
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Mas Salimmmmmmmm." Teriak ku ke Abang yang super ngeselin tapi baik hati padaku. Dan yang merasa mempuyai nama Salim hanya menutup kupingnya mendengar suara teriakanku yang sudah seperti sound system konser band papan atas.
"Tuh suara nyaring bener nyemil apaan sih." Ucap Mas Salim, lantas berlalu masuk ke kamar Ibu Suri.
"Mas Salim mau ngapain.?" Tanyaku bingung tapi masih dengan mengikuti Mas Salim yang masuk ke kamar Ibu Suri dan mulai mendekat ke lemari Ibu Suri lantas mengambil beberapa lembar pakaian Ibu Suri. "Mas.!, di tanyain dari tadi juga." Bentak ku ahirnya karenaas Salim masih asik dengan diamnya dan membiakan aku teruz bertanya tanya sendiri dalam hati.
"Ngambilin baju ganti buat Bu'e. Bu'e sekarang ada di rumah sakit." Jawab Mas Salim santai, tapi tidak dengan ku, dengan seketika papper bag yang berisi roti dari Pak Panji langsung jatuh dan menyerakan isinya di lantai samping tempatku berdiri.
"Bu'e..." Teriak ku panik dengan airmata yang sudah merebak di pipiku dan sudah hendak berlari keluar kamar, namun dengan segera tanganku sudah di cekal oleh Mas Salim.
"Mau kemana.?" Tanya Mas Salim masih dengan santai, dan aku tidak tahu kenapa dia masih sangat santai tahu Ibu Suri masuk rumah sakit. Dan yang lebih membuatku panik lagi kenapa tidak ada yang menelefon ku untuk pulang saat Ibu Suri di bawa ke rumah sakit.
"Syiffa mau nyusul Bu'e ke Rumah Sakit." Ujar ku.
"Tidak perlu." Jawab Mas Salim singkat.
"Syiffa tidak mau jadi anak durhaka dengan membiarkan Bu'e kesakitan di Rumah Sakit." Jawabku dengan sudah menangis histeris dan berusaha sangat keras untuk melepaskan tangan Mas Salim yang masih mencekalnya.
"Kamu di rumah saja. Nanti Pa'e enggak ada yang buatin kopi, dan juga ngurus Silvi itu perintah Bu'e tadi. Lagi siapa yang bilang kalau Bu'e sakit, Mas kan cuma bilang kalau Bu'e di Rumah Sakit." Jawab Mas Salim dengan menyumpal mulutku dengan roti yang aku bawa tadi, agar tidak terus triak triak histeris.
"Lha memangnya Bu'e kenapa di Rumah Sakit.?" Tanya ku dengan mengambil roti dari mulutku yang masih terbungkus plastik.
"Nunggu Cucunya mau lahir lah." Jawab Mas Salim dengan mengangkat tangannya di depan wajah ku dan jarinya membentuk huruf "V".
"Mas Salimmmm." Teriak ku kembali.
"Apa sih Fa, berisik banget." Kata Mas Salim dengan memungut satu roti dari lantai dan membukanya lantas segara memakannya dan keluar dari kamar Ibu suri. Sementara aku masih sibuk memunguti roti yang berserakan ketika hendak mengejarnya.
Usai menaruh roti yang ku bawa di meja makan, aku bergegas meluncur ke rumah Mas Salim yang memang hanya berada di samping rumahku. Dan di sana ku lihat Mas Salim tengah menata beberapa baju ganti buat Mbak Tika Istri dari Mas Salim. Dan ketenangan Mas Salim benar benar dapat aku acungi jempol sepeluh, entah sisanya dapat jempol dari mana.
"Mas, Mas Salim kok masih bisa tenang gitu. Emangnya Mbak Tika enggak nungguin." Ucap ku ke Mas Salim dengan masih senantiasa mengintilinya kemanapun dia pergi.
"Kamu itu banyak omong bener sih, Fa." Ucapnya sambil berjalan ke arah jemuran untuk mengambil handuk.
__ADS_1
"Ya, harusnya Mas Salim kan panik. Istrinya mau lahiran malah santuy kayak di pantuy cuy.." Ucap ku.
"Kalau semua panik terus gimana. Kayak Dani pas lahirannya Silvi, dia yang nyungsep sana sini, malah jadi ngerepotin." Jawab Mas Salim, dan itu ada benernya juga karena waktu itu yang repot juga Mas Salim dan Kanjeng Dhoro. "Kamu mau ikut mandi." Lanjut Mas Salim dan baru aku sadar ternyata aku sudah ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Kiak.. Mas Salim." Ucapku dan segera melangkah keluar dari kamar mandi, sambil ngedumel enggak jelas.
"Fa, aku rasa Pak Panji enggak bakalan suka sama kamu, kalau suara kamu suak berisik kayak gitu. Padahal pandangan mata kamu sudah meleleh banget sama Pak Panji." Ujar Mas Salim dan segera menutup pintu kamar mandinya karena aku sudah mau berteriak kencang guna mengomelinya.
Karena suara air sudah byar-byur di kamar mandi ahrinya akupun melangkah kembali ke rumahku dengan terus ngedumel semaunya sendiri, lantas segera mengangkat segala macam jemuran yang berada di belakang rumah karena terlihat awan hitam yang sudah bertata di tempatnya siap menajuhkan butiran kristal bening berupa air tawar.
"Aku cukup sadar diri juga. Memang siapa aku hingga Pak Panji suka sama aku, lagian enggak kepikiran juga bakal suka sama Pak Panji." Dumel ku sembari menaruh baju baju di keranjang.
