
Happy Reading...
ππππππ
*πΆπΆπΆ
Go easy on me, baby.
And the highest hopes.
But i know it now.
It probably doesn't even show.
πΆπΆπΆ*
Ku biarkan ponselku terus mendendangkan syair lagu milik penyanyi sekaligus penulis lagu berkebangsaan Inggris, Adele. Ku nikmati setiap liriknya yang mendayu dayu, membawaku seperti remaja tujuh belas tahunan yang tengah patah hati saja.
Duduk seorang diri di sebuah kamar suit room, dengan fasilitas serba wah, nyatanya tidak lebih wah dari hatiku yang sedang bimbang. Bimbang oleh penghuni kamar sebelahku. Panji Haikal. Orang yang malam ini berhasil membuat pora poranda pertahan di hatiku.
Menyetujui permintaan Pak Panji, justru membuatku berada dalam masalah besar. Dan masalah terbesarnya adalah goyahnya hatiku yang sejatinya belum benar benar menetap sepenuhnya terahadap Mas Alfi.
Berada di ketinggian lantai dua belas, dengan view lampu gemerlapan di bawahnya, hatiku benar benar semrawut selayaknya benang yang tak terpintal dengan benar. Dan semakin kacau lagi, tatkala dengungan setan menyuruhku untuk berlari keluar dan mengetuk pintu kamar sebelah.
"Cukup, semuanya cukup. Aku akan kembali besok." Putusku.
Ku raih ponsel yang ku gletakkan di atas meja, dan dengan cepat pula sudah berada di aplikasi hijau. "Saya memutuskan untuk kembali besok." Terkirim juga, dan memang pemilik ponsel di sebrang juga masih online.
Kembali ku letakan ponselku saat sekian menit menunggu tak kunjung ku dapati balasan darinya, dan sejurus kemudian aku membawa langkahku untuk ke kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi kembali ku lihat ponselku, dan ku dapati balasan yang membuatku entah harus bahagia atau malah kecewa, lantaran yang tertera disana hanya sebuah tiket pesawat online yang di peruntukkan kepadaku. Tersenyum miring kembali ku letakkan ponselku tanpa ada niatan untuk membalasnya.
Membaringkan tubuhku di kasur yang tingkat kelembutannya seratus kali lebih lembut dari kasurku di rumah, nyatanya tidak berhasil membuatku terlelap dengan cepat, hingga aku harus berusaha berulang ulang kali membolak balikan tubuhku. Miring ke kiri, miring ke kanan, semua terasa tidak nyaman. Dan bayangan Pak Panjilah yang membuatku kelabakan seperti sekarang.
Adakah perasaan bersalah bagi orang di sebranh tembok kamarku, setalah berhasil membuatku seperti porak poranda perasaanku, atau justru saat ini orangnya telah menikamto tidurnya dengan nyenyak.
"Enyah, enyahlah." Usirku pada pikiran yang tak seakan tidak lelah mempermainkanku, lantas membalik kembali dengan kasar, berusaha konsentrasi untuk terlelap.
Seakan baru sejam aku terlelap alarm di ponselku sudah menderit dan membuatku kembali membuka mataku meski dengan sudah payah. Dan bergegas menjalankan kwajiban subuhku.
Usai dengan kegiatan subuhku, ku buka jendela lebar lebar guna menyambut Matahari pagi yang sudah tampak malu malu di ufuk timur. Menikmati sentuhan matahari pagi, ku paksa otak ku untuk berpikir jernih serta mengahadirkan bayangan Mas Alfi.
Ya, harus kembali kupaksa berbelok hatiku untuk Mas Alfi. Dan menurutku dua bulan setengah akan cukup waktu bagiku untuk mengembalikan semua selayaknya tatanannya. Meski tidak akan sepenuhnya kembali seperti sedia kala, setidaknya aku sudah berusaha.
__ADS_1
Persoalan hati itu memang sedikit rumit, dan ini menurutku sudah seperti selingkuh saja. Bukan seperti, memang iya. Bukankah, kebanyakan wanita berselingkuh dengan perasaannya.? Dan saat ini, itulah yang terjadi padaku, meski hubungan yang terjalin antara aku dan Mas Alfi belum merupakan hubungan suami istri, setidaknya hubungan kami sudah jelas mengarah kesana.
