Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 08


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kegaduhan di ruang kelas ku membuat ku segera berlari untuk mengetahui sedang terjadi apa disana, karna ini baru saja aku tinggal dan semua baik baik saja tadi. Langkah ku semakin ku buat melebar dan saat ku dengar suara Uul yang sedang berteriak teriak sambil menangis keras sekali, dan ini kali pertama aku melihat Uul benar benar marah saat aku sampai di depan pintu.


"Ta-ta, hemmm hemm.." ucapnya tidak jelas dengan memukul mukul tanganya sendiri. Kebiasaan Uul ketika marah pada seseorang akan memukul mukul tangannya sendiri sambil bergumam tidak jelas dan itu bisa sampai menyakiti dirinya sendiri bila di bairkan.


"Fafa.." triak anak anak yang lain dan langsung memghambur ke arahku.


"Semua keluar dulu.." kata ku, agar Uul tidak semakin tertekan ketika banyak yang melihatnya, mereka langsung mengikuti arahan ku dan menunggu di luar kelas.


"Uul, sa-ya-ng ad-a a-pa..?" tanyaku pelan di depanya..


"Hiiii...hiiiii.., " tangisnya pecah dan langsung memeluk ku dengan erat, ku usap punggungnya pelan dan membirkan bahuku basah oleh air liur juga airmata Uul.


Setelah Uul mulai tenang aku mengajaknya duduk di kursi dan mulai menanyainya dengan pelan pelan.


"Uul, ma-ra-h..??" tanya ku sesudah berbicara panjang sedikit dan mendapat respont dari Uul.


"Li-ha-t Fa-fa.." ucap ku sambil mengarahkan kepalanya kepadaku.


"Ke-na-pa..?" ucap ku lagi.


"Ya, kal gigi auh..." katanya, jika aku tidak salah memahami kata katanya adalah. "Ayah nakal pergi jauh.."


"Hemm, Fa-fa tel-fon A-yah mau..??" tanya ku lagi, dan dia langsung mengangguk dan menuntun Uul untuk ikut aku ke kantor ku, guna mengambil Ponsel, tapi sebelum aku pergi ke akntor sebentar aku meminta anak anak yang lain untuk masuk lagi ke kelas.


Sesampainya di kantor aku segera mengambil ponsel ku, tapi aku bingung sendiri karna aku baru sadar bahwa aku tidak punya nomer ponsel Pak Panji, aku menghela nafas dalam dan bertanya pada Uul.


"Uul pu-nya no-mer A-yah..?" tanya ku, pelan dia mengeluarkan ponsel pintar dari saku bajunya, aku menepuk jidat ku sendiri melihat hal itu, sambil dalam hati ku bergumam sendiri. "Ponselnya saja lebih mahal daripada harga motor bekas ku..".


Ku ambil Ponsel dari tanganya dan mencari nomer dari Pak Panji, dengan mudah ku temukan nomer Pak Panji dan segera memindah ke ponsel ku.


Lama tidak ada jawaban akupun menutupnya dan berusaha menjelaskan kepada Uul bahwa Ayahnya tengah sibuk saat ini, di luar dugaan ku dia malah ingin marah lagi dengan memukul mukul telapak tanganya..


"Uul, can-tik ti-dak bo-leh ma-rah, ini Fa-fa tel-fon la-gi A-yah..." ucap ku dan dengan segera aku mendial nomer Pak Panji kembali namun lagi lagi tidak mendapat jawaban.


Ku hela nafas panjang, lalu meminta ponsel dari Uul dan segera mendialnya, tidak lama langsung di angkat..

__ADS_1


"Iya Sayang.." katanya langsung tanpa mendengar dulu siapa yang tengah di ajak bicara..


"Maaf Pak, ini saya Pembimbing Uul, maaf mengganggu waktu anda, ini..." kata ku..


"Apa terjadi dengan anak saya Bu..?" tanyanya dengan kwatir.


"Oh., tidak Pak, hanya sedikit emosinya naik, dan ingun bicara dengan bapak mungkin.." jawab ku, "kalau begitu ponselnya saya berikan kepada Uul.." ucap ku.


"Tunggu Buk, tolong ubah dalam mode Vidio.." katanya dan dengan segera aku mengubahnya dalam mode Vidio dan memberiaknya pada Uul, ehh malah si Uul minta pangku padaku dan mau tidak mau aku harus ikut menyimak obrolan Ayah dan Anak ini, di tambah harus menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya namun berdosa..🤭🤭🤭.


Lama aku menjadi orang ketiga bagi mereka dan dapat ku ambil kesimpulan bahwa, Ayah Uul.akan pergi keluar Kota untuk beberpa hari tanpa memberi tahukan Uul terlebih dahulu.


"Kasihkan sama Bu Fafa.." kata Pak Panji setelah dan dengan tanpa aba aba Uul langsung memberikan ponselnya padaku dan dia turun begitu saja dari pangkuan ku dan berjalan dengan susah payah menuju pintu.


Akupun mengikuti Uul dari belakang dengan masih sambungan vidio terhubung dan tanpa sadar kamera masih mengarah kepadaku..


