haluan dengan cepat.


Layar yang aku bentangkan untuk Mas Alfi dengan mudah berpindah haluan. Bukan karena layar itu kurang kokoh, tapi karena memang layar itu sejatinya belum seutuhnya telah berkibar untuk berlayar ke arah Mas Alfi. Dan apa yang aku kwatirkan terjadi juga. Keragu raguanku membautku berada dalam delema.


"Aku tak ingin menjadi sengkuni dalam hubunganmu dan Alfi, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama denganmu, malam ini saja. Setelahnya, aku tidak akan menjadi penganggu." Lanjut Pak Panji.


Tidakkah Pak Panji sadar, bahwa ucapannya itu benar benar membuatku tidak berdaya. Tidak taukah dia, bahwa dengan permintaannya malam ini, bisa saja aku akan kalap dan mungkin saja aku tidak punya pilihan lain selain menyerah. Tidak taukan Pak Panji, jika satu kenangan yang tertulis bisa jadi tidak akan pernah bisa di hapus oleh waktu.


Aku menggeleng keras dan sudah hendak berjalan menjauh. Namun, pergerakanku terhenti karena pergelangan tanganku yang di tangkap oleh Pak Panji.


"Ini salah, ini tidak benar." Ucapku tanpa berani menoleh ke arah Pak Panji. Seperti yang di katakan Pak Panji, aku adalah orang yang jujur. Oleh sebab itu aku tidak akan berani untuk menatap Pak Panji, karena mataku akan memberi tau segalanya.


Hati. Hati ini memang penghianat terbesar. Dia tidak pernah singkron dengan otak yang sudah mensugesti agar sadar bahwa Mas Alfilah orang yang sepatutnya untuk di kasihi.


"Fa. Beri aku kesempatan membuat kenangan bersamamu, malam ini saja. Ak.."


"Pernah kamu memikirkan tentang setelahnya. Apa semua akan kembali seperti semula." Lirihku.


"Katakan aku egois. Tapi, aku berjanji tidak akan pernah melibatkanmu lagi dalam hal apapun." Aku semakin menggeleng. Menggeleng bukan karena menolak perkataan Pak Panji, melainkan menolak gejolak hatiku yang sudah akan kalah oleh alarm yang berdengung hebat di otakku.


Beruntung bagiku, karena dengan tiba tiba ponselku berdering dan terlihat nomer asing di layarku. Berbarengan dengan itu seorang ibu paruh baya menghampirku dengan senyum ramahnya seraya menyebutkan namaku.


"Syiffa.?" Katanya dengan ponsel yang menempel di telinganya.


Sekilas aku berpandangan dengan Pak Panji yang sama sama bingungnya dengan ku. Dan pada ahirnya aku mengangguk pelan sebagai jawaban tanyanya.


"Ya Allah, kamu cantik persis Ibumu yah." Kata wanita itu lagi seraya memeluk ku. "Dulu wakru lihat kamu masih kecil."

__ADS_1


"Maaf, Bu. Ibu ini siapa.?" Tanyaku heran, karena wanita paruh baya ini seolah mengenalku dengan sangat akrab.


"Saya, saya teman Ibumu, Fa."


"Apa anda yang bernama Masroin.?" Seketika wanita di hadapanku mengalihkan pandangannya ke arah Pak Panji sembari tersenyum misterius.


"Iya, itu saya."


"Ehh, tak kira Masroin itu laki laki." Celetuk ku, hingga membuat wanita di depanku tertawa hingga bahunya berguncang.


"Biasanya akan seperti itu memang. Saya tadi sudah muter muter nyariin kamu, ternyata kamu disini sama Tunangan kamu."


"Ehh, bukan." Potongku, namun wanita di depanku segera berpindah ke sampingku seraya mengapit lenganku lantas mengajak ku berjalan.


"Ibumu sudah cerita kalau mau mantu." Bisiknya. "Ayo ayo, kita ngobrol sambil makan akan lebih enak." Usai dengan ucapannya, beliau segera menarik ku tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan bahwa laki laki yang tengah mengikuti langkah kami bukanlah orang yang dia maksud.


Dan meskipun tidak ada bagiku kesempatan untuk menjelaskan, setidaknya kehadiran Bu Masroin di tengah tengahku dan Pak Panji cukup membantu agar aku tidak hanya berduan saja dengan Pak Panji. Meski, tak sedikitpun aku bisa lolos dari tatapan Pak Panji saat aku tengah tertawa tawa menceritakan keseharian Ibu Suri.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Like Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2