
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Berdiri di samping jendela besar di lantai tujuh, aku terus memfokuskan tatapanku ke arah jalan raya yang berada di sebrang bangunan besar ini. Dari jarak pandangku berada, mobil yang berlalu lalang bak semut yang sedang merangkak menuju liang mereka.
Aku kira, aku akan terus menghabiskan waktu ku selama di Singapore ini dengan membosankan, karena harus terus menerus berada di kamar perawatan. Tapi, nyatanya itu tidak benar sama sekali. Ini lebih tepat jika di sebut sebuah kamar hotel, daripada sebuah kamar rawat inap.
Ruangan berdiameter delapan kali enam meter ini jauh lebih besar daripada ruang tamu di rumahku. Dan jangan lupakan segala isi yang di dalamnya. Semuanya serba wah dan mewah. Kamar rawat ini memiliki ruang istirahat sendiri untuk penunggu pasien yang juga berada dalam satu kamar.
Mungkin jika boleh mengutarakan kekurangan apa yang ada di ruangan ini, adalah kehangatan keluarga. Karena, selama tiga hari aku berada disini yang aku dapati adalah perasaan kaku antara satu dengan yang lain. Terlebih lagi, intraksi antara Ibunya Pak Panji dan Uul.
Meski, terlihat dekat dan setiap pagi akan datang kesini. Namun, aku seperti melihat sebuah tirai tipis penyekat yang sengaja sekali di buat oleh Ibunya Pak Panji. Tidak ada tatapan benci, namun juga tidak bisa di katagorikan pandangan yang tersirat untuk Uul sebuah kehangat. Dan yang membuatku heran adalah ketulusan yang terpancar disana seolah menghapus segalanya, walau itu juga sangat tipis.
Ada yang jauh membuatku merasa tidak nyaman dan segudang pertanyaan seakan berdesakan di kepalaku hendak menadapat jawabnya. Yakni, sikap Pak Panji kepadaku. Sekali waktu dia terlihat santai dan nyaman dengan keberadaanku di sekitarnya. Terkadang, dia terlihat memberi jarak dan membentengi dirinya dengan dinding tebal yang sengaja sekali dia bangun di antara kami.
Dan, mungkin memang akan seperti itu sikap orang yang punya segalanya termasuk kuasa. Makanya, dengan mudahnya saja dia berkata "Mari ikut denganku." Lalu, akupun dengan suka rela mengintilinya dan mengatas namakan Uul sebagai tujuan utamaku.
Dan sikap Pak Panji yang angin anginan itu, dengan cepat berubah begitu aku baru mendapati telfon dari Mas Alfi. Ingin aku percaya dengan apa yang aku rasakan dalam hatiku. Tapi, aku tidak punya cukup kepercayaan diri menempatkan diriku selayaknya seorang dewi fortuna yang di cemburui oleh seseorang seperti Pak Panji Haikal.
"Sadarlah, Fa. Sadar, sadar, sadar.." Ucapku kesal sembari mengeleng gelengkan kepalaku. Agar pemikiran yang tidak masuk akal serta melunjak berani melupakan siapa diri ini pergi jauh jauh dari otak ku.
"Ada apa Bu Fafa." Hobi sekali sepertinya orang satu ini mengagetkan ku. Sudah beberapa kali ini, aku tidak menyadari kedatangan Pak Panji. Entah, kenapa hobi barunya berjalan tanpa suara atau memang aku yang terlalu banyak berpikir.
Dengan kikuk, ku jawab tanya Pak Panji dengan ulasan senyum yang juga sama tak beraturannya seperti perasaanku. "Tidak ada apa apa, Pak Panji."
Pak Panji berjalan menuju ke arahku, dan membuat oksigen di sekitarku terasa menipis begitu saja. Apa lagi saat hidung sialan ini, mencium aroma farfum yang menguar begitu tubuh tegap Pak Panji sudah berada tepat di sampingku.
"Cukup tinggi juga. Dan saya rasa cukup untuk mematahkan tulang belulang jika terjun dari sini." Aku ternganga mendengar ucapan Pak Panji. Dan lebih ternganga lagi saat Pak Panji melempar senyum ke arahku, hingga lesung pipitnya terlihat jelas bak sumur yang melobangi pipinya.
"Jangan karena terlalu bosan di kamar ini, anda akan nekat terjun dari sini, Bu Fafa." Lanjut Pak Panji sembari mengeser geser jendela kaca di depanku.
"Wah, parah bener dah." Jawabku sembari mengetuk ngetuk cermin dar jendela tersebut.
__ADS_1
Ku lihat Pak Panji tertawa melihat aksiku. Dan seperti seluruh beban di pundaknya terangkat dengan tingkah konyolku itu. Justru itu, membuat aku semakin melonggo saja
"Sumpah, Bu Fafa. Anda lucu sekali." Lagi, Pak Panji masih tertawa sembari menilik expresiku yang seperti orang bodoh menyaksikan tawa Pak Panji.