"Bu, Bu Fafa.." kata Pak Panji dalam panggipanya dan membuat kau tersadar dan segera mengubah kamera menjadi ke arah Uul yang berjalan di depan ku.


"Iya Pak.." jawab ku..


"Saya minta maaf karna telah merepotkan Anda,.." katanya.


"Itu tisak perlu Pak, kan ini memang tugas saya.." jawab ku..


"Ahh ini biasa bagi kami Pak, tidak perlu sungkan.." jawab ku. "Maaf Pak, kalau boleh lancang sedikit, sebaiknya sebelum hendak bebergian biasakan ijin dulu dengan Uul beberapa hari sebelumnya,." lanjutku.


"Iya Bu, trimakasih saranya.."


"Ini kali pertama saya melihat Uul benar benar marah dan histeris, tentu itu karna Bapak adalah orang terdekat Uul dan Uul merasa kecewa saat Bapak tiba tiba akan pergi tanpa pamit.." ucapku, setelah tidak mendapat jawaban aku pun melanjutkan kata kataku.


"Saya rasa Anda juga perlu menjalin kedekatan dengan anak Anda, dengan sering menghabiskan waktu bersama dan mengajaknya bicara apa yang disukai dan tidak di sukai,.."


"Saya sudah melakukan itu Bu Fafa, tapi memang kesibukan saya yang menjadi kendala dan saya juga sudah memperkerjakan beberapa orang untuk merawat Uul dan meminta mereka melapor kepada saya apapun itu yang di kerjakaan oleh Uul.." jawab Pak Panji dengan nada seperti sedikit tersinggung..


"Saya tidak meragukan itu Pak, tapi melihat bagaiamana Uul begitu kecewa dengan Bapak tadi, itu menunjukan bahwa Uul membutuhkan Anda lebih banyak daripada uang anda.." jawab ku dengan nada sedikit ketus, "Baiklah Pak saya rasa hanya itu masukan saya, Trimakasih sudah mendengarkan, Assalamu'alaikum dan selamat siang.." lanjut ku lalu menutup panggilan Vidio secara sepihak..


"Memangnya uangmu bisa mengembalikan masa masa menyenangkan bersama Anak mu.." gumam ku pada ponsel di tangan ku. Lalu berjalan menjajari Uul dan mengandenganya, mengajaknya masuk ke dalam kelas.


Setelah anak anak pulamg semua, seperti biasa tugas negara menunggu kami para pembimbing, bukan kupon undian, terlebih traktiran, tapi mengembalikan semua seperti semula, dan menata ulang semuanya agar besok ketika mereka kembali semua sudah bersih dan rapi..

__ADS_1


"Bu Fafa hari ini bareng ya.." kata Novi melongak ku di pintu..


"Sudah di kasih mandat tadi sama Majikan.." jawab ku tanpa menoleh ke arah Novi..


"Ohh tadi ketemu yah sama Bang Jo.." jawab Novi..


"Iya,.."


"Hemm, Bang Jo ku emang paling baik dehh. Eitss ada jomblo disini, maaf ya mblo.." kata Novi dengan bangganya meledek ku..


"Mending kamu pergi sekarang deh.." kataku ke Novi...


"Ihh Mbak mblo kok marah sih.."


"Jangan sampai aku nyumpahin kamu yah.." kataku, tapi kali ini dengan menghentikan aktifitasku..


"Emang aku Malin Kundang si anak durhaka yang di sumpahin..." jawab Novi menantang..


"Memang kamu bukan Malin Kundang, tapi aku sama teraniyayanya seperti Emak Malin Kundang,..."


"Bua..ha..ha..ha.." tawa Novi pecah mendengar ucapanku..


"Jangn tertawa kamu Vi, aku sumpahin kamu enggak bisa kentut dan bak..."


"Hua..ha..ha..ha.." si Novi makin ngakak dan sambil memegang perutnya yang ikut terguncang karna gerak tawanya yang tidak beraturan.


"Emang enggak ada yang lebih sadis kutukan kamu itu.." lanjut Novi saat tawanya sudah sedikit reda..


"Mau aku sumpahin anak kamu mirip Bang Ho, biar bapaknya bingung dia anak siapa.." ucapku sembarangan..


"Mau banget, secara kalau Bang Lee itu kan cakep banget, siapa tahu habis ini kamu ketemu jodoh kamu dan menikah lalu punya anak perempuan, mirip sama Kak Song kan keren dung kitanya besanan.." kata Novi panjang tanpa jeda iklan..🤭🤭🤭🤭


"Dasar ratu halu.." kataku sambil mengibaskan tangan ku di depan wajah Novi..


"Enggak apa apa halu, dari pada Ghibah, mending Halu, halunya Emak May saja bikin orang ketawa kok, kan itu juga sedakah.." jawab Novi..


Akupun ahirnya hanya bisa membiarkan Novi ngomong sesuka hati dia dan merepotiku dengan ceramahnya yang sepertinya sudah diasiapkan sejak subuh tadi...


Bersambung...

__ADS_1


#####


Emak May ikutan exsis ee...


__ADS_2