Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 30


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Suasana seperti sidang isbat langsung saja terjadi, saat kakiku mamasuki rumah. Apa lagi Ibu Suri yang langsung saja menyeretku masuk ke ruang tengah begitu melihat pakaian yang ku gunakan, dan membiarkan Mas Alfi hanya berdua dengan Kanjeng Dhoro saja.


Tanpa melepas tanganku Ibu Suri langsung saja menanyaiku banyak hal, tanpa memberiku kesempatan untuk menjawabnya. Coba bagaimana caraku menjelaskan kepadanya jika aku yang hendak menjawab tanyanya, justru kembali di tanya lagi dengan pertanyaan baru yang sesungguhnya juga masih sambung menuambung dari pertanyaan yang belum ku jawab.


"Sudah.?" Kataku begitu Ibu Suri berhenti sejenak dari pidato kenegaraannya.


"Kamu kenapa bisa pakai pakaian kayak gitu. Dimana bajumu seragam.?" Tanya Ibu Suri lagi. Aku baru saja hendak menjawab tapi lagi-lagi Ibu Suri terus berbicara kembali dan akupun menutup mulutku rapat-rapat hingga Ibu Suri kembali diam.


"Masih mau lanjut.?" Kataku lagi.


"Sudah, katakan kamu darimana saja." Kata Ibu Suri.


"Sekarang ayo kita kedepan. Biar Mas Alfi yang akan menjelaskan semua." Ucapku dan hendak mengajak Ibu Suri untuk kembali ke Ruang Tamu, namun Ibu Suri kembali menarik tanganku dengan kasar dan mencengkramnya sedikit kuat, hingga luka yang aku dapat tadi siang sedikit terasa perih karena kuku Ibu Suri sedikit menancap disana.


"Kamu habis ngapain sama Ariz, jangan bilang kalau kalian bebuat hal yang tidak benar." Aku menghembuskan nafasku pelan, sambil menepuk jidatku.


"Bu'e maunya kan Syiffa cepat nikahkan sama Mas Alfi." Ucapku langsung berjalan ke ruang tamu, tanpa memerdulikan omelan Ibu Suri yang sudah panjang sekali.


"Bu'e tidak terima, Pak." pekik Ibu Suri begitu sampai di ruang tamu, dan langsung menghempaskan tanganku begitu saja. "Duduk di samping Nak Ariz." lanjut Ibu Suri.


Tampak sekali kebingungan di wajah Mas Alfi, saat melihat sikap Ibu Suri, dan aku hanya tersenyum tipis kepada Mas Alfi sambil berucap pelan. "Nikmati saja dramanya." Mas Alfi yang sudah tau dengan yang ku maksud, segera diam dan terus memandang ke arah Ibu Suri dan Kanjeng Dhoro yang tenga berbisk bisik.


Kanjeng Dhoro berdehem pelan, lantas langsung menatap ke arah Mas Alfi dengan tatapan penuh penegasan sebagai seorang Bapak terhadap anak perempuannya. "Apa Nak Alfi benar-benar menyukai, Syiffa.?" Tanya Kanjeng Dhoro.


Mas Alfi diam sejenak, kemudian menatap ku dan hanya ku jawab dengan mengangkat bahuku saja.


"Iya Pak." Jawab Mas Alfi dengan mantap dan kini giliranku menatapa Mas Alfi dengan intens, antar apercaya dan tidak, antara sandiwara atau fakta. Karena jika di lihat Mas Alfi seperti serius, namun justru akulah yang sedang bercanda.


"Kalian habis darimana dan ngapain, kenapa pulanga selarut ini, juga kemana motor Syiffa." Cecar Ibu Suri, yang dimana pertanyaannya itu sudah di berikan kepadaku sebentar tadi.


"Bu, pelan-pelan. Tanya itu satu satu." Kata Kanjeng Dhoro. Kemudian merekapun terlibat perdebatan sengit, hingga melupakan jika masih ada kami berdua di hadapan mereka, dan Mas Alfi juga kebingungan tapi kemudian tersenyum tipis sambil berbisik kepadaku.


"Mereka lucu ya, Fa. Semoga saja aku merasakan hal seperti itu nanti."

