
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku pelankan laju motor ku ketika mamasuki depan perumahan, dan berhenti sejenak untuk mengambil ponsel ku yang terus saja berisik minta untuk di angkat. Tertera nama Novi yang baru saja ku antarkan kerumahnya, dan belum aku sampai di rumah sudah di berisik kembali..
"Iya Nov, ada apa lagi.." kata ku pelan dengan menghela nafas dalam ku..
"......" jawbanya panjang banget, sampai sampai tidak ada kesempatan bagi ku untuk menyelanya, hingga sapaan Bu Gito yang sedang berjalan sambari menenteng tabung Gas tiga kilo, tidak begitu aku hiraukan dan hanya memberikan senyum ku sepintas saja.
"Lha emang tadi di taruh dimana.." jawab ku setelah drama panjang dari Novi.
"....." kata Novi lagi masih dengan panjang, hingga Bu Gito kembali dari warung Bang Kumis aku masih berada di tempat ku..
"Aku capek sayang ku kalau mesti balik lagi kesana, kan sekarang sudah jam pulang kerja.." jawab ku dengan nada sedikit geram, lantaran tingkah Novi yang manjanya kelewatan sekali sejak hamil anak kedua ini. Dan dengan tanpa menjawab ku di matikan begitu saja panggilanya, dan pasti dia sedang marah sekarang.
Akupun kembali melajukan pelan motor matic ku dan berhenti tepat di samping Bu Gito yang tengah kesusahan membawa tabung Gas yang sedang ada isinya itu, lantas mengajaknya untuk bareng..
"Monggo Buk bareng ." ajak ku ke Bu Gito..
"Iya Fa.." jawab Bu Gito dengan cepat..
"Di taruh di depan saja tabung Gasnya.." lanjut ku sambil menyingkap sedikit rok lebar yang tengah aku gunakan..
"Darimana tow Fa, kok sampek sore baru pulang.." tanya Bu Gito saat baru saja motor ku berjalan pelan..
"Ngantarin teman belanja keperluan lahiran Buk.." jawab ku, kemudian diam kembali..
"Tadi yang nelfon pacar kamu ya..?, kok sampai lama banget..?, lagi berantem..?" tanya Bu Gito dan itu membuat ku tersenyum geli juga sekaligus sedikit menyesal karena telah salah memberi tumpangan pada orang, yang nyata nyata adalah CCTV kampung, namun masih aku usahakan untuk ku jawab dengan sopan juga..
"Bukan Bu, itu tadi teman saya.."
"Kok panggil sayang, apa teman tapi mesra.." kata Bu Gito hingga membuatku langsung mengerem dengan mendadak lantaran kaget dengan ucan Bu Gito, selain itu juga sudah terlewat sedikit dari rumah Bu Gito.
"Teman perempuan Bu," jawab ku sambil menurunkan tabung Gas milik bu Gito dari motor ku.. "Untuk sekedar informasi bulanan ya Bu, saya masih jomblo hingga saat ini, saya permisi, Assalamu'alaikum.." lanjut ku, lantas kembali menarik pedal gas ku..
"Hobi kok cari Informasi, dan setelah itu di sebar kesana kemari,.." dumel ku sesaat sesudah sampai di rumah sambil masuk ke rumah..
"Ada apa sih Fa, datang bukanya salam, malah menggerutu enggak jelas.." ucap Kanjeng Doro saat melihat ku baru saja masuk..
"Biasa Pak, CCTV kampung, hi hi hi.., Assalamu'alaikum.." ucap ku sambil menyalami Kanjeng Doro.
"Wa'alaikumussalam, dari mana kamu..?" tanya Kanjeng Doro..
"Halah, ya biasa tho Pak, jadi tukang ojeknya Novi, sekalian kena jebakan Bad Mannya Ibu Suri.." jawab ku, dan tidak jadi masuk ke kamar melainkan duduk di samping Kanjeng Doro sembari menaruh papper bag berisi Farfum yang di belikan oleh Pak Panji. "Pak e kok tumben sudah pulang, bukanya Pak e sekarang jadwal jam sore.." lanjut ku setelah menyeruput sedikit kopi milik Kanjeng Doro.
