Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 21


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Aku masih duduk termenung di kamar ku, sembari menyaksikan tetesan-tetesan air hujan yang berjatuhan dari genteng. Hujan tidaklah begitu deras, hanya saja dia terus saja jatuh tanpa jeda usai subuh tadi. Ibu suri juga terus saja bernyanyi dari tadi meski di sela nyanyianya juga di selipi syukur lantaran hujan turun dan dia tidak perlu menyiram tanaman bawangnya di belakang rumah.


Setelah percakapan semalam dengan Mas Alfi, aku semakin merasa begitu rendah diri di hadapan Mas Alfi. Ya, dari percakapan samalam aku dapat mengambil garis besarnya tentang sikap Mas Alfi. Mas Alfi adalah sosok yang lembut dan penyanyang, dan sangat tawadhu' terhadap kedua orang tuanya, dan mungkin itulah yang membuatku menaruh respeck terhadapnya dan merasa begitu sungkan.


Tapi, apa hatiku sudah mengenalinya?. Belum, karena hatiku masih untuk dia yang telah menyakitiku, meski di bibirku mengatakan dia sudah bukan apa-apa lagi bagi ku, dan otak sudah ku sugesti bahwa dia harusnya aku benci, tapi hatiku berkata lain. Karena bagiamanapun Bayu mangajarkan aku banyak hal, mengenalkan aku banyak hal, karena dia adalah cinta pertamaku yang tidak sempurna.


Andai saja semu berahir dengan baik, mungkin saja tidak akan menjadi sesakit ini, meski hubungan yang terajalin selama lima tahun itu harus kandas di tengah jalan.


"Fa, ngelamun saja." Kata Ibu Suri dari pintu kamar ku dan itu langsung membuatku tersentak kaget dan berhamburan seluruh partikel kecil yang hendak tersusun mengenai seorang Bayu Gede Samudra.


"Siapa sih Buk yang ngelamun, Syiffa hanya lihat air tuh, dan kayaknya tanaman bawang Bu'e akan lebih bagus lagi deh." Jawabku sembari berjalan menuju ke arah Ibu Suri yang tengah berdiri dengan agungnya di ambang pintu.


"Bu'e kira kamu sedang melamunkan calon mantu Bu'e." Jawab Ibu Suri sekenanya saja lantas berjalan pelan mendahului ku menuju ke teras belakang rumah.


Sampai di teras belakang, Kanjeng Doro sudah duduk disana sambil menikmati secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asapnya.


"Kopi juga naik loh Pak harganya.." Candaku dan kemudian duduk di dipan sanding Kanjeng Doro dan mengarahkan tangan Kanjeng Doro untuk menyuapkan cangkir kopi ke arah ku.


"Fa, selalu sukanya rusuh enggak mau buat sendiri." Ucap Ibu Suri, saat melihatku yang tengah minum kopi dari cangkir Kanjeng Doro.


"Kata para Ustadz ini minta barokah dari orang tua Bu'e." Jawabku santai, kemudian mengambil ponsel ku yang tiba tiba berbunyi.


Kanjeng Doro menatapku heran, saat di layar ponsel ku tertera nama Pak Panji, namun tidak bertanya apa-apa dan membiarkan aku mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum." Ucapku.


"Wa'alaikumussalam, Fa maaf menganggu pagi pagi, saya hanya mau menanyakan soal yang semalam, apa kamu bisa ikut kami ke taman.?" Tanya Pak Panji di sebrang sana di sertai teriakan teriakan Uul yang terus memanggil namaku.


"Oh iya, sebentar saya bicara sama orang tua saya, setelah itu saya kabari." Jawab ku dan kemudian segera mematikan ponsel ku setelah menjawab salam Pak Panji.


"Ada apa Fa.?" Tanya Kanjeng Doro dan Ibu Suri langsung menutup mulutnya yang sudah terbuka hendak menanyai ku.


"Itu Pak, Pak Panji mau pergi suatu temp.."

__ADS_1


"Terus ngajak kamu.?" Potong Ibu Suri.


"Anaknya Pak Panji mau saya ikut, dan dari kemarin nanyain Syiffa terus." Jawabku dan itu membuat Ibu Suri dan Kanjeng Doro saling pandang heran dan secara bersamaan bertanya kepadaku.


"Kamu kenal sama anak Pak Panji.?" Tanya keduanya dan ku jawab dengan mengangguk dengan pasti.


"Sejak kapan.?" Tanya Ibu Suri.


"Sudah sejak 6 bulan lalu lah Buk, kan anak Pak Panji murid kelas Syiffa."


"Apa.?" Kata keduanya dengan kembali bersamaan dan seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar barusan.