__ADS_1


"Selalu seperti itu jika sedang sidang Isbad, Mas." Mas Alfi menatapku yang tengah cekikin. "Ada apa.?" Lanjutku.


Mas Alfi menggeleng pelan, lantas kembali memperhatikan kedua orang tuaku yang saling menuturkan kebenaran masing-masing. Dan mereka berdua baru berhenti saat Mas Alfi berdehem pelan untuk mengembalikan fokus mereka.


Kanjeng Dhoro membetulkan cara duduknya, lantas kembali fokus menatap kami beruda. "Maaf, Nak Ariz. Bu'e Syiffa memang suka seperti itu."


"Tidak apa-apa, Pak. Ini wajar saat anak gadis Njenengan pulang terlambat, mungkin juga suatu saat saya akan seperti itu jika berada di Posisi Bapak."


Ibu Suri menghela nafasnya dalam, dan itu biasa di lakukannya agar suaranya terdengar lembut 🤭. "Jadi darimana saja kalian.?. Kalau sampai kalian melakukan hal-hal yang tidak benar, menikahlah malam ini juga." Tandas Ibu Suri, dan itu membuatku dan Mas Alfi saling pandang sebentar. Akh dengan rasa maluku ke Mas Alfi, sedang Mas Alfi lebih pada merasa lucu dengan pemikiran mereka.


"Bu'e, Syiffa enggak mungkin melakukan hal yang tidak benar." Protesku.


"Lantas kenapa kalian harus berbohong kepada kami." Timpal Kanjeng Dhoro.


"Bukan sep." Ucapku terjeda dengan Mas Alfi yang menepuk bahuku pelan, dan menatapku lembut sambil mengangguk pelan untuk menyerahkan semua kepada Mas Alfi.


Mas Alfipun menyamankan cara duduknya dan memulai menceritakan kejadian tadi siang seperti yang aku ceritakan sebelumnya kepada Mas Alfi tadi. Dan dengan mencengram lengan Kanjeng Dhoro, Ibu Suri terus saja mendengarkan sambil sesekali bertanya kepada kami berdua.


"Jadi, seperti itu kejadiannya Pak, Bu. Kami tidak melakukan apa-apa yang salah. Tapi, jika mau nikahkan malam ini juga, saya juga tidak keberatan."


"What. Enggak bisa gitu dong." Ucapku, begitu Mas Alfi selesai bicara.


Kami semua diam, kedua orang tuaku memperhatikan kami secara bergantian dan sudah kayak pasangan selingkuhan yang tertangkap sama pasangan aslinya saja cara memandang keduanya.


"Kalian memang sangat serasi." Ucap Kanjeng Dhoro pelan, dan seperti ada nada penyesalan sedikit dari caranya bertutur. "Tapi, kalian harus sabar dulu. Karena, acara Tunangan yang seharusnya minggu depan akan di undur." Lanjut Kanjeng Dhoro.


Ucapan Kanjeng Dhoro entah kenapa seperti angin segar yang datang di saat panas terik di atas ubun ubunku, dan tanpa terasa hembusan nafas legaku di sadari oleh Mas Alfi yang tengah melirik ku.


"Bukan maksud kami untuk mengundurnya Nak Ariz." Kata Ibu Suri pelan.


"Kami sudah mengabari keluarga mu di rumah, dan semua setuju jika acara Pertunangan akan di laksanakan Ahir bulan ini.Jadi, kira kira setengah bulanan." Timpal Kanjeng Dhoro, dan dapat ku lihat dari tempatku jika Mas Alfi masih mempertahkan senyumannya, meski tidak begitu lebar seperti tadi.


"Apa sampean tidak keberatan jika di tunda, Nak Ariz.?" Tanya Ibu Suri.


"Tidak apa-apa, Bu. Malah kami masih ada kesempatan untuk saling memahami satu sama lain. Bukan begitu, Fa.?" Aku yang tadinya hanya memperhatikan saja langsung tergagab saat Mas Alfi melempar bomnya padaku.


"Iya seperti itu. Jawabku dengan ragu. Ragu, karena tatapan Mas Alfi yang tadinya penuh semangat sedikit berubah. Ragu, karena masih ada sedikit rasa yang tidak ku fahami. Ragu, karena aku masih takut dengan bayangan yang sesungguhnya itu juga tidak ada.

