
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Dingin sepertinya tidak ingin berahir di wajah Pak Panji saja, sampai sampai malam ini juga ikut ikutan dingin menggigit kulit hingga merasuk ke tulang, tembus ke sum sumku. Terlebih saat wajah dingin Pak Panji yang sedari siang tadi tak ingin enyah dari pikirannya. Haruskah aku memikirkannya, sesekali tanya itu muncul, namun jawaban tak kunjung ku dapat begitu saja.
Sudah hampir tengah malam, namun mataku enggan sekali terpejam. Mataku masih terlalu senang terbuka lebar, dan pikiranku berkeluyuran kemana mana. Jari tangan kananku juga tidak henti hentinya terus memutar mutar cincin di jari manisku sebelah kiri. Namun, sama sekali bukan wajah sang penyemat cincin yang hadir disana.
"Harus bagaimana aku bersikap." Ku tutup wajahku dengan guling yang sedari tadi ku peluk.
Tak tik tak tik, suara jam di dinding kamarku seperti sedang menertawai kebodohanku. Mengejek ketidak mampuanku mengawal hatiku sendiri. Memandang rendah tingkat kedewasaanku yang sudah hampir kepala tiga. Kekoyolan karena terjebak rasa aneh kepada orang lain yang tidak menawarkan jalan untuk bersama. Karena perbedaan tentunya.
Perdebatan demi perdebatan panjang terus saja menggolak di relung hatiku, hingga lelah ku merenggut semuanya dan mengantarkan aku ke alam mimpi.
Suara berisik dari luar rumah ku, membaut mataku yang tadinya begitu enggan terbuka, seketika membelalak. Apa lagi saat namaku di sebut sebut disana, dengan gerakan cepat akupun langsung meluncur menuju pintu dan mendapati orang orang yang baru saja pulang dari Masjid tengah berkerumun membuat lingkaran besar mengelilingi orang itu.
"Fa, Syiffa. Kamu tidak akan bisa menikah selain dengan ku. Aku bersumpah." Lengkingan suara itu terdengar menggelagar syarat dengan kebencian. "Ha.ha.ha." Lagi tawanya menggelagar.
"Fa, enggak usah kesana." Cegah Mas Salim saat kaki kiriku baru saja hendak menyentuh sandal luar ku.
"Siapa sih Mas.?" Ku kucek mataku yang masih berat dan sedikit bengkak karena masih kurang tidur.
"Siapa lagi yang bikin ulah. Sudah kamu masuk sana." Tegas Mas Salim. Akupun menuruti perkataan Mas Salim, dan bergegas masuk kamar mandi.
Aku mencoba untuk abai dengan orang yang membuat onar itu, tapi lama lama perkataannya yang tidak benar dan cendrung menjelek jelekanku, membuat telingaku terasa panas juga. Dan dengan gerakan cepat akupun keluar dari rumah, meski Kanjeng Dhoro juga Ibu Suri melarangku.
Aroma Alkohol seketika menyeruak masuk di hidungku saat langkahku tiba di kerumunan orang orang dengan tatapan mencemo'oh kepadaku. Deg, dadaku rasanya sangat sakit saat mataku menangkap wajah laki laki di depanku yang sangat menyedihkan. Tangannya masih memegang botol minuman laknat dan sesekali juga menjejalkan di bibirnya yang tebal.
"Bayu." Lirihku, dan seolah Bayu mendengar aku menyebut namanya. Bola matanya yang tajam langsung berputar ke arahku dan dengan bersusah payah dia bangun dari tempatnya.
Melihat tubuhnya luruh kembali ke tanah, hatiku sedikit tercabik cabik. Bukan karena sakit yang bagaimana, melainkan sakit karena ternyata aku tidak pernah tau seseorang yang bertahun tahun aku suka, bukanlah seperti yang aku kenal sebelum sebelumnya. Dan itu seperti topeng yang melekat di wajahnya. Bersyukur karena pada ahirnya Allah menunjukan wajah aslinya tepat sebelum aku menjalin hubungan yang serius dengannya.
Setelah beberapa kali jatuh bangun, bangun dan jatuh lagi, ahirnya Bayu tertidur dengan terus bergumam tidak jelas. Dan berbarengan dengan datangnya linmas yang datang untuk membubarkan kerumunan orang orang.
Aku ikut melangkahkan kakiku memasuki pagar rumah ku, tanpa memerdulikan cibiran dari Bu Gito cs. Dan dengan mantap masuk ke dalam rumah. Sambutan dari Ibu Suri, sangat jelas maksudnya. Itu berhasil mengerdilkan nyaliku hanya sekedar melihat tatapan yang di layangkan kepadaku.
Ku sibukan diriku dengan persiapan ke Sekolahan, dan membiarkan Ibu Suri yang terus saja menyindirku dengan sikap Bayu tadi pagi. Dan sindiran itu ahirnya berhenti juga tanpa aku mau menanggapi, bertepatan dengan kedatangan Mas Alfi yang sudah rapi dengan stelan baju kerjanya..
__ADS_1
Kesalahan, aku tau setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Termasuk dengan diriku, yang salah mencintai seseorang, hingga menyisakan trauma tersendiri. Lagi, kesalahan kembali aku lakukan dengan hati tidak ingin merasa nyaman dengan seseorang yang penuh dengan kelebihan. Dan semua aku lakukan atas dasar orang tua, atau sebenarnya atas dasar paksaan keadaan yang menyudutkan juga atas dasar aku yang tidak tahan akan gunjingan orang.
