
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Bangunan gedung pencakar langit serta tatanan kota yang bersih langsung menyambut mataku saat mobil yang di sewa oleh Pak Panji, keluar dari parkiran Bandara Changi Internasional Airport. Hebatnya lagi, pejalan kaki yang berjibun juga sangat teratur berjalan di area mereka harus berjalan. Dan ini jauh berbeda dengan ramainya pasar tradisional yang sering aku kunjungi bersama dengan Ibu Suri.
Ngomongin Ibu Suri, jadi kangen sama Ibu Suri. Belum juga sehari aku berpisah dengan Ibu Suri, tapi rasa rindu ini bergelayut manja di dadaku. Ahh, padahal setiap hari kalau lagi bareng pasti berantem mulu, dan akulah yang menjadi alasan keluar titah yang aku anggap dekrit dari Ibu Suri.
Mungkin harusnya seperti inilah yang di sebut cinta sebenarnya. Tidak perlu berujah beribu ribu kata cinta, ataupun kesamaan dalam pemikiran. Buktinya, aku dan Ibu Suri saling mencintai meski kami tidak pernah akur. Tentu karena aku yang suka sekali bikin Ibu Suri kesal.
Ku hela nafasku dalam dalam sembari berusaha untuk mengaggumi Negara Singa Putih yang terkenal dengan Negara kecil namun maju. Maju, dalam bidang Ekonomi, Industrinya juga dalam hal Jasa. Bagiamana tidak aku menyebutnya Negara kecil, karena luas dari Negara Singapore lebih besar dari Kabupaten tempatku tinggal.
"Bu Fafa." Tegur Pak Panji, dan membuyarkan lamunanku.
"Iya, Pak Panji." Jawabku menoleh sebentar ke arah Pak Panji yang tengah kembali fokus ke kemudinya.
"Apa anda lapar.?" Tanya Pak Panji lagi, dan entah karena apa Pak Panji kembali lagi dalam bahasa formalnya kepadaku
Ku gelengkan kepalaku, sebagai jawaban atas kondisi lambungku yang sudah penuh oleh serpihan roti dan susu tadi dalam pesawat. Meski, bagi perut orang orang seperti ku, iru hanya nyempil di usus dua belas jariku. Namun, aku sudah bertekat akan mrnjaga imejku di depan Pak Panji kali ini. Biar tidak terlihat begitu kampungan dan mayak.
Huahaha, biar mau bertingkah sok kebule bulean, tetap saja dari segi pandangan akan terlihat jika aku kampungan. Apa lagi bila sudah berjajar dengan Pak Panji. Dan itu terbukti dengan tidak henti hentinya aku berdecak kagum dengan apa yang tergambar di mataku sedari tadi.
Gimana enggak kagum, secara nongkrongku sama Ayam masih jauh Ayam. Mending si Ayam, pulang nongkrong enggak kena pasal berlapis legit dari Bu Gito. Lah diriku, sudah pasti akan jadi bahan radar buletin komplek, apa lagi kan mara sumbernya berada tepat di depan rumahku. Itu akan memudahkan penerbitan secara kilat, dari pihak pihak terkait.
Membayangkan wajah Bu Gito yang penuh dengan ide cemerlang menerbitkan sensasi, aku jadi tidak bisa menahan senyum ku. Apa lagi saat nanti pas aku sudah kembali ke tanah air dan memberikannya oleh oleh, pasti wajah bulat berisinya akan sangat manis di depan dan berubah masam dengan cepat di belakang. Lantas, sesudahnya akan segera terbit profil diriku di radar desa.
"Bu Fafa, apa ada yang lucu.?" Tanya Pak Panji lagi, saat terlihat senyum ku yang masih tercetak di bibirku.
"Ahh, hanya pikiran saya sendiri, Pak." Jawabku dengan masih senantiasa terkekeh geli. Dan itu membuat Pak Panji memicingkan matanya penuh tanya terhadapku. "Hanya memikirkan reaksi para reporter komplek, Pak." Menyadari akan picingan mata Pak Panji, aku memilih menjelaskan kepada Pak Panji tentang pemikiranku.
"Reporter komplek.?" Pak Panji terlihat semakin bingung dengan kata kataku.
__ADS_1
Aku menepuk keningku sebentar kemudian kembali terkekeh pelan. "Itu Pak, perkumpulan Emak Emak rumpi. Dan kecepatan beritanya jauh lebih cepat daripada Mbah Geogle. Soal ke akuratan beritanya, urusan belakangan. Bagian terpentinganya mereka bisa share berita. Ibarat kata nih yah, ngulek cabenya sepuluh masih utuh, tetangganya udah halus duluan." Cerocosku, dan kulihat Pak Panji hanya terus menggeleng.