"Saya masih doyan ikan asin masakan Ibu Suri, Pak Panji. Apa lagi Lontong Balabnya Ibu Suri nikmatnya tak ada duanya." Pak Panji makin terpingkal pingkal mendengar ucapanku.
"Ikan Asin. Lontong Balab. Ha.ha.ha.ha." Setiap kali mengulang kata kata itu Pak Panji terus tertawa tanpa bisa berhenti.
"Apa ada yang salah..?" Tanyaku setelah tawa Pak Panji mereda.
"Tidak." Pak Panji menggeleng serius. "Kejujuranan anda perlu tak ajungi jempol Bu Fafa." Lanjut Pak Panji.
Aku menggaruk garuk tengkukku dengan salah tingkah karena tatapan Pak Panji yang di tujukan kepadaku sedikit intens.
"Well, apa Uul sudah selesai pemeriksaan labnya." Ucapku memecah kesunyian.
Tak langsung menjawab, Pak Panji memilih berjalan ke arah sofa dan akupun spontan mengikutinya. Duduk di sebrangnya akupun sudah siap mendengarkan penuturan Pak Panji mengenai perkembangan Uul.
"Sudah selesai semuanya."
"Anda terlihat sangat lega sekali, Bu Fafa." Ucap Pak Panji dan aku merasakan seperti ada nada yang entah aku harus mengartikan apa. Kau tak ingin terlalu berspikulasi sendiri dengan perasaanku. Bagiku, apa yang aku katakan tadi, murni karena memang aku merasa sangat lega dengan keadaan Uul. Tidak ada maksud lain sama sekali.
"Saya, merasa senang Pak Panji. Ahirnya hasil labnya tidak mengkwatirkan. Dan tentu juga akan membuat lega siapapun yang mendengar kabar ini." Jawabku.
Ku lihat Pak Panji menghela nafas dalamnya, kemudian mengangguk berusaha untuk menyetujui ucapanku. "Ya, seperti itu." Lirih, tapi cukup jelas aku dengar. "Apa anda bosan di dalam sini terus.?" Pak Panji mengalihkan pembicaraan dengan cepatnya.
"Emm, tidak juga. Saya kan juga ada jalan jalan di taman Rumah Sakit. Lagi, Uul bukan teman yang membosankan disini." Jawabku.
"Teman.?"
"Iya teman. Saya dan Uul memang berteman." Angguk ku pasti.
Pak Panji lagi tersenyum, kemudian berdiri dari duduknya dengan memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celananya. Sumpah, gayanya yang seperti ini membuatku gemes gemes pingin nabok lengan kekarnya yang terlihat menyumpal di balik kemeja ukuran slimfit yang di kenakannya.
__ADS_1
"Disini kayaknya Lontong Balab tidak akan seenak buatan Ibu Suri anda, Bu Fafa. Tapi, mungkin setidaknya akan bisa mengobati rindu anda dengan Ibu Suri. Nanti malam kita makan malam di luar."
Sudah hampir saja aku sahuti "Setidaknya, makan sama orang ganteng rasanya lebih enak." Tapi, seketika aku segera beristighfar. Karena, aku ingat di Indonesia ada Mas Alfi yang sudah memberi kepastian hubungan denganku serta mengikatku dengan cincin yang berada di jari manisku.
"Uul..?" Tanyaku, hanya ingin memastikan saja. Aku hanya takut, saat kami pergi Uul berada di sini seorang diri. Ya, meski tetap ada suster yang menemaninya.
Mata Pak Panji untuk sesaat menyendu. "Nanti, Mamanya Uul datang. Jadi hari ini anda bisa ikut saya menginap di hotel."
"What..?" Pikiranku seketika langsung travelling begitu mendengar ucapan Pak Panji mengajakku untuk menginap di hotel. Bahkan, mulutku yang mengangga sampai di tertawakan oleh Pak Panji.
Menggeleng tidak percaya, Pak Panji masih tersenyum geli dengan tingkahku. Kemudian lekas menjelaskan. "Di hotel, tidak seperti yang anda bayangkan, Bu Fafa. Saya akan menyewakan kamar khusus untuk anda, jadi tidak akan sekamar dengan Mama saya, terlebih dengan saya."
Blusss. Tidak tau wajahku semerah apa saat ini, hanya yang aku rasakan saat ini wajah hingga telingaku rasanya seperti tersiram air panas ataupun seperti sedang dalam posisi membakar sate dengan Ibu Suri. Karena, setiap membakar sate aku selalu bagian kipas kipas bara apinya. Hingga Pak Panji mengatakan jam berapa kami akan pergi, aku memilih diam saja. Diam karena berasa Maluku pindah di pulau Jawa.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Like, Coment dan Votenya di tunggu
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862