"Kamu enggak bercanda kan Fa.?" Tanya Ibu Suri.


"Ya enggaklah Buk, untuk apa Syiffa bercanda." Kata ku pasti.


"Pa'e yang kerja sama keluarga Haikal apa enggak tahu soal ini.?" Tanya Ibu Suri ke Kanjeng Doro.


"Ya tidaklah Buk, kan Pa'e kerja di kantor bukan di rumahnya."


"Kok Bu'e ikut getun yah Fa, orang cakep gitu punya anak yang berkebutuhan khusus." Kata Ibu Suri sambil memandang jauh ke depan tapi entah apa yang sedang di pandangnya.


"Tapi bersyukur Buk, yang di beri titipan seperti itu Pak Panji orang yang secara finansial berada, jadi tidak akan kesusahan dalam menjamin anaknya." Kata Kanjeng Doro.


"Bu'e sempat berfikir kemana-mana, karena Bu'e kira Pak Panji mendekati Syiffa lantaran dia suka sama Syiffa." Kata Ibu Suri dan itu membuatku tersedak kopi yang baru saja aku sruput.


"Uhuk, uhuk, uhuk."


"Gitu kalau sukanya jadi perusuh." Ucap Ibu Suri, bukannya menolong malah menyukuri.


"Mereka mau mengajak kamu kemana Fa.?" Tanya Kanjeng Doro.


"Kurang tahu Pak, katanya ke taman gitu." Jawabku.


"Ya sudah pergi saja sana, Pa'e sepertinya akan di rumah saja hari ini." Kata Ibu Suri.


"Cie cie cie, yang mau pacaran lagi." Ucapku, dan sontak tangan Ibu Suri langsung mendarat di bahuku, sembari kembali nyanyian bergema di tengah hujan yang sudah mulai mereda dengan membawa sinar hangat matahari.

__ADS_1


Usai mendapat cap jempol dari Ibu Suri, dan mengabari ke Pak Panji bahwa kontrak jalan jalan sehari sudah di ACC dari pihak kerajaan S Five, akupun bersiap siap untuk menunggu jemputan Pak Panji juga Uul, karena meraka dia bilang akan menjemput sekalian langsung berangkat ke tempat yang di tuju.


Dengan menggunkan Outfit yang nyaman untuk di luar ruangan, akupun duduk dengan santai di ruang tamu dengan sesekali berbalas pesan dengan Novi juga Mas Alfi.


Mas Alfi, beberapa hari ini memang sedikit memenuhi isi dari chat ku, meski tidak ada juga hal yang terlalu pribadi di bahas, tapi itu cukup untuk kami saling tahu sikap masing masing hanya dari cara pemilihan kata. Karena kami bukan lagi seorang remaja yang terpaku saja pada kata kata cinta ataupun hanya sekedar ingin pacaran belaka.


"Assalamu'alaikum.." Suara bariton Pak Panji membuyarkan konsentrasiku yang hendak membalas chat dari Mas Alfi.


"Wa'alaikumussalam." Jawabku dan langsung menaruh ponsel ku ke tas kecil yang hendak aku bawa nanti. "Mari Pak masuk dulu." Lanjutku dan dengan segera memanggil kedua orang tua ku yang berada di ruang tengah.


"Pak, Buk." Ucap Pak Panji sambil menyalami kedua orang tuaku. "Maaf, merepotkan Bu Fafa di hari libur." Lanjut Pak Panji.


"Tidak apa-apa Pak." Ucap Kanjeng Doro dan saat mendengar Kanjeng Doro memanggilnya Pak, Pak Panji segera menatap lekat lekat Kanjeng Doro dan segera membuka mulutnya lagi.


"Pak Muhsin kan.?" Tanya Pak Panji sembari tersenyum.


"Iya Pak." Jawab Kanjeng Doro. Dan kemudian terjadilah obrolan singkat di antara mereka hingga Pak Panji berpamitan untuk membawaku.


Dengan di iringi senyum kedua orang tuaku, kamipun berjalan beriringan menuju ke Mobil yang masih di biarkan menyala itu, dan di sebrang sana dapat ku lihat tim CCTV kampung yang tengah memandang kami berdua dengan berbisik bisik satu sama lainya.


Tanpa memerdulikan mereka, akupun masuk ke dalam mobil sport milik Pak Panji dengan di bukakan pintu olehnya. Lantas menyapa Uul yang telah menyambutku dengan senyumanya yang melebar di barengi dengan Pak Panji yang masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya melewati orang orang yang tengah berghibah ria..


Bersambung...


####


Selamat bersenag sengang Bu Fafa, mudah mudahan masih ingat sama Mas Alfi yah sepulang dari jalan jalan..


Like,Coment dan Votenya masoh di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2