"Pak Panji mana faham soal kek gini." Lanjutku.
"Terus letak lucunya dimana.?" Tanya Pak Panji. "Bukankah itu termasuk gosip.?"
"Ckckckckck, letak lucunya karena si reporter rumahnya depan rumah saya. Jadi, begitu tau saya pergi keluar Negri pasti aduhai sekali berita yang akan timbul." Jedaku. Pak Panji menatapku sekilas.
"Berarti kamu juga menikmati jadi trending gosib." Aku menatap sekilas Pak Panji yang tengah menyungingkan senyum tipisnya, seakan akan telah sembuh dari hibernasi oleh sikap dinginnya yang ahir ahir ini.
"Bukan menikmati, Pak. Tapi, saya sudah sangat kebal akan hal itu."
"Kamu tergolong artis desa berarti, Ckckckkckck."
Hilang sudah sikap jaimku mendengar penuturan Pak Panji. "Huahahha, bisa di anggap seperti itu juga, Pak."
"Dapat royalti enggak, Fa.?" Terlihat Pak Panji lebih santai dari sebelumnya begitu kembali memanggilku dengan nama.
"Boro boro. Tapi, dari situ saya belajar sesuatu, Pak. Bahwa, rasa ingin tau terlalu banyak itu juga tidak baik. Dan kadang setelah tau, cendrung membuat kita mimilih jarak aman." Jawabku, dan Pak Panji manggut manggut setuju dengan ucapanku.
Hingga Pak Panji kembali berinisiatif membuka obrolan dengan ku, setah menarik nafas dalam dan beratnya.
"Emm, sepertinya kehidupan di komplek perumahanmu cukup menarik, Fa." Masih topik seputar kehidupan komplek yang di ambil oleh Pak Panji, dan tergambar jelas sekali dari penerawangan Pak Panji yang jauh ke depan, menyiratkan ketertarikan dan seakan itu hal langka baginya.
"Semua hanya dari sisi kita memandang, Pak. Pada kenyataannya hidup di Komplek padat penduduk yang manyoritas kampungan kayak saya itu berat, Pak. Privasi itu hanya setipis kulit ari." Jawabku.
"Maksudnya.?" Tanya Pak Panji.
"Sebagai contoh hidup saya saja, Pak. Saya selalu jadi bahan gunjingan soal status saya. Apa lagi setelah adik saya Silla menikah lebih dulu. Dan seolah bagi mereka tidak ada yang lebih menarik dari mengurusi kehidupan saya. Yang ginilah, yang gitulah. Kan kasihan orang tua saya. Beruntung bagi saya, mereka kebal juga kayak saya. Meski, tidak bisa di pungkiri, Ibu Suri akan tausiyah sepanjang waktu, jika berita mengenai saya menjadi trending topik di radar Pos Kampling.." Jelasku panjang lebar.
"Horor sekali kelihatanya."
__ADS_1
"Seperti itulah. Meski, saat ini saya sudah bertunangan, tidak jarang dari mereka masih mengunjingkan hal itu. Terutama tentang kejadian enam tahun lalu." Ucapku sambil tertawa getir, dan ku lihat juga senyum Pak Panji ikut sirna dan matanya kembali fokus ke depan, sementara bibirnya terkatup rapat tidak ada tanya lagi.
Aku ikut diam, dan memilih membuang pandanganku di balik kaca mobil, kembali fokus mengagumi tata letak Negara Singa yang dalam mimpi sekalipun tidak pernah aku bayangkan akan aku datangi.
Di balik kaca mata hitam yang kini telah menyembunyikan netra tajam Pak Panji, aku tidak melihat seperti apa tatapan yang di layangkan untukku. Aku hanya merasa, dari mimik mukanya nampak sekali kekesalan dan ketidak puasan akan sesuatu hal. Apa lagi saat aku menerima panggilan dari Mas Alfi. Rasa tidak nyaman seketika menghinggapiku, seiring dengan perasaan dingin yang berada di sekitarku. Dan orang di sebelahku kembali membeku, seperti air yang di masukan kedalam Freezer.
Dan itu berlangsung hingga mobil yang membawa kami, sampai pada sebuah bangunan tinggi menjulang dengan taman luas di sekitarnya. Sebuah rumah sakit yang lebih megah daripada hotel berbintang yang aku pernah lihat sebelumnya, dan itu berada di jantung kota.
"Sudah sampai, Bu Fafa."
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862