__ADS_1
"Jebakan apa tho, Fa,..?" tanya Kanjeng Doro.
"Tanya saja sama belahan jiwa, permata hati Pak e, pasti nanti mencari pembelaan, Emang Bu'e kemana kok masih sepi.."
"Arisan RT katanya,.." jawab Kanjeng Doro..
"Hemmm, pasti nanti akan ada gosib terbaru, apa lagi tadikan CCTV kampung sudah bahan Ghibah.." kataku lantas berdiri dengan membawa dua papper bag ku..
"Fa, habis mandi pijitin Pa'e ya.." teriak sedikit Kanjeng Doro saat kau baru hendak masuk kamar ku..
"Ashiap, Kanjeng Doro, Gusti, Majikan, Juragan.." jawab ku, lantas segera bergegas masuk ke kamar ku..
Tidak butuh waktu lama bagi ku, untuk bersih bersih dan melaksanakan kwajiban ku sebagai Muslimah, tapi masih mending diriku yang selenge'an ini dari pada Silla yang sedikit pendiam. Karena untuk urusan agama aku lebih sedikit di banding Silla, tentu saja itu sedikit banyak membuat kami berdebat dan saat aku mengingatkan pada Silla tentang cara shalatnya yang cendrung cepat cepat dengan santainya dia menjawab.
"Aku kan shalat dari kecil Mbak, ya sudah hafal gerakan juga bacaanyalah, emang Mbak Syiffa yang shalatnya pakai teks Pancasila.." jawbanya asal asalan waktu itu, dan itu cukup membuat ku kesal tapi juga tidak bisa berbaut apa apa, lantaran adik ku sudah menjadi tanggung jawab bagi suaminya, dan semoga saja Suami ku kelak memiliki pengetahuan Agama yang jauh di atas ku..
"Hayah, menghalu, lha dirimu itu siapa kok ngareb. Nanamnya pohon pepaya kok nunggu buahnya Durian, biar sampai kiamat juga tidak bakalan bisa berbuah Durian, semua tergantung dari amal perbuatan.." ucap ku lantas mengambil paper bag yang bertulis YSL..
"Hemm, harumnya enak.." ucap ku, dan kemudian mencoba Farfum yang satunya lagi, "Sama sama enaknya, pinter Pak Panji milihnya.." lanjut ku kemudian menata Farfum di meja rias ku, dan keluar dari kamar untuk melaksanakan titah dari Kanjeng Doro..
Dengan gerakan tangan yang luwes, bak tukang urut profesional, aku sudah mengurut kaki Kanjeng Doro dengan Hand Body Lotion yang aku bawa dari kamar tadi, dan jelas tidak lengkap rasanya semua kegiatan ku ini tanpa adanya sponsor, ya siapa lagi sponsornya kalau bukan Silvi, yang sedang sibuk membaluri kakinya dengan Body Lotion itu..
"Fa, kamu sudah pulang, titipan Ibu dapat enggak.." Kata Ibu Suri, begitu masuk ke dalam rumah dengan nada berapi api..
"Mboknya salam dulu tho Buk.." jawan Kanjeng Doro.. "Agak naik sedikit Fa,." lanjut Kanjeng Doro..
"Pasti habis ini Ku Menaganggis.." bisik ku ke Kanjeng Doro dan itu membuat Kanjeng Doro sedikit tertawa,..
"Dan marah marah sendiri, sambil ngelempar remot.." jawab Kanjeng Doro..
"Jangan suka bicara di belakang, kok kayak tetangga depan sana.." kata Ibu Suri tanpa memalingkan pandanganya dari TV, "Fa, titipan Bu'e tadi dapat enggak.." tanya Ibu Suri lagi..
"Dapat, ada di kamar.." jawab ku.. "Bu'e sengaja kan menjebak Syiffa agar ketemu sama Mas Alfi.." lanjutku masih fokus pada pijatan di kaki Kanjeng Doro..
..."Memangnya kamu mau berangkat menemui Ariz kalau Bu'e menyuruhnya.." jawab Ibu Suri....