Wajah Mas Alfi, kelihatan berseri dengan kemeja kotak kotak warna merah dan hitam, senyum sesekali tersunging saat mengajak ku untuk berbicara. Apa lagi saat Mas Alfi membicarakan Alana yang terus mengoloknya. Aku juga ikut tersenyum, dan berpura pura ikut malu malu dengan penuturan Mas Alfi, dan aku tau persis itu bohong belaka untuk ku.
Perjalan yang penuh kebohongan dari ku, ahirnya berahir juga saat mobil Mas Alfi memasuki halaman luas tempatku mengajar, berbarengan dengan sebuah motor metic milik guru baru yang sempat berkenalan dengan ku sebelum aku di berhentikan sekitar sebulan lalu.
Mas Alfi mengikuti ku turun dari mobil dan berdiri tepat di sampingku. "Fa, nanti pulang jam berapa.?" Tanya Mas Alfi masih dengan senyum manisnya.
"Biasanya jam dua belasan Mas, kalau enggak lebih dikit." Jawab ku sembari tangan ku memeriksa tas bawaanku.
"Insya'Allah nanti tak jemput."
"Enggak usah Mas. Mas Alfi kan kerja." Jawabku sembari mengangkat wajahku, dan melihat seseorang di parkiran khusus guru dna karyawan sedang melepas helmnya.
"Enggak apa apa, kan waktu Isti.."
"Mbak Anita." Sapaku dengan sedikit bertetiak sembari melambaikan tanganku. Dan entah kenapa Mas Alfi langsung menghentikan ucapannya dan ikut memutar tubuhnya untuk melihat seseorang yang tengah aku sapa.
Mbak Anita yang tadinya melangkah penuh percaya diri untuk menghampiriku seketika memelankan langkahnya begitu Mas Alfi menoleh ke arahnya. Sempat juga ku lihat kekagetan di wajah Mas Alfi, sebelum ahirnya dia kembali berbalik ke arahku dan menyungkingkan senyum kaku.
"Mbak Anita, apa kabar..?" Aku rasa pas saat pertama kali bertemu dengan Mbak Anita waktu itu, Mbak Anita cukup ramah, bahkan juga cukup banyak bicara. Tapi, kenapa hari ini dia tidak secerah waktu itu,. sampai sampai aku bisa melihat kegelisahan di wajahnya.
"Apa kabar Mbak Anita.?" Ulangku, mungkin saja aku yang terlalu bersemangat setelah hampir sebulan tidak mengajar, hingga tidak tau apa yang terjadi.
"Alhamdulillah baik Mbak Fafa. Mbak Fafa sendiri apa kabar.?" Terdengar suara canggung yang keluar, namun sekali lagi aku abaikan saja. Karena memang aku saja yang sok akrab.
"Alhamdulillah baik Mbak Anita." Jawabku dengan sungingan senyum sumringah.
Pagi ini harusnya suasananya hangat, tapi entah kenapa aku merasa ada hawa dingin yang berada di sekitarku. Dan itu juga yang aku lihat dari dua orang di depanku, yang sama sama canggung.
"Mbak Anita bareng ke kantor ya. Oh iya kenalkan ini Mas Alfi. Mas ini Mbak Anita, guru baru yang mengantikan Kanjeng Ratu Novi." Ucap ku untuk memecah kecanggungan di antara keduanya. Mungkin karena tidak saling mengenal makanya mereka terlihat canggung.
Kedua orang di depanku saling berhadapan, namun sama sekali tidak keluar kata kata dari mereka berdua, dan malah asik diam diaman dengan mata yang sama sama memindai satu sama lain. Hingga suara dering ponsel Mas Alfilah yang membuat mereka berdua sama sama tersentak dan seolah kembali ke diri masing masing.
"Fa, aku berangkat kerja dulu. Kayaknya nanti saya enggak bisa jemput kamu. Maaf yah." Ucap Mas Alfi dan dengan buru buru masuk ke dalam Mobilnya setelah mengucap salam.
Aku mengangkat kedua bahu ku pelan, melihat perubahan sikap Mas Alfi. Namun itu tidak berlangsung lama, karena aku masih ingat ada Mbak Anita yang sudah berpindah tempat di sampingku dengan tatapannya yang belum mininggalkan mobil Mas Alfi.
__ADS_1
"Well, mari Mbak Anita masuk ke kantor. Apa kabar dengan mejaku, apa kaber dengan kursiku. Ahha, apa kabar anak anak ku, aku merindukan semuanya." Cerocosku, tanpa memerdulikan Mbak Anita yang masih enggan untuk meninggalkan tatapannya dari pintu gerbang.
"Harusnya Mbak Anita memberikan ucapan selamat datang kembali untuk saya." Lanjutku.
"Oh, iya Mbak Fafa. Maaf saya lupa." Kilah Mbak Anita begitu sudah mensajajari langkah ku.
"Jadi, apa saja yang saya lewatkan selama hampir sebulan ini..?" Ucapku, dan dengan cermat Mbak Anita sudah menceritakan beberapa kejadian kejadian, yang kadang lucu, kadang menggaskan, juga sekaligus yang menjengkelkan, hingga langkah kami sampau di kantor.
Akupun larut dalam obrolan bersama rekan rekan kerjaku yang lain sembari kami mempersiapkan materi yang akan kami sampaikan hari ini. Dan entah itu hanya perasaan ku saja atau memang dasarnya. Mbak Anita cukup pendiam di antara kami semua.
Ahh, tidak perlu risau. Masih ada banyak waktu untuk aku mengenal Mbak Anita. Dan tentunya bisa saja nanti akan menjadi teman akrab, seperti aku dan Kanjeng Ratu Novi..
.
.
.
.
.
Bersambung...
###
Mbak Anita dan Mas Alfi, ada apa gerangan dengan kalian berdua. Please jujur sama Emak.
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1