Melamun cukup panjang, hingga matahari beranjak meninggi meninggalkan peraduan. Ketukan pintu yang membuatku tersadar sekaligus membuat kinerja dadaku meningkat, mengingat siapa orang yang berdiri di balik pintu.
Melangkah pelan ke arah pintu, ku siapkan mental dengan terus menarik dalam dalam nafasku dan tak lupa mengeluarkan pelan pelan.
"Oke, tidak akan terjadi apa apa. Bukankah dia sudah berjanji tadi malam." Gumamku pelan sebelum ahirnya menarik handle pintu.
"Good Morning, Miss. This is your breakfast." Aku tercengang untuk sesaat, karena aku tidak memesan sarapan dari hotel. Jangankan memesan, caranya memesan saja kau tidak tau.
"Eh, Good Morning." Jawabku canggung sembari membuka jalan kepada petugas hotel yang tengah mendorong kereta masuk berisikan sarapan lantas menatanya dimeja.
"Have you nice day, Miss." Ucap petugas itu lagi sembari melangkah meninggalkan aku yang masih berdiri di tempat yang sama sampai pintu aku tutup kembali.
"Sudah pasti ini Pak Panji yang menyiapkan." Ucapku pelan sembari melangkah ke arah piring piring berisi sarapan berada.
Ku perhatikan dua buah piring dengan berisikan makanan Indonesia itu dan ku dapati secarik kertas di sampingnya. Mengulur tanganku menarik kertas terlipat disana.
"Nanti jam sepuluh, asisten ku akan datang membantumu, sekaligus mengurus segalanya di Bandara. Terima kasih untuk beberapa hari disini, maaf aku kembali lebiu dulu." Tulisan rapi yanh tertera disana.
Kembali, perasaan aneh menyelimutiku. Apa aku harus bahagia atau justru sedih, karena pada ahirnya Pak Panji memenuhi janjinya dengan tidak akan mengangguku lagi. Tapi, kenapa ada rasa tidak rela.? Apa ini benar.? Dan ternyaya perasaanku sungguh masih sangat kekakanan.
Tak ada rasa nikmat dari hidangan yang aku santap, yang ada justru perasaan semakin tak bersemangat, hingga makanan di depanku yang menjadi pelampiasanku.
Menunggu jam sepuluh itu sungguh sangat lama dan membuatku mondar mandir di kamar luas itu sudah berpuluh puluh kali. Tapi, ketika jam di dinding benar benar berada tepat di angak sepuluh, dan pintu kamarku di ketuk pelan. Justru perasaan time over seketika aku rasakan.
"Selamat siang Bu Fafa." Sapa Dion formal kepadaku.
"Siang, Pak Dion." Jawabku tak kalah formal. Jujur aku tak ingin berbasa basi dan memilih mendengarkan Dion menjelaskan segalanya kepadaku tanpa menyahutinya.
"Anda yakin tidak ada yang tertinggal, Bu Fafa.?" Tanya Dion memastikan lagi kepadaku.
Ku gelengkan pelan kepalaku seraya berkata. "Tidak ada." Itu kata kata di bibirku, padahal lain lagi apa yang aku ucapkan di hatiku. "Hatiku yang tertinggal disini. Karena tertinggalnya cukup jauh, makanya aku tidak berharap akan mengambilnya lagi."
"Kalau begitu mari, Bu Fafa." Kata Dion lagi.
Aku terus membuntuti langkah Dion. Baik aku ataupun Dion sama sama tak saling berucap kata barang satu patah saja. Hingga aku masuk ke dalam mobil, bahkan hingga kami sampai ke Bandara. Kami seolah menjadi orang bisu. Entah itu karena profesionalisme kerja Dion, atau memang Dion ikut ikut seperti aku yang sedang puasa untuk bicara.
"Silahkan Bu Fafa." Ucap Dion saat kami tiba di ruang tunggu. Sementara Dion sudah sibuk kesana kemari entah apa saja yang sedang dia lakukan, karena aku tak ingin tau juga justru aku sibuk dengan ponselku untuk mengabari Kanjeng Dhoro bahwa aku akan kembali hari ini.
Setengah jam berlalu, Dion kembali dengan beberapa paper bag di tangannya, dan kelihatannya cukup berat juga. Berbarengan dengan itu, Pesawat yang hendak kami tumpangi sudah memberi aba aba bahwa kami harus segera memasuki pesawat.