__ADS_1


Tidak lama setelah sidang Isbad usai, Mas Alfi mohon diri untuk pulang. Dan akupun tanpa di minta Ibu Suri untuk mengantarnya ke depan sudah barang tentu aku akan mengantarnya.


"Terima kasih untuk hari ini, Mas. Syiffa tidak tahu jika tidak ada Mas Alfi akan seperti apa hari ini." Ucapku dengan pelan setelah Mas Alfi berada di samping mobilnya.


"Jika ucapan terima kasih bisa di minta dengan hal lain, tentu aku akan meminta yang lain, Fa." Jawab Mas Alfi tak kalah pelan.


"Kalau itu bisa di kabulkan kenapa tidak."


"Apa kamu yakin akan mengabukannya jika ku pinta." Jawab Mas Alfi lagi dengan memandangku lekat, aku yang mendapat tatapan sangat intens langsung salah tingkah dan hanya bisa mengangkat bahuku pelan sebagai jawabannya.


"Jika aku minta yakinlah padaku, apa itu bisa.?" Lanjut Mas Alfi masih senantiasa menatapku dalam. "Dari helaan nafas legamu saat Pa'e memberi tahu acara Pertunagan di undur. Aku manyadari satu hal bahwa kamu belum yakin kepadaku sepenuhnya, Fa."


"Bukan seperti itu, Mas. Ada sesuatu yang terjadi dulu hingga membuat keraguan dalam hati saya. Nanti kalau ada waktu akan saya ceritakan apa itu." Ucapku dengan cepat. Aku hanya tidak ingin Mas Alfi salah faham denganku dan menganggapku sebagai gadis pemilih juga ada pilihan lain dalam hidupku.


"Baiklah, kita akan jalan ahir pekan nanti ya." Ucap Mas Alfi sudah mengulas senyumnya kembali dan ku ulas senyumku juga sembari mengangguk pelan. "Istirahatlah, hari ini begitu melelahkan untuk mu. Assalamu'alaiku.." Lanjut Mas Alfi.


"Wa'alaikumussalam." Mendegar jawabanku Mas Alfi segera menaiki mobilnya dan perlahan meninggalkan halam rumahku dengan aku yang terus melambai kepadanya.


Aku kembali ke dalam rumah dan langsung ingin segera masuk ke kamar dan istirahat, namun saat tiba di kamar sudah ku dapati Ibu Suri dengan beberapa salep di tangannya lantas menyuruhku untuk segera duduk dan perlahan-lahan sudah menyibak lengan bajuku dan mengoleskan salep itu di tanganku yang terkena luka bakar meski tidak seberapa parah.


Sambil mengobati tanganku Ibu Suri, terus saja Tausiyyah kesana kemari dan berahir tepat dengan kata-kata yang membuatku bimbang. "Jika itu terjadi pada muridmu yang lain, apa kamu akan sampai sebegitunya juga. Sebenarnya kedekatan seperti apa yang kamu ciptakan, untuk Uul atau Ayahnya Uul. Pikirkan itu." Ucap Ibu Suri sambil beranjak pergi dari kamarku.


Ku raih ponselku di dalam tas, dan kembali menghubungi nomer Pak Panji, namun masih tidak aktif. Dan kenapa aku begitu perduli kepadanya, apa semata-mata aku yang menerima tanggung jawab sebagai pendidik anaknya, atau ada kata lain di hati yang di sebut nyaman saat berbincang dengannya.


Aku meletakan ponselku kembali dengan kecewa. Kecewa, apa aku pantas kecewa, bukankah saat ini juga sudah ada keluarga yang menemani Uul, lantas untuk apa bersi keras menghubungi Pak Panji, hanya kerana ingin menjelaskan. Apa alasan itu masuk akal. Kenapa aku begitu seperduli ini. Mungkin benar yang di katakan Ibu suri. Untuk siapa kedekatan ini aku ciptakan, untuk Uul atau Ayahnya Uul.


Bersambung...


####


Hemm Bu Fafa bimbang. Yang sudah pasti-pasti saja Bu Fafa, wong Pak Panji saja sampai detik ini belum ada kabarnya kok...


Like, Coment dan Votenya di tunggu.


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz kopi


@maydina862


__ADS_2