
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Waktu berputar dengan cepat, apa lagi saat di isi dengan hal yang menyenangkan hati kita. Hingga pagi tadi yang sejuk bergeser dengan panas matahari siang. Aku sudah merapikan mejaku, dan bersiap hendak pulang. Semua pekerjaanku sudah aku rampungkan, bahkan tugas untuk besok juga sudah aku siapkan. Itu merupakan kebiasaanku yang selalu aku terapkan semenjak aku datang ke sini.
Tidak jauh dari mejaku, ku lihat Mbak Anita yang masih berkutat dengan laptop juga bukunya. Sepertinya dia terlihat lelah sekali, itu dapat aku lihat dari cara Mbak Anita menghela nafas dalam serta berat, yang sepertinya menjadi beban bagi dirinya.
"Mbak Anita belum kelar yah.?" Aku mendekat ke arah meja Mbak Anita dan aku langsung mengeryitkan keningku, lantaran apa yang di kerjakan Mbak Anita hanyalah pengisian data belaka. Dan itu tak semestinya menjadi beban bagi Mbak Anita. Apa lagi expresinya saat aku menanyainya terlihat kaget.
"Kok kaget gitu Mbak Nita.?" Lanjutku, dan menggeser tubuhku dari meja Mbak Anita lantas memilih duduk di kursi kayu di depan mejanya.
"Ahh, tidak Mbak Fafa." Kilahnya.
Aku merasa ada yang tidak beres dengan sikap Mbak Anita kepadaku. Jika boleh berasumsi, mungkinkah Mbak Anita sengaja menjaga jarak dengan ku, tapi kenapa..?. Aku tidak merasa memiliki kesalahan ataupun pernah berbuat salah dengan Mbak Anita. Atau mungkin karena kesalah fahaman antara aku dan fihak Sekolah sebelumnya, sehingga membuat Mbak Anita merasa aku bukan orang yang cukup baik berada di dekatnya. Entahlah.
"Apa ada yang bisa saya bantu Mbak Nita.?" Ucapku lagi. Kali ini Mbak Anita menghentikan gerakan jarinya dan sekilas memandangku lekat, kemudian helaan nafas dalam kembali di helanya sebelum berucap lirih sambil kembali fokus ke pekerjaannya.
"Tidak ada Mbak Fafa. Terima Kasih." Aku mengangkat bahuku pelan begitu mendengar jawaban singkat Mbak Anita. Dan segera pamit untuk pulang lebih dulu kepada Mbak Anita, begitupun dengan rekan yang lainnya.
Aku terus memacu langkahku menuju jalan besar di tengah panas yang membakar ini. Andai bukan karena titah dari Ibu Suri yang memintaku untuk membelikannya Cendol Sagu. Maka sudah pasti aku memilih menunggu angkot di dekat gerbang sekolahan saja. Salahku juga, karena saat Ibu Suri menelfonku, aku mengatakan akan langsung pulang.
Setelah berpanas panasan hampir lima belas menit, akupun ahirnya mendapatkan titipan Ibu Suri. Dan sialnya diriku hari ini, karena angkot juga sama sekali tidak terlihat muncul dan juga tidak ada tanda tanda akan munculnya hilal juga. Pegal di kakiku merambat ke tangan yang tengah menenteng tas juga plastik berisikan Cendol Sagu milik Ibu Suri.
Apa kabar soal hatiku.?. Jangan tanya lagi, di dalam hatiku rasanya jauh lebih pegel, lebih kesel dan rasanya pingin pulang jalan kaki saja. Maklum, jam jam krusial, antara lapar, capek dan ngantuk semua jadi satu.
Karena terlalu lama menunggu angkot yang tak kunjung datang, akupun memilih mendudukan diriku di trotoar yang lumayan tidak terlalu panas, karena pohon Mahoni yang tengah berguguran masih menyisakan sedikit daun di cabang cabang rantingnya.
Tidak berapa lama aku mendudukan diriku di trotoar dengan muka kucel penuh dengan peluh yang berlomba lomba ingin keluar, tiba tiba sebuah mobil sport keluaran Jerman, berwarna merah menyala mendekat ke arahku. Aku yang kaget, spontan saja berdiri dan sedikit menjauh dari mobil tersebut.
Mobil yang hanya berisikan empat kursi itu, sudah termasuk kursi pengemudi. Langsung membuka kaca hitam yang tadi tertutup rapat. Dan tak lama setelahnya sebuah suara yang familiar menyapaku seiring dengan pemilik suara yang menyumpalkan kepalanya.
__ADS_1
"Bu Fafa. Apa sedang menunggu seseorang.?" Sapanya. Dan entah kenapa sikapnya yang kembali berubah Formal, membautku merasa tidak nyaman.
"Iya Pak Panji. Sedang menunggu angkot." Jawabku sembari merunduk agar terlihat sopan. Juga sebenarnya alasannya agar aku dapat melihat wajah Pak Panji.
"Oh, kalau mau ayo bareng saya saja. Saya akan menuju jalan searah dengan anda." Ih, apa ini, saya, anda. Apa kemarin kemarin itu aku cuma mimpi saja dekat dengan orang ini.
