Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 39


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Malam minggu, lagak ku sudah seperti kayak anak Abegeh saja pergi kencan malam minggu, sembari menikmati secangkir kopi di Caffe bersama gebetannya. Dan jangan di tanya lagi, gimana suasan malam minggu, ya sudah pasti ramelah, bahkan itu baru di jalannya saja belum sampai di tempatnya.


Aku duduk di dalam mobil Mas Alfi dengan santai, di iringi lagu dari band papan atas Armada, yang berjudul Asal Kau Bahagia, mengalun syahdu memenuhi isi mobil dan tak luput suara merdu Mas Alfi yang juga ikut bergumam pelan mengikuti kata perkata dari lagu tersebut. Jika sedikit aku menela'ah, lagu ini sedikit banyak menceritakan tentang sebuah rasa sakit dan di hapus dengan keikhlasan.


Kami masih sama sama diam hingga lagu itu usai dan Mas Alfi mematikan audionya. Di pandangnya aku sebentar sembari tersenyum simpul, kemudian kembali fokus ke jalan dengan kembali menggumamkan bait dari lagu yang baru saja di matikan.


"Memang apa ada orang yang tidak memperjuangkan rasanya, dan memilih melepaskan begitu saja, seperti lagu tadi." Ucapku, tapi lebih pada nada bertanya kepada Mas Alfi.


"Bisa saja, Fa. Apa kurangnya aku di dalam hidupmu, hingga kau curangi aku." Kata Mas Alfi dengan kembali mengutip salah satu dari sajak lagu tadi. "Jika, di kisahkan dalam lagu tersebut si Laki-Laki sudah berusaha semaksimal mungkin menjadi yang tersempurna, lalu si Wanita memilih bahagianya dengan cinta yang lain, apa itu tidak benar jika merelakan.?" Lanjut Mas Alfi dengan menatapku dalam meski cuma sebentar.


"Lalu, kenapa tidak mempertahankan." Ucapku lagi.


"Cinta itu tidak untuk memaksa, Fa." Telak Mas Alfi. "Ada yang penuh rasa tapi tak dapat bersama, dan ada yang tanpa rasa namun harus terjebak di dalam sebuah hubungan, dan melepaskan adalah satu jalan terbaik bagi semuanya." Lanjut Mas Alfi dengan ulasan senyum tipis ke arahku bertepatan dengan Mobil Mas Alfi yang tengah berbelok memasuki halaman sebuah Mall besar yang tengah berjubal dengan pengunjung.


"Harus banget ya Mas kesini." Ucapku sembari melihat ke depan di kerumunan orang disana sini.


"Kita lihat lihat dulu sebentar, Fa. Kalau di rasa kurang nyaman kita bisa cari tempat lain." Jawab Mas Alfi, dengan senyum yang meminta persetujuanku.


"Baiklah." Jawabku pelan dengan melepaskan sabuk pengamanku sebelum Mobil Mas Alfi benar benar berhenti tepat di parkiran.


Setelah memutar-mutar di basement beberapa kali, barulah Mobil Mas Alfi mendapat tempat dan kamipun langsung bergegas turun dan berjalan dengan beriringan menuju lift untuk sampai di lantai yang di tuju.


Suasana rame masih saja terasa di lantai 4 tempat kami keluar dari lift, dan Mas Alfi kembali mengajak ku untuk berjalan menyusuri jalan di depan ruko yang berjajar rapi lantas berbelok di sebuah toko perhiasan yang lumayan besar.


Kami di samput dengan senyum ramah oleh SPG yang sedang bertugas, dan setelah Mas Alfi mengutarakan keinginannya, dengan cepat SPG tersebut mengeluarkan beberapa cincin pasangan dengan beberapa jenis dan model yang beragam.


"Kamu suka yang mana, Fa.?" Tanya Mas Alfi kepadaku yang malah bingung saat melihat beberapa model cincin di depanku yang semua bagus bagus, ya iyalah bagus namanya juga baru.


Aku mengerutkan keningku sebentar. "Bingung Mas, sampean saja yang pilih." Ucap ku.


Mas Alfi tersenyum simpul ke arahku. "Sama Fa. Aku juga bingung." Jawab Mas Alfi dengan mengusap tengkuknya pelan. "Mbak bisa kasih gambarannya kepada kami." Mas Alfi ahirnya meminta bantuan kepada SPG yang sedang bertugas melayani kami.


Dengan mengulas senyumnya SPG tersebut lantas menjelaskan kepada kami mengenai filosofi dari cincin cincin yang berada di hadapan kami secara terperinci satu persatu. Dan ahirnya kami memilih sepasang cincin emas putih dengan aksen kristal Swarovski kecil yang untuk ku, serta akan di ukir nama kami berdua di dalamnya.


Aku kira, Cincin yang kami beli saat ini bisa di bawa pulang saat ini juga, tapi ternyata butuh waktu 4-6 hari menunggu proses pengukirannya. Dan kami keluar dari dalam toko perhiasan hanya dengan selembar kwitansi pengambilan.

__ADS_1


"Fa, mau nonton film dulu.?" Tanya Mas Alfi kepadaku saat melintasi zona Bioskop.


"Males lah Mas rame, lagian Mas Alfi capek habis kerja seharian." Jawabku sembari mataku memandang ke arah zona Bioskop yang memang sedang lumayan rame menunggu pintu dari teater di buka.


"Makan malam saja di Rooftop mau.?" Kembali Mas Alfi bertanya padaku.


"Emang ada di atas tempat makan.?" Jawabku dengan nada bertanya juga.