"Ya tergantung keadaanya,." jawab ku..
"Sudah Fa.." ucap Kanjeng Doro. "Bu'e seharusnya tidak perlu melakukan hal itu, karena mereka itu sudah cukup dewasa dan kita kan sudah sepakat tidak ikut campur, dan menyerahkan semua sama mereka berdua.." lanjut Kanjeng Doro sambil bangun dari rebahanya..
"Tapi Pak, kalau kita tidak mendekatkan mereka berdua jelas akan sulit sekali, apa lagi bocah gemblung ini.." ucap Ibu Suri sambil menabok ku, yang baru saja duduk di sampingnya..
"Sakit Buk,.." protes ku.
"Orang sudah jelas jelas ada keluarga yang menanyakan, anak nakal ini masih berani telfon telfonan sama pacarnya di pinggir jalan.." jawab Ibu Suri..
__ADS_1
"Fa, apa itu benar..?" tanya Kanjeng Doro..
"Hemm, Bu'e sudah pasti jadi korban Ghibah, CCTV Kampung.." ucap ku.. "Pasti dari Bu Gito, lagian sejak kapan sih Buk, Syiffa punya pacar dan Bu'e atau Pa'e tidak tahu.." jawab ku..
"Ya siapa tahu saja. Kalau bukan pacar kenapa panggil panggil sayang.." jawab Ibu Suri lagi..
"Bentar Syiffa kasih lihat Ponsel Syiffa, supaya Bu'e percaya..." jawab ku lantas mengambil ponsel yang aku taruh di atas bufet samping TV.. " Nih Bu'e priksa semua panggilan masuk juga keluar, sekalian Kontak nama, biar makin jelas.." lanjut ku sembari mengantikan Remot di tangan Ibu Suri dengan Ponsel ku..
Diam sejenak, kedua orang tua ku tengah berkutat dengan ponsel ku, sembari kadang bisik bisik, juga tidak jarang bingung dan yang terahir mereka berdua tersenyum lega kepada ku..
"Tuh kan, enggak ada kan.." kata ku lagi..
"Kami percaya, hanya saja kami ingin tahu, kamu sudah punya nomer dari Ariz apa belum.." jawab Kanjeng Doro, dan nyelll.. rasa di dadaku langsung sesak oleh ulah mereka berdua yang sengaja kompak mengerjai ku, dan tak dapat ku bayangkan seperti apa wajah ku saat ini, pasti jika Silla atau Mas Salim melihat mereka pasti akan menertawakan aku..
"Mana titipan Bu'e, pasti Ariz yang membelikan.." kata Ibu Suri..
"Sayangnya tidak, yang membelikan Pak Panji.." jawab ku sambil berdiri dan berjalan pelan menuju kamar ku untuk mengambil Farfum Ibu Suri..
"Kok Pak Panji.." tanya mereka berdua kompak, namun tidak ingin ku jawab saat ini dan memilih melanjutkan langkah ku ke kamar ku, setibanya di depan kamar, aku tercengang melihat berantakan yang terjadi di tambah dengan tuyulnya Silla yang tersenyum tanpa dosa ke arah ku...
"Emmmmmpppppiiiii...."
Bersambung....
####
"Tumben, ingat sama saya Mak, enggak di buang saja ke laut.."
"Inget, selalu inget kok sama si cantik, baik, periang dan tidak sombong, hanya saja Emak masih berusaha untuk membagi waktu dengan Zilla,.."
"Huh, selalu pilih kasih.."
"Ayo dung, jangan ambekan gitu, nanti cantiknya hilang.."
"Cantik bisa kula'an Mak, jangan merayu rayu, pokonya saya mau di bagi rata waktunya.."
"Tapi, nanti Readers pada nyari Zilla.."
"Bodo amat, dan amat bodo,. pokoknya hari ini saya menuntuk keadilan dari Emak, titik enggak pakai koma.."
"🤦🏼♀️🤦🏼♀️🤦🏼♀️🤦🏼♀️🤦🏼♀️🤦🏼♀️🤕🤕🤕🤕🤕🤕"
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz kopi
@maydina862