"Apa tidak akan merepotkan.?" Lebih baik jual mahal dikit. Biar dalam hati pingin tau rasanya naik mobil Porsche, tapi setidaknya aku harus sadar diri juga. Orang di depanku adalah orang kaya, bahkan super kaya. Jadi sikapnya yang suka berubah ubah sesukanya harus aku maklumi. Contoh konkritnya sikapnya yang tiba tiba memberi jarak kepadaku, rasa sudah cukup menjadi bukti, bahwa dia memberi sekat antara aku dan dia.
Ya iyalah Fa. Lha memamg siapa dirimu. Mending rasa yang aneh itu kamu kubur dalam dalam, kalua perlu di buatin bubur merah dan kasih sekalian bunga tujuh rupa, agar kamu selalu ingat bahwa antara kamu dan dia itu hanya murni hubungan antara Guru dan Wali Murid. Juga atasan dan bawahan, dan kamu bergantung padanya untuk gajimu.
Setelah Pak Panji menjelaskan bahwa tidak akan merepotkan bagi dirinya, dan yang terlebih lagi tidak menyita waktu sibuknya, akupun ahirnya bersedia ikut Mobilnya. Dan yess, ternyata rasanya seperti ini naik mobil sport dengan cc yang lebih dari tiga ribu, dan tenaga maksimal 641dk.
Rasanya jauh berbeda dengan mobil mobil yang pernah aku naiki. Ini ada sensasi berdebar dan menggila di dada saat kecepatan lajunya di tambahkan. Hemm, yang membuatku aneh adalah, debaran ini tidak mau berhenti begitu saja, meski laju dari mobil telah di kurangi.
Apa lagi saat mataku tanpa sengaja melirik dia yang tengah fokus ke arah jalan. Dan aku rasa debaran ini bukan karena naik mobil sport bagus. Melainkan dia yang berada di balik kemudi. Mata tajamnya terhalang oleh Sunglass yang bertengger di atas hidung bangirnya, dan kaca dari mobil yang di biarkannya terbuka, membuat angin begitu leluasa membelai rambut hitamnya yang biasanya rapi dan klimis.
Sikap tenang, atau lebih tepatnya acuh terhadapku membuatku penasaran setengah mati saja. Dan ini adalah yang kedua kalinya, aku merasa di abaikan untuk hari ini saja. Pertama Mbak Anita, dan yang kedua Pak Panji.
Lalu, apa masalahku dengan Mbak Anita. Kenapa Mbak Anita seolah memberi jarak khusus dengan ku, padahal yang aku lihat tadi dengan teman yang lain tidak sekaku dengan ku, meski tergambar jelas di wajahnya, ada beban pikiran yang sedang merundungi kepalnya. Tapi, sekali lagi apa hubungannya denganku.
Juga dengan sikap Mas Alfi. Kenapa begitu tiba tiba berubah dingin, dan bahkan sama sekali tidak memberi ku kabar. Padahal biasanya dikit dikit mengirimiku chat. Apa ini hanya perasaanku saja, atau memang Mas Alfi sedang sibuk dengan pekerjaannya. Entahlah, yang pasti hari ini membuatku bingung.
"Bu Fafa, maaf saya hanya bisa mengantar anda sampai sini." Ucap Pak Panji di tengah perdebatanku dengan perasaanku.
"Oh, iya tidak apa apa Pak Panji, ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih banyak." Ucapku sembari tanganku menarik sabuk pengaman.
"Sama sama Bu Fafa."
"Oh iya. Uul apa lebih baik lagi hari ini.?" Tanyaku saat satu tangan ku sudah hendak membuka pintu mobil.
"Alhamdulillah sudah. Dan mulai besok Uul akan memulai pengobatannya di Singapore." Jawab Pak Panji dengan nada yang susah untuk aku jabarkan.
__ADS_1
"Semoga pengobatannya berjalan lancar Pak Panji." Jawabku sembari menyungingkan senyum ku. Dan untuk sesaat aku masih tidak bergerak dari tempatku, karena aku menyadaei bahwa netra tajam di balik kaca mata hitam itu telah fokus menatap ke arahku. Dan itu menbuat aliran darah menuju jantungku berpacu dengan cepat.
Dahsatnya pandangan mata itu memang benar adanya, dan aku sangat percaya bahwa akan ada setan yang berbisik lembut di saat mata saling menatap dan bibir tak mampu berucap. Apa lagi saat kepala itu semakin mendekat dan mendekat hingga tinggal beberapa centi saja. Hingga suara dari ponselku lah yang menyadarkan kami berdua dan membuat suasana menjadi canggung.
Dengan posel yang masih meraung raung, aku segera keluar dari mobil Pak Panji tanpa berkata apa apa. Jangankan untuk berpamitan kepada Pak Panji, untuk menolehnya saja aku tidak memiliki keberanian. Terlebih saat mataku menangkap nama serta gambar yang tertera di layar benda pipihku. Dan aku semkin merasa bersalah, karena tunas yang aku khwatirkan ternyata benar adanya. Hatiku telah bercabang tanpa aku sadari.
.
.
.
.
.
Bersambung...
###
Wadidau Bu Fafa, njenengan kok berani berani bermain api. Nanti kalau terbakar pripun lho..
Like, Coment dan Votenya di tunggu enggeh...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1