"Kita lihat saja, kalau enggak gitu kita makan angin saja."


"Mas Alfi bisa ngelawak juga."


"Kan ketularan kamu, Fa." Jawab Mas Alfi dan kamipun cekikikan sembari terus berjalan menuju ke Lift untuk sampai di Rooftop.


Dan benar saja, begitu pintu lift terbuka pemandangan caffe dengan desain modern memanjakan mataku. Dan di samping tangga dapat terlihat kaca besar yang menampakan aktifitas di outdoor dari ruangan ini. Sebuah kolam renang besar dengan air jernih yang tengah memantulkan lampu pampu mainan yang berada di samping kanan kirinya, hingga rasa rasanya aku seperti sedang melihat sebuah cermin besar yang berada di bawah lampu tersebut.


Menyadari dengan tatapan mataku yang tertuju di luar, Mas Alfipun bertanya padaku. "Apa kamu mau di sana, Fa."


"Boleh Mas." Jawabku dan langsung melangkah menuju pintu kaca besar yang berada di dekat kami sedang berdiri.


"Kamu duluan cari tempat, aku pesen cemilan sama kopi dulu." Ujar Mas Alfi yang kemudian berjalan menuju ke mini Bar yang juga tidak begitu jauh berada di depan kami.


Begitu benar benar sampai di luar ruangan, aku sedikit tercengang dan juga menyesal berada di sini, itu lantaran ternyata di luar sini suasanya sangat romantis, dan di setiap meja kursi hanya untuk dua orang saja serta terdapat lilin dan setangkai mawar merah di atas mejanya. Jelas sekali bukan, jika itu khusus untuk mereka mereka yang sedang kasmaran, yang akan mengobrol kesana kemari membicarakan hal indah indah saja.


"Belum dapat tempatnya.?" Tanya Mas Alfi tiba tiba yang sudah berdiri di sampingku dan membuatku gelagepan di buatnya.


"Emm, kembali ke dalam saja Mas, kayaknya tidak ada tempat kosong." Ucapku membuat alasan.


Mas Alfi tidak langsung menjawab, melainkan mengedarkan pandangannya ke sekililing kolam lantas menunjuk satu tempat yang masih kosong. "Itu disana ada tempat kosong, Fa. Ayo kita kesana." Ucap Mas Alfi sambil berjalan pelan tanpa memerdulikan aku yang hendak mengeluarkan kat akat untuk menolaknya.


"Nah, benar kan." Ucap Mas Alfi begitu sudah sampai di tempat yang kami tuju dan langsung menggeser satu kursi untuk mempersilahkan aku duduk. "Duduklah, Fa." Lanjut Mas Alfi.


"Terima kasih Mas." Jawabku dan segera duduk begitupun dengan Mas Alfi.


Kami mulai mengobrol ringan mengenai desain dari Caffe ini, dan ide ide hebat yang di gagaskan oleh si Owner Caffe, lantas lambat laut makin kesana kemari tidak jalas arahnya hingga Kopi datang yang membawa aroma menenangkan.


"Kopi, Kopikirkan dirimu setiap saat dan makin menjadi ketika malam tiba." Ucap Mas Alfi tiba tiba dan membuatku tawaku sontak pecah seketika.


"Maksa banget Bang, gombalannya." Ucapku di sela sela tawaku.

__ADS_1


"Kelihatan banget yah, kalau maksa. Ha.ha.ha. Aku memang tidak terbiasa ngegombal sih."


"Tidak terbiasa ngombal, tapi suka bikin kata kata manis yang membuat orang mikir dua kali dan Baper." Jawabku sambil menyambar Pisang keju lumer di depanku.


"Masak sih, Fa." Kata Mas Alfi sambil terkekeh.


"Ya mungkin aku saja yang suak kebawa perasaan."


"Hemm, berarti mulai besok akan ku intenskan membuat kata kata manis, biar kamu terus mikirin aku."


Memdengar ucapan Mas Alfi aku lantas ikut terkekeh, dan kamipun larut dalam obrolan panjang yang jauh dari sangkut paut hubungan yang sedang kami rajut, dan sedikit banyak akupun mulai mengenali karakter dari Mas Alfi. Namun, di tengah tengah kami sedang mengobrol dengan asik, tiba tiba mataku yang sedang memandang jauh ke dalam ruangan jatuh menangakap sosok yang sedang mengangkat cup kopinya.


Dengan balutan Hoodie putih dan topi hitam yang bertengger di kepalanya, membuat penampilanya jauh berbeda dari kebiasannya sehari hari dan itu tentu menambah citra yang lebih lagi buatnya. "Dunia ini kenapa mesti sempit sekali, hingga dimana mana aku harus bertemu dengannya." Ucapku dengan nada kesal dan itu berhasil membuat Mas Alfi mengikuti arah pandangku.


"Pak Panji." Kata Mas Alfi pelan lantas tersenyum tipis ke arahku. "Kan memang Caffe ini punya Pak Panji, Fa." Lanjut Mas Alfi.


"Apa.." Kataku histeris dan hampir saja menyemburkan kopi yang baru saja aku sruput..


Bersambung...


####


☺️:Mak kemana aja..??


πŸ˜’:Ada lagi sok sibuk.


☺️:Huh gaya, kayak orang penting bae.


πŸ˜’:Lah emang Emak orang penting, meski cuma jadi notulen dari asosiasi Ghibah VIP.πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Di tunggu enggeh Like, Coment dan Votenya..


Love Love Love..


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


By: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2