Akupun bergegas masuk ke kamar mandi guna menyegarkan diri, dan sesudahnya ingin segera rasanya tubuhku menikmati belaian kasur juga bantal kesyanganku. Benar juga habis mandi badanku kembali segar, otot otot kaki yang tadinya tegang juga sudah berkendur dengan sendirinya.
Sembari menyisir rambutku yang masih basah, pikiran nakalku terus berputar dengan kejadian di rumah makan tadi. Dan dengan segera aku menggeleng sekuat tenaga saat teringat tangan nakalku meraba raba otot keras milik Pak Panji. Yang membuatku menggeleng semakin keras, bukan karena aku cuma teringat saja, tapi justru imajinasiku yang berterbangan membayangkan otot itu tanpa berbalut baju di luarnya..😂😂😂
"Haist, Fa. Sadar, kok jadi ngelamun enggak jelas gitu, sejak kapan kamu jadi permpuan yang suka membayangkan tubuh Laki-Laki." Ucapku sambil menepuk nepuk pipiku pelan.
Aku membaringkan tubuhku di ranjangku, dan baru saja hendak menutup mataku. Namun, cepat kembali terbuka saat ku dengar suara ponselku yang berderit derit di tas yang kubawa tadi, dan menampakan nomer Mas Alfi yang ingin melakukan panggilan Vidio. Maka, dengan secepat kilat aku segera menyambar kerudung yang tadi ku pakai.
"Assalamu'alaikum.." Sapa Mas Alfi dengan senyum yang sudah sedikit melebar dari biasanya..
"Lagi Istirahat ya.?" Katanya sebentar kemudian.
"Belum sih, lagi mau Istirahat." Jawabku namun kembali diam dan kami sama sama cengengesan tanpa ada kata yang keluar, dan entah hilang kemana jiwa pecicilan ku saat sudah do hadapkan dengan Mas Alfi. Padahal saat bersama Pak Panji aku masih bisa bertingkah, tapi dengan Mas Alfi aku benar benar mati kutu.
"Fa, nanti malam ada acara enggak.?" Tanya Mas Alfi, setelah cukup lama kami diam.
"Acara sih enggak ada, cuma malam nanti saya musti jadi baby sister juga sekaligus tukang kopi." Jawabku dengan muka datar saja.
"Baby Sister.?" Tanya Mas Alfi bingung, dan dengan cepat ku ulas senyum jahil ke arah Mas Alfi.
"Itu, Silvi di tinggal Ibunya dan Bu'e ke Rumah Sakit." Jawabku.
"Siapa yang sakit, apa Pa'e yang sakit.?" Kata Mas Alfi dengan nada panik.
"Bukan, Istrinya Mas Salim mau lahiran." Jawabku.
__ADS_1
"Hem, ponakan baru nih. Entar tak kasih tau Ibu, siapa tahu mau ikut jengukin ponakan baru." Kata Mas Alfi dengan senyum yang masih senantiasa tersunging di bibirnya, dan entah apa yang membuatnya merasa sangat bahagia hari ini.
"Emangnya Mas Alfi lagi di rumah di kota D ya.?" Tanyaku.
"Iya, dan nanti sore mau balik ke sana." Jawabnya dan aku hanya membulatkan bibirku membentuk huruf O besar. "Bolehlah nanti nyicipi kopi tukang kopi handal calon Istri." Lanjut Mas Alfi dengan senyum yang semakin melebar dan itu berhasil membuat wajahku seketika merah lantaran malu.
"Kamu lucu banget Fa, kalau lagi malu gitu. Dna baru tau kalau Syiffa bisa malu kayak gitu." Ucap Mas Alfi lagi.
"Mas Alfi ini ah.." Jawabku absurt tidak menentu.
"Berhubung, mau di ajak jalan enggak bisa. Ya sudah nanti saya kesana ngapel, sekalian nganterin titipan Ibu buat calon mantu." Ucap Mas Alfi.
"Fa, Fa." Triak Mas Salim dari luar kamar ku, dan bagai terselamatkan oleh Mas Salim aku segera meminta untuk menyudahi panggilan Mas Alfi.
"Maa, Mas Alfi. Mas Salim memanggil, kayaknya mes."
"Iya, saya tahu. Sudah selamat Istirahat setelah ini. Ngomong ngomong model jilbab terbalik apa lagi musim. Assalamu'alaikum.." Ucap Mas Alfi, dan aku yang tidak tau yang di maksud hanya bisa menjawab salamnya Mas Alfi dengan wajah datas sekaligus bingung.
Begitu panggilan sudah ku tutup, akupun berjalan mendekati pintu kamar ku dan ku lihat Mas Salim tengah berdiri di depan pintu kamarku dengan menatapku heran. Tapi, dia langsung menjelaskan apa apa yang harus kau kerjakan di rumah, sambil menunggu mereka kembali yang kemungkinan besok siang.
"Fa, coba lihat cermin." Kata Mas Salim begitu ingin beranjak dari depan kamar ku dan aku yang tidak perduli malah mengikuti Mas Salim hingga teras dan menunggunya yang hendak pergi ke Rumah Sakit.
Sepeninggal Mas Salim aku beranjak kembali ke kamarku, tentu saja setelah mengunci pintu depan. Dan tanpa sengaja mataku menagkap bayanganku di meja rias saat hendak menonaktifkan dat selulerku dan..
"Syiffaa, betapa memalukannya dirimu.." Teriak ku histeris sembari membuka Jilbab yang aku gunakan dan melemparnya ke arah cermin di depanku, lantas akupun segera berlari ke arah ranjang dan berguling guling tidak karuan ke jelasannya, lalu membayangkan wajah Mas Alfi yang pastinya tadi sangat menahan tawa saat melihatku memakai Jilbab yang tengah terbalik..
Bersambung...
####
Bu Fafa ada ada saja sampean ini....
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz kopi
@maydina862