Dion terus menyiapkan segalanya untuk ku, hingga aku duduk di tempatku di Pesawat. Dan terahir memberikan papper bag yang di bawanya kepadaku.
__ADS_1
"Ini oleh oleh yang di pesan Pak Panji untuk anda Bu Fafa." Ucap Dion di tengah wajahku yang kaget. "Maaf, saya harus segera duduk di tempat saya." Lanjut Dion lagi.
"Pak Dion, ucapkan terima kasih saya untuk Pak Panji." Jawabku.
Dion tersenyum sekilas. "Maaf jika rasa penasaran saya berlebihan, Bu Fafa. Sepertinya sesuatu sedang tidak baik baik saja dengan Pak Panji." Ucap Dion namun dengan cepat kedua tangan Dion di angkatnya. "Well, jujur saja. Saya dan Panji sebenarnya adalah teman baik, Bu Fafa. Tidak akan enak jika menjelaskan disini." Lanjut Dion sembari mengulurkan kartu namanya kepadaku.
"Aku tunggu traktiran ngopinya, jika Bu Fafa berkenan memberi tau apa yang terjadi, atau mungkin Bu Fafa ingin tau lebih tentang Panji." Kata Dion lagi sembari melangkah pergi, meninggalkan aku yang masih tidak mengerti dengan Dion, sama seperti Pak Panji yang juga tidak aku mengerti.
Pesawat telah benar benar lepas landas, dan meninggalkan negara Singa Putih yang singgahku hanya sesaat saja. Seperti itu juga yang aku harapkan dengan perasaan yang tidak sepatutnya aku rasakan. Dan kembali menata perasaan ini, seiring dengan pesawat yang aku tumpangi membelah langit perbatasan.
Satu jam setengah berlalu, kembali kaki ini menapak bumi. Mendorong koper serta oleh oleh yang di berikan oleh Pak Panji di kereta dorong, aku mengikuti prosedur yang ada. Dan ahirnya keluar juga dengan perasaan lega, karena pada ahirnya aku sampai juga di Indonesia dengan selamat.
Tolah toleh mencari keberadaan Kanjeng Dhoro, aku justru mendapati Mas Alfi yang menyambutku dengan senyum manisnya. Senyum yang berhasil membuatku bersalah.
"Assalamu'alaikum.." Sapa Mas Alfi sembari mengambil alih kereta dorong di tanganku.
"Wa'alaikumussalam." Jawabku.
"Kamu sendirian, Fa.?" Tanya Mas Alfi.
"Tadi dari sana sama Asisten Pak Panji, entah kemana dia sekarang." Jawabku.
"Oh, tak kira sendirian. Kalau sampai itu terjadi, maka aku akan membuat perhitungan dengan Pak Panji."
"Kok Pak Panji.?" Tanyaku heran.
"Ya harus, karena Pak Panji yang membawamu kesana. Maka, Pak Panji yang harus tanggung jawab. Lebih lagi tanggung jawab mengenai rindu di dada yang berdarah darah."
"Kiakkk, Mas Alfi lebay ah." Kataku spontan sembari memukul pelan bahu Mas Alfi.
"Bukan lebay, Fa. Memang rindu itu sangat menyiksa. Ehh, itu bukannya Pak Panji.?" Kata Mas Alfi tiba tiba, membuatku ikut ikutan menoleh ke arah Mas Alfi memandang. Dan benar saja, itu adalah Pak Panji dan Dion yang baru saja keluar dari jalur VVIP.
Aku tersadar dengan satu hal, mungkin sebenarnya Pak Panji berada di dalam satu pesawat denganku, lantas sengaja bersembunyi dariku. Dan apa yang di lakukan ini terhadapku merupakan salah satu caranya untuk menghindariku.
Melihat aku dan Mas Alfi, riak datar di tunjukan oleh Pak Panji. Kemudian mengangguk pelan sebagai sapaan terhadap kami berdua, dan melangkah pergi dengan gagahnya setelah Mas Alfi membalas anggukannya.
"Nanti, suatu saat ketika usahaku juga sudah berkembang. Aku pastikan, aku dan kamu akan keluar dari pintu itu saat liburan, Fa." Ucap Mas Alfi penuh nada pengaharapan, dan kurang ajarnya hatiku, karena masih saja mengikuti pundak sandaran_able yang baru saja lewat tidak jauh dariku.
Bersambung....
Love Love Love...
